Katanya, Mimpi Adalah Kunci

Mimpi adalah kunci, untuk kita menaklukan dunia, berlarilah jangan lelah sampai engkau meraihnya….

Sepenggal lirik lagu dari NIDJI ini yang menjadi salah satu soundtrack film fenomenal Indonesia yaitu Laskar Pelangi seakan telah membius jutaan orang di negeri ini untuk singgah dan menginjakan kakinya di tanah Belitong.

sertifikat

saat tiba di depan rumah adat khas Belitong

 

Tidak beda jauh dengan jutaan orang tadi, saya pun punya mimpi jangka pendek yang terbilang cukup sederhana, bahkan terbilang sangat naïf mungkin, mimpi itu adalah: ingin merasakan secara langsung bagaimana rasanya berkendara dengan menggunakan si burung besi alias pesawat terbang.

Ah…mimpi yang benar-benar sangat sederhana dari seorang anak kampung yang jauh dari perkotaan.

Sudah puluhan video tentang penerbangan dan berbagai macam artikel tentang pesawat terbang telah saya lahap jauh-jauh hari demi menuntaskan rasa penasaran. Bahkan di dalam Blog NDAYENG, saya sudah beberapa kali menulis tentang maskapai pesawat terbang di ASEAN, walaupun kesemuanya belum bisa mencicipi secara langsung namun saya memberanikan diri untuk menulisnya dengan berbekal mesin pencari tentunya. Hingga perlahan, Tuhan menjawab doa-doa saya saat itu dengan sebuah kejutan yang tak dinyana-nyana.

Sebuah sore di bulan Juli 2017, saat sedang bersantai di kamar dan bermain smartphone, tiba-tiba saja sebuah notifikasi dari Direct Message Instagram, datang.

“Hi kak, Boleh minta no telp yang aktif?” dalam hati pun mulai sedikit menaruh harap kalau ini ada hubungannya dengan salah satu lomba yang saya ikuti di website KitaINA.id  dan benar saja saat itu saya langsung mengirimkan nomor telepon yang diminta tadi.

Beberapa saat kemudian, suara seorang cewek nan lembut dan sedikit cadel pun terdengar dari ujung telepon.

“Selamat!!!!….” diikuti oleh suara orang lebih dari satu.

“Selamat kak, kamu menjadi salah satu pemenang dari kategori tulisan dalam kompetisi #IngetKampung!!”.

Antara percaya dan tidak percaya saya menjawabnya dengan terbata-bata, tentu dengan aksen “ngapak” yang khas diikuti dengan tubuh yang sedikit gemetaran karena saking kagetnya.

***

Hari-hari berikutnya pastilah akan menjadi hari yang penuh dengan rasa antusias dan was-was karena menyiapkan ini itu mulai dari surat izin ke atasan hingga persiapan pilihan transportasi dari Banjarnegara menuju Jakarta.

Syukurlah satu persatu hal-hal tadi bisa diatasi dan berita baiknya, atasan malah sangat antusias dan mendukung sepenuhnya akan rencana perjalanan tadi.

Rencana awal akan langsung naik kendaraan menuju Bandara Soekarno Hatta dari Banjarnegara namun pilihan transportasi yang ada sangat terbatas dan jadwalnya pun tidak menentu hingga akhirnya saya memilih untuk mempercepat keberangkatan dari Banjarnegara sehari sebelumnya dan menginap di rumah saudara yang berada di daerah Kramat Jati, Jakarta Timur.

Sebuah perjalanan yang sangat-sangat panjang. Berangkat hari Selasa, 25 Juli 2017 dari rumah di Banjarnegara sekitar pukul setengah empat sore dan harus muter-muter mencari penumpang hingga ke Kabupaten Purbalingga dan kembali lagi ke Banjarnegara. Kalau dihitung, saya benar-benar berangkat ke Jakarta sekitar pukul delapan malam, arrggghhhh…bokong rasanya sudah tepos..pos.

kios

saat mobil travel ngetem lama di Purbalingga

Perjalanan berikutnya ditempuh menggunakan jalur Purbalingga-Pemalang-hingga ke Jakarta. Jalanan naik turun dan berkelok-kelok harus saya lalui plus jarak kursi antara satu dan lainnya yang begitu rapat membuat badan rasanya kram.

Sekitar pukul setengah empat pagi, mobil travel yang saya tumpangi akhirnya memasuki daerah Bekasi. Tunggu dulu, lagi-lagi saya harus sabar menunggu giliran diantar sampai lokasi yang telah dituju. Setelah menurunkan beberapa penumpang, kini giliran saya pun datang.

Tidak butuh waktu lama untuk sang supir menemukan alamat yang saya tunjukan dan bersyukurlah dengan semua teknologi mutakhir saat ini karena ada google maps. Dulu sewaktu pertama kali ke Jakarta, saya harus bertanya dari satu orang ke orang lainnya untuk menanyakan alamat.

Selamat Datang di Ibukota!

Selamat datang, Jakarta!!! Begitulah kira-kira apa yang ada di dalam benak saya saat ini. Gang-gang sempit dengan rumah yang saling berdempet satu sama lain telah menyambut kedatangan saya lagi. Ini merupakan kali kedua bagi saya menginjakan kaki di Ibukota Indonesia ini.

fatahilah

Museum Fatahilah Jakarta

“Aku sudah di Jalan Alwi Wahab nih kak,” Saat saya menghubungi saudara melalui sambungan telepon di pagi buta saat itu. Suara orang-orang yang sedang mengaji terdengar nyaring tak jauh dari Masjid di sekitar komplek perumahan ini.

“Baiklah, aku ke situ” Jawab Arif, salah satu saudara yang telah lama tinggal di Jakarta. Beberapa menit kemudian kami pun bertemu kembali setelah sebulan yang lalu, ia mudik ke Kampung di Banjarnegara.

Butuh waktu beberapa menit untuk saya bisa sampai di rumah Kak Arif tadi yang letaknya nyempil di seberang Tol Jagorawi.

Rumah permanen dengan banyak kamar ini telah menyambut saya di pagi hari yang buta. Dari beberapa kamar yang ada, kesemuanya ditempati oleh satu keluarga besar yang terbagi dalam petak kamar di lantai satu dan dua masing-masing orangnya.

“Selamat datang di Jakarta, Hend” Sapa ramah mbak Tari, istri dari Kak Arif. Saya yang terbiasa hidup di daerah yang sejuk, seakan merasa kaget dengan hawa panas Jakarta. Bahkan di pagi hari buta seperti ini, blower dan AC tak henti-hentinya menghembuskan angin guna menyejukan seisi ruangan dan kamar.

“Kalau mau tiduran, ke lantai dua saja, di sana ada AC-nya dan kamarnya luas” Saran Mbak Tari kepada saya dengan ramahnya.

“Oh baiklah mbak, aku ke lantai dua saja biar bisa istirahat sebentar sebelum waktu Sholat Subuh tiba” Tentu saya menyambutnya dengan senang hati karena disambut dengan baik di sini.

Setelah masuk Sholat Subuh, Mbak Tari dan Kak Arif mengingatkan saya untuk tidak lupa dengan kewajiban sebagai seorang Muslim.

“Nanti jangan langsung tidur dulu, mbak mau masak dan nggak bakalan lama kok, kamu pasti dari kemarin sore belum makan besar kan?” Lagi-lagi Mbak Tari menunjukan keramahannya.

“Iya mbak,” jawab saya.

Sembari menunggu sarapan siap, saya dan Kak Arif pun berbincang-bincang mengenai pekerjaan, rencana kedatangan saya ke Jakarta hingga nantinya dilanjutkan perjalanan menuju Pulau Belitong. Tak berapa lama, anak Kak Arif dan Mbak Tari pun bangun dari tidurnya.

Ettha dan Abi, nama kedua bocah tadi yang usianya tidak terpaut jauh. Mereka terlihat kaget melihat kedatangan saya yang mendadak, mungkin saja mereka bingung siapa saya walaupun mukanya sudah tidak asing namun bisa saja mereka lupa.

abi

Abi dan Ettha di kamarnya yang berada di lantai dua

Abi, si bontot langsung akrab saat diajak berbicara sementara Ettha sang kakak perempuan, terlihat malu-malu saat saya sapa.

Waktu menunjukan pukul tujuh pagi. Semua orang sibuk mempersiapkan diri menuju aktivitas masing-masing, tak berapa lama sarapan pagi pun tiba. Semangkuk besar oseng jagung muda, sosis, bakso dan kembang kol, telor balado, dan tahu isi telah tersaji di nampan besar yang diantar langsung oleh Mbak Tari ke lantai dua. Saya sudah seperti tamu hotel saja dengan sambutan ramah ini.

Setelah sarapan, semua orang langsung pergi, ada yang kerja untuk Kak Arif dan ada juga yang mengantar sekolah anak seperti yang dilakukan Mbak Tari.

Kini rumah sudah sepi dan tiap beberapa menit sekali, suara bising dari pesawat terbang yang melintas di atas rumah membuat kaget. Maklum tak jauh dari rumah adalah Bandara Halim Perdana Kusuma. Kini yang menjadi teman saya seharian ke depan adalah tv, hp dan AC.

Ahhh semoga kuat hingga sore hari nanti saat semua orang sudah pulang dari aktivitas masing-masing.

Menjelang Maghrib, tanda-tanda orang rumah akan kembali berkumpul masihlah lumayan lama. Mbak Tari yang sudah selesai mengantar dan menjemput anak sekolah, sore hari hingga maghrib tiba sibuk lagi dengan aktivitas pengajian beserta kedua anaknya. Saya akhirnya memutuskan untuk pergi meninggalkan rumah kakak ini, namun sebelumnya saya minta izin dulu melalui pesan di Whatsapp ke Kak Arif.

Kemana tujuan saya berikutnya, dan akan naik apa sampai ke sana? Tunggu kelanjutan ceritanya…

Advertisements

20 thoughts on “Katanya, Mimpi Adalah Kunci

  1. Hahahaha aku pertama kali naik pesawat ya terbang ke Belitong. Seminggu setelah film Sang Pemimpi tayang di bioskop. Tenang mz, akeh bocah ndeso kok. Tapi ya nanti seiring berjalannya waktu, sampeyan akan kesampaian juga naik-naik pesawat terbang. Bahkan dari tipe-tipe yang biasanya hanya kita baca di majalah atau tonton dari kanal youtube. Keep on dreaming and make it happen 🙂

    Liked by 1 person

    • wah kok samaan lagi ya? iya kali pertama ya pas ke Belitong itu. Walau masih deg-degan tapi ga katrok2 amat lah karena sebelum2nya aku banyak2in nonton video tentang naik pesawat sampai hafal malah step2nya, saking niatnya…
      Satu hal mungkin biar orang ndeso, semoga kelakuannya ga menunjukan ndeso yang berkonotasi negatif.

      Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s