Author Archives: Hendi Setiyanto

About Hendi Setiyanto

Blogger Dawet Ayu, Banjarnegara

Jelajah Bandung: Saat Orang-Orang Kurang Piknik ke Farm House Lembang

“Ini nggak bisa kayak gini dong!!” Teriak seorang lelaki berperawakan tinggi besar dengan kulit kuning dan mata sipitnya kepada seorang satpam. Keduanya terlihat ardu argumen hebat. Mata melotot. Nada suara makin meninggi. Tangan yang hendak memukul satu sama lainnya.

Entah ada masalah apa, kedua orang tadi menjadi tontonan pengunjung dari berbagai daerah yang hendak memasuki pintu masuk lokasi wisata Farm House Lembang.

Suasana jalanan Lembang macet parah. Arus kendaraan sudah diatur sedemikian rupa oleh polisi lalu lintas.

Baca cerita sebelumnya di sini!

Kami pun terpaksa turun di pinggir sebuah jalan raya sempit dan harus berjalan kaki lebih dari lima belas menit untuk mencapai pintu masuk Farm House Lembang. Continue reading

Ramai-Ramai Menikmati Harum dan Legitnya Durian Ndirun

Tahun 2017 ini, Banjarnegara sepertinya memasuki musim yang tidak menentu. Kadang seminggu cuaca panas terik seperti memasuki musim kemarau namun seminggu kemudian bertolak belakang, sepanjang hari juga Banjarnegara diguyur hujan hingga membuat suhu di desa-desa yang berada di lereng perbukitan bertambah dingin.

Tentu ada sisi positif dan negatif dari perubahan cuaca yang tidak menentu ini, di satu sisi para penggarap ladang persawahan tadah hujan yang berada di bawah lereng perbukitan seperti mendapatkan berkah karena pasokan air untuk mengairi persawahan lancar namun bagi petani buah-buahan seperti durian di sepanjang daerah Singamerta-Sigaluh timur Banjarnegara membuat sedikit kecewa karena bakal buah durian ini rontok diguyur hujan terus menerus. Continue reading

Cerita Sepincuk Pepes Tempe

Dikutip dari berbagai sumber – Asal usul Pepes ternyata berasal dari Tanah Pasundan. Orang Sunda menamai hidangan yang dibungkus daun ini dengan nama “Pais”.

Bahan utama untuk membuat pepes ini bisa apa saja. Seperti kebiasaan orang Sunda yang selalu memanfaatkan alam, mereka mengisi pepesnya dengan apa yang ada. Ikan dari kolam, tahu, jamur yang tumbuh di ladang atau hutan, bahkan ampas minyak kelapa pun bisa diubah menjadi pepes. Bahan yang ada ini dipadukan dengan bumbu yang mereka tanam di halaman seperti kunyit, serai, dan daun salam, untuk kemudian  dibungkus dengan daun pisang.

Awalnya pepes dimasak dengan waktu sangat lama. Minimal delapan jam karena dimatangkan dengan cara ditaruh di atas abu hawu (kayu) panas sehingga makanan yang dipepes matang perlahan-lahan. Pemepesan yang lama ini membuat pepes menjadi kering, bumbunya meresap, dan keharuman yang timbul dari aroma daun yang terbakar dan kayu jadi sangat menggiurkan.

Continue reading

Jelajah Bandung: Tiba di Gunung Tangkuban Perahu

Satu persatu, berbagai macam bis dengan aneka warna pergi meninggalkan lokasi parkir. Waktu menunjukan pukul 07.30 pagi. Langit Lembang masih terlihat gelap. Hawa dingin pun masih terus berhembus dari balik dedaunan pohon pinus yang banyak tumbuh di sekitar lokasi parkir.

Sang supir bus terlihat sudah memanaskan mesin kendaraan dan bersiap-siap berangkat. Para rombongan satu persatu memasuki bis. Namun semenit dua menit, belum ada tanda-tanda bis ini akan bergerak. Ternyata ada satu masalah, salah satu rombongan ada yang belum masuk bis dan kini entah berada dimana. Panitia pun dengan sigap mengecek setiap tempat, barangkali orang yang ditunggu tadi masih di kamar mandi, dan benar saja. Saat yang lain sudah selesai bersih-bersih,orang yang ditunggu tadi ternyata baru akan memulainya. Continue reading

Lost In Gandong Waterfall

Sekarang kita lewat mana?” tanya saya pada Tigana yang sedari tadi berjalan paling depan melewati pinggiran sawah yang berlumpur. Sementara itu gerimis dan hawa dingin masih terus saja mengikuti langkah kami.

“kita ikuti saja jalur ini, nanti juga bakalan sampai ke arah suara speaker masjid yang sedari tadi terdengar” jawab Tigana dengan penuh keyakinan.

“hmmmm…apa malah kita berjalan makin jauh dari jalur sebelumnya?” Seloroh Jujun dengan matanya yang sedari tadi masih saja fokus memandangi google maps di layar gawainya. Continue reading

Peyek Kacang, Pertanda Lebaran Makin Dekat

Puasa hari ini sungguh membuat badan rasanya lemas dan perut juga perih. Mungkin karena saat makan sahur yang kurang serat dan cenderung dominan makan goreng-gorengan yang menjadi penyebabnya.

Sore ini saya sengaja pulang lebih sore dan tadi mampir ke tempat teman sekedar untuk berbincang-bincang sambil menunggu waktu. Waktu menunjukan pukul setengah empat sore lebih dan sesampainya di rumah langsung menuju kamar mandi untuk langsung mandi saja biar segar. Continue reading

Ternyata Dusun Pingit Juga Punya Sumber Air Hangat Alami

Saya percepat langkah kaki saat melintasi perumahan warga di Desa Gumelem Wetan, Kec.Susukan, Kab.Banjarnegara. Siang itu cuaca begitu teriknya. Sudah semingguan ini tidak diguyur hujan sepertinya.

Sepeda motor yang sedari tadi dititipkan di depan halaman rumah warga, kini saya ambil guna melanjutkan perjalanan berikutnya seorang diri. Sebotol air mineral yang tersisa di ransel pun saya raih. Sungguh siang itu rasanya sangat haus dan kering tenggorokan ini. Continue reading