Terjebak Macet dan Kesasar Menuju Palmerah

“Mas Hendi di sebelah mana?” Tanya abang tukang ojek online melalui telepon. Ya untuk pertama kalinya, saya mencoba memakai aplikasi ojek online. Sebelumnya saya sudah mempersiapkan jauh-jauh hari sebelum ke Jakarta untuk pilihan transportasi mudah dan murah.

“Saya ada di Jalan Alwi Wahab, persis di belakang Masjid” Jawab saya kepada abang ojek online tadi.

“Baiklah, saya ke situ sekarang” jawab abang ojek online di ujung telepon.

Dalam hati mikir, sore menjelang Maghrib begini, jalanan Ibukota pasti sedang macet-macetnya karena sekarang jam pulang kantor tapi sebelumnya saya sudah tanya teman di daerah Palmerah untuk langsung saja menuju ke rumahnya karena menunggu jalalan Jakarta sepi hanya terjadi setahun sekali saat orang-orang pada mudik.

Setelah hampir sepuluh menit lebih dibuat was-was karena menunggu abang ojek yang tak kunjung datang menemukan alamat yang saya kirimkan tadi, akhirnya si abang nongol juga. Syukurlah….

“Palmerah-nya di sebelah mana, mas?” tanya abang ojek dengan detail.

“Ada di jalan xxxx, abang tau kan alamatnya? “ jawab saya.

“Oh tau-tau….” Jawab abang ojek dengan mantap. (Padahal aslinya beliau bingung karena tidak tau jalan di Jakarta Barat).

Setelah berkendara melewati gang-gang sempit dengan lalu lalang manusia yang semakin sering, akhirnya motor kami keluar juga menuju Jalan utama di Jakarta ini.

Suara klakson dari berbagai macam kendaraan seakan sedang memainkan alunan simfoni yang sejatinya bikin telinga sumbang dibuatnya. Belum lagi saling salip antara satu kendaraan dengan kendaraan lainnya. Jangan tanya macet apa tidak, sudah pasti apalagi saat melewati jalan yang dibagian sampingnya sedang ada proyek MRT atau pekerjaan lainnya.

Hawa panas asap kendaraan ditambah matahari sore, seakan menjadi hal yang baru bagi saya. Awalnya ingin menikmati macetnya Jakarta yang selama ini hanya dilihat dan didengar melalui berita-berita di tv, beberapa menit masih menikmati hingga satu jam kemudian, pinggang sudah pegal karena kelamaan duduk, belum lagi hawa panas yang sangat menyengat. Hari makin gelap, bukannya makin sepi, jalanan ibukota malah makin sesak, pengap, panas.

Semakin masuk ke tengah kota, hampir di tiap lampu merah keadaannya makin parah, kendaraan bisa terjebak macet hingga lampu merah menyala lagi.

Jalur satu arah yang berada di depan akan menjadi medan pertempuran antara sabar atau ingin marah-marah. Mungkin kalau jalan kaki, saya sudah bisa berjalan jauh daripada harus menunggu dengan terpaksa di atas jok motor. Nikmatilah…toh jarang-jarang ini, malaikat yang baik hati seakan membisikan kalimat positifnya.

timelapse

jalanan ibukota saat sore (source videoblocks)

Abang tukang ojek sepertinya mulai panik, selain mungkin faktor stress karena macet, beliau ini sepertinya juga mulai bingung dengan arah jalan yang harus dilewati. Kadang saat genting seperti ini, keberadaan Google Maps pun kurang membantu. Orang sudah panik duluan karena sedari tadi muter-muter melewati jalan yang sama sementara keadaan macetnya tidaklah berubah.

Beberapa kali si abang tukang ojek ini berhenti dan bertanya dengan rekannya yang banyak terlihat di sepanjang jalan maupun saat sama-sama berhenti menunggu lampu merah. Tak terhitung berapa jalan lagi yang harus kami lalui, mulai jalur underpass hingga fly over pun kami susuri. Saya pun yang awalnya berpatokan pada aplikasi Google Maps, kini jadi ikutan arahan sang abang tukang ojek yang bermodalkan tanya-tanya.

Waktu menunjukan pukul tujuh malam lebih tak terasa sudah sejam lebih terkena macet dan lebih parahnya tersasar karena tidak tahu jalan. Saat saya bertanya pada abang tukang ojek, apakah dia tau jalan atau tidak ternyata memang beliau baru pertama kali melayani ojek hingga ke daerah Jakarta Barat. Sebelumnya beliau hanya melayani penumpang di sekitaran Jakarta Timur saja. Oalahhh…pantesan, sahut saya di dalam hati.

Mungkin Tuhan kasian melihat kami berdua yang muter-muter sedari tadi dan kini saya kembali mengandalkan bantuan Google Maps dan penglihatan mata untuk jeli melihat plang tanda daerah yang akan kami tuju.

Mendekati pukul delapan malam, akhirnya kami bisa keluar dari jalan utama Ibukota menuju pinggiran di daerah Palmerah agak masuk dikit. Kini saya meminta arahan langsung dari teman yang akan saya singgahi.

Alhamdulillah...lokasi yang dicari-cari akhirnya ketemu dan akhirnya bisa ketemu teman lama.

Total ongkos naik ojek online saat itu sekitar empat puluh ribuan namun karena saya sedikit kasihan sama abang tukang ojeknya, saya pun menambahkan selembar uang sepuluh rupiah kepadanya dan tak lupa memberikan satu bintang padanya hahahaha.

Advertisements

28 thoughts on “Terjebak Macet dan Kesasar Menuju Palmerah

    1. Hendi Setiyanto Post author

      hehehe aku jahat banget ya? abisnya aku jadi ikutan panik karena berjam-jam kesasar huft. tapi masih baik hati karena kembaliannya aku lebihin. Semoga si bapak nyampai dengan selamat di Kramat Jati hehehe

      Like

      Reply
  1. shiq4

    Wah ojek online itu murah ya. Tapi kok cuma satu bintang wkwkwk….? Mungkin baik gitu kali ya supaya tukang ojek online lebih menambah wawasan tentang alamat dan jalan-jalan 😀

    Like

    Reply
  2. kegagalau

    50rebu, mending naik kreta atau Transjakarta bermodalkan aplikasi Trafi dan naik ojek online dari halte atau stasiun terdekat menuju rumah. Paling kena 25 rebu. Welkam tu Jekardah!

    Like

    Reply
  3. Ana

    kasian gojeknya dikasih rating 1, mungkin salah gojeknya jg tidak memberitahu dari awal (tapi harap dimaklumi juga karena itu jauh). FYI mas kalo gojek dikasih rating 1 abang gojeknya bisa di suspend, which means dia ga bisa narik untuk beberapa hari (artinya dia ga dapat penghasilan beberapa hari).

    Oiya, welcome to Jakarta.

    Like

    Reply
    1. Hendi Setiyanto Post author

      kalau dipikir dan diingat lagi emang kasihan juga sih. saat itu aku kebawa emosi dan panik juga, bagaimanapun juga mereka2 ini sangat membantu perjalananku pas di jkt.
      Mungkin, kalau tau tujuannya ke tempat yang asing, bang gojeknya mending menolak saja daripada mengambil resiko (mungkin lho ya).

      Like

      Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.