Ini Jakarta, Bung!!

Petualangan penuh makna selama 3 hari 2 malam di Pulau Belitong harus berakhir juga ketika pesawat yang saya tumpangi dari Bandara Internasional H.A.S. Hanandjoeddin, Tanjung Pandan tiba di Bandara Internasional Soekarno-Hatta, Cengkareng.

Waktu menunjukan pukul 19.00 malam dan kami bertiga akhirnya berpisah sampai di titik ini. Saya, Khoerul dan Bastian, teman seperjalanan selama di Pulau Belitong. Sebenarnya ada rasa resah dalam hati dan pikiran saat kaki sudah menginjak area bandara ini. Selepas ini, mau menginap di mana? Terus transportasi dari bandara ke Jakarta mau pakai apa? Pertanyaan-pertanyaan tadi seakan terus muncul dalam benak saya saat itu.

Saya pun masih berdiri mematung di pintu keluar terminal sedari tadi, sementara itu dari arah belakang pundak saya dikagetkan dengan suara tepukan oleh seseorang. Saya pun reflek menoleh dan baru sadar kalau yang mengagetkan saya tadi adalah si Khoerul, salah seorang peserta jelajah ke Pulau Belitong yang berasal dari Bogor.

“Belum pulang?’ tanya si Khoerul.

“Belum ini, masih bingung mau naik apa ke Jakartanya”

“Memang rencananya mau lanjut pulang ke kampung atau menginap di Jakarta”

“Rencananya sih mau tinggal beberapa hari lagi di Jakarta, tadi sudah kontak-kontak kostan teman yang ada di Jakarta Selatan dan bersedia berbagi kasurnya untuk aku inapi”

“Oh gitu…mending naik Bis Damri saja, barengan ke loket penjualannya saja yuk!! Tak jauh dari sini kok tinggal jalan kaki beberapa meter dan melewati air mancur” Khoerul pun memberikan saran kepada saya saat itu juga.

“Hmmm…baiklah kalau begitu daripada nanti kelamaan di Bandara malah jadi kayak orang ilang”

Akhirnya saya pun menuruti apa yang disarankan oleh si Khoerul saat itu. Memang tak perlu jalan kaki terlalu lama karena beberapa saat kemudian saya sudah di depan lokasi loket penjualan bis Damri yang memang sengaja menjaring para penumpang yang pulang dari Bandara menuju Jakarta, Bogor dan juga Bandung.

“Sini tak beliin sekalian” pinta si Khoerul pada saya.

Saya pun mengulurkan selembar uang seratus ribu rupiah kepadanya dan beberapa saat kemudian selembar tiket dan beberapa lembar uang kembalian sudah di tangan.

Tak perlu menunggu waktu lama, bis yang akan saya tumpangi terlihat sudah terparkir di pinggir jalan, sementara itu bis yang akan membawa si Khoerul pulang ke Bogor masih belum terlihat. Kami pun akhirnya benar-benar berpisah pada situasi ini.

“Sampai jumpa lagi, Khoerul!! Semoga bisa berjumpa lagi lain kali!!” kalimat perpisahan tadi menjadi salam perpisahan kami sembari langkah kaki ini berjalan menuju pintu masuk bis.

Saat itu, saya mendapatkan jadwal terakhir untuk bis Damri yang mengambil rute Bandara Soekarno-Hatta-Terminal Pasar Minggu. Rute ini saya pilih karena dirasa lebih dekat ke lokasi kostan teman yang rencananya akan saya inapi beberapa malam.

Suasana malam itu masih terlihat sangat ramai hingga bis memasuki Kota Jakarta. Berdasar jadwal dan jarak tempuh yang saya baca di internet, perjalanan ini seharusnya hanya menempuh waktu kurang lebih 1,5 jam saja (dalam kondisi normal). Namun saya pun paham, ini Ibukota Jakarta, tau sendiri bagaimana lalu lintasnya, macetnya. Seperti perkiraan saya, bis yang saya tumpangi harus terkena macet saat memasuki jalanan di sekitar Patung Pancoran.

Mungkin kalau macet masih bisa sabar toh jarang-jarang juga saya mengalaminya karena tidak tinggal di Jakarta namun yang membuat saya resah adalah menahan kencing yang sedari tadi sudah sangat kebelet. Kebiasaan buruk memang, setiap melihat toilet pasti males untuk BAK dan jaga-jaga kalau sewaktu-waktu kebelet.

Tanda-tanda bis ini akan bergerak masih jauh panggang dari api. Mobil-mobil malam itu pun nasibnya sama dengan yang saya alami, benar-benar berhenti selama beberapa puluh menit. Ingin rasanya kencing di dalam botol air mineral yang sedari tadi saya pegang karena isinya sudah saya tenggak habis.

Suasana di dalam bis pun redup dan kesempatan untuk bisa kencing di dalam botol terbuka lebar. Namun belakangan saya sadar kalau yang duduk di sebelah saya saat ini adalah seorang perempuan. “Mati aku!!!” Akan sangat tidak lucu kalau saya nekat melakukannya dan si perempuan di sebelah sadar lalu berteriak dan dikira saya cabul, bisa digebukin satu penumpang bis ini. Saya pun makin gelisah, sudah berbagai macam mantera dan sugesti saya ucapkan di dalam pikiran yang intinya untuk tetap tahan tapi rasa-rasanya air kencing itu sudah berada di pucuk dan tinggal membuka katupnya lalu currrrrrrr.

Perlahan bis ini bergerak walau hanya beberapa meter saja namun saya langsung memantau aplikasi Google Maps yang berada di dalam gawai. Tujuannya jelas, perkiraan berapa menit lagi saya akan sampai di lokasi yang dituju akan tetapi terlihat di depan sana, kemacetan pun berlangsung juga.

Singkat cerita akhirnya saya pun tiba di lokasi yang dituju, Terminal Pasar Minggu namun apesnya, bis ini tidak masuk ke dalam terminalnya dan tinggal menyisakan seorang penumpang yaitu saya sendiri.

“Mas, turun di sini saja ya?, ini kan bis terakhir” saran pak sopir saat itu kepada saya.

“Iya deh turun di sini saja, nggak apa-apa”

Saya pun akhirnya diturunkan di pinggir jalan raya, walaupun secara lokasi tau persis di mana tepatnya karena bantuan Google Maps namun saya seperti orang kebingungan malam itu.

Saya pun berjalan kaki menepi dan menuju ke depan ruko-ruko yang terlihat sudah tutup dengan lampunya yang beberapa sudah dimatikan. “Apes nih, kenapa aku malah milih berjalan kaki ke lokasi yang remang-remang seperti ini?”. Pikir saya dalam hati.

Saking sedikit panik saya sampai lupa kalau sedari tadi masih menahan kencing, akhirnya ketika melihat rimbunan tanaman di pinggir jalan, tiba-tiba ide liar datang, dan memutuskan untuk kencing di sini. Jadi di pinggir jalan raya inilah akhirnya rasa puas mengeluarkan air seni bisa disalurkan, puas rasanya. Padahal jika ada kendaraan yang lewat, akan terlihat jelas saat itu karena tersorot oleh lampu kendaraan. “Ah masa bodoh lah!!”.

Kebingungan pun berlanjut, kini saya harus memikirkan caranya menuju ke lokasi kostan teman yang sebelumnya belum pernah saya datangi. Saya hanya berbekal alamat yang didapat dari hasil chatting dengan teman saat itu. Untungnya di gawai sudah tersedia aplikasi ojek online jadi sedikit bisa membantu.

Dari kejauhan terlihat abang-abang sopir taksi yang sedari tadi awas mengamati gerak-gerik saya dan beberapa di antaranya benar-benar mendekati untuk menawarkan jasa taksinya.
“Ini sudah malam, mas sudah tidak ada bis lagi mending naik taksi saja, mau ke mana sih?” sapa abang supir taksi.

Dalam hati saya berpikir yang tidak-tidak, bagaimana kalau saya dirampok? Dijambret? Ini kan Jakarta?.

“Enggak, bang…ini sudah mau dijemput temen kok” balas saya saat itu sebagai bentuk pembelaan, padahal yang sebenarnya adalah saya menunggu abang ojek online yang sedari tadi sudah saya pesan namun tak sampai-sampai, beberapa di antaranya malah membatalkannya secara sepihak.

Saya pun berusaha tegar dan tidak panik hingga akhirnya abang ojek yang saya pesan datang dan langsung mengantar sampai ke lokasi kostan yang saya maksud. Eitss tunggu dulu jangan senang dulu. Kini saya harus berjuang lagi menemukan lokasi kostan teman yang dimaksud setelah saya diturunkan di pertigaan jalan yang berada di komplek perumahan.

Terhitung beberapa kali saya bolak-balik berjalan kaki dari ujung jalan satu ke jalan lainnya mencari lokasi rumah kost yang dimaksud. Kaki gempor rasanya berjalan kaki ke sana ke mari.

Akhirnya saya pun menelepon teman yang akan menampung saya dan diarahkan ke mana harus jalan kaki hingga akhirnya berhenti di depan sebuah garasi berwarna hitam dan di depan pintunya sudah menunggu seorang bapak-bapak.

“Temannya Mas Adit ya?” tanya si bapak yang mungkin sedari tadi sudah menunggu.

“Iya benar pak”

“Sini masuk saja, ini kunci kamarnya!”

Saya pun mengikuti ke mana si bapak berjalan dan belakangan saya baru paham kalau teman yang akan menampung saya saat itu sedang berada di Kota Depok, gubrakkkk!!!!

Jadi sedari tadi ia mengarahkan saya untuk menemui si bapak penjaga kostan mengantarkan kunci kamarnya.

Akhirnya, kamar yang dimaksud itu sudah saya masuki. Saya benar-benar menjadi tamu asing malam itu. Dalam hati saya berpikir, “ini Jakarta, Bung!!!”.

Advertisements

37 thoughts on “Ini Jakarta, Bung!!

  1. Hans

    Itu kalo saya mungkin paniknya setengah mampus, hahhaha.
    Tapi kalo di Jakarta udah enak sih, Google Mapsnya udah jelas kebaca, gak kayak di Papua.
    Ya itung2 pengalaman mas, mulai dari jalan kaki yang jauh sampai kencing di pinggir jalan. wkwkwkw

    Liked by 2 people

    Reply
  2. Gara

    Astaga, betapa berat kejadian yang dirimu alami, Mas. Saya jadi agak merasa bersalah dan tidak enak, pada saat itu sedang ada kesibukan sampai malam juga jadi tidak bisa menyambut dan menyediakan tempat menginap. Mohon maaf yang sebesar-besarnya ya, hehe. Mudah-mudahan tidak kapok main ke Jakarta, Mas. Beberapa tahun tinggal di sini membuka mata bahwa meskipun ada sisi seram dari kota ini namun hal-hal yang menariknya tidak kalah banyak. Yang penting jaga diri dan berusaha bersyukur (meski kadang saat-saat menyesakkan dan bikin mengurut dada juga banyak), hehe…

    Liked by 2 people

    Reply
    1. Hendi Setiyanto Post author

      Bukan slahmu kok Gara…lagian aku memang sengaja milih banyak opsi menghubungi teman2 😁😁.
      Mau bales chat aja udah bersyukur apalagi baru kenal. Aku yg kere ini aja yg kurang pinter. Menclok sana sini dr 1 tempat ke tempat yg lain.
      Tp klo g kyk gini ga bkln dpt cerita 😁😁.
      Si Adit mbantu bgt kok…mandu dr jln raya hgga ke kostan.

      Liked by 1 person

      Reply
  3. aryantowijaya

    Awakakakak. Aku ngekek baca bagian nahan pipis dan sebelahnya perempuan.
    Inilah mas, nestapa naik bis. Kapan hari aku kejebak Macet 8 jam di Tol Japek, kampret banget karena harus nahan pipis. Begitu bis brenti di pom bensin, lgsg blingsatan cari wc umum.

    Like

    Reply
  4. Desfortin

    Huh…ceritamu sesuatu bnget ya mas Hendi. Sy bs bayangin gmn perjuangan mas mlm itu, mulai dr nhan kencing, brkali kali turun naik kendaraan ampe nginap d tmpat kos yg orgnya gak ada. Adit baik bnget dg mu, mnurut, dia gak mau bilang duluan klau dia lg d Depok demi tmnnya spy bs nginep mlm itu. Cb aj klau dia pelit mlm itu, tentu mas Hendi prjuangannya bs lbh susah lg. Bg sy yg terakhir itu (nginap di kos Adit) bnar2 unik, sy blm prnh dpt pnglman sprti itu. Adit prcya bnget dg mu. That’s what a friend for.

    Btw, kira2 jam sdh brp ya saat mas Hendi sampai di kostan tmn mas Hendi mlm itu?
    Jakarta bnr2 sllu bikin crta buat org2 bru yg mmasuknya, trmsuk sy thn 2015 llu yg jg prnh dikerjain sopir taksi, 😂😂 wlau sy msh aman krn ada tmn yg bantu.

    Like

    Reply
    1. Hendi Setiyanto Post author

      sebenarnya si Adit ini teman seangkatan zaman Smk dan kebetulan sama2 berasal dari Banjarnegara. aku kenal dia dari kelas 1 smk tapi dia ga kenal aku, maklum aku orangnya ga populer sementara dia adalah anggota osis dan aku pun tak pernah menyapa satu sama lain selama 3 tahun satu sekolahan wkwkwk.
      nah gegara sosmed akhirnya kami jadi kenal dan heran lha kok baru tau satu angkatan (dia sih yang kaget). Makanya dia percaya buat kost-kostannya dijadikan tempat menginap buatku.
      kalau ga salah sekitar pukul 10 atau 11 malam gitu. iya juga sih, ini sih masih mending karena sudah banyak transportasi online, beda cerita kalau ga ada mereka.

      Like

      Reply
  5. iyoskusuma

    Seru ya pengalamannya.. Jadi inget awal-awal interview kerja di Jakarta.

    Mas, kalo bilang lagi di Jakarta kan kita bisa jalan-jalan enteng di Jakarta 😄 Ditunggu kabarnya kalau ke Jakarta lagi ya.

    Liked by 1 person

    Reply
  6. Hanif

    Wah. pipisnya di pinggir jalan nih. pesing. haha
    Itu belum seberapa bung. Aku pernah berantem duel sama calo tiket bus di Lebakbulus. Berantemnya dari lokasi beli tiket sampai di atas bus Dieng Indah. Haha.
    Dan kenapa, aku selalu g betah di Jakarta -_-

    Like

    Reply
    1. Hendi Setiyanto Post author

      saat itu sih mikirnya, daripada nahan kencing terus bikin penyakit, ya udah cari tempat yang kira2 aman saja buat melepas hajat. kadang ada yang mengintimidasi sih. kalau bisa, ke jakarta hanya berwisata atau urusan penting lainnya, gak kepikiran bakalan tinggal di sana

      Like

      Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.