Category Archives: Cerita Kita

Cerita Sepincuk Pepes Tempe

Dikutip dari berbagai sumber – Asal usul Pepes ternyata berasal dari Tanah Pasundan. Orang Sunda menamai hidangan yang dibungkus daun ini dengan nama “Pais”.

Bahan utama untuk membuat pepes ini bisa apa saja. Seperti kebiasaan orang Sunda yang selalu memanfaatkan alam, mereka mengisi pepesnya dengan apa yang ada. Ikan dari kolam, tahu, jamur yang tumbuh di ladang atau hutan, bahkan ampas minyak kelapa pun bisa diubah menjadi pepes. Bahan yang ada ini dipadukan dengan bumbu yang mereka tanam di halaman seperti kunyit, serai, dan daun salam, untuk kemudian  dibungkus dengan daun pisang.

Awalnya pepes dimasak dengan waktu sangat lama. Minimal delapan jam karena dimatangkan dengan cara ditaruh di atas abu hawu (kayu) panas sehingga makanan yang dipepes matang perlahan-lahan. Pemepesan yang lama ini membuat pepes menjadi kering, bumbunya meresap, dan keharuman yang timbul dari aroma daun yang terbakar dan kayu jadi sangat menggiurkan.

Continue reading

Peyek Kacang, Pertanda Lebaran Makin Dekat

Puasa hari ini sungguh membuat badan rasanya lemas dan perut juga perih. Mungkin karena saat makan sahur yang kurang serat dan cenderung dominan makan goreng-gorengan yang menjadi penyebabnya.

Sore ini saya sengaja pulang lebih sore dan tadi mampir ke tempat teman sekedar untuk berbincang-bincang sambil menunggu waktu. Waktu menunjukan pukul setengah empat sore lebih dan sesampainya di rumah langsung menuju kamar mandi untuk langsung mandi saja biar segar. Continue reading

Menuntaskan Rasa Penasaran Akan Citarasa Mie Pipih

Sengaja saya lambatkan laju sepeda motor yang melintasi jalan satu arah di daerah sekitar klinik persalinan dr.Haryata-Banjarnegara Kota. Cukup beralasan mengapa saya melakukan hal ini. Bisa dibaca jika saya sedang mencari sesuatu di sekitar sini.

“Lokasinya di seberang jalan klinik persalinan”

Saya masih ingat betul salah satu “caption” yang diposting oleh seorang  admin di akun Instagram. Continue reading

Mendemnya Kampung Krajan

“kakang-kakang pada plesir maring ngendi, ya-yi, tuku dawet, dawete Banjarnegara, seger anyes legi, apa iya, dawet ayu, dawete Banjarnegara”

Sayup-sayup suara lengkingan sinden yang sedang nggelelo, memecah kesunyian siang ini di Kampung Krajan, Karangsari.

Pada pelataran rumah yang masih berupa tanah kering serta berkerikil, terlihat patok-patok dari bilah-bilah bambu yang dibuat sedemikian rupa sebagai pagar pembatas darurat. Continue reading

Rekomendasi Liburan Lebaran di Banjarnegara

Sehari menjelang berakhirnya puasa Ramadhan, beranda rumah selalu penuh dengan hadirnya para tetangga yang hendak membuat ketupat lebaran dari daun kelapa yang masih muda. Kurang lebih seperti itulah ritme yang terus berulang menjelang hari raya tiap tahunnya yang terjadi di kampung penulis.

Hari raya adalah hari suka cita dalam artian positif. Hari dimana manusia-manusia baru terlahir kembali dan menyongsong lembaran baru dengan hati yang suci. Hari dimana manusia telah melewati hampir sebulan penuh menahan amarah, makan dan minum, nafsu dan hal lainnya yang bisa membatalkan ibadah puasa.

Sama seperti manusia lainnya, banyak orang yang mengganjar dirinya sendiri dan keluarga serta orang terkasihnya dengan berbagai macam kegembiraan, salah satunya dengan cara menghadiahi diri berupa Liburan Lebaran. Continue reading

Saat Kopi Kretegan Pertama Kali Dipanen

Kalau tau mau pulang cepat, tadi mending nunggu saja daripada harus naik ojek bolak-balik” Sambut ibu saat saya baru pulang kerja dengan muka sedikit cemberut.

“Memang habis darimana, bu?” Jawab saya sambil kaget.

Oalah le..le.ee.. “Tadi sama bapak, habis memetik kopi yang kata tetangga sudah ada yang matang”

Lagi-lagi saya pun masih kaget!!. “Kopi?, emang kita punya kebun kopi ya bu?” Continue reading

Obrolan Melintas Waktu Dari Sebuah Warung Pecel

Perjalanan mengajarkan bukan seberapa jauh kamu melangkah namun seberapa berkualitas inti dari sebuah perjalanan itu sendiri.

Kurang lebih saya bisa menyimpulkan demikian adanya.

Sebuah gubuk sederhana dengan dua buah pintu pada sisi kanan dan kiri serta sebuah jendela semata wayang mengapitnya di tengah, terlihat masih menunjukan aktivitas sore itu. Mungkin inilah satu-satunya warung yang buka paling gasik di pasar ini.

Dengan penerangan lampu pijar seadanya dan kedua buah pintu yang hanya ditutup selembar tipis kain gorden jadul, warung ini malah terlihat ramah dan menanti orang-orang yang hendak singgah. Continue reading