Cerita Patung Dewa Hermes di Kota Tua Jakarta

Jadi beberapa waktu yang lalu, tepatnya pertengahan tahun 2017 saat berkesempatan berkunjung ke Kawasan Kota Tua Jakarta, ada sebuah patung yang berada di belakang Museum Fatahilah, Kawasan Kota Tua Jakarta. Patung ini menggambarkan Dewa Hermes dalam mitos Yunani. Nama lainnya adalah Mercurius dalam mitos Romawi. Hermes atau Mercurius dianggap sebagai malaikat pelindung.

Perjalanan ke Kota Tua Jakarta saat itu tidaklah seorang diri. Saya bersama dua orang teman yang juga sangat suka dengan hal-hal yang berbau sejarah. Mereka berdua adalah Gara (asli Lombok) dan juga Indi (asli Banjarnegara).

Jadi ada cerita apa dari keberadaan Patung Dewa Hermes di belakang Museum Fatahilah Kota Tua Jakarta?

belakang museum fatahilah

bagian belakang museum fatahilah yang terdapat patung dewa hermes

Saya pun awalnya tahu nama dewa hermes ini sebagai salah satu nama produk tas terkenal yang harganya bikin gigit jari dibuatnya, namun setelah melihat sendiri seperti apa rupanya, saya sadar kalau yang ini beda dari apa yang sebelumnya dipikirkan.

Berbekal tanya ke sana-sini dan mencari cerita di balik adanya patung ini di mesin pencari google, saya pun bisa sedikit paham sejarahnya.

Saat itu pada zaman Belanda penempatan patung ini diletakan di atas Jembatan Harmoni sebagai simbol untuk menjaga dan melindungi pedagang yang menyeberangi jembatan.

dewa hermes di atas bola dunia

sosok patung dewa hermes yang masih bisa dilihat di bagian belakang museum fatahilah

Patung Dewa Hermes yang berada di belakang Museum Fatahilah ini digambarkan sebagai sesosok lelaki yang telanjang dan hanya pada bagian kemaluannya saja yang ditutupi sebuah daun. Pada bagian samping kepalanya, terdapat sepasang sayap. Tangan kanannya seperti sedang menunjuk ke atas dan tangan kirinya sedang memegang semacam tongkat yang dililit oleh 2 ekor ular dan pada ujungnya terdapat semacam sayap. Sementara itu, satu kakinya sedang menginjak semacam bola dunia dan kaki yang lainnya sedang ditekuk, keduanya pun masing-masing mempunyai sayap.

Patung Dewa Hermes ini awalnya milik Karl Wilhelm Stolz, seorang pedagang kelahiran Jerman 28 Januari 1869 yang kemudian menjadi warga negara Belanda. Sebelum ke Batavia, Stolz berdagang di Banjarmasin dan Sibolga. Pada 9 Juni 1897, dia menikah dengan seorang wanita Swiss, Matilda Jenny, di Buitenzorg (Bogor).Pada tahun 1900, Stolz mendapat kewarganegaraan Belanda dan membuka toko di Rijswijksestraat (Jalan Veteran).

Stolz membeli patung Hermes pada tahun 1920 di Hamburg (Jerman). Patung itu sebenarnya barang dagangan toko miliknya. Namun Stolz sangat mencintai patung ini yang akhirnya diletakkan di kebun rumahnya di Meester Cornelis (sekarang daerah Jatinegara).

Istrinya (Matilda Jenny) tak suka dengan patung telanjang. Baginya patung itu terlalu vulgar. Dia selalu meminta suaminya untuk menyingkirkan patung itu.

Ketika istrinya meninggal dunia pada tahun 1930 di Den Haag, Stolz memutuskan menjual bisnis dan tokonya. Stolz meninggal 30 Maret 1945, sebagai tahanan perang Jepang dan dimakamkan di Semarang. Sebelum menjual tokonya di Jalan Veteran, dia memberikan patung itu kepada Pemerintah Batavia sebagai rasa syukur karena dia diberi kesempatan untuk menjalankan bisnis di Batavia.

Pada Agustus 1999, Patung Hermes ini dipindah ke bagian belakang Museum Fatahillah untuk melindunginya dari pencurian dan mutilasi. Jadi Patung Hermes yang kita lihat di Jembatan Harmoni saat ini adalah duplikat.

Saat kami ke sini, suasana di sekitar patung Hermes ini begitu ramai oleh banyaknya wisatawan yang sedang menghabiskan hari minggunya bersama keluarga maupun orang terkasih.

Cuaca terik kota Jakarta ternyata telah membuat saya mengernyitkan dahi dan juga harus terus memicingkan mata. Akhir-akhir ini saya sering mendengar berita jika keberadaan patung-patung yang ada di kota-kota di Indonesia telah membuat beberapa kelompok masyarakat terganggu karena menganggapnya sebagai berhala, pornografi dan sebagainya. Saya sebagai manusia biasa tentu tidak keberatan dengan pandangan atau pendapat seseorang akan tetapi harus disikapi dengan cara yang bijak dan juga santun.

Saya berpendapat, jika dari sebuah patung atau monumen yang mempunyai nilai sejarah, tak sebatas sebuah benda mati yang teronggok begitu saja, ia punya cerita yang unik dan sebagai pengingat kejadian masa lampau untuk dipelajari di masa yang akan datang.

Advertisements

19 thoughts on “Cerita Patung Dewa Hermes di Kota Tua Jakarta

  1. Endah Kurnia Wirawati

    Cerita yg menarik. Kalau saya lebih tertarik sama cerita ruang bawah tanah yang dulu kadang dipakai buat tempat penyimpanan, kadang buat penjara.

    Like

    Reply
  2. Gara

    Di tengah semua perkembangan masyarakat yang mungkin kurang baik bagi para patung dan rupa-rupa seni rupa lainnya, mudah-mudahan patung satu ini selalu lestari ya. Patung ini bagus dan kaya cerita, Mas. Kalau naik Bus TJ dan lewat jembatan Harmoni, saya pasti berusaha melihat Si Hermes ini, hehe.
    Oh ya, saya tertarik dengan bagian ini: “Stolz meninggal 30 Maret 1945, sebagai tahanan perang Jepang dan dimakamkan di Semarang”. Mudah-mudahan dugaan saya benar soal ini…

    Like

    Reply
    1. Hendi Setiyanto Post author

      aku belum pernah lihat yang di jembatan harmoni, tapi pas googling kayaknya bentuknya sedikit berbeda ya? soal yang itu aku pun hanya dari hasil baca2 di internet, keabsahannya kurang begitu tau hehehe

      Like

      Reply
      1. Gara

        Mungkin ya Mas, saya pun belum pernah memerhatikan, habisnya patungnya ada di pusat simpang empat yang sibuk banget setiap saat.
        Nanti saya coba buktikan ya Mas, wkwk…

        Like

    2. bersapedahan

      kalau ga salah sih .. aslinya atau asalnya patung hermes ini di pajang di perempatan harmoni … dan kemudian sempat “hilang” sehingga heboh. Sekarang aslinya di tempatkan di museum fatahillah .. jadi kemungkinan yang di perempatan harmoni adalah replikanya

      Liked by 1 person

      Reply
  3. Lianawati Lianawati

    saya sempat beberapa kali ke Kota Tua dan melihat patung dewa Hermes ini tapi baru tau sejarah di baliknya lewat tulisanmu kak.
    ternyata setiap benda yg ada, punya sejarahnya masing-masing ya.
    makasih buat artikelnya yang informatif kak 🙂

    ceritaliana.com

    Liked by 1 person

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.