Jelajah Banjoemas: Melihat Gedung-Gedung Tua di Klampok

Sinar matahari makin terik, suara bising kendaraan yang berlalu-lalang di jalan raya Purwareja-Klampok menambah ramai perjalanan kami menjelajahi kota ini. Rombongan sepeda motor kini sudah meninggalkan gang-gang sempit dan sebentar saja sudah berada di pintu masuk sebuah area gudang dan beberapa bekas perumahan milik PERTANI yang kondisinya rusak dan rusak berat. Ya saat ini kami memang berada di dalam area tembok bekas Suikerfabriek, yang beberapa menit yang lalu kami telusuri pada bagian belakangnya.

Gudang PERTANI ini kini masih saja sibuk dengan aktivitas bongkar muat oleh para pekerjanya. Rata-rata bangunan tua di kawasan ini dibangun pada tahun enam puluhan atau setelah zaman kemerdekaan namun masih menyisakan arsitektur khas yang terpengaruh oleh bangunan-bangunan Kolonial Belanda. Tembok-tembok yang tinggi, jendela yang lebar, lubang angin berbentuk segi lima yang khas serta bentuk atap limas pun masih bisa disaksikan hingga sekarang walaupun beberapa bagian kondisinya sudah tidak terawat, seperti biasanya nasib bangunan tua. Continue reading

Advertisements

Saat Manusia Ikan Berebut Ikan di Sungai Serayu

Suasana kota Banjarnegara, Minggu pagi ini begitu sepi. Beberapa jalan utama ditutup dan dialihkan ke jalan lain karena dijadikan ajang car free day. Saya yang berangkat dari Punggelan harus memutar lewat jalan pinggiran kota menuju Pinggir Sungai Serayu-Madukara. Ada apa gerangan di sana? Minggu ini adalah puncak dari gelaran Festival Serayu Banjarnegara Tahun 2017. Dari rangkaian acara yang diadakan hampir sebulan ini, saya hanya mengikutinya saat pembukaan dan penutupannya saja.

20170827_073218-01

jembatan yang menghubungkan Singamerta-Madukara

Festival Serayu Banjarnegara Tahun 2017 ini saya awali dengan ikut menyaksikan Dieng Culture Festival selama 2 hari 2 malam di Dataran Tinggi Dieng dan diakhiri dengan Festival Parak Iwak di Sungai Serayu, minggu tanggal 27 Agustus kemarin.

Continue reading

Pesona Wisata Religi di Kabupaten Semarang Ala Mba Rahma

Nama lengkapnya Rahmawati, akan tetapi orang-orang lebih sering memanggilnya, Mba Rahma. Siapakah dia?

Mba Rahma merupakan wanita kelahiran Banjarnegara. Selepas menamatkan pendidikannya di SMAN 1 Banjarnegara, ia kemudian melanjutkan kuliahnya di Universitas Negeri Semarang. Ia tak lain dan tak bukan adalah kakak dari sahabat saya sedari kecil, Wedwi Priyogo.

Mengikuti jejak kakak perempuannya, Wedwi pun selepas SMA melanjutkan kuliah di universitas yang sama. Continue reading

Cerita Mereka, Tentang Pesona Wisata Kabupaten Semarang

Ini bukan cerita tentang saya saja. Ini merupakan kumpulan cerita dari orang-orang di sekitar saya selama ini. Namun dalam cerita-cerita tadi terselip sebuah kenangan manis akan potensi wisata di Kabupaten Semarang. Latar dari semua cerita ini.

Cerita pertama datang dari salah seorang sahabat saya sejak kecil hingga kini. Wedwi Priyogo. Pemuda asli Kota Dawet Ayu Banjarnegara ini, punya banyak kenangan tentang Kabupaten Semarang. Perjumpaannya dengan kabupaten ini bermula saat ia melanjutkan kuliahnya di Universitas Negeri Semarang.

Walaupun lokasi kampusnya berada di luar Kab.Semarang, namun ia sering bolak-balik ke rumah kakak perempuannya yang sudah lumayan lama menetap di daerah Ungaran Barat, terutama saat akhir pekan maupun pas tidak ada jadwal kuliah. Continue reading

Ada Apa di DEPO PELITA?

Cuaca terik di sabtu siang bulan mei 2017 tak menyurutkan langkah saya mengendarai sepeda motor menuju arah Kalibenda-Banjarnegara, arah timur kota. Saya termasuk tipe orang yang selalu telat mendatangi tempat-tempat baru lebih khusus di kota kelahiran sendiri.

Tujuan saya kali ini adalah mengunjungi sebuah pusat perbelanjaan yang mengkhususkan diri menjual aneka macam kebutuhan bangunan atau istilah kerennya Supermarket Bahan Bangunan, kurang lebih mirip-mirip IKEA lah (mungkin saja karena saya belum pernah melihat langsung seperti apa IKEA itu). Continue reading

Kapan, Sepur Lewat Banjarnegara Lagi?

Apa Impianmu Saat Ini?

Jika ditanya, apa impian jangka pendekmu? Saya akan menjawabnya dengan sebuah jawaban sederhana. Ingin naik sepur (Kereta Api) dalam waktu dekat. Mungkin jawaban tadi terkesan naif, ndeso atau ketinggalan zaman, bagi orang yang mendengarnya. Tapi tidak bagi saya.

Bagaimana tidak. Hingga menginjak usia dua puluhan, saya belum berkesempatan mencicipi bagimana rasanya menggunakan moda transportasi massal yang sudah ada sejak zaman Belanda ini.

Dulu, tiap berangkat sekolah hanya bisa menyaksikan bantalan-bantalan rel dan besi-besi tua yang masih tersisa di sepanjang jalan dari Terminal Mrican hingga Pucang, Bawang, Banjarnegara. Bahkan untuk melihat secara langsung bagaimana cantiknya gerbong-gerbong panjang yang saling terhubung bak ular besi raksasa, masih sekedar khayalan semata.
Continue reading

Pembelajaran Dari Dieng Culture Festival 2017

Dari beberapa kali gelaran Dieng Culture Festival, baru di tahun 2017 inilah saya turut serta menyaksikan secara langsung seperti apa suasana dan kemeriahannya. Itupun karena faktor ketidaksengajaan, salah satu rekan blogger menawarkan “tiket” masuk DCF 2017 kepada saya. Sebenarnya lebih tepatnya untuk menggantikannya. Awalnya saya males, selain jauh juga dari rumah dan tidak ada teman yang ikut. Beberapa teman yang sudah saya ajak ternyata tidak bisa karena harus masuk kerja.

Saya sebenarnya juga harus masuk kerja namun saat itu saya meminta izin satu hari untuk libur. Berangkat dari rumah selepas sholat Jumat, saya berkendara menuju kota Banjarnegara. Petualangan pun dimulai. Jadi ceritanya saya harus menghubungi salah satu pejabat di Dinas xxx setempat untuk mengambil jatah “tiket” yang sedianya akan saya ambil. Continue reading