source: tokohyoung.blogspot.co.id

Bedulang, Tak Sekedar Tradisi Makan Biasa

Perjalanan pulang sehabis menikmati matahari tenggelam di Pantai Tanjung Pendam harus berakhir lebih cepat, saat tiba-tiba saja hujan turun deras mengguyur kota Tanjung Pandan. Kami pun bergegas menuju penginapan yang letaknya tak jauh dari pusat kota Tanjung Pandan. Pandan Makmur Inn, sebuah hotel berkonsep ruko yang banyak ditemui di pulau ini, menjadi pilihan kami untuk menginap selama 2 hari ke depan.

Pandan Makmur Inn ini sekilas tidaklah istimewa karena dari tampak luar seperti sebuah ruko berlantai 3 dengan bagian sampingnya dijadikan sebuah mini market dan Rumah Makan Padang, sementara untuk pintu depan penginapan berada persis di samping mini market. Siapa sangka jika ini adalah sebuah hotel yang banyak diincar oleh para turis yang berbudget sedang.

Kamar kami bersama tim dari KitaINA berada di lantai 2. Total ada 2 buah kamar yang kami inapi. Saya, Bastian dan Khoerul berada dalam 1 kamar yang ternyata hanya terdiri dari 2 buah bed, untuk itu butuh 1 ekstra bed yang diletakan di atas lantai. Kok ya saat itu tega, yang lebih senior malah tidur yang di bed bawah sementara kami yang muda-muda malah dapat jatah tempat tidur di atas.

penginapan kami saat di belitong

penginapan kami saat di belitong

Tak terlalu luas memang kamar ini, namun sisi positifnya membuat kami lebih dekat dan bisa mengenal satu sama lainnya sehingga tidak sibuk dengan gawainya masing-masing.

Selepas bersih-bersih dan sejenak meregangkan kaki setelah seharian berkeliling beberapa bagian Pulau Belitong, kami melanjutkan petualangan kami berikutnya, lebih tepatnya untuk makan malam yang kata sang pemandu, “tak biasa”.

Kali ini kami akan mencicipi hidangan makan malam pada sebuah restoran yang bergaya vintage dan letaknya berada di pusat kota Tanjung Pandan. Selain interior restoran ini sudah pasti jadul, bangunan utamanya pun menempati sebuah rumah tua khas Belitong dengan beratapkan seng.

Yang lebih istimewa lagi adalah, cara penyajian dan menu yang akan kami makan ini sangatlah khas masyarakat Belitong.

Makan Bedulang adalah salah satu tradisi makan secara bersama-sama di atas sebuah nampan seng bulat. Lauk yang dihidangkan adalah Ayam ketumbar, Sate ikan, Gangan ikan Ketarap, Oseng-oseng ati ampela, lalapan yang dikukus, kuah petis, sambal lumpang atau sereh dan minumnya adalah es jeruk kunci yang sangat khas Belitong.

Sebuah rumah tradisional khas Belitong yang boleh ditebak memiliki gaya khas era lima puluhan dengan jendela tinggi dan berjumlah banyak serta atap yang terbuat dari seng, telah menyambut kami di malam yang kebetulan hujan rintik-rintik.

Dari kejauhan samar-samar terlihat pengunjung yang memenuhi meja-meja restoran. Yang membuat restoran ini unik adalah penggunaan rumah tinggal yang dijadikan restoran, maka tak heran dari ruang tamu hingga kamar dijadikan tempat bersantap para pengunjung.

Satu hal yang unik lagi adalah, interior ruangan yang banyak dihiasi oleh barang-barang jadul mulai dari lukisan, caping, alat pertanian dan hiasan unik lainnya. Terkesan sangat ramai dan hangat tentunya.

Malam itu kami tidak bisa langsung memesan meja makan karena harus antre menunggu pengunjung yang sudah selesai makan. Suasana malam itu riuh dan ramai antara orang berbicara, mengunyah hingga suara peralatan makan yang saling beradu satu sama lainnya.

belitong

suasana di rumah makan belitong timpo duluk

Ketika ada tempat kosong, kami pun langsung menempatinya walaupun sisa hidangan masih menumpuk di atas meja dan beberapa saat kemudian para pelayan langsung sigap membersihkannya. Kebetulan juga kami mendapatkan meja makan di dalam bekas sebuah kamar tidur yang antara satu kamar dengan kamar lainnya diberi jendela terbuka sehingga bisa melihat pengunjung di kamar sebelah.

Tidak butuh waktu lama untuk kemudian sebuah nampan seng berbentuk bulat sudah datang dan tersaji di atas meja. Karena menu yang disajikan dalam satu paket Bedulang isinya hampir sama maka tidak butuh waktu lama untuk para pelayan menyajikannya kepada pelanggan.

sajian di atas nampan bedulang

sajian di atas nampan bedulang

Nampan seng tadi masih tertutup rapat oleh penutup (saji) dari anyaman bambu dan 1, 2,3 kami pun bersama-sama membukanya.

Peralatan makan yang digunakan mulai dari piring, sendok dan cangkir pun jadul karena beberapa terbuat dari seng bercorak khas peralatan dapur zaman nenek buyut kita dulu.

Ayam yang dimasak mirip rendang dengan aroma sereh langsung saya raih dengan pendamping bakso ikan, oseng kacang panjang-ati ampela dan tak lupa urap daun singkong yang sudah dikukus lengkap dengan sambal yang tidak terlalu pedas.

Setelah mencicipi langsung masakan khas Belitong, saya langsung jatuh cinta karena rasanya tidak beda jauh dengan masakan Jawa yang cenderung manis dan tidak terlalu kuat aroma rempahnya.

Saat yang lain sengaja makan sedikit karena sudah malam, saya malah sebaliknya. Rasanya sayang jika begitu banyak hidangan tersisa begitu saja dan mubazir (padahal aslinya karena rakus hehehe).

Makan bedulang ini dulunya merupakan tradisi makan orang Belitong dalam acara-acara adat, pernikahan, hajatan dll. Kini beberapa restoran banyak yang mengadopsi cara makan seperti ini dan menjadi ciri khas Pulau Belitong.

Makan Bedulang ini memang cocok jika dimakan secara beramai-ramai karena tentu saja porsinya yang cukup banyak. Saya melirik meja sebelah yang saat itu ada seorang pengunjung yang makan sendirian dan terlihat apa yang dia pesan masih banyak sisa, jadi sayang jika membuang-buang makanan yang super enak ini hehehe.

Sebenarnya tradisi makan seperti ini mungkin sudah tidak asing lagi dalam keseharian masyarakat Jawa pada masa lampau, saat kecil pun saya masih mengalami pengalaman seperti ini. Biasanya tradisi makan seperti ini terjadi saat ada tetangga menggelar hajatan yang saat itu sengaja mengundang para tetangga terdekat untuk hadir mengikuti pengajian dan diakhiri dengan makan bersama. Mungkin yang menjadi beda adalah jenis sajian serta media untuk alas makan yang sering dijumpai di Pulau Jawa berupa tampah dan nasi bucu (tumpeng) yang tak boleh terlewat.

Makan Bedulang secara harfiah dapat diartikan sebagai “makan menggunakan dulang”. Ini merupakan tradisi masyarakat Belitung secara turun temurun. Bedulang berasal dari kata “dulang”, yaitu sebangsa tulam yang biasanya berbibir pada tepinya, serta terbuat dari kayu.

Makan Bedulang adalah prosesi makan bersama yang dilakukan menurut adat Belitung dengan tata cara dan etika tertentu. Satu dulang diperuntukan bagi empat orang yang duduk bersila di lantai, saling berhadapan. Dalam tradisi ini disajikan berbagai makanan khas Belitung dalam seperangkat piranti Makan Bedulang, yang mencerminkan keterkaitan erat antara sistem sosial dan ekologi pulau Belitung.

Salah satu makna filosofis yang terkandung dalam Makan Bedulang adalah rasa kebersamaan dan saling menghargai antara anggota masyarakat. Duduk sama rata, berdiri sama tinggi. Biasanya tradisi bedulang dilakukan di masjid dan balai desa sehingga bisa disantap lebih meriah.

Cara penyajian makanannya, beberapa piring berisi makanan dihidangkan dalam satu nampan besar yang disebut dulang. Nampan itu diletakkan di atas meja. Di dalamnya tersuguh sayur ikan dalam mangkuk model kuno, ikan nila goreng garing, oseng-oseng, sate ikan (mirip pepes), ayam ketumbar, sambal serai, dan lalapan (daun singkong dan timun). Sumber daya alam yang tersedia diolah menjadi makanan-makanan lezat dan menyantapnya pun dilakukan secara bersama.

Selepas makan kami buru-buru pulang karena tidak bisa lama-lama di sini, selain tempatnya yang terbatas dan tentu saja banyak pengunjung yang juga ingin antre ikutan makan juga.  Ada hal unik saat kami makan yaitu, ada seorang pengunjung yang tersedak hingga batuk-batuk cukup lama saat makan dan pengunjung lainnya pun berbisik-bisik mencari sumber suara tadi.

Makan Bedulang malam itu, kami tutup dengan berfoto bersama menggunakan topi petani dengan latar belakang lukisan dan hiasan vintage di dinding restoran.

Hujan semakin deras malam itu dan kami bergegas menuju mobil menuju penginapan, sampai jumpa besok pagi.

Foto header: tokohyoung.blogspot.co.id

Advertisements

12 thoughts on “Bedulang, Tak Sekedar Tradisi Makan Biasa

  1. Desfortin

    Lngkap jg kyaknya mkan bedulang itu ya, mas Hendi, ada petai, sambel dst itu. Puas bnget psti makannya?

    Oya, dulang itu klau dlm bhasa kmi alat sprti nampan terbuat dari kayu untuk mncari emas, maka ada istilah mendulang emas. Sy pikir dlm Bhs. Indonesia ada kan kata dulang itu.

    Mantap jg filosofis mkan bedulang itu, jd mmang bkn sekedar trdsi mkan biasa.

    Oya mas, maaf, sy kurang tahu soalnya, Belitong itu mayoritas suku ap ya? *malas cari d google mas, hee…

    Like

    Reply
    1. Hendi Setiyanto Post author

      kalau di bahasaku, basa jawa banyumasan, “dulang” itu artinya yang suap atau menyuap (dipakai untuk menyuap anak kecil gitu).
      mayoritas suku melayu dan tionghoa hehehe.
      kalau dimakan sendiri pokoe super kenyang lah

      Liked by 1 person

      Reply
  2. kegagalau

    tempatnya sederhana sih ka, tapi emang biasanya sederhana itu yang paling banyak diincer disamping makanannya yang unik. Sambal Lumpang yang buat penasaran gimana rasanya…. belum pernah nyicip :’)

    Like

    Reply
  3. Idris Hasibuan

    Makanya di dalam kamar yaa, tapi ada petenya dan sambelnya bisa bikin ketagihan itu mah

    Like

    Reply
  4. Ella

    Isuk2 salah baca postingan nih, dadi ngeliiih.. Duh, btw, dr kemarin aku lg pengin beli piring seng jadul e.. Tp ra nemu2, kudune piringe gawa bali mas😂

    Like

    Reply
  5. Hans

    Kayaknya seru ya bisa makan ramai2 seperti itu.
    Rasa kekeluargaannya makin erat banget jadinya.
    Ditambah lagi lauknya juga beraneka ragam, pasti baka menggugah selera 😀

    Liked by 1 person

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s