Pengalaman Serba Seru Saat Traveling ke Belitong

Apa yang kalian pikirkan ketika mendengar kata travel? mungkin ada yang langsung berpikir tentang kendaraan atau mobil travel yang menjemput dan mengantar penumpang sampai lokasi, bisa jadi.  Jadi travel adalah pergerakan orang antara lokasi geografis yang relatif jauh, dan dapat melibatkan perjalanan dengan berjalan kaki, sepeda, mobil, kereta api, kapal, pesawat, atau cara lain.

Nah, kalau ditanya mengenai pengalaman traveling terjauh dan yang paling berkesan seru buat saya pribadi?, hmmm saya akan menjawabnya dengan sebuah cerita panjang saat tahun lalu untuk pertama kalinya bisa pergi ke luar Pulau Jawa, lebih tepatnya ke Pulau Belitong.

Bagi saya, pengalaman sebuah perjalanan itu akan meninggalkan banyak cerita bukan saja saat sudah sampai di lokasi yang dituju namun cerita-cerita berkesan itu justru datang saat perjalanan berlangsung.

Sebuah kesempatan datang tiba-tiba di bulan Juli tahun 2017, karena sebuah “ceritalah “akhirnya saya bisa membuat “cerita” lain lagi dengan setting dan pengalaman yang berbeda. Sebagai seorang anak kampung, bisa mencicipi pengalaman baru khususnya menjajal berbagai macam moda transportasi di Indonesia tentu sangat membekas dan meninggalkan kesan yang mendalam.

Serunya Pertama Kali Menggunakan Moda Transportasi Kereta Api

Saya tinggal di Banjarnegara, Jawa Tengah. Stasiun kereta api terdekat berada di Purwokerto yang jaraknya lumayan jauh dari rumah. Dulu, di kota tempat saya tinggal memang ada stasiun kereta namun sudah berpuluh-puluh tahun jalurnya mati hingga kini. Sebenarnya saya berkesempatan menggunakan kereta api ini disaat perjalanan pulang dari Jakarta menuju Purwokerto selepas pulang mengeksplor Pulau Belitong.

Atas rekomendasi dari seorang teman yang tinggal di Jakarta, saya disarankan untuk menaiki kereta saat perjalanan pulang, selain lebih cepat, untuk kenyamanan sudah tidak diragukan lagi dibanding menggunakan bis yang memakan waktu cukup lama di perjalanan.

Berangkat dari kost-an teman di daerah Tebet, Jakarta Selatan, sekitar pukul 4 pagi saya sudah memulai perjalanan menuju Stasiun Pasar Senen. Dengan kemurahan hatinya, saya diantar langsung olehnya hingga kereta berangkat. Saya memilih gerbong kereta bisnis dan  menggunakan kereta yang berangkat pagi, tentu saja tujuannya adalah ingin merasakan suasana melintasi jalur rel yang akan dilewati nantinya.

Jadi bagaimana rasanya  bepergian menggunakan kereta api? Sangat nyaman tentunya, entah bagaimana kondisinya beberapa tahun ke belakang saat kondisinya belum senyaman seperti saat sekarang ini.

Rasa Was-Was Mencoba Moda Transportasi Udara

Seseorang yang hanya sering menonton video tentang dunia penerbangan di youtube dari berbagai macam maskapai dan akhirnya bisa merasakan pengalaman tersebut langsung, bisa dibayangkan bagaimana rasa antusiasnya. Ya orang itu adalah saya sendiri. Untungnya saya tidak langsung menjadi norak namun sedikit bingung, iya.

Karena saat itu perginya ramai-ramai, tertolonglah saya saat mengalami kesulitan. Pengalaman paling bikin was-was tentu saja saat pesawat hendak lepas landas, saat bergoyang sedikit di atas awan dan tentu saja saat hendak mendarat. Kalau diingat, keringat dingin karena sedikit panik akan bercucuran.

pesawat

Akhirnya sampai juga di Belitong

Siapa sangka, pengalaman pertama mencoba transportasi udara ini justru saat berkunjung ke Negeri Laskar Pelangi. Rasa tak sabar ingin melihat pantai-pantai cantik di Belitong pun sudah semakin menggebu-gebu.

Baca juga : Dua Festival Semarakkan Belitong, Negeri Laskar Pelangi

Serunya Hopping Islands di Pulau Belitong

Terakhir kali naik kapal, kurang lebih beberapa tahun yang lalu saat berkunjung ke Pangandaran. Sebagai seorang yang tidak bisa berenang, tentu saja parno saat melihat ombak pantai selatan menerjang kapal berukuran kecil yang saya tumpangi. Namun setelah dibujuk teman-teman dan kebetulan pemilik kapal menyediakan pelampung, maka saya pun mencobanya, menyeberang hingga ke Pulau Pasir Putih.

kapal hopping

Kapal yang membawa kami dari pulau satu ke pulau yang lain

Pengalaman kedua menaiki kapal ternyata terjadi lagi setahun lalu saat hopping islands di Pulau Belitong (istilah keren untuk aktivitas mengunjungi satu pulau ke pulau lain dengan jarak yang tidak terlalu jauh menggunakan kapal). Tentu saja kini sudah tidak separno saat pertama kali mencobanya.

Berangkat dari Pantai Tanjung Kelayang, saya beserta empat orang teman lainnya berkesempatan mengunjungi gugusan pulau-pulau mulai dari Pulau Batu Garuda, Pulau Batu Berlayar, Pulau Pasir hingga ke Pulau Lengkuas dengan mercusuarnya yang khas.

pulau pasir

Pulau Pasir yang muncul saat air laut surut

Perahu-perahu kayu yang sudah dipesan oleh para turis telah menunggu di pinggiran pantai berombak landai dan berpasir putih. Saya yang aslinya tidak bisa berenang ini, sudah siap sedia dengan pelampung yang disediakan oleh pemilik kapal. Total hanya ada 8 orang di dalam kapal yang cukup besar dan akan membawa kami menjelajahi pulau-pulau.

goa

Bebatuan besar yang menjulang di tengah pulau

Yang saya suka dari laut Belitong ini adalah ombaknya yang tidak terlalu besar serta pemandangan bebatuan raksasa yang banyak tersebar entah di pinggiran pantai hingga di pulau-pulau.

holla

Berpose dengan latar belakang bebatuan raksasa

Gugusan bebatuan yang salah satunya mirip paruh Burung Garuda, sudah terlihat di depan mata, tidak mendekat atau mampir ke pulau ini memang, karena perahu yang kami naiki hanya berada di pinggirannya saja.

Beberapa pulau lain juga menjadi spot favorit wisatawan yang datang berkunjung, lagi-lagi dengan suguhan bebatuan berukuran besar yang menjulang di tengah-tengah pulau.

Dari kejauhan bebatuan di sini terlihat seperti putih karena terkena kotoran burung tapi saat mendekat ternyata memang warna putih tersebut berasal dari warna alami bebatuan tadi.

Mesin kapal yang kami tumpangi masih terus mengeluarkan suara khasnya ditemani sesekali deburan ombak laut Belitong yang terkadang membuat kondisi di dalam perahu menjadi sedikit bergoyang.

Dari kejauhan sudah terlihat sebuah menara menjulang tinggi berwarna putih yang seakan-akan berada di tengah-tengah laut. Di sekeliling menara ini terlihat bebatuan berukuran besar yang tak beraturan. Beberapa bagian lainnya juga terlihat hijau oleh pepohonan kelapa serta beberapa pohon.

Semakin mendekati menara putih, kapal yang kami tumpangi semakin pelan. Dari atas kapal ini, saya masih bisa melihat biota di dalam air yang aslinya tidaklah terlalu dalam. Ikan-ikan beraneka bentuk dan warna terlihat berkeliaran mencari makan.

mercusuar

Pulau Lengkuas dengan mercusuarnya semakin dekat

Selamat datang di Pulau Lengkuas. Walaupun namanya Pulau Lengkuas tapi saya tak menemukan sebatang pun tanaman Lengkuas atau Laos dalam bahasa Banjarnegara. Yang ada adalah beberapa pohon kelapa, pantai pasir putih, bebatuan beraneka ukuran dan bentuk, yang terakhir adalah menara pengawas lalu lintas kapal yang menjulang tinggi.

Menara ini terlihat masih dalam kondisi bagus dan saat saya ke sini juga sedang diperbaiki dan pada beberapa bagian terlihat dicat. Menara ini merupakan menara pengawas buatan pemerintah Hindia-Belanda saat masih menjajah Indonesia.

willem 2

Mercusuar Z M Willem lll dalam proses pengecatan

Saya dengan teman lainnya pun langsung turun dari kapal dan berjalan jinjit sambil sesekali mata nyengir karena teriknya sinar matahari serta panasnya pasir-pasir putih yang terpanggang.

Lalu apa saja yang bisa dilakukan di Pulau Lengkuas ini? Jadi kami semua langsung berpencar. Ada yang langsung foto-foto. Ada yang ngadem dulu di bawah rindangnya pohon kelapa. Sedangkan saya langsung menuju bagian samping menara menuju bibir pantai yang mempunyai banyak bebatuan unik berukuran besar. Sudah bisa ditebak. Saya mencari angle yang tepat untuk mengabadikan si putih, menara ini.

Suasana Pulau Lengkuas siang itu begitu tenang. Angin semilir dari berbagai arah menambah kenikmatan pengunjungnya. Sayangnya pas saya ke sini bertepatan dengan hari Jumat dan lebih sayang lagi tidak bisa menunaikan kewajiban Sholat Jumat. Duh maafkan hambaMu ini.

Ada satu pemandangan unik saat hendak berjalan kaki menuju sekitar menara. Di pinggir jalan yang saya lewati terlihat sebuah gubuk beratapkan seng yang di bawahnya terdapat beberapa makam dalam kondisi yang lumayan terawat.

Sebenarnya saat itu saya penasaran dengan keberadaan makam ini namun mau tanya-tanya bingung. Kebanyakan di sini adalah wisatawan. Ada memang penjual kelapa muda dan warung kecil namun saat itu tidak kepikiran dan langsung pergi dari lokasi makam tadi.

Sebuah gubuk yang berada di bawah rindangnya pohon kelapa seakan menarik perhatian saya siang itu. Beberapa buah kelapa yang terlihat segar teronggok di meja. Saya pun mendekat dan langsung membeli sebuah. Tak berapa lama, si penjual yang masih remaja ini langsung mengupas kelapa muda sedemikian rupa hingga sang pembeli bisa menikmati air dan daging kelapa mudanya sekaligus.

kelapa

Kelapa muda termahal yang pernah saya beli

Dari mana mas? Jakarta ya? Tanya si penjual kelapa muda tadi dengan logat Melayu Belitong yang khas.

Bukan mas, saya asli dari Banjarnegara, Jawab saya dan si penjual tadi terlihat bingung, mungkin baru dengar daerah Banjarnegara kali pertama. Iya Banjarnegara, Jawa Tengah yang terkenal dengan Dataran Diengnya.

Berapa mas harganya? Tanya saya kembali.

Dua puluh lima ribu rupiah, mas.

Awalnya agak kaget di dalam hati namun saya langsung mikir cepat, mungkin saja karena di tengah-tengah pulau dan lokasi wisata jadi harganya mungkin “wajar” segitu. Sembari memberikan uang lima puluh ribu rupiah.

Sebuah bangku kayu dan meja terlihat kosong di samping lokasi penjual kelapa muda. Sementara itu di meja seberang terlihat sekelompok anak muda yang tengah menikmati sajian kelapa muda dan juga mie instant dalam cup-cup sterofoam.

Ya…biarpun di tengah-tengah laut, Pulau Lengkuas ini menyediakan aneka minuman mulai dari kopi, soda hingga makanan ringan semacam mie instant untuk sekedar pelepas dahaga dan perut yang keroncongan.

Sesaat kemudian, dari kejauhan terlihat si pemilik kapal yang membawa kami hingga ke sini, melambai-lambaikan tangan sebagai tanda untuk segera menuju kapal dan melanjutkan perjalanan berikutnya.

Serunya Mencoba Snorkeling di Sekitar Pulau Lengkuas

Kapal pun mulai sedikit menjauh dari Pulau Lengkuas dan tak berapa lama, mesin kapal dimatikan saat berhenti di lokasi snorkeling favorit di sekitar pulau ini.

snorkeling lengkuas

Teman-teman sedang menikmati snorkeling di sekitar Pulau Lengkuas

Peralatan untuk snorkeling mulai dari pelampung, kaca mata plus alat untuk bernafas serta kaki katak sudah disediakan. Saya yang aslinya tidak bisa berenang agak lumayan was-was. Sementara yang lain sudah mulai menikmati snorkeling ditemani ikan-ikan, saya masih mengumpulkan niat untuk segera masuk ke dalam laut.

Oke akhirnya saya pun turun. Dengan menuruni tangga yang diletakan di pinggiran kapal, saya nekat saat itu.

Percobaan pertama memakai alat snorkeling gagal. Bukanya bernafas dengan mulut yang benar, malah mulut menyedot air laut yang tentu saja super asin dan bikin gelagapan. Saat menggunakan kaca mata pun awalnya kesusahan karena berkabut. Saat itu reflek mencoba dengan menggunakan mata telanjang dan bodohnya malah membuat mata terasa pedas, uhhh.

Kali ini setelah beberapa kali percobaan akhirnya saya bisa beradaptasi bernafas menggunakan mulut.

Tangan satu masih terus memegang tangga yang diletakan di pinggiran kapal, sementara tangan yang satunya memegang remah-remah biskuit crackers yang sedari berangkat sudah disiapkan untuk memancing ikan-ikan agar mendekat.

snorkeling

Mencoba snorkeling di sekitar Pulau Lengkuas

Jadi selama snorkeling, saya masih terus berpegangan pada tangga hahahaha. Sebenarnya ingin mencoba mengambang tapi takut terbawa arus.

Jadi bagaimana rasanya snorkeling untuk kali pertama? Woww luar biasa. Saya bisa menyaksikan langsung bagaimana ekosistem di dalam laut. Karang-karang cantik dan beraneka bentuk. Ikan-ikan beraneka warna dan rupa. Rasanya menakjubkan. Padahal kedalaman laut yang kami gunakan untuk lokasi snorkeling ini tidak lebih dari lima meter.

ikan

ikan-ikan yang berkerumun di bawah kapal

Semakin lama semakin asyik juga ternyata hingga lupa waktu, sementara itu langit mulai sedikit gelap juga mendung dan ini seperti pertanda untuk kami segera mengakhiri kunjungan di sekitar Pulau Lengkuas ini.

Setelah semuanya puas bersnorkeling ria, kami pun kembali ke kapal dan melanjutkan perjalanan pulang.

Siapa sangka, seorang anak nggunung yang jarang pergi jauh-jauh eh mendapat kesempatan berwisata menjelajah Pulau Belitong sampai puas, saya sih bersyukur atas semua pengalaman ini.

Jadi dalam sekali waktu, saya sudah melewati perjalanan darat, laut dan udara ketika berkesempatan melakukan kunjungan wisata ke Pulau Belitong. Kadang kalau dibayangkan memang cukup melelahkan namun itu semua sebanding dengan pengalaman yang didapat dan akan terus membekas.

Advertisements

36 thoughts on “Pengalaman Serba Seru Saat Traveling ke Belitong

  1. Halim Santoso

    Seru perjalananmu, mulai dari nyobain naik kereta, nyeberang pulau pakai kapal, sampai pertama kali mabur numpak montor mabur hehehe. Daku malah belum kesampaian menginjakkan kaki ke Belitong loh. Sayangnya sekarang mercusuar di Pulau Lengkuas udah nggak bisa dinaiki lagi ya. Padahal daku ada niatan mau menaiki semua mercusuar peninggalan Hindia Belanda. 😀

    Liked by 2 people

    Reply
  2. Nurul Latif

    Wah… Seru sekali traveling-nyaaa 😍
    Btw, ini mas pake semacam agen wisata gitu atau nggak?
    Kapan2 saya ingin ke Belitung lagi, ingin solo travel ke Belitung heheh. Kangen pantai-pantainyaaa yg begitu tenang 🙂

    Liked by 1 person

    Reply
    1. Hendi Setiyanto Post author

      hooh laute tenang ja2 di ga bikin terlalu wass-was. kalau yang mirip setau saya bisa snorkeling di pulau pasir putih pangandaran, karang2nya ga terlalu dalam

      Like

      Reply
  3. BackpackerAddict

    Waahh…saya malah terharu baca postingan ini. Jadi ikut merasakan bagaimana mas nya memulai sesuatu nya dari nol, hingga diberi kesempatan besar seperti ini. Semoga suatu saat punya kesempatan ke Nusa Penida Bali mas,, biar bisa ngerasain gimana was-was nya naik speedboat dari Bali menuju ke Nusa Penida maupun Nusa Lembongan. Disana juga seru banget buat snorkeling lhoo 🙂

    Liked by 1 person

    Reply
    1. Hendi Setiyanto Post author

      iya nih, maklum pengalaman pertama memang kadang bikin gimana gitu. weww itu laut selatan, sudah pasti ombaknya gede dan bikin was-was kali ya? apalagi pakai speedboat

      Like

      Reply
  4. Endah Kurnia Wirawati

    Wahh serunya bisa hopping island dan snorkling di belitung,
    saya pas kesana musim hujan dan ombak besar jadi tidak bisa menyeberang deh
    lain waktu harus kembali kesana nih

    Liked by 1 person

    Reply
  5. Desfortin

    Waw, lbh 2000 kta ni postingan, 😂
    Bnar2 seru dan brkesan bnget ya pnglaman dan cerita travellingnya, ke Belitong island pulak.

    Bruntung ya bs naik 3 moda transportasi sklgus. Sy mlh blm prnah naik kpal laut, slbihnya udah prnah sih waktu k Jakarta dan Bogor bbrp thn lalu.

    Hbat, mas Hendi, mski gak bs berenang tp nekat snorkeling…

    Brp hr ni travelling nya, mas Hendi?

    Liked by 1 person

    Reply
  6. Fanny f nila

    Belitung itu fotogenic :). Mau difoto dalam kondisi gimanapun, ttp aja cantik hasilnya.

    Aku tuh malah takuuut banget sebenernya naik kapal. Mending pesawat aja deh, drpd hrs kapal. Krn kebayangnya tenggelam mas hahahaha. Aku ga bisa berenang soalnya.

    Like

    Reply
    1. Hendi Setiyanto Post author

      hahaha aku pun awalnya takut, pesawat pun kapal tapi nekat aja, kalau di kapal sih selama ada pelampung bismilah…aku pun ga bisa berenang. pas pulang dari pulau ini juga sedikit cuaca buruk dan ombak gede terus kapal goyang2 hingga basah dan bikin parno aja

      Like

      Reply
    1. Hendi Setiyanto Post author

      di jawa mah kagak berani, apalagi di laut selatan, eh tapi di pulau pasir putih pangandaran ada kok yang mirip2 kayak gini, ikannya warna warni terus jernih plus dangkal

      Like

      Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.