Mencicipi Sate Sapi Mbak Tug, Seporsi Nggak Cukup!!

Cuaca panas Kota Solo saat siang, tak menyurutkan niat untuk mencari hidangan yang bisa mengganjal perut. Kebetulan, tak lengkap rasanya kalau berkunjung ke kota kelahiran Jokowi ini tanpa mencicipi sajian khasnya. Kali ini, kami (saya dan Halim San) hendak mencicipi sate yang tak biasa.

Sate Kere! Sebelumnya saya sudah sering mendengar jenis sate yang satu ini namun tak terbayangkan seperti apa rasanya.

Dengan berjalan kaki, kami berangkat dari titik di sekitar Pasar Gede Hardjonagoro. Lumayan juga kalau harus jalan kaki di tengah cuaca yang terik apalagi saya sebenarnya tak terbiasa kemana-mana jalan kaki seperti

Setelah menyeberang pada perempatan jalan raya, kami pun tinggal jalan kaki beberapa puluh meter lagi untuk sampai di lokasi yang dituju.

Semakin mendekat, terlihat sebuah gerobak yang berada di pinggir jalan gang yang sebenarnya tidak terlalu ramai. Pada gerobak tadi terlihat tulisan “Sate Sapi Mbak Tug”.

Saya pikir ini merupakan penjual sate daging sapi namun saat melihat lebih dekat ternyata kebanyakan berupa jerohan sapi dan juga tempe gembus atau dalam bahasa Banjarnegara kami menyebutnya “Ketepo”.

membakar sate

bapak sedang membakar sate

Orang-orang juga menyebut sate ini sebagai sate kere karena bahan-bahan yang digunakan berupa jerohan sapi dan juga ampas tahu yang pada zaman dahulu harganya sangat murah dan cocok untuk rakyat jelata yang tidak sanggup membeli daging. Namun kini jangan salah, sajian rakyat jelata ini malah menjadi incaran para wisatawan yang berkunjung ke Kota Solo.

Saat itu saya hanya manut apa yang dipesan oleh Halim San, yang memilih beberapa tusuk tempe gembus, usus sapi dan juga bagian jerohan yang lainnya. Setelah memilih, maka berikutnya giliran si bapak yang bertugas membakar sate tadi di atas arang yang sedari tadi sudah menyala.

Siang itu walaupun tidak terlalu ramai oleh para pembeli namun satu persatu orang datang untuk juga mencicipi sajian sate ini.

Setelah dirasa cukup memesan sate, saya diajak Halim untuk berjalan kaki beberapa meter menuju sebuah depot es campur legendaris. Tenang saja, nanti sate yang sudah dipesan akan diantar ke depot yang letaknya tak jauh.

Sebuah depot es campur sederhana terlihat. Pemiliknya adalah seorang perempuan bertenis Tionghoa yang masih sangat produkif meskipun sekilas usianya sudah tidak muda lagi.

Ada begitu banyak pilihan es campur yang dijual. Satu yang pasti namanya unik-unik dan mempunyai kisah sendiri kenapa dinamakan seperti itu. Sayangnya, saya lupa mencatat atau menghafal nama-namanya karena saat itu asyik mengobrol dengan si Ibu.

Intinya es campur tadi ada yang dinamakan sesuai dengan judul film di era 60-80an, nama judul lagu, serta nama yang bertepatan dengan peristiwa kelam masa lampau terhadap etnis tionghoa di Indonesia. Kesemuanya unik-unik dan sarat akan makna.

minum es campur

es campur legendaris l foto: Halim Santoso

Es yang saya pesan berisi es serut, santan, kolang-kaling, pisang rebus yang dipotong serta sirup. Rasanya menurut saya unik sesuai dengan nama-nama yang dipergunakan tentunya. Oh ya, es campur tadi disajikan dalam mangkok yang biasa untuk wadah bakso dan mie ayam.

Tak lama kemudian, pesanan kami berupa sate jerohan sapi alias sate kere pun datang. Dengan menggunakan nampan dari anyaman lidi dan beralaskan daun pisang, kami pun siap-siap mencicipinya. Oh ya untuk si Halim mungkin sudah terbiasa dengan rasanya karena berdomisili di Solo namun bagi saya ini merupakan kali pertama mencobanya.

Sate tadi disajikan dengan potongan lontong yang dari bentuknya saja sudah sangat menggiurkan untuk segera dicicipi.

Tempe gembus menjadi pertama yang saya cicip karena biasanya di tempat saya berasal, hanya dimanfaatkan untuk digoreng tepung atau dioseng menggunakan cabai hijau. Tekstur tempe gembus ini lembut dan berongga sehingga bumbu-bumbu yang merendamnya tentu sudah sangat meresap ditambah aroma dari hasil pembakaran menggunakan arang.

makan sate

menikmati sate kere l foto: Halim Santoso

Rasa dominan saat mencoba tentu saja manis dari hasil racikan bumbu kacang, gula jawa, sedikit kecap dan yang khas adalah adanya aroma daun jeruk yang dipergunakan. Bumbu kacangnya pun kental dan benar-benar klop dengan tekstur tempe gembus yang dibakar.

Untuk usus sapi bakarnya, terasa kenyal dan lengket saat digigit di dalam mulut namun tetap enak. Hanya saja untuk jerohan sapi mungkin jangan terlalu sering dikonsumsi karena kandungan kolesterolnya yang lumayan tinggi.

Kombinasi sate jerohan sapi dan tempe gembus tadi memang wajib disajikan dengan lontong yang sangat pulen saat dimasak dan tinggal ditusuk menggunakan ujung tusukan sate dan hmmm…tak terasa lumer di mulut.

Satu yang tak boleh dilewatkan adalah menyesap habis kuah bumbu satenya karena sayang kalau disisakan begitu saja.

Hmmm….walaupun pertama kali saya mencobanya namun sate ini wajib didatangi dan dicicipi saat berkunjung ke Kota Solo.

Hal lain yang saya suka adalah kombinasi rasa manis yang menurut lidah saya pas, maklum biar sama-sama orang jawa namun saya tinggal di ujung barat sehingga terbiasa memakan masakan yang manis, pedas dan asin, sama rata.

Tak terasa, seporsi sate yang enak ini rasa-rasanya kurang cukup, maklum di tempat saya berasal sudah menjadi kebiasaan kalau setiap sajian pasti porsinya lumayan banyak hehehehe.

Jadi kalau berkunjung ke Kota Solo, boleh lah mampir ke Sate Sapi Mbak Tug ini, lokasinya di Jalan Arifin No.43.

Advertisements

21 thoughts on “Mencicipi Sate Sapi Mbak Tug, Seporsi Nggak Cukup!!

  1. Eko Nurhuda

    Nyaaam! Ketoke enak iki, Mas. Sudah lama nggak kulineran di Solo. Tahun lalu ke sana, tapi makannya nasi kotak yang disediakan panitia, hahaha.

    Like

    Reply
  2. Fanny Fristhika Nila

    Aghhhhh kangen solo.. Pertama kali coba sate kere, ini dari mertuaku. Aku yg memang suka nyobain kuliner baru lgs tertarik lah. Dan sukaaaak banget. Dulu langgnan mama sate kere yu rebi. Itu jg terkenal. Saus kacangnya peddees :D. Sukaaak banget pokokna

    Liked by 1 person

    Reply
    1. Hendi Setiyanto Post author

      iya ga nyangka kalau tempe gembus atau ketepo itu enak juga dibuat sate, tapi kemarin diajak ke penjual yang beda dan katanya rasanya jg tak kalah dengan milik yu rebi…

      Like

      Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.