Category Archives: Jelajah Curug

Sunyi di Curug Sinini

Perhentian kami kali ini persis di depan Gedung Balai Desa Pagerandong Kecamatan Mrebet, Kabupaten Purbalingga.

Setelah sekian lama tidak NDAYENG bersama, kini saya dan Wedwi punya kesempatan lagi untuk mengunjungi curug yang sudah menjadi kebiasaan kami saat kebetulan bisa pergi bersama. Continue reading

Ketika Maut Hampir Menjemput


”Puncak Gunung Slamet masih terlihat gagah di depan mata.

Semakin mendekat, semakin terlihat jelas gagah dan besarnya gunung ini.

Jalanan menanjak yang membelah area persawahan menyambut kami dengan semilir angin yang berhembus dari berbagai arah.

Motor yang kami kendarai terus melaju menembus jalanan yang lumayan masih baik kondisinya”.


***

Sehari sebelumnya,

Libur Natal telah usai, bertepatan dengan hari minggu membuat kami ini yang masih terikat kerja harus rela gigit jari karena berharap Natal jatuh pada hari senin agar bisa libur 2 hari sekaligus. Apa daya setelah senin pagi harus memulai rutinitas kembali, akhirnya berkesempatan mendapatkan jatah cuti bersama selama satu hari dan saya mengambil jatah tersebut pada hari selasa. Continue reading

Pesona Sumba di Kota Perwira

Jalanan menurun dan berkelok-kelok ini telah kami lewati lebih dari setengah jam lamanya. Hamparan sawah yang bertingkat-tingkat menjadi pemandangan yang menyejukan mata bagi setiap pengendara yang melewati jalur ini. Kali ini kami hendak kembali menuju Banjarnegara setelah beberapa jam lalu mengunjungi Goa Lawa Purbalingga. Siang itu kami (dengan Wedwi) masih berada di Purbalingga dan niat awalnya hendak langsung pulang saja karena hari sudah siang.

Sebuah poster berukuran lumayan besar terpampang di pinggir jalan raya yang kami lewati. Dari sekilas pandangan mata, poster tersebut berisi lokasi wisata Curug Sumba yang lokasinya hanya 100 meter dari pinggir jalan raya. Sepeda motor yang kami tumpangi kebetulan sudah bablas lebih jauh dan terpaksa putar balik demi mengobati rasa penasaran kami tadi.

Processed with VSCO

Seratus meter dengan jalanan rusak berbatu

Continue reading

Damai di Curug Sinom Indah

Tak seperti biasanya, siang itu cuaca begitu terik. Sebagian awan putih menggumpal di atas langit Banjarmangu. Sisanya hanya hawa panas yang pelan namun pasti berganti menjadi semilir sejuk udara khas pegunungan.

Motor kami terus melaju mengikuti alur jalan yang naik dan berkelok-kelok melintasi hamparan perkebunan salak yang berada pada sisi kanan-kiri jalan raya ini. Seperti kilas balik, beberapa waktu lalu jalanan menuju arah Karangkobar masih berupa aspal yang penuh lubang dan pada beberapa bagian telihat dalam proses pembetonan jalan. Namun kini semua sudah berubah, jalanan sudah mulus dengan beton yang terlihat masih baru. Continue reading

Si Muncar Yang Kini Terlupakan

Berawal dari rasa penasaran akan keberadaan potensi wisata di kecamatan Punggelan yang begitu luas, sudah beberapa hari ini saya mencari tahu info ataupun kabar burung yang beredar di masyarakat mengenai obyek alami yang bisa dijadikan tempat wisata. Salah satu yang membuat saya penasaran adalah keberadaan Curug Muncar yang populer menjadi lokasi favorit anak muda pada tahun 90-an. Ya generasi kakak saya saat itu begitu menggandrungi curug ini.

Berbekal cerita dari mulut ke mulut, saya mulai mencari info lokasi curug ini melalui rekan kerja yang kebetulan rumahnya masih satu desa dengan lokasi Curug Muncar. Hanya inilah satu-satunya cara yang bisa saya usahakan untuk menggali lebih lanjut sosok Curug Muncar ini.

Pak Rohman namanya, lelaki tinggi besar, kulit sawo matang, perut sedikit buncit, kumis tebal dan rambut yang sedikit ikal. Sekilas tampak menakutkan tampilan Pak Rohman ini, akan tetapi aslinya orang baik, ramah dan sangat royal dengan sesama rekan kerja. Continue reading

Menapaki Anak Tangga Menuju Curug Pitu

Cerita sebelumnya di sini

Setelah melewati rimbunnya perkebunan salak yang sudah berbuah dan juga pepohonan durian yang wangi, akhirnya kami sampai di pintu masuk curug Pitu.Sebuah tempat parkir terlihat di sisi kiri jalan. Di depannya terdapat sebuah bangunan berbentuk joglo tempat petugas menjual tiket masuk. Sebuah warung makan sederhana berdiri persis di belakang loket penjualan tiket tadi. Di seberang jalan terdapat beberapa bangunan toilet dan kamar mandi. Kalau dilihat dari tampilannya, sepertinya ini merupakan bangunan baru. Bau cat yang masih menusuk hidung dan mengkilap dengan dominasi warna hijau terang.

Sebuah anak tangga lebar dan masih baru berada persis di ujung jalan, makin naik menuju sebuah gazebo megah. Sepasang papan peringatan berdiri di bagian kanan-kiri gazebo tadi. Seakan mengingatkan pengunjung untuk menaati aturan yang berlaku di lokasi curug ini. Sebuah bak sampah warna hitam juga terlihat masih baru dan bersih. Sungguh, pemerintah daerah sepertinya bersungguh-sungguh menjadikan Curug Pitu ini sebagai destinasi wisata yang mudah diakses. Continue reading

Jelajah Pagedongan-Bagian Akhir : Celetuk Curug Pletuk

Cerita sebelumnya di sini

Kaki-kaki basah dan belepotan lumpur ini menuruni jalan tanah yang licin menuju sungai di depan sana. Dari kejauhan terdengar suara riuh anak-anak yang berteriak riang gembira. Makin mendekat suara-suara itu makin terdengar jelas. Sepuluhan anak seumuran tujuh-delapan tahunan,lelaki-perempuan sedang asik bermain air di antara bebatuan besar. Aliran sungai ini begitu deras dengan airnya yang super jernih. Lebar sungai ini hanya sekitar dua setengah meter dan kedalaman sebatas lutut kami.

Kami berhenti sejenak menyaksikan tingkah polah bocah-bocah ini. Sementara itu di atas batu besar terlihat sesosok perempuan berjilbab yang tengah asik mencelup-celupkan kakinya yang putih itu ke dalam air. Sesekali mata awasnya memandangi dengan teliti bocah-bocah di depannya. Ya itu bocah-bocah sekitar desa yang sedang menikmati keindahan alam karya Tuhan. Mereka tidak perlu direpotkan dengan biaya masuk, transportasi atau pun uang jajan hanya untuk menikmati bermain air. Beda dengan bocah-bocah kota yang harus mengeluarkan uang dan lainnya hanya untuk menikmati rasanya bermain air macam di waterboom. Continue reading