Menikmati Manisnya Gulai Melung, Bu Hadi

Siang itu, suasana halaman pada sebuah rumah sederhana terlihat ramai oleh kendaraan roda dua dan juga empat. Rumah ini sekilas tidak terlalu istimewa, sama seperti rumah-rumah penduduk kebanyakan. Satu yang menjadi pembeda kalau ini adalah sebuah rumah makan yaitu keberadaan poster besar bertuliskan “Gulai Melung Bu Hadi”.

Melung sendiri merupakan nama sebuah Dusun. Lokasi persisnya berada di Desa Larangan, Kecamatan Pengadegan, Kabupaten Purbalingga. Sebenarnya menuju lokasi Gulai Melung ini tidaklah terlalu jauh dari rumah saya di Punggelan yang berbatasan langsung dengan Kabupaten Purbalingga ini. Akses jalan menuju ke sini pun terbilang mulus dan lebih cocok ditempuh menggunakan sepeda motor.

Dalam rangka menemani salah satu Blogger Solo yang berkunjung ke Banjarnegara, Halim Santoso (JejakBOcahiLANG) saya ajak berkeliling ke tempat ini. Sebenarnya saya pun baru pertama kali ke sini walau sering kali melewatinya. Saat itu, saya bersama Halim, Ela dan juga Wedwi mencoba mencicipi makan siang dengan sajian gulai yang sudah melegenda dan menjadi incaran para turis saat berkunjung ke Kota Perwira, Purbalingga.

Minggu siang dan pas jam makan siang, suasana rumah makan ini begitu ramai oleh para pengunjung yang sudah kelaparan. Tempat berjualan gulai ini benar-benar memanfaatkan rumah apa adanya dan konsepnya mirip dengan pengalaman makan di Rumah Makan Bedulang Timpo Duluk, Belitong beberapa waktu yang lalu.

Beberapa meja besar dan juga Risban (kursi kayu memanjang) telah menyambut kami dan kebetulan ada satu tempat yang kosong. Kami, sebelum memesan  sajian gulai, terlebih dahulu melihat langsung proses masak yang berada di bagian belakang berupa Pedhangan (tempat memasak).

Asap pekat dari dua buah pawon berukuran besar dan memanjang langsung menyambut kami. Di sebelahnya terdapat ibu-ibu yang sedang membuat ketupat, memasak balungan serta sedang memotong daging kambing. Kami berkesempatan bertemu langsung dengan Ibu Hadi, tokoh di balik kelezatan sajian gulai melung ini.

 

Ibu Hadi sendiri berperawakan mungil, dengan penutup kepala, kethu dan juga daster, beliau dengan ramah menjawab pertanyaan-pertanyaan kami di tengah kesibukannya beraktivitas di dapur. Saya lupa mencatat, sejak kapan beliau berjualan gulai ini, namun yang masih saya ingat, beliau sebelumnya berjualan di pasar yang tak jauh dari rumah dan karena semakin terkenal akhirnya memutuskan berjualan di rumah.

Saat berkunjung ke sini, jangan bingung karena semua menunya dari bagian-bagian kambing dijual terpisah. Ada daging kambing yang dimasak kering dan cenderung manis.

Bagian tulang belulang rusuk yang dibuat gulai. Bagian kaki atau dengklik yang dimasak gulai. Ada juga bagian buntut yang menjadi incaran para pembeli, kesemuanya dimasak menggunakan santan.

Satu yang membuat unik adalah cara penyajiaannya yang dipisah antara kuah, tulang belulang dan juga daging. Jadi ketika pengunjung ingin membeli daging maka akan ditimbang dan dijual per ons. Sementara itu kuahnya sudah menjadi satu paket dengan daging tadi hanya saja dipisah.

Bahan-bahan untuk gulai tadi tidaklah dari hasil penyembelehan sendiri namun memesan langsung dari para penjual di pasar-pasar yang sudah terbiasa menyuplai untuk warung makan ini. Tentu saja kambing yang dijadikan bahan baku haruslah yang berusia muda agar tulang, daging dan bagian tubuh lainnya pas saat dimasak.

Kami akhirnya memutuskan untuk memesang beberapa ons daging plus kuah, ketupat (bisa pilih nasi atau ketupat), seporsi gulai tulang rusuk serta es teh manis dan semuanya tadi cukup membayar sekitar Rp100,000 untuk empat orang.

Oke mari kita icip langsung. Untuk dagingnya, warnanya kecokelatan, empuk dan sedikit kering. Untuk rasa dagingnya terasa empuk karena sepertinya dimasak berjam-jam dan jangan kaget kalau rasa dominannya manis seperti menyantap gudeg Jogja. Karena saya tidak suka sajian tulang-tulangan maka kurang tahu rasanya seperti apa, hanya saja saya mencicipi kuah santan kental berwarna kuning yang juga cenderung manis. Sajian ini memang cocoknya dimakan dengan menggunakan ketupat.

 

Ada hal yang membuat unik, pengunjung bisa membeli kuah santannya yang bisa digunakan untuk memasak sayur daun singkong atau apapun di rumah. Karena santan ini tidaklah dimasak menggunakan daging atau tulang maka banyak yang sengaja membelinya untuk dibawa ke rumah masing-masing.

Sebenarnya gulai melung ini menjadi incaran selain para turis, juga para pejabat yang berkunjung ke Purbalingga. Ganjar Pranowo (Gubernur Jawa Tengah) pun tercatat pernah makan di tempat ini. Bahkan gulai melung ini mendapatkan sertifikat sebagai sajian lokal khas Jawa Tengah dan tertempel di dinding rumah.

Jadi jika berkunjung ke gulai melung ini, sebaiknya disesuaikan dengan jumlah orang saat memesannya karena 1 ons daging saya rasa cukup untuk porsi 1 orang.

gulai melung poster

di depan gulai melung l foto: Halim Santoso

Suasana siang itu masih ramai, dan kami berempat sudah merasa kenyang. Kami pun pergi meninggalkan tempat ini dan tak lupa untuk berfoto di depan poster Gulai Melung, Bu Hadi. Jadi jika kalian berkunjung ke Banjarnegara atau Purbalingga, boleh lah mampir ke rumah makan ini, hanya saja bagi yang kurang suka masakan yang cenderung manis, saya kurang merekomendasikannya. Selamat mencoba.

Advertisements

26 thoughts on “Menikmati Manisnya Gulai Melung, Bu Hadi

  1. Himawan Sant

    Kalau dilihat dari foto dagingnya terlihat dimasak dengan sempurna ya, ngga bikin alot saat nyantapnya.
    Warung makan dengan konsep tetap mempertahankan dapur traditional, jadi terlihat lebih berkesan buat pengunjung.

    Like

    Reply
    1. Hendi Setiyanto Post author

      iya benar…dagingnya memang dimasak lama jadi benar2 sudah tanak dan merah kecoklatan.
      konsepnya memang seperti kita bertamu ke rumah penduduk terus disuguhi daging kambing, boleh lah nyoba tapi yang kurang suka rasa manis, kurang merekomendasikan sih

      Like

      Reply
  2. Iwan Tantomi

    Owh, jadi ini gulainya fresh from the oven ya ceritanya? Maksudnya baru dimasak kalau ada yang pesan? Bukan sudah siap gulainya terus tinggal diangetin kalau ada yang mau beli?

    Oya, selain kambing ada gak sih, sapi gitu, karena aku gak suka kambing. 😂

    Like

    Reply
  3. BaRTZap

    Disediakan sambal juga gak sih Hen?
    Karena dalam bayanganku, menu macam kambing ini enaknya dimasak dengan bumbu yang agak gurih dan sedikit pedas. Aku sih gak masalah dengan masakan manis, asal tetap disediakan sambal.

    Karena hidup tanpa sambal itu, rasanya ,,,, kurang pedas!
    Ya iyalaaaah 😀

    Like

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.