Category Archives: Cerita Kita

Menuntaskan Rasa Penasaran Akan Citarasa Mie Pipih

Sengaja saya lambatkan laju sepeda motor yang melintasi jalan satu arah di daerah sekitar klinik persalinan dr.Haryata-Banjarnegara Kota. Cukup beralasan mengapa saya melakukan hal ini. Bisa dibaca jika saya sedang mencari sesuatu di sekitar sini.

“Lokasinya di seberang jalan klinik persalinan”

Saya masih ingat betul salah satu “caption” yang diposting oleh seorang  admin di akun Instagram. Continue reading

Mendemnya Kampung Krajan

“kakang-kakang pada plesir maring ngendi, ya-yi, tuku dawet, dawete Banjarnegara, seger anyes legi, apa iya, dawet ayu, dawete Banjarnegara”

Sayup-sayup suara lengkingan sinden yang sedang nggelelo, memecah kesunyian siang ini di Kampung Krajan, Karangsari.

Pada pelataran rumah yang masih berupa tanah kering serta berkerikil, terlihat patok-patok dari bilah-bilah bambu yang dibuat sedemikian rupa sebagai pagar pembatas darurat. Continue reading

Rekomendasi Liburan Lebaran di Banjarnegara

Sehari menjelang berakhirnya puasa Ramadhan, beranda rumah selalu penuh dengan hadirnya para tetangga yang hendak membuat ketupat lebaran dari daun kelapa yang masih muda. Kurang lebih seperti itulah ritme yang terus berulang menjelang hari raya tiap tahunnya yang terjadi di kampung penulis.

Hari raya adalah hari suka cita dalam artian positif. Hari dimana manusia-manusia baru terlahir kembali dan menyongsong lembaran baru dengan hati yang suci. Hari dimana manusia telah melewati hampir sebulan penuh menahan amarah, makan dan minum, nafsu dan hal lainnya yang bisa membatalkan ibadah puasa.

Sama seperti manusia lainnya, banyak orang yang mengganjar dirinya sendiri dan keluarga serta orang terkasihnya dengan berbagai macam kegembiraan, salah satunya dengan cara menghadiahi diri berupa Liburan Lebaran. Continue reading

Saat Kopi Kretegan Pertama Kali Dipanen

“Kalau tau mau pulang cepat, tadi mending nunggu saja daripada harus naik ojek bolak-balik” Sambut ibu saat saya baru pulang kerja dengan muka sedikit cemberut.

“Memang habis darimana, bu?” Jawab saya sambil kaget.

Oalah le..le.ee.. “Tadi sama bapak, habis memetik kopi yang kata tetangga sudah ada yang matang”

Lagi-lagi saya pun masih kaget!!. “Kopi?, emang kita punya kebun kopi ya bu?” Continue reading

Obrolan Melintas Waktu Dari Sebuah Warung Pecel

Perjalanan mengajarkan bukan seberapa jauh kamu melangkah namun seberapa berkualitas inti dari sebuah perjalanan itu sendiri.

Kurang lebih saya bisa menyimpulkan demikian adanya.

Sebuah gubuk sederhana dengan dua buah pintu pada sisi kanan dan kiri serta sebuah jendela semata wayang mengapitnya di tengah, terlihat masih menunjukan aktivitas sore itu. Mungkin inilah satu-satunya warung yang buka paling gasik di pasar ini.

Dengan penerangan lampu pijar seadanya dan kedua buah pintu yang hanya ditutup selembar tipis kain gorden jadul, warung ini malah terlihat ramah dan menanti orang-orang yang hendak singgah. Continue reading

Kumpul Blogger di Warung Kopi

Minggu pagi, 26 Maret 2017-Banjarnegara diguyur hujan deras sejak sabtu malam hinggu minggu siang.

Padahal ini hari libur dan sudah saatnya untuk menyegarkan pikiran kembali setelah disibukkan dengan rutinitas harian yang terkadang membuat mood menjadi jelek, ditambah lagi menjelang akhir bulan.

Sebagai seorang yang bisa bepergian saat hari minggu dan tanggal merah saja, saya kadang rindu untuk bisa keluar rumah dan mencari suasana baru. Kebetulan hari ini adalah untuk  pertama kalinya para blogger dari pelosok Banjarnegara yang telah lama vacuum mendapatkan kesempatan kembali untuk berkumpul dan mengenal satu sama lainnya.

Dengan inisiatif saya, Idah Ceris, Jujun dan Mas Ganjar, kami sepakat untuk menghidupkan kembali komunitas blogger Banjarnegara yang lama mati suri tanpa ada tanda-tanda keaktifan. Continue reading

Watu Geong, Antara Wayang Kulit dan Bencana Alam

“Pak, tau dimana letak batu berukuran raksasa yang kondisinya tergantung di atas bukit?”

Siang itu entah ada angin apa, saya tiba-tiba saja menanyakan keberadaan suatu batu unik yang berada di daerah perbatasan Jembangan (Banjarnegara) dengan Gunung Wuled (Purbalingga) kepada salah seorang rekan kerja yang berprofesi sebagai Juru Malaria Desa (JMD) yang kebetulan mendapat tugas mengawasi daerah Jembangan.

Pak Amin, nama dari Juru Malaria Desa tadi yang sudah menjalani profesi ini selama lebih dari sepuluh tahun. Setiap harinya beliau berkeliling desa untuk mencari orang-orang yang sakit terutama demam untuk diambil darahnya dan kemudian diperiksa di laboratorium. Continue reading