Jalan Berliku Menuju #ngopigunung

Ada yang tau di mana letak Kec.Pagentan Kab.Banjarnegara?

belum tau? Atau malah baru pertama kali mendengarnya?

Selamat, kalian tidak sendiri. Walaupun saya tau ada kecamatan bernama Pagentan tapi kalau disuruh menunjukannya di peta buta Banjarnegara pasti akan kebingungan. Sebagai orang Banjarnegara seharusnya saya minimal tau atau pernah mengunjungi kesemua daerahnya tapi yang namanya manusia tidak ada yang sempurna termasuk saya pribadi.

PETA+KABUPATEN+BANJARNEGARA

Kec.Pagentan yang berwarna hijau tua dan berbatasan langsung dengan Kab.Wonosobo

Kalau memang tidak ada keperluan yang penting pasti akan berpikir dua kali untuk sekedar iseng berkendara ke daerah yang belum saya kunjungi terlebih lagi lokasinya yang berada di puncak perbukitan. Masih mending di puncak perbukitan, lha ini malah harus melewati berbagai macam bukit dengan kondisi jalan yang terkadang hanya manis di bibir saja.

Lalu ada keperluan apa hingga saya memutuskan untuk berkunjung ke Pagentan? Tak lain dan tak bukan karena di sana pada hari Sabtu (09/12/2017) terdapat rangkaian acara berbau kopi dengan tagline #ngopigunung. Saya bukanlah penggila kopi tapi akhir-akhir ini ingin tau lebih banyak tentang seluk beluk dunia perkopian apalagi setelah mengenal seorang bernama Jujun Afiat. Dari dialah kemudian saya terseret untuk tau tentang kopi.

Perjalanan Punggelan-Pagentan

Jika dihitung jarak dari rumah di Punggelan hingga ke Pagentan (dari gunung kembali ke gunung) membutuhkan waktu sekitar 2 jam-an. Mungkin waktu tempuh tadi tak terasa berat jika berkendara pada jalanan yang mulus dan rata, tapi ini tidak.

Ada yang bilang, saya ini orangnya drama king, tapi kali ini drama perjalanan kami dimulai dengan hujan deras pada pukul 2 siang. Antara mau melanjutkan menerobos hujan deras, menunggu hujan reda atau malah membatalkannya. Akhirnya kami memilih menunggu hujan reda dan sejak awal sudah sepakat kalau tujuan (Pagentan) bukan segalanya. Alasannya bisa saja di tengah perjalanan terjebak hujan dan batal.

Sesuai prediksi, baru beberapa kilometer hujan reda namun tiba-tiba hujan deras menerjang dan terpaksa kami menepi di pinggir jalan dan memakai mantel hujan. Mendekati kota Banjarnegara, langit masih terlihat cerah namun di kejauhan sana (Pagentan) terlihat awan hitam menggelayut. Lanjut apa tidak ini?

Melewati daerah Kenteng-Madukara, motor kami arahkan menuju jalan raya melewati POLITEKNIK Banjarnegara hingga perbatasan Madukara-Pagentan yang ditandai dengan kondisi jalan yang makin menanjak. Pada jalur perbatasan inilah, kami mengalami salah jalan untuk kali pertama. Penunjuk jalan kami adalah seorang bapak-bapak yang melintas di pinggir jalan sambil memikul *blarak atau pelepah daun kelapa kering. Beliau mengarahkan kami untuk mengambil jalan arah Pasar Madukara.

Berikutnya memang jalanan lebar, mulus dan terlihat masih sangat baru karena truk-truk pengangkut aspal masih terlihat wira wiri. Satu yang harus kami waspadai, daerah yang hendak kami tuju ini merupakan jalur rawan longsor, jadi tidak heran di sepanjang jalan yang kami lewati begitu banyak plang tanda peringatan.

Bonus dari perjalanan ini adalah pemandangan alam yang memang luar biasa indahnya. Pada awal-awal perjalanan, kami disambut rimbunnya pohon damar dan pinus yang mengapit jalan raya memutari perbukitan, syukurnya jalanan masih mulus walau selanjutnya sebaliknya. Kami pun melewati Dusun Clapar yang beberapa waktu lalu juga terkena musibah longsor.

Baca juga!! Banjarnegaraku Yang Tak Sempurna Tapi Mempunyai Potensi Aneka Curug Yang Luar Biasa

Sungguh, di balik segala macam resiko bencana longsornya, daerah ini dianugerahi pemandangan alam yang luar biasa indahnya, saya pun kadang tidak sadar kalau masih berada di Kabupaten Banjarnegara.

Deretan perbukitan hijau terlihat jelas dari pinggir jalan yang kami lalui. Kota Banjarnegara pun terlihat jelas sekali waktu saat awan cerah. Memang pada beberapa jalan terlihat sisa dampak longsoran yang memutus jembatan dan pada sebelahnya telah dibangun jalur baru namun pelintas seakan diingatkan akan resiko melewati jalur ini.

Semakin jauh kami berkendara maka tak terasa semakin berada di puncak bukit dengan jalan yang seakan hendak menguliti punggung bukitnya. Subhannallah, sungguh indah ciptaanMu. Walaupun sebenarnya kami salah jalan dan berulang kali tersasar namun kebaikan orang-orang yang ditemui di sepanjang perjalanan terasa sangat membantu. Memang beberapa petunjuk jalan mengarahkan kami ke pemukiman warga karena termasuk jalur tikus namun kami akhirnya sampai juga di pintu masuk Desa Babadan, Pagentan.

Ketika hampir mendekati tujuan, motor yang kami kendarai harus rela berhenti sejenak karena terlihat warga desa sedang menebang pohon beringin raksasa yang berada persis di samping masjid dan langsung berbatasan langsung ke jalur utama menuju Desa Babadan.

Sekilas saja kami melihat bahwa warga di desa ini masih memegang tradisi berupa gotong royong. Tali tambang yang telah diikatkan sedemikian rupa pada dahan beringin kemudian ditarik dengan aba-aba dari pemimpinnya hingga saat orang yang bertugas memotong di atas pohon hampir selesai, beberapa saat kemudian para warga menariknya.

Kendaraan yang sedari tadi mengantre pun bisa lewat, namun sebenarnya kami memilih untuk mengambil jalur tikus dengan modal bertanya kepada warga sekitar karena kami berburu waktu. Perjalanan 2 jam berangkat pukul 2 dan akhirnya sampai sekitar pukul 4 sore. Padahal kami memang niat untuk pulang sebelum maghrib, lah…….

#ngopigunung Desa Babadan

Sebuah lapangan luas yang pada bagian sampingnya diapit oleh pemukiman warga serta di seberangnya terdapat sebuah balai desa telah menyambut kami. Beberapa tenda serta panggung terlihat sudah terpasang dan memang perkiraan kami benar, acara sudah dimulai sejak pukul 10 pagi.

IMG_0192-01

Sebuah panggung musik di halaman Balai Desa Babadan dan lapangan desa

Kabut dan hawa dingin langsung datang walau tak sedingin di Dieng. Jadi acara #ngopigunung ini merupakan inisiatif dari beberapa komunitas dan pegiat kopi lokal khas Banjarnegara.

Baca juga!!, Saat Kopi Kretegan Pertama Kali Dipanen

Salah satu komoditas kopi lokal yang akhir-akhir ini mulai terkenal seperti Kopi Babadan, Kasmaran, Ratamba pun dipamerkan di sini. Oh ya karena ini merupakan kali pertama Desa Babadan mengadakan acara #ngopigunung jadi antusias pengunjung maupun warga sekitar tidak begitu besar namun juga tidak bisa dibilang gagal.

IMG_0194

baru sadar, seharusnya berpose sambil ngopi

Sudah pasti, hal pertama yang menjadi tujuan kami adalah kopi. Beberapa barista, petani lokal terlihat sedang memamerkan keahliannya dalam menyeduh biji kopi mulai dari penggilingan dengan mesin hingga seluk beluk dunia perkopian. Beberapa hal memang saya tidaklah paham, maklum saya hanyalah orang awam yang tak tau tentang dunia perkopian.

IMG_0193

sesi tanya jawab dengan sang barista

Menikmati Hidangan Khas Babadan, Bayar Seikhlasnya

Oh ya, pengunjung juga bisa mencicipi selain kopi yaitu berupa cemilan *ondol (terbuat dari adonan singkong yang dibentuk bulat kemudian digoreng dan ditusuk dengan lidi bambu). Ada juga aneka gorengan ubi, tempe dan singkong goreng yang diisi gula jawa cair. Gratis? Tidak tapi pengunjung tinggal memberikan uang seikhlasnya dan dimasukan ke dalam toples yang sudah disediakan oleh panitia.

IMG_0201

sambil duduk menikmati sajian keroncong

Mengenal Singkat Dunia Perkopian

Beberapa barista juga unjuk kebolehan dalam sesi seduh kopi yang ternyata tak semudah dan sesimpel yang saya bayangkan. Mulai dari pemilihan kopi, metode seduh, suhu air panas yang disetel dengan ukuran tertentu hingga berapa lama kopi harus didiamkan setelah diseduh untuk kemudian siap minum. Itu belum selesai, dari hasil pengamatan terlihat barista tadi tidak langsung mengaduk kopi yang sudah diseduh tadi. Ampas yang mengambang setelah didiamkan beberapa saat kemudian dipisahkan  atau dibuang, barulah bisa diminum….hmmm terdengar ribet memang.

IMG_0190

barista lokal Banjarnegara sedang menyeduh berbagai macam kopi

Menebak Asal Kopi Dari Aromanya

Pada meja yang lain terlihat antusias peserta yang sedang mencoba mencium aroma kopi yang telah diseduh dan mendeskripsikannya kemudian menebak dari mana biji kopi ini berasal. Jadi boleh dibilang acara ini tidak sekedar duduk menikmati kopi tapi pengunjung yang masih awam diajak untuk mencari tahu seluk beluk tentang kopi dalam waktu yang singkat. Panitia acara juga mengadakan sesi tanya jawab tentang dunia kopi yang dipandu oleh seorang barista lokal Banjarnegara.

IMG_0191

para pengunjung diajak menebak asal kopi dengan cara mencium aromanya

Menikmati Alunan Keroncong Camelia

Sekitar pukul 5 sore, panggung utama pun dimulai lagi. Kali ini dengan penampilan grup Keroncong Camelia yang berasal dari Purwareja-Klampok. Satu yang unik adalah para personelnya yang rata-rata masih berusia remaja bahkan salah satu personelnya terlihat masih duduk di sekolah dasar.

IMG_0199-02

Penampilan grup keroncong Camelia di tengah rintik hujan sore

Grup keroncong ini membawakan 3 buah lagu masing-masing “Kangen” dari Dewa 19, “Kala cinta menggoda” dari Chrisye dan juga sebuah lagu barat yang saya lupa judulnya. Mereka membawakannya dengan apik di tengah cuaca mendung di langit Desa Babadan. Penonton pun terbuai alunan suara mereka yang duduk di bangku-bangku yang telah disediakan oleh panitia di depan panggung utama.

Mengabadikan Perjalanan Menggunakan Kamera Handphone

Hampir di tiap perjalanan menyusuri pelosok Banjarnegara, seringkali saya mengandalkan handphone terutama fitur kameranya untuk sekedar merekam foto-foto menarik sebagai bahan tulisan di blog. Selain lebih praktis dibanding harus menenteng kamera DSLR, alasan lainnya adalah kemudahan dalam memposting momen atau kejadian unik baik saat perjalanan maupun di lokasi langsung ke media sosial.

Nah jika kamu yang hobi jalan-jalan dan tidak mau ribet terutama saat hendak berfoto-foto maupun selfie sebaiknya kamu bawa saja Handphone-mu itu ke dalam tas ranselmu atau mungkin HP kamu sudah jadul dan ingin ganti yang baru? tenang…kamu bisa kok di penghujung tahun ini iseng cari Hp Murah Beli Online ,mumpung sebentar lagi tahun 2018 segera datang.

Rekomendasi tempat belanja yang sering saya lakukan adalah dengan cara Belanja Online di Tokopedia. Selain menjadi tempat jual beli online yang aman dan nyaman, di sana saya bisa menemukan berbagai macam Handphone baru dengan harga yang murah. Jadi saat traveling, kamu bisa puas selfie dan berfoto-foto dengan handphone barumu menjelang tahun baru ini.

Waktunya Pulang

Hari makin gelap, selepas melakukan kewajiban sholat, kami pun memutuskan untuk turun gunung. Jadi kami hanya sekilas saja di acara #ngopigunung ini. Capek memang selama perjalanan namun pengalaman yang didapat saya rasa setimpal.

Kami sebenarnya was-was saat pulang karena takut tersasar apalagi kali ini dalam kondisi langit yang gelap. Bersyukurnya, saat pulang kami bersama dua orang barista dari Kota Banjarnegara yang sebenarnya juga tidak berani pulang sendirian, jadilah kami berempat pulang bersama menyusuri jalanan Pagentan saat malam hari.

Walaupun acara #ngopigunung baru pertama kali didakan namun semangat para pecinta dan pegiat kopi di Banjarnegara untuk memperkenalkan potensi kopi lokalnya patut diapresiasi, jadi kapan kalian #ngopigunung Banjarnegara?.

Advertisements

29 thoughts on “Jalan Berliku Menuju #ngopigunung

  1. Eko Nurhuda

    Wuih, kebayang nih rute menuju ke sana nanjak, tapi juga bakal asyik pemandangannya ya. Hawane mesti sejuk nemen iki. Ngopi di tempat begitu pasti maknyus banget, apalagi ditemani gorengan seloyang yang menggoda itu. Hehehehe.

    Liked by 1 person

    Reply
    1. Hendi Setiyanto Post author

      tau sendiri kontur daerah di Banjarnegara, yang ini lebih aduhai dan melelahkan tapi ya gitu, setimpal dengan anugerah pemandangan yang luara biasa indahnya.
      Eh iya itu bisa makan sepuasnya dengan bayar seikhlasnya lho…

      Like

      Reply
    1. Hendi Setiyanto Post author

      wkwkwk…sebenarnya memang lebih menantang perjalanannya sih…karena lika likunya asoyy…kalau yang terakhir itu ndilalah rezeki yang datang tiba2

      Like

      Reply
  2. Gallant Tsany Abdillah

    Kalo dirunut, ternyata kakeknya kakekku itu asalnya dari Banjarnegara. Tapi ke Banjarnegara aku malah belom pernah. Pernahnya cuma lewat aja pas mau ke PLTA situ *aku lupa*

    Sore-sore, adem, paling enak emang ngopi.

    Liked by 1 person

    Reply
  3. Adie Riyanto

    Daerah ini memang indah sih. Tapi, seringkali keindahan itu berbanding terbalik dengan tingkat pendidikan masyarakatnya. Btw, malam ini, kawan-kawanku para pelari baik hati akan berlari dari Purwokerto ke Dieng untuk ngumpulin donasi bagi pengembangan pendidikan di daerah sini. Beberapa juga menawarkan kopi sih sebagai tempat pemberhentian sementara. Baru ngeh kalau daerah ini ada kopinya juga. Kirain kan cuma kentang, sayuran, sama purwaceng doang ye hehehe 🙂

    Liked by 1 person

    Reply
    1. Hendi Setiyanto Post author

      sebenere, pagentan ini lumayan jauh loh dari Dieng, hawanya pun tak sedingin Dieng. Untuk komoditas kopi memang terbilang masih baru, tanaman sayuran pun tidak terlalu banyak.
      hmm kira-kira lewat jalur Banjarnegara? kan yang jalur wonosobo-dieng kalau ga salah jalannya sedang ditutup

      Like

      Reply
  4. Fanny Fristhika Nila

    Kapaan yaaa bisa balik lagi ke wonosobo ini.. Trakhir kesana cm lewat doang, dan staynya semalam di dieng. Padahl pas lewatin bbrp kota, aku udh tau, ini daerahnya favoritku bangettt krn, dingiiiin ^o^ .. Itu di desa babadan nya ada penginapan mas? Ato kayak dieng cuma homestay aja? Kebayang yaa, dingin2, ditambah aroma kopi aneka macam, wiiih, langsung anget badan 😀

    Liked by 1 person

    Reply
    1. Hendi Setiyanto Post author

      kalau ke diengnya sih masih lumayan jauh, di desa ini adanya ya rumah penduduk, kemarin pas acara ngopi, kalau ada yang mau nginep ya nginep di rumah penduduk gitu

      Like

      Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s