Suatu Pagi di Dapur Ibu Misrad

Asap mengepul dari atap rumah  penduduk di Dusun Sasak, Karangsari saat saya dan Halim Santoso bertandang pagi-pagi sekali ke kediaman Bapak Misrad. Siapakah beliau dan apa maksud kedatangan kami berdua ke sini? Bapak Misrad dalam keseharian bekerja sebagai penjaga sekolah di SDN 2 Karangsari. Di saat sela-sela aktivitasnya, beliau mempunyai usaha sampingan dengan istrinya yaitu sebagai pembuat dan penjual Dawet Ayu Banjarnegara.

Siapa yang tak kenal dengan kekhasan minuman yang terdiri dari cendol, santan dan juga pemanis gulai jawa cair atau juruh ini. Di daerah asalnya, Banjarnegara tentu saja jamak ditemui para pembuat dan penjual dawet ayu ini. Menginjak usia yang sudah tidak muda lagi ini, akhirnya saya berkesempatan dan mau menyempatkan melihat sendiri proses pembuatan dawet mulai dari membuat adonan cendol, memasaknya, membuat juruh hingga memarut butiran kelapa untuk dijadikan santan.

dawet ayu

dawet ayu banjarnegara

Sehari sebelumnya, saya sudah membuat janji dengan Ibu Misrad yang setiap harinya berjualan dawet ayu tak jauh dari rumahnya, lebih persisnya di Jalan Kemot. Dari berbincang-bincang dengan beliaulah akhirnya saya diijinkan langsung untuk melihat proses pembuatannya sekitar pukul setengah tujuh pagi.

Lokasi rumah Bapak Misrad ini sebenarnya tak jauh dari tempat saya tinggal karena masih satu desa hanya beda dusun saja. Pagi itu, saya pun tumbenan sekali bertamu ke rumah orang namun dengan niat dan berbekal kesepakatan sehari sebelumnya, semuanya berjalan lancar.

Memasuki rumah Bapak Misrad, saya langsung disambut si Ibu yang mempersilakan kami berdua masuk menuju dapur. Seperti kebiasaan bertamu di desa-desa, kami pun langsung ditawari minuman antara kopi atau teh dan saya lebih memilih teh.

Setelah saya amati, dapur milik Ibu Misrad ini sudah lumayan mengikuti perkembangan zaman. Semua aktivitas masak memasak menjadi satu ruangan pun dengan penggunaan kompor gas. Jadi, asap yang mengepul dari atap rumah itu darimana asalnya? Selidik punya selidik, sumber asap tadi ternyata dari dapur atau pawon tradisional yang berada di belakang rumah.

Sebenarnya kami datang terlalu pagi karena si ibu baru mau menjarang air untuk digunakan dalam proses pembuatan dawet. Namun kepalang tanggung, saya pun dengan sabar menunggu aktivitas si ibu ini hingga selesai.

“Jadi, apa yang bisa saya bantu, bu?” Tanya saya pada Ibu Misrad.

“Sini, bantu ibu memblender daun pandan ini”.

Membuat Sari Daun Pandan

Jadi hal pertama yang kami lakukan adalah mencuci lembaran-lembaran daun pandan yang berusia sedang, tidak terlalu tua dan muda untuk kemudian dipotong-potong berukuran beberapa sentimeter untuk memudahkan saat dimasukan ke dalam blender.

Daun-daun pandan ini dipetik langsung dari kebun Bapak Misrad yang berada di belakang rumahnya. Dulunya, beliau membelinya dari penjual namun setelah dipikirkan lebih lanjut, akan sangat efisien dan hemat jika menanamnya sendiri di kebun.

air pandan

hasil saringan dari sari daun pandan

Setelah daun-daun pandan tadi masuk blender, hal berikutnya adalah menambahkan air matang untuk menghasilkan cairan kental warna hijau yang harum. Cairan inilah yang nantinya akan dicampur dengan adonan tepung terigu dan aren. Namun sebelumnya cairan kental tadi harus disaring terlebih dahulu menggunakan ayakan hingga tersisa cairan yang bersih dari ampas.

Sebenarnya ada metode lain dengan menggunakan daun suji namun yang biasa Ibu Misrad gunakan adalah daun pandan.

Membuat Adonan Cendol

Proses berikutnya yaitu pembuatan adonan cendol yang terdiri dari tepung terigu dan aren dengan perbandingan 1:1. Pagi ini, si ibu tidak membuat adonan terlalu banyak karena musim penghujan masih berlangsung.

adonan tepung

tepung untuk membuat cendol

Adonan tadi dicampur menjadi satu dan diaduk sambil ditambahkan garam dan air dari saringan sari daun pandan tadi. Setelah tercampur rata, adonan tadi dipindahkan ke atas kompor untuk dimasak menggunakan api sedang.

Proses yang harus dilalui dalam pembuatan adonan ini tidaklah terlalu lama, sekitar setengah jam saja namun hal yang harus terus dilakukan adalah mengaduknya tanpa henti hingga adonan lengket seperti lem. Aroma daun pandan langsung menyeruak memenuhi dapur pagi itu.

mengaduk

proses mengaduk adonan cendol

Kami pun bergantian mengaduk adonan tadi hingga menjadi tanak. Salah satu tanda adonan tadi tanak, bisa dilihat saat centong yang digunakan untuk mengaduk kita tarik dan adonan sudah tidak terputus. Kini warna adonan berubah menjadi hijau muda dan asap pun terus mengepul. Setelah matang dan tanak, panci pun diangkat.

Mencetak Adonan Cendol

Adonan masih dalam keadaan hangat, sebisa mungkin kondisinya harus seperti ini agar dalam pencetakan menjadi cendol berhasil. Si ibu mempersiapkan ember yang sudah berisi air matang, sementara di atasnya sudah disiapkan cetakan dari kayu yang sudah dibuat sedemikian rupa hasil dari percobaan beberapa tahun hingga menemukan yang pas.

Pada bagian bawah cetakan kayu tadi dibuat lubang-lubang yang nantinya akan menjadi jalan keluar dari cendol-cendol. Sementara itu untuk menekan adonan cendol tadi, digunakan kayu berbentuk persegi dengan gagang di tengahnya.

mencetak cendol hijau

proses mencetak cendol dengan alat sederhana

Proses ini berlangsung cepat. Adonan dituangkan ke dalam cetakan dan langsung ditekan perlahan. Kami pun dibuat takjub saat butiran-butiran hijau yang berjatuhan ke dalam ember yang sudah berisi air tadi sementara di atasnya asap masih terus mengepul.

Dalam dua kali pencetakan, satu panci adonan tadi pun selesai dikerjakan, sangat cepat sekali. Kunci keberhasilan pembuatan cendol agar tidak hancur adalah dalam proses penanakan yang harus benar-benar pas.

cendol

butiran cendol yang baru saja dicetak

Kini butiran-butiran cendol bak cacing ini mulai mengeras dan tenggelam ke dalam air, benar-benar proses yang unik. Tanda, cendol sukses dibuat adalah, saat dipegang menggunakan tangan tidak hancur dan benar-benar kenyal. Untuk menjaga agar warna dan bentuk tetap awet seharian, Ibu Misrad menambahkan es batu ke dalam ember tadi. Cendol-cendol tadi memang tidak bertahan lama karena benar-benar menggunakan bahan-bahan alami dan tiap hari seperti ini proses pembuatannya.

Membuat Cairan Gula Jawa atau Juruh

Saat kami ke sini, sayangnya cairan gula jawa atau juruh sudah dibuat namun saat saya tanya bahan-bahannya kepada Ibu Misrad, beliau menjelaskannya. Gula jawa yang digunakan haruslah yang berkualitas dan alami serta bersih karena beberapa gula masih terdapat ampas maupun kotoran.

cairan gula jawa

cairan gula jawa atau juruh dengan buah durian

Gula jawa tadi dimasak dengan menambahkan air, garam dan juga daun pandan hingga mencair dan berwarna merah kecokelatan khas. Ada beberapa penjual yang menambahkan daging buah nangka maupun durian ke dalam juruhnya, namun beliau tidak melakukannya.

Melihat Proses Pembuatan Santan Kelapa

Berikutnya, kami dibawa ke bagian belakang rumah untuk memilih butiran kelapa yang berusia sedang untuk membuat santan. Belakangan kami tahu kalau si ibu sengaja membuat santan pagi-pagi sekali, harapannya agar kami bisa langsung mencicipi langsung dawet pagi itu namun sayang kami harus buru-buru pergi saat itu.

Kelapa-kelapa tadi dikupas dan langsung dicuci untuk kemudian dimasukan ke dalam mesin parut. Dulunya proses ini masih manual menggunakan parutan biasa. Zaman telah berubah dan teknologi mempermudah segalanya.

Proses pun telah selesai, sedianya kami langsung mencobanya namun sayang kami harus buru-buru pulang karena ada agenda selanjutnya. Setelah meminum teh yang dibuatkan si ibu dan berbincang sebentar, kami pun pamit. Tenang, sehari sebelumnya saya sudah membelikan si Halim dawet ayu dari Ibu Misrad ini saat baru pertama datang ke rumah.

Dawet Ayu Ibu Misrad

Dari beberapa dawet yang pernah saya coba di Banjarnegara, dawet milik Ibu Misrad ini termasuk enak menurut lidah saya. Cendolnya kenyal, buket dan perpaduan santan serta cairan gula jawa atau juruh begitu pas. Oh ya, dawet ayu ini dijual Rp2,500 per gelasnya, murah menurut saya. Beliau sudah berjualan dawet ini sekitar 3-4 tahun dan saat bulan puasa, proses produksi pun ditambah karena permintaan yang meningkat.

segelas dawet ayu

segelas dawet ayu yang menyegarkan

Jika pembaca sekalian berkunjung ke Banjarnegara atau malah mampir ke rumah saya, boleh loh berkunjung ke rumah Ibu Misrad untuk melihat lebih lanjut proses pembuatan dawet ayu.

Akhirnya, si Halim sudah sah menginjakan kaki di Banjarnegara karena telah melihat langsung proses pembuatan dawet ayu serta mencicipinya. Jadi kapan kalian mencicipi dawet ayu langsung di Banjarnegara?

Advertisements

22 thoughts on “Suatu Pagi di Dapur Ibu Misrad

  1. Bang Harlen

    Di medan harga satu gelas es dawet banjarnegara ini kisarannya Rp.3000 – Rp.4000.. itu harga setahun yg lalu.. sekarang entah udah berapa harganya mas 😁

    Like

    Reply
  2. ghozaliq

    Saya sudah sering Mas, ngerasain dawet ayu di Banjarnegara, wkwmw

    Jadi teringat, tahun kemarin pas di Kota Bau-Bau, ketemu orang bawa gerobag tulisannya “Dawet Ayu Banjarnegara”, pas aku tanya pakai bahasa jawa kromo dimana Banjarnegaranya, ternyata malah wong Solo, wkwkw…

    Like

    Reply
  3. Fanny Fristhika Nila

    Kalo aku ksana, harus puas2in nyobain dawet begini. Sukaaa banget ama es dawet. Yg pake campuran durian ato nangka aku jg seneng sih, tp kalo original kayak begini juga suka 🙂 . Yg ptg manisnya pas

    Like

    Reply
      1. jelajahlangkah

        Wah saya kok wis lupa, mas… Sudah lama banget; dulu yang jualan bapaknya sudah sepuh

        Mungkin mas Jamil ini penerusnya, nggak tahu juga. Sudah lama nggak mampir Banjarnegara, biasanya bablas langsung Wonosobo… Hehehe

        Like

  4. Pingback: Yuk Intip Aneka Macam Dawet di Festival Dawet Ayu Banjarnegara | NDAYÉNG

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.