Tag Archives: Wonosobo

Sebuah Cerita Dari Tambi

Pagi itu, terlihat perempuan-perempuan yang menggendong keranjang berjalan melewati jalan masuk menuju komplek perkebunan teh Tambi. Salah satu perempuan tadi bernama Sarwiji (55), buruh perempuan pemetik teh di kawasan agro wisata Tambi-Wonosobo ini, telah menggeluti aktivitasnya ini selama lebih dari 30 tahun. Satu hal menarik adalah, beliau memetik daun-daun teh tadi menggunakan alat khusus hingga bisa mempercepat proses pemetikan.

sarwiji

Ibu Sarwiji tengah memetik daun teh menggunakan alat khusus

Selepas sholat subuh, beliau dengan perempuan-perempuan lainnya sesama buruh pemetik teh sudah akan memulai aktivitas hariannya di pagi buta.

Suasana daerah Tambi yang berada pada ketinggian 1400 mdpl ini tentu saja berhawa dingin dan itu tak menyurutkan langkah mereka. Beliau dan rekan-rekannya dalam beberapa jam bekerja memetik daun teh sejak pagi buta hingga sekiitar pukul 8, dapat menghasilkan 1 kuintal pucuk daun teh. Continue reading

Advertisements

Cerita Perjalanan Tiga Kota [1]


Suara binatang malam masih samar-samar terdengar memecah keheningan malam.

Hawa dingin malam sesekali menusuk pelan dari balik sela-sela jendela kamar tidur.

Pagi yang masih begitu premature ini harus dihadapi dengan rasa mengantuk yang sangat.


Bergegas tubuh ini reflek menuju bagian belakang rumah guna menjalankan ritual pagi seperti biasanya. Tak ada yang begitu berbeda dengan pagi-pagi seperti biasanya, hanya saja saya harus bangun lebih pagi dari biasanya guna menempuh perjalanan lumayan jauh menuju Klaten-Jawa Tengah. Continue reading

Tak Berjalan Mulus

Sekujur tubuh ini sudah berbau belerang semua. Asap pekat tipis berwarna kekuningan itu, sesekali masih beterbangan.

Wedwi, Atun dan Indah masih asik berpose begini-begitu. Pemandangan berbeda terjadi pada saya. Langkah kaki yang sedikit ngilu pada bagian samping-belakang lutut makin terasa ketika kaki ini baru saja melangkah turun.

Saya pun meraih sebuah bilah cabang kayu yang teronggok di depan sana. Seharusnya perjalanan menuruni jalan ini bisa sangat mudah dilakukan karena terbantu gaya gravitasi.

Kali ini perjalanan pulang terasa berbeda untuk saya pribadi. Sungguh lutut ini akan terasa sangat sakit dan nyeri saat saya mencoba menekuknya. Continue reading

Menggapai Puncak Sindoro

Suara adzan subuh samar-samar masih terdengar dari kejauhan. Hawa dingin masih bisa menembus dari sela-sela tenda ini. Perut saya sudah mulai berkontraksi, pertanda panggilan alam harus segera ditunaikan. Celotehan bahasa sunda samar-samar terdengar dari tenda yang berada di depan kami.

Saya bergegas bangun. Mata masih sulit untuk dibuka, namun saya paksa terus pagi itu. Satu persatu benda-benda yang membuat badan ini lumayan hangat, saya tanggalkan. Sleeping bag, sarung, saya lepas. Sejurus kemudian, saya sudah berada di luar tenda-melangkahi dua teman saya yang terlihat masih pulas menikmati tidur. Continue reading

Pagi Itu, Kami Berangkat…

Panggilan alam ternyata datang lebih cepat dari perkiraan. Saya terbangun dari tidur yang sangat amat tidak nyenyak sekali karena hawa dingin yang begitu menusuk tulang.

Saya bergegas pergi meninggalkan base camp tempat kami dan begitu banyak rombongan dari berbagai daerah semalam menginap. Suara adzan subuh terdengar begitu merdu. Letak masjid yang hanya beberapa meter saja dari base camp, membuat telinga ini awas saat panggilan sholat itu datang. Continue reading

Teman-teman yang menginap rame-rame di base camp kledung l sumber foto fb Aprilia.kurnia

Semalam di Kledung

“Bu,,,sekarang apa masih masuk waktu sholat maghrib?” tanya saya pada seorang ibu yang baru saja keluar dari pintu masjid dan hendak mengambil sandal.

“Masih mas, ini baru saja selesai sholat maghrib berjamaah” Jawab si ibu tadi

Mata ini memandang ke arah tempat wudhu di sebelah kanan pintu masuk masjid. Terlihat orang-orang yang kecewa karena ternyata air sedang tidak mengalir di tempat wudhu. Saya pun langsung bingung mau wudhu dimana coba? Continue reading

Maju Makmur

Jam di layar handphone menunjukan pukul 16.05.

Sebuah terminal sederhana dan terkesan kurang terawat berada persis di depan saya saat ini.

maxresdefault

Terminal Proyek-Mrican, kondisinya parah l Sumber : youtube.com

Sebuah atap memanjang berbentuk joglo terlihat berdiri di pinggir  jalan raya ini.

Deretan bangku yang terbuat dari cor-coran semen terlihat memanjang dari kanan ke  kiri, sementara itu di belakangnya juga persis sama.

Sore itu, bangku-bangku tadi terlihat penuh dengan para penumpang yang hendak bepergian dengan tujuan yang berbeda-beda. Continue reading