Pembelajaran Dari Dieng Culture Festival 2017

Dari beberapa kali gelaran Dieng Culture Festival, baru di tahun 2017 inilah saya turut serta menyaksikan secara langsung seperti apa suasana dan kemeriahannya. Itupun karena faktor ketidaksengajaan, salah satu rekan blogger menawarkan “tiket” masuk DCF 2017 kepada saya. Sebenarnya lebih tepatnya untuk menggantikannya. Awalnya saya males, selain jauh juga dari rumah dan tidak ada teman yang ikut. Beberapa teman yang sudah saya ajak ternyata tidak bisa karena harus masuk kerja.

Saya sebenarnya juga harus masuk kerja namun saat itu saya meminta izin satu hari untuk libur. Berangkat dari rumah selepas sholat Jumat, saya berkendara menuju kota Banjarnegara. Petualangan pun dimulai. Jadi ceritanya saya harus menghubungi salah satu pejabat di Dinas xxx setempat untuk mengambil jatah “tiket” yang sedianya akan saya ambil.

Drama pun dimulai. Setelah sampai di sekitar Alun-Alun Banjarnegara, saya berusaha menelepon si pejabat tadi dengan maksud dan tujuan bla..bla..bla intinya mau ambil tiket jatah teman yang nantinya akan saya gantikan kehadirannya.

Setelah berbicara panjang lebar melalui telepon, intinya si pejabat tadi tidak tahu menahu mengenai jatah “tiket” untuk saya, bahkan saat saya menyebutkan nama teman yang katanya diundang, beliau tidak paham dan tidak kenal, hmmmm…ada yang tidak beres ini.

Saya pun dioper ke orang B dan lagi-lagi saya menjelaskan maksud dan tujuan. Akhir dari pembicaraan, katanya saya langsung menuju ke Dataran Tinggi Dieng saja untuk menemui pejabat lainnya dari dinas lain tentunya. Ya sudah lah, ini mungkin ujian pertama.

***

Sepeda motor saya laju melewati jalan perbatasan Banjarnegara-Wonosobo yang saat itu dalam proses pelebaran dan perbaikan sehingga butuh waktu lama melewatinya saking macetnya. Tak beberapa lama, saya pun sampai juga di Dataran Tinggi Dieng dengan sepanjang jalan tubuh sudah menggigil kedinginan, padahal baru sekitar jam dua siang tapi hawa dan kabut pekat telah menyelimuti seantero jalanan.

20170805_081352

pintu masuk ke area DCF 2017

Sesampainya di Dieng, saya langsung menghubungi kenalan. Intinya sih mau numpang tidur dua hari ke depan, ketalang basah sudah sampai di tempat ini. Saya pun menghubungi mas Syafaat (warga lokal) dan Mas Tofiq (pegiat wisata Banjarnegara), Pak A (orang pariwisata), alhamdulillah akhirnya saya bisa sedikit lega dan tidak seperti orang hilang.

Sebenarnya dari kejadian tadi saya sudah males meminta “tiket” dan hingga dua hari ke depan saya memang hanya sesekali menemui pejabat yang diarahkan saat menelepon di sekitar alun-alun kota,  itu pun masih dioper sana-sini hingga dijanjikan nanti. Yo wes lah, aku pasrah dan mengandalkan kebaikan teman-teman di Dieng.

Untungnya teman-teman di Dieng sangat bermurah hati dan ramah. Ah saya pikir selama niat kita baik, Tuhan pasti akan memberikan jalan keluarnya.

***

Ransel yang masih tergendong di punggung menemani saya sore itu yang tiba-tiba kembali cerah setelah beberapa waktu yang lalu gelap tertutup kabut.

Mas Tofiq langsung menyuruh saya untuk ikut bergabung saja di salah satu stand yang ada di pelataran Pendopo Soeharto Whitlam. Di sana saya berkenalan dengan Mas Fajar dan Mas Joe, keduanya dari operator arung jeram dan juga pegiat DESWITA (desa wisata).

Dari kejadian tadi, saya sudah tidak memikirkan “tiket” lagi, intinya mau menikmati apa yang ada.

Sebenarnya di dalam ransel saya sudah membawa perlengkapan mandi, makanan, sarung, obat-obatan dan lain-lain. Jadi selama beberapa hari ke depan, saya menjadi seorang penjaga stand selama gelaran DCF 2017 ini, hmmm jadi mikir, ada hikmahnya juga.

Malam harinya, saya akhirnya memutuskan menginap di salah satu home stay yang ada di Dieng bareng orang-orang yang menjaga stand. Syukurlah, semua fasilitas lengkap, selimut, kasur, kamar mandi plus pemanas air dan juga sarapan pagi, hmmm Tuhan memang Maha Baik.

***

Malam pertama gelaran DCF 2017 suasana masih lengang dan belum banyak pengunjung. Kami pun bisa menikmati sajian Jazz di Atas Awan dengan santai walaupun menonton di luar pagar.

20170804_220313

gelaran jazz di atas awan

Ada begitu banyak stand-stand yang berpartisipasi di acara ini. Mulai dari merchandise khas DCF, jajanan, mainan, stand rokok, kopi maupun dari dinas-dinas yang ikut berpartisipasi. Setelah dirasa cukup sekedar melihat Jazz, aslinya kurang terlalu suka dengan genre musik seperti ini karena lebih suka kesenian tradisional, kami pun langsung menuju home stay sambil menahan dinginnya udara Dieng saat malam hari.

Hari berikutnya (sabtu pagi) acara lain pun digelar yaitu jalan santai yang dibuka langsung oleh Bupati Banjarnegara, Budhi Sarwono. Setelah sarapan pagi sepiring nasi goreng pedas minus mandi pagi karena saking dinginnya, saya pun bergegas kembali ke lokasi stand (markas saya selama di Dieng).

Kali ini saya bertemu dengan seorang pemandu wisata lokal asli Dieng, pemuda jebolan finalis Kakang-Mbekayu tahun 2016 ini bernama Syafaat. Saya kenal dengannya saat fam trip tahun lalu dan kebetulan duduk satu bangku di bis, hingga saat ini masih terus berteman.

20170805_081704

Banser NU saat bermain drum band

Acara jalan santai dimulai terlebih dahulu dengan iring-iringan drum band dari Banser NU yang berpakaian ala militer kemudian dilanjutkan dengan pelepasan oleh Bupati Banjarnegara dengan diiringi pelepasan ratusan balon helium warna-warni ke langit Dieng pagi itu yang lumayan cerah. Rata-rata yang mengikuti jalan santai adalah para siswa-siswi sekolah dasar setempat yang khas dengan pipinya yang merah merona baik laki-laki maupun perempuan.

Setelah acara jalan santai selesai, kemudian dilanjutkan dengan penampilan kesenian tradisional berupa Kuda Lumping di depan panggung utama Jazz di Atas Awan. Nah kali ini saya baru lumayan tertarik dan mendekati lokasi acara. Para pemuda gagah berpakaian tradisional aneka warna terlihat tengah berpentas dengan kuda lumpingnya masing-masing sambil mengikuti irama tetabuhan gamelan Banyumasan. Beberapa pengunjung dari luar kota pun terlihat asik menonton kesenian seperti ini terbukti dari berjubelnya orang-orang di sekitar lokasi pentas ini.

***

Satu yang membuat saya belajar dari pengalaman menjaga stand pameran adalah saat bertemu dengan orang-orang dari luar daerah maupun luar negeri yang tertarik dengan brosur-brosur dan paket wisata yang ditawarkan pada stand yang saya jaga. Rata-rata mereka tau Banjarnegara ya Diengnya saja, beberapa malah menganggap Dieng itu milik Wonosobo padahal sebagian besar masuk di wilayah Banjarnegara.

Saya kemudian salut dengan keinginan untuk lebih maju dan mengembangkan potensi desa masing-masing DESWITA (desa wisata) yang ikut jaga di stand ini. Seperti pemuda di desa Kalilunjar yang kini dikenal dengan panorama wisata Bukit Asmara Situk-nya, Gunung Lawenya dan masih banyak hal lain lagi yang sedang dan akan digarap ke depannya.

Dari merekalah saya belajar jika ingin memulai sesuatu itu tidaklah mudah, terutama penolakan-penolakan yang datang justru dari orang dalam sendiri (penduduk). Selain itu juga terlalu mengandalkan peran pemerintah, jatuhnya akan sangat lama responnya, kurang lebih seperti itulah yang saya tangkap keluh kesah dari mereka.

Pengalaman unik terjadi saat menjaga stand dan didatangi turis dari Medan yang menanyakan lokasi Kawah Ijen letaknya di sekitar mana, saya antara ingin menahan senyum dan kesal sendiri saat itu. Padahal jarak Dieng dengan Kawah Ijen yang ada di Jawa Timur, bukan jauh lagi tapi jauh banget, lha ini orang bisa kesasar sampai ke sini, mungkin dikira Dieng dekat dengan Kawah Ijen, mungkin saja.

Hal unik lainnya pun terjadi saat seorang wisatawan dari Rusia bertanya tentang paket-paket wisata yang ditawarkan di sekitar Banjarnegara. Memang dia bisa berbahasa Inggris dan saya pun sedikit paham walau saat harus membalas lumayan susah juga untuk memilih kosa katanya, tapi tau sendiri bahasa Inggrisnya orang Rusia dengan logatnya yang belibet itu sangat sulit dimengerti, beberapa kali kami harus memakai gerakan tangan dan menunjuk-nunjuk gambar yang ada di brosur untuk menjelaskannya.

Belum lagi turis dari daerah lain di Indonesia yang kadang bertanya sangat mendetail sekali, padahal kadang saya bisa sendirian di stand saat teman lain sedang makan atau pergi ke mana gitu, lha kan saya aslinya cuma bantu-bantu karena terpaksa di sini jadi kurang begitu paham detail tiap paket wisata yang ditawarkan, nah inilah pengalaman uniknya yang kadang kalau diingat bikin senyum sendiri.

***

Malam kedua di Dieng, suasana gelaran DCF makin ramai. Sebelumnya saat sore hari saya mendapatkan kejutan saat dua orang blogger kece dari Jogjakarta yaitu Insan Wisata dan Lagilibur.com yang masing-masing digawangi oleh Mas Hanif dan Aji alias Duo Ebret ndilalah mampir ke stand yang saya jaga sore itu. Saya sebenarnya kenal dengan muka mereka karena sudah lama menjadi followernya tapi saya seratus persen tidak yakin jika mereka mengenal saya, siapalah saya ini.

IMG_20170908_171516

berfoto bersama di depan stand

Saya akhirnya memberanikan diri menyapa mereka. “Mas Aji dan Mas Hanif, ya?” kemudian mereka pun kaget dan bingung, “lha kok kenal kami?” seakan kaget dan tak percaya. “Ya kenal lah, kalian kan sudah lama saya follow akun sosmednya”. Mungkin mereka masih lumayan bingung namun mas Hanif kemudian mengajak untuk berfoto bersama dan saling menunjukan akun sosmednya masing-masing.

Saat malam puncak gelaran Jazz di Atas Awan, kami pun bertemu kembali. Suasana malam itu penuh sesak, bahkan untuk mendekat ke pintu masuk panggung pun susah, akhirnya saya dan Mas Aji memilih menunggu di stand saja sementara Mas Hanif mendekat ke panggung hingga acara usai tengah malam.

Jadi mulai dari selepas sholat Isya hingga tengah malam, saya mengobrol panjang lebar dengan Mas Aji yang aslinya lumayan cerewet ini. Mulai dari membahas dunia perbloggingan, wisata, kuliner, pekerjaan dan macem-macem. Sementara itu badan saya terus menggigil menahan dinginnya malam padahal jaket sudah berlapis pun sarung sedari tadi sudah dipakai untuk menghalau hawa dingin.

Katanya malam ini ada sajian istimewa yaitu penampilan Katon Bagaskara dan Gubernur Jawa Tengah, Ganjar Pranowo di pentas Jazz, namun saya tidak melihatnya malam itu.

Saya dan teman-teman di stand malah asyik berkaraoke ria sepanjang malam hingga Mas Aji pun kaget karena tau saya bisa nyanyi walaupun fales.

Malam makin larut dan orang-orang mulai menyalakan lampion yang sedari tadi sudah dibawa untuk kemudian diterbangkan ke langit Dieng. Lampion-lampion tadi terbang dengan diiringi puluhan kembang api yang  dilepaskan ke langit dan membuat langit Dieng warna-warni. Sementara itu kami malah asik mencari warung tempe mendoan sambil terus berbincang hingga acara berakhir sekitar pukul dua belas lebih.

20170805_223931

malam puncak penerbangan lampion

Pagi berikutnya, acara puncak DCF 2017 dimulai yaitu upacara pemotongan rambut gembel. Saya tidak mengikuti acara ini dan sekedar melihat prosesi arak-arakannya saja mulai dari pejabat, perwakilan raja-raja nusantara, penduduk sekitar dan tentu si anak berambut gembel.

Hanya yang punya tiket yang boleh masuk dan menyaksikan acara ini. Sementara itu penduduk sekitar banyak yang “terusir” dan dihalau untuk menjauh karena tidak punya tiket. Saya pun memutuskan untuk pulang lebih cepat minggu itu.

 

Jadi, total saya hanya berkutat di sekitar stand saja selama gelaran DCF 2017 kemarin. Ada begitu banyak pelajaran yang bisa saya ambil salah satunya adalah sadar diri jika saya ini bukan siapa-siapa dan jangan merasa menjadi orang penting apalagi harus “mengemis tiket” cukup sekali saja perasaan malu saya alami dan jika ditawari ke acara seperti ini tahun depan, hmmmm saya rasa cukup sekali saja.

Disclaimer: Apa yang saya tulis hanyalah cerita pengalaman sewaktu ikut meramaikan DCF tahun 2017. Saya tidak bermaksud untuk menyinggung orang atau dinas apapun, semuanya sekedar berbagi pengalaman saja.

Advertisements

39 thoughts on “Pembelajaran Dari Dieng Culture Festival 2017

  1. Halim Santoso

    Jadi dirimu iso nyanyi, tapi fals ya? Oke, skip ajakin karoke-an, takut disuruh ganti rugi kaca pecah hahahaha.

    Kukira awalnya dirimu jadi pemegang tiket kek duo ebret, ternyata ada insiden buruk gitu. Duh, sabar ya Hen. Semua ada hikmahnya, jadi bisa jaga stand dan ketemu orang-orang baru. Gusti mboten sare. 😉

    Like

    Reply
    1. Hendi Setiyanto Post author

      saat itu agak kesal juga karena di PHP in terus, tapi aku berusaha melebur dan membumi saja dengan suasana dieng, biarpun awalnya kayak orang ilang, hiks..
      Malah si Aji yang melongo saat aku kumat, nyanyi2 di depan banyak orang wkwkwk

      Like

      Reply
      1. Halim Santoso

        Si Aji yang awalnya bingung dirimu siapa kok tiba-tiba nyamperin dan panggil namamu itu? gembosin aja perutnya kalau ketemu lagi hahahahaha.

        Like

  2. Fauzi Amiruddin

    Sayang ya gak lihat pemotongan rambut gembel, padahal salah satu yg buat saya penasaran sama DCF ya itu.

    InsyaAllah mas, kamu pun bakal jadi next top travelblogger-nya Indonesia kok kayak blogger2 kece itu…

    Like

    Reply
    1. Hendi Setiyanto Post author

      duh kok komenmu masuk spam ya? jadi baru ketauan ini.
      iya padahal itu acara puncaknya hehehe.
      ah..aku ini bukan siapa2 mas, kamu nih yang udah pernah ke luar negeri dan kemana2…

      Liked by 1 person

      Reply
      1. Fauzi Amiruddin

        Gak tau juga… komenmu juga pernah masuk spam loh di blogku.

        menurut saya bukan udah berapa negara yg dikunjungin, bukan itu tolak ukurnya. Kalau saya lebih ke kualitas tulisan 🙂

        Like

  3. insanwisata (@InsanWisata)

    Asik, Hendi dapat ilmu baru dari deswita.
    Untung kamu nyapa, aku blas g tahu. Kalau ga ngobrol banyak sama temen2 pegiat desa wisata se Banjar, mungkin ga mampir stand aku. hehe.
    Ada banyak pembelajaran sih dr festival kemarin. Semakin massal, memang semakin berkurang kualitas nilainya. Semoga Dieng Pandawa punya banyak jurus untuk membuat wisatawan ga jenuh sama DCF

    Like

    Reply
  4. Desfortin

    Wah, ternyata Anda hanya diover ksna kmari ya terkait jatah tiket itu, 😂😂
    Kok bs gitu ya. Tp salut, anda ckup rendah hati mllui semuanya..

    Like

    Reply
    1. Hendi Setiyanto Post author

      iya, sebenere kalau sedari awal ga “dijanjiin” dan suruh gantiin ya mending aku ga minta2 dan bikin malu hahaha. oh ya, mending jangan panggil “anda” . “kamu” saja jg gpp hehehe

      Like

      Reply
  5. Gara

    Sepakat dengan teman-teman. Tuhan tidak tidur. Di balik semua kekecewaan yang dirimu rasakan di saat itu, saya yakin Tuhan akan memberikan hadiah yang paling indah dan paling dibutuhkan di saat yang tepat, hehe. Bahkan dengan pengalaman menjaga stan pun, saya sudah merasa iri, haha. Beruntungnya! Saya sendiri ke Dieng sebagai wisatawan saja belum pernah, apalagi dipercaya sebagai panitia yang menjaga stan dan bertemu serta belajar dari begitu banyak orang. Semangat selalu ya, Mas. Ke depannya nanti semoga makin banyak peluang dan pengalaman yang bisa didapatkan, hehe.

    Like

    Reply
  6. bersapedahan

    hebat .. dieng culture festival ini makin populer … dan banyak sekali potensi wisata yang bisa dijual disana mumpung banyak turis2 yang datang. Memang kalau di tangani birokrat .. apalagi permasalahan pariwisata … bakalan ribet tidak flexible dan adaptive

    Like

    Reply
    1. Hendi Setiyanto Post author

      hahaha, ya begitulah fakta kebanyakan, aku senangnya ya ketemu teman2 pokdarwis yang berjuang memajukan desanya masing2 dengan segala potensi dan keterbatasan yang ada. syukurlah makin ke sini banyak desa2 di banjarnegara yang mulai mandiri terutama dalam mengelola wisata di desanya

      Like

      Reply
      1. Hendi Setiyanto Post author

        biasanya kalau mintanya 3 atau berapa biji ya dituruti hahaha, untung belum ada yang minta mobil kan bisa bangkrut atau malah ga bisa ikut ritual karena belum mampu menyediakan permintaan buat si anak

        Liked by 1 person

      2. Avant Garde

        Oh iya deng, ini ritual khusus bagi yg sudah bisa melaksanakan permintaan anaknya aja yah… Iyah, untung gak minta mobil atau minta trip pake jet :p

        Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s