Jelajah Banjoemas: dari Bong China Hingga Kerkhof Belanda

Beberapa jam sebelumnya para peserta Jelajah Banjoemas hari pertama mengunjungi bekas rel dan jembatan besi yang berada di Kemangkon (Purbalingga), perjalanan pun dilanjutkan menuju sebuah daerah di Kalimanah, masih di Purbalingga. Namun sebelumnya kami harus istirahat dahulu untuk ISHOMA (istirahat, sholat dan makan siang).

Rombongan yang saat itu masing-masing berkendara menggunakan sepeda motor, langsung menuju Kalimanah. Tujuan kami adalah melihat peninggalan berupa, Gedung Tua, Gedung Sekolah, Panti Jompo, Balai Pengobatan Umum, Kerkhof dan juga Kuburan China (bong).

Sekilas Jejak Sejarah Pabrik Gula Kalimanah dan Bodjong

Pemberhentian kami yang pertama adalah bekas rumah administrateur Pabrik Gula Kalimanah yang kini difungsikan menjadi sekolah menengah atas (SMA Santo Agustinus).

sma st.agustinus

Bekas Gedung Administrateur Pabrik Gula yang kini jadi SMA Santo Agustinus

Memang ketenaran Pabrik Gula Kalimanah, kalah dibanding dengan Pabrik Gula Bodjong. Dari hasil berburu informasi, saya pun hanya mengetahui tentang secuil sejarah dari Pabrik Gula Kalimanah.

Sejarah pabrik Gula Kalimanah pun erat kaitannya dengan Pabrik Gula Bodjong (yang lebih terkenal).

PG.Bodjong didirikan pada tahun 1888. Lokasinya berada pada daerah dengan curah hujan yang tinggi. Pada saat musim penghujan, dari perkebunan tebu yang ditanam bisa menghasilkan gula sekitar 9-10 %. Sebaliknya, saat musim kemarau, produksi gula cenderung lebih tinggi yaitu 12-13%.

Produksi gula di PG. Bodjong ini, mencapai hasil yang maksimal saat dipimpin oleh Mr HCC Fraissenet. Dengan usaha dan manajemen yang baik di tangan beliaulah, puncak kejayaan pabrik gula ini.

Atas usahanya tersebut, pada tahun 1894, PG. Kalimanah akhirnya menjadi bagian dari PG.Bodjong. Dengan bergabungnya kedua pabrik gula tadi membuat produksi gula di wilayah Purbalingga menjadi semakin besar. Untuk membawa tebu-tebu dari perkebunan ke pabrik, perusahaan menggunakan lori-lori.

Karena PG.Bodjong lokasinya dekat dengan stasiun kereta Serajoedal Stoomtrampcht (SDS) membuat proses transportasi menjadi semakin cepat dan lancar.

PG.Bodjong dilengkapi dengan mesin produksi yang memiliki kapasitas 11.000 pikul dalam sehari. Dalam kepemimpinan Mr HCC Fraissenet lah PG. Bodjong yang digabung dengan PG. Kalimanah makin berjaya.

Saat itu kami hanya mengunjungi sisa-sisa PG. Kalimanah dan tidak sampai ke PG. Bodjong. Lalu setelah era PG. Kalimanah memudar, dikemanakan aset-asetnya? Jadi setelah kemunduran pabrik gula tadi, berikutnya menjadi milik seorang saudagar beras keturunan Tionghoa.

Berkunjung ke Bekas Kediaman Saudagar Kaya Tionghoa

 

Sayangnya, karena kelamaan tidak ditulis, saya lupa dengan nama saudagar Tionghoa tadi. Kalau tidak salah, hmmmm namanya Lie Hok Tjan.

Salah satu tips agar tidak cepat lupa ya tulislah langsung apa yang telah dialami misal sehabis jalan-jalan.

Kembali lagi ke Jelajah Banjoemas. Setelah rombongan melihat-lihat bangunan tua yang kini dijadikan sebagi sekolah menengah atas, para peserta langsung menyeberang jalan menuju ke sebuah balai pengobatan umum.

Balai Pengobatan Umum Budi Dharma Kasih namanya. Saat itu suasana begitu sepi. Bangunan dengan atap limas terlihat sepi, hanya suara gonggongan anjing milik yayasan yang berjaga siang itu. Anjing-anjing tadi terus menggonggong melihat gelagat ada tamu asing yang hendak singgah ke tempat ini.

bpu.budi dharma kasih

Balai Pengobatan Dharma Kasih

Kami pun langsung menuju halaman belakang balai pengobatan tadi yang ternyata makin ke belakang makin luas hingga mentok ke persawahan. Saat itu hanya ada seorang tukang kebun yang kami temui persis di kebun belakang balai pengobatan. Setelah meminta ijin dan bertanya-tanya akhirnya kami diperkenankan untuk masuk lebih dalam yang ternyata di belakang kebun ini terdapat sebuah Panti Jompo yang setelah ditemui lebih dekat ternyata begitu luas.

Suasana panti yang rindang dengan selasar-selasar yang menghubungkan satu bangunan dengan bangunan lainnya menyambut kami. Lagi-lagi suara anjing penjaga yang berada di dalam kandang terus menggonggong menyambut kedatangan kami.

Awalnya kami kesulitan untuk menemui pimpinan panti atau yayasan. Para peserta hanya melihat-lihat dan duduk-duduk pada sebuah bangunan unik yang tersusun atas berbagai macam bahan bangunan yang mirip digunakan dalam sebuah stasiun. Pada ruangan di dalamnya terlihat sepasang foto jadul hitam putih yang setelah ditanya lebih lanjut ternyata sosok suami-istri pemilik panti dan yayasan ini (generasi awal). Keduanya merupakan keturunan Tionghoa dan beliaulah sosok saudagar beras yang menempati tanah bekas pabrik gula.

rumah lama

sebuah bangunan yang materialnya banyak menggunakan bekas besi stasiun

Bangunan lantai dua ini terlihat sudah tidak ditempati dan tak lama kemudian Mas Jatmiko (pimpinan rombongan Jelajah Banjoemas) akhirnya berhasil menemui istri dari pimpinan panti, Ibu Prapti namanya.

Kami pun berkumpul dan mendengarkan penjelasan beliau mengenai sejarah tempat ini yang sayangnya tidak banyak yang bisa digali lebih lanjut. Keturunan-keturunan saudagar Tionghoa ini tersebar hingga ke luar negeri dan tinggal seorang saja yang menetap di Indonesia khususnya tinggal di Purwokerto. Beliaulah yang menjadi salah satu pengurus yayasan ini yang masih mempunyai hubungan darah.

Dari hasil menyimak penjelasan istri dari pimpinan panti, dapat diketahui kalau dulunya lahan yang ditempati panti ini merupakan bekas jalur perlintasan lori untuk mengangkut hasil panen tebu. Menurut penuturan beliau, di tengah halaman panti yang luas ini terkubur besi-besi bekas rel lori yang jumlahnya banyak, tak heran jika hujan lebat disertai petir, tempat ini dikenal rawan karena di dalam tanahnya banyak tertanam besi-besi tua. Sering kali pepohonan di atasnya tersambar petir setiap hujan deras.

berbincang

menyimak perbincangan Mas Jatmiko dan Istri dari pimpinan panti

Setelah beberapa waktu mendengarkan penjelasan istri dari pimpinan panti, kami pun pamit dan menuju ke sebuah Bong atau Kuburan China yang tak jauh dari lokasi Panti Jompo ini.

Mengunjungi Komplek Makam Tionghoa

Kami harus berjalan kaki beberapa menit melewati trotoar jalan raya sebelum akhirnya berbelok melewati jembatan kecil menuju belakang pertokoan di pinggir jalan yang ternyata dijadikan sebagai pemakaman umum khusus untuk saudara kita dari etnis Tionghoa. Boleh dibilang inilah salah satu komplek makam Tionghoa (bong)  terbesar di Purbalingga.

batu nisan

salah satu nisan yang beda dibanding nisan-nisan lainnya di lokasi ini

Kesan pertama memasuki komplek kuburan ini adalah penasaran karena bentuknya yang masih sangat khas kuburan orang-orang kristen pada umumnya, namun semakin masuk ke dalam kami menyaksikan lebih banyak kuburan-kuburan yang sangat khas Tionghoa dengan gundukan yang berukuran besar dan di depannya terdapat nisan yang berukuran besar pula dengan altar tempat para peziarah bersembahyang.

Nisan-nisan ini banyak yang tertulis aksara china dengan ornamen-ornamen khas mulai dari sulur, dewa-dewa hingga simbol-simbol yang sangat asing bagi saya.

Beberapa kuburan juga dihiasi dengan patung-patung dewa dewi Tiongkok berbagai ukuran yang menjaganya, kesemuanya hampir mirip. Namun ada satu yang menjadi tujuan kami mengunjungi komplek kuburan ini yaitu sebuah nisan yang boleh dibilang unik karena dari bentuknya menyerupai nisan atau kuburan khas orang Belanda berupa tugu yang menjulang dengan bagian atap berbentuk lancip namun yang unik deretan tulisan yang terpahat di nisan berupa aksara china berwarna keemasan. Dari semua rombongan yang ikut, beberapa masih keturunan Tionghoa pun tidak bisa mengetahui pasti siapakah yang dimakamkan di lokasi yang kami tuju ini.

Ada yang berpendapat jika ini merupakan makam orang Tionghoa yang cukup berpengaruh pada waktunya, ada juga yang menebak jika bisa saja ia adalah seorang pejabat dari etnis tionghoa yang diangkat oleh pihak Belanda, entahlah mana yang benar dan masih menjadi misteri.

Deretan persawahan hijau di pinggiran komplek kuburan ini membuat sejuk mata dan jiwa bagi kami peserta Jelajah Banjoemas sore itu. Kami bergegas pergi meninggalkan lokasi makam ini menuju ke pusat kota Purbalingga. Tujuan kami ya masih seputar makam tapi kali ini berupa makam atau Kerkhof milik orang-orang Belanda.

Mengunjungi Makam Tua Belanda di Pusat Kota Purbalingga

Lokasi kerkhof di tengah kota Purbalingga ini letaknya tak jauh dari daerah Bancar, bagi anda yang kenal dengan Soto Misdar di komplek Bancar Badhog Centre, maka tempat ini jaraknya lumayan dekat.

Komplek makam ini sejatinya berada di hutan kota yang pada bagian pepohonan yang rindang terdapat komplek makam tua. Lokasinya persis di pinggir jalan raya dan kalau belum paham memang sekilas memang mirip hutan kota biasa. Tapi jika masuk lebih dalam melewati semak dan rumput yang mulai meninggi, kalian bisa melihat dengan jelas berbagai macam kuburan Belanda daengan ornamen yang berbeda-beda.

 

Beberapa makam ada yang berukuran kecil,  besar, dan juga ada yang dibuat semacam rumah khusus untuk menaunginya. Lagi-lagi kami tidak bisa mengetahui dengan pasti siapa atau tokoh yang dimakamkan di sini. Memang beberapa nisan masih tertulis nama dan tanggal kematiannya namun kami kurang tau riwayat saat mereka masih hidup. Bisa jadi mereka adalah warga Belanda yang tinggal di Indonesia dan meninggal di sini. Bisa juga mereka adalah para pejabat perkebunan maupun pabrik gula.

 

Waktu menunjukan pukul lima sore dan tak terasa sudah seharian ini kami menjelajah bersama. Akhrinya acara Jelajah Banjoemas hari pertama berakhir dengan sedikit kuis yang berhadiah kartu pos jadul zaman dahulu yang dibagikan oleh panitia.

Kami pun akhirnya satu persatu berpisah. Saya dan beberapa teman hanya bisa mengikuti Jelajah Banjoemas ini pada hari pertama saja, masih ada dua hari lagi menyelusuri kota Banyumas dan Cilacap. Sampai jumpa lagi teman. Semoga kita bisa bersua dan menjelajah lagi ke tempat bersejarah lainnya.

 

Advertisements

10 thoughts on “Jelajah Banjoemas: dari Bong China Hingga Kerkhof Belanda

  1. Alid Abdul

    Itu Bong Cino sama Kerkhof-nya beda lokasi atau deket jaraknya?
    Beberapa kerkhof dicampur dengan bong cino. Kayak di Surabaya di Kembang Kuning yang kompleks makam Belanda di beberapa bagian ada makam orang Tionghoa. Di Ngawi juga sama.

    Menurutku itu hanya kuburan rakyat saja sih, bukan tokoh terkenal di masa itu. Jadi klo dirunut nggak bakalan ketemu riwayat orang yang meninggal tersebut. Minimal masih ada tulisannya lah daripada gundulan.

    Like

    Reply
    1. Hendi Setiyanto Post author

      dari komplek kuburan china dan kerkhof jauh…karena yang satu di pinggiran kota sementara yang satunya di tengah kota.
      beberapa peserta juga menduga sih, yang dimakamkan di sini memang orang belanda tapi sepertinya bukan orang penting dan juga tahun kematiannya terbilang tidak jadul banget

      Like

      Reply
    1. Hendi Setiyanto Post author

      kemarin sih, karena dekat dengan rumah aku bawa motor sendiri. para peserta juga bawa motor sendiri2 menuju tempat2 yang akan dikunjungi jadinya touring ramai2 hingga blusukan ke tengah persawahan

      Like

      Reply
      1. kegagalau

        wah. Sewa motor gitu gak ada ya? hihihi mana tau ada rencana keliling daerah sana. Tapi anyway informasinya bagus banget bisa dilist dalam perjalanan selanjutnya

        Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.