Mengenal Lebih Dekat Cirebon Melalui Seni Musik Tarling

Kereta Api Kelas Bisnis Fajar Utama jurusan Stasiun Pasar Senen-Jogjakarta yang saya tumpangi kini telah mendekati Stasiun Cirebon.

“Kereta Api Fajar Utama sebentar lagi akan memasuki Stasiun Cirebon” terdengan suara perempuan yang khas melalui speaker sumbang kereta api tadi. Sontak membuat kaget saya yang sedari tadi terlelap tidur sejak berangkat dari Stasiun Senen.

Tak berapa lama setelah pengumuman tadi, kereta pun berhenti selama kurang lebih lima menit di stasiun ini. Ada kejadian unik saat sepasang penumpang yang duduk di sebelah saya harus rela berpindah gerbong. Ternyata eh ternyata mereka salah masuk gerbong dan terpaksa terusir oleh penumpang dari Stasiun Cirebon yang baru saja masuk ke dalam gerbong ini. Saya dalam hati ingin tertawa tapi setelah dilihat-lihat lagi Boarding Pass yang saya pegang ternyata tak jauh beda dengan nasib sepasang penumpang tadi. Saya pun sebenarnya salah masuk gerbong. Gubrakkk.

Stasiun Cirebon ini merupakan salah satu stasiun besar dan cukup penuh sejarah setahu saya. Ini merupakan kunjungan kali pertama di stasiun ini walaupun tidak sempat menginjakan kaki langsung ke luar stasiun karena tujuan perjalanan saya sebenarnya ke Stasiun Purwokerto.

Cirebon_Kejaksan_Station

Stasiun Cirebon

Perasaan was-was karena sewaktu-waktu saya bisa terusir dari kursi dan dari gerbong ini pun menghinggap, tapi mujurnya tidak ada penumpang lain yang kebetulan menempati nomor duduk yang saya duduki hingga Stasiun Purwokerto. Mungkin inilah pengalaman terunik saya dengan Kota Udang ini pada perjumpaan pertama walaupun hanya sekilas saja di sini.

Cirebon, siapa yang tidak kenal dengan kota yang punya banyak julukan ini. Kota Udang, Kota Nasi Jamblang, Kota Wali dan mungkin masih banyak lagi julukan-julukan lainnya.

 

 

Siapa yang tak tahu Sunan Gunungjati, Keraton Kasepuhan, Keraton Kanoman, Gua Sunyaragi, Tari Topeng Cirebon. Barangkali orang-orang akan mudah paham jika ditanya tentang Cirebon dengan pilihan jawaban tadi. Namun ada satu hal yang mungkin orang belum tahu tentang kota ini. Cirebon juga dikenal sebagai cikal bakal lahirnya musik Tarling..ya Tarling yang kini dikenal di seantero PANTURA (pantai utara jawa) hingga mungkin ke seluruh Indonesia.

 

 

Sejarah Tarling

Tarling berasal dari dua kata yaitu “Gitar” dan “Suling” kedua instrumen musik inilah yang menjadi cikal bakal lahirnya seni musik Tarling hingga saat ini.

elvidaynti02.blogspot.com

Gitar dan suling

Menilik lebih lanjut, musik ini lahir sekitar tahun 1931. Saat itu jenis musik tarling klasik lah yang populer dan menjadi cikal bakal musik tarling dengan variasi yang beragam hingga saat ini.

Musik Tarling sendiri banyak yang menyebutnya dengan sebutan melodi jiwa. Karena musik ini telah menggambarkan kehidupan masyarakat Cirebon sehari-hari lewat alunan musik, lirik lagu yang dinyanyikan oleh seniman tarling klasik.

Untuk mengenal lebih lanjut mengenai sejarah lahirnya musik tarling, masih ada seorang yang merupakan warga asli Cirebon yang bisa ditemui. Dino Syahrudin, salah satu seniman Cirebon. Beliau bercerita mengenai awal mula terciptanya jenis musik ini yang secara tidak disengaja. Saat itu tentara Belanda meminta kepada salah seorang ahli gamelan , Sugro, untuk memperbaiki salah satu gitar yang rusak. Sugro pun kemudian menerima permintaan tentara Belanda tersebut untuk memperbaiki gitar yang rusak tadi.

Tarling Generasi Pertama

Kepandaian Sugro dalam memperbaiki gitar yang rusak tadi dibarengi dengan kemampuannya berinovasi untuk memasukan nada-nada pada alat musik gamelan ke dalam gitar. Dari keahliannya itulah secara tidak sengaja tercipta sebuah seni musik baru yaitu musik tarling klasik.
“Paduan suara gamelan dengan laras yang bisa masuk ke dalam gitar ditambah dengan penambahan alunan tiupan suling maka tercipta harmoni musik yang baru yaitu tarling khas Cirebon” begitu kira-kira jelasnya. Sejarah singkat lahirnya seni musik tarling klasik generasi pertama atau awal.

Pada zamannya, Sugro dan teman-temannya sering diundang untuk pentas pada pesta-pesta hajatan penduduk sekitar. Saat itu pentas digelar pada alas berupa tikar sederhana yang diterangi lampu petromaks (saat malam hari) dan sering kali mereka pentas tanpa bayaran alias cuma-cuma.

Selain itu, Sugro dan teman-temannya juga melengkapi pertunjukan musik mereka dengan penambahan selingan berupa sajian drama. Drama yang mereka mainkan lebih banyak berkisah tentang kehidupan sehari-hari yang terjadi di tengah-tengah masyarakat Cirebon. Dari drama yang mereka mainkanlah kemudian muncul lakon-lakon seperti Saida-Saeni yang berakhir tragis, Pegat-Balen, dan Lair-Batin yang begitu melegenda hingga kini.

 

 

Jadi dalam petikan gitar-gitar tadi menghasilkan suara laras yang mirip bunyi yang dihasilkan dari suara gamelan yang dipukul. Sugro bersama rekan-rekannya pun mulai menunjukan kreasinya tadi dalam bermain tarling klasik.

Satu yang khas dari seni musik tarling generasi pertama atau awal ini adalah pada posisi pemain yang berjumlah empat orang. Masing-masing memainkan gitar melodi, gitar pengiring sekaligus bermain bass, sinden dan seorang lagi pemain yang memainkan alat musik tiup tradisional berupa botol berwarna hijau sebagai pemanis lagu.

Suara yang keluar dari mulut si sinden inilah yang menjadi bagian penting dalam sebuah pertunjukan seni musik tarling klasik yang sebagian besar liriknya berkisah tentang kehidupan sehari-hari masyarakat Cirebon.

Tarling Generasi Kedua

Pada perkembangan kedua musik tarling klasik ini atau generasi kedua. Muncul sosok seniman bernama Djana Partanain atau orang lebih mengenalnya sebagai Mama Jana. Beliau memberikan penyempurnaan atau variasi baru pada instrumen musik tarling.  Penambahan tersebut berupa melodi kiser atau tembang klasik yang semakin membuat syahdu dan menjiwai karena ada sentuhan unsur tradisional khas Cirebon.

gigipriadji.net

sosok Djana Partanain

Pada masa inilah musik tarling Cirebon berjaya pada zamannya. Inovasi ini terbilang sebagai inovasi yang luar biasa karena semakin menunjukan kecirikhasan musik tarling klasik Cirebon.

Tarling Generasi Ketiga

Memasuki generasi ketiga, musik tarling mulai sedikit mengalami perubahan karena penambahan masuknya musik organ dan membuat kecirikhasan musik klasik Cirebon sedikit terkikis. Namun bagi generasi seperti saya ini, malah menganggap musik tarling versi sekarang ini yang lebih familiar di telinga. Orang-orang Cirebon menamai jenis musik tarling saat ini dengan sebutan “teng dung cirebon” atau dangdut Cirebon.

Siapa yang tak kenal dengan judul lagu berikut: Waru Doyong, Gatutkaca Bli Bisa Mabur, Keloas, Mandor Kawat, Kopi Lendot dll. Kesemua lagu beraliran dangdut tarling ini seakan sudah menjadi ciri khas musik Indonesia selain genre dangdut pada umumnya.

Cobalah berkendara menggunakan bis melalui jalur PANTURA dan nikmati suguhan musik tarling sepanjang perjalanan.

Wayang golek, gatot kaca

Gatot kaca bli bisa mabur

Weruh dewe katon neng mata

Main cinta karo batur

Wedang bandrek wedang bajigur

Cabure panggangan roti

Sapa wonge sing bli hancur

Batur dewek menghianati

Percaya atau tidak lirik lagu tarling versi masa kini yang dinyanyikan oleh Sri Avista ini beberapa minggu terakhir terus terngiang-ngiang di kepala saya. Lirik lagu yang kocak, rampak gemulai kendang yang ditabuh serta instrumen musik yang kental akan nuansa tradisionalnya telah membius saya.

Percaya atau tidak, banyak radio di sekitar Banyumas Raya ini yang punya segmen khusus tiap harinya yang berisi lagu-lagu tarling dari beragam versi dan juga penyanyinya. Selama hampir dua jam, pendengar setianya akan disuguhi alunan tarling yang bisa menemani hari melepas lelah.

Saya yang tinggal di Banjarnegara yang masih menggunakan bahasa ngapak seakan sangat mudah mencerna setiap lirik lagu-lagu tarling masa kini. Sebagian besar kosa kata yang dipakai sangatlah mirip dengan kosa kata bahasa ngapak yang setiap hari saya gunakan ini.

Sebenarnya wilayah Banyumas Raya ini masih terpengaruh oleh kebudayaan Jawa Tengah dan sebagian lagi Sunda. Coba saja sesekali mendengarkan alunan gamelan yang mengiringi pertunjukan lengger, kuda lumping atau reog banyumasan. Hentakan tetabuhan yang dipukul begitu dinamis, kuat, ritmenya cepat begitu juga dengan cara memukul kendang yang sepintas sangat mirip dengan kendang jaipong khas sunda.

Bahasa yang kami gunakan pun sebenarnya kosa kata bahasa panginyongan atau orang dari kelas menengah ke bawah, jarang sekali kami memakai kasta-kasta dalam pemilihan bahasa.

Mungkin sekilas terdengar kurang sopan tapi inilah yang kami gunakan sehari-hari tentu berbeda dengan Solo atau Jogjakarta yang masih menggunakan bahasa alus dan berkasta. Memang saya tidak bermaksud mengunggulkan satu budaya dengan budaya lainnya, ini hanya realita keseharian kami saja.

Memang untuk saat ini, mayoritas lirik lagu dalam musik tarling dangdut lebih berkisah tentang dunia percintaan namun jika ditelisik lebih lanjut, apa yang disajikan dalam lirik-lirik tadi sudah menjadi hal yang sering kita alami maupun dengar. Jadi saya merasa biarpun musik tarling kini telah bertransformasi dan sedikit berubah dengan tarling klasik namun esensi kerakyatannya masih begitu kental, khususnya untuk orang-orang seperti saya.

Secuil Kisah Seniman Tarling Klasik Saat ini

Alunan suara khas yang keluar dari mulut Teni Suteni (55) salah satu sinden dari Grup Candra Kirana seakan memecah keheningan pada sebuah kampung. Teni yang sehari-harinya selain berprofesi sebagai sinden namun juga merangkap sebagai penjual rujak di sekitar Kampung Pesisir Samadikun, Kebonbaru, Cirebon ini masih terus menggeluti profesinya sebagai sinden. Meskipun kini tidak banyak yang menanggap alunan suaranya ini, sang sinden masih terus giat berlatih di salah satu sanggar kelompok tarling Candra Kirana. Sering kali latihannya diadakan di rumah sang pemimpin kelompok yaitu Djana Partanain (76) atau lebih dikenal Mama Djana.

regional.liputan6.com

Djana Partanain

Grup Candra Kirana ini sering menampilkan tembang “Kiser Saida-Saeni”, salah satu tembang klasik dalam seni tarling Cirebonan. Jadi Kiser ini semacam tembang namun bercerita tentang sebuah kisah dan ditampilkan dalam bentuk nyanyian yang diiringi kendang, suling.

candra kirana

Djana Partanain dan Grup Tarling Klasik Candra Kirana

Dengan cengkok vokal yang khas dari pesinden Teni Suteni, tembang klasik ini seakan menyatu dengan sang pemillik vokalnya. Tak salah memang jika tembang ini sangat cocok dan luwes saat didendangkan oleh Teni, lirik dari lagu ini seakan mewakili perasaan para seniman tarling. Kisahnya lumayan sedih dan sering kali digambarkan mewakili keseharian kaum papa yang bergelut dengan kemiskinan.

Kampung Pesisir Samadikun terletak di tepi laut bagian utara Kota Cirebon. Dulunya kampung ini berupa tanah-tanah timbul di tepi laut. Banyak tambak-tambak udang berderet di tepiannya. Terkadang perkampungan di pesisir laut ini harus rela tergenang rob saat air laut pasang.

Banyak anggota grup tarling Candra Kirana ini yang berprofesi sebagai tukang bangunan , tukang ojek, nelayan maupun pedangang kecil dan sebagian besar tidak menggantungkan seluruh hidupnya hanya mengandalkan penghasilan dari pementasan tarling. Mungkin inilah satu-satunya grup tarling tradisional alias klasik yang masih tetap mempertahankan keeksistensinya di tengah bermunculannya tarling-tarling baru dengan kombinasi alat musik yang begitu beragam.

bengkalispost.blogspot.com

Djana Partanain

Saya masih menaruh harapan besar. Seniman-seniman seperti Teti, Djana Partanain dan kawan-kawannya ini masih bisa terus eksis dan bisa hidup berdampingan dengan perkembangan musik tarling masa kini.

***

Mau diakui atau tidak sejatinya seni itu akan mengikuti perkembangan zaman, entah masih dominan kekhasan sisi klasiknya maupun sudah kental dengan sisi moderennya. Saya yang hanya berperan sebagai penikmat saja masih punya rasa optimisme jika musik tarling ini akan terus ada walaupun mungkin nantinya akan tersaji dalam tampilan yang berbeda namun sejatinya nilai-nilai klasiknya masih barang tentu ada.

Cirebon, bagi saya tidak sekedar mendapatkan predikat Kota Udang. Kota ini masih punya banyak potensi baik itu budaya, kuliner, ekonomi, kearifan lokal yang masih bisa terus digali dan dimanfaatkan untuk kepentingan bersama.

Bagi saya, suatu kehormatan bisa sedikit mengenal Cirebon justru dari seni musik tarling yang belum tentu anak muda lainnya akan suka karena gengsi. Tapi bagi saya, masalah selera itu tidak bisa dibohongi, cobalah mendengarkan musik tarling dan dijamin bakalan suka entah mau mengakuinya secara terbuka atau hanya sebagai silent listener.

***

Berawal dari sebuah retweetan salah satu akun di twitter yang berisi informasi lomba blog dengan tema “Wisata dan Budaya Cirebon” yang diselenggarakan oleh Blogger Cirebon dan Smartfren, saya pun langsung berpikir mengenai apa yang akan saya tulis tentang Kota Udang ini.

Seketika pikiran langsung terbersit dengan minat saya yang lumayan suka dengan lagu-lagu tarling dan mengapa tidak membahas tentang ini saja. Dari minat tadilah, akhirnya lahir tulisan ini, semoga bermanfaat dan makin mengenalkan potensi Cirebon ke khalayak ramai.

Yuk ikutan juga lomba blog dengan tema “Wisata dan Budaya Cirebon” bareng Blogger Cirebon dan Smartfren melalui tautan di bawah ini.

Blogger Cirebon

  • Referensi :
  • merahputih.com
  • sanggar candra kirana: balada tarling di tepi laut, oleh: Putu Fajar Arcana, Kompas Cetak

 

  • Sumber Foto:
  • Nasi Jamblang: alaniadita.com, pintuwisata.com
  • Goa Sunyaragi: pintuwisata.com
  • Keraton Kasepuhan dan Kanoman: cirebonradio.com, kaffah.biz
  • Dino Syahrudin: cirebonmedia.com
  • Mama Djana: gigipriadji.net
  • Gitar dan Suling: elvidaynti02.blogspot.com
  • Djana Partanain: bengkalispost.blogspot.com
  • Tari Topeng Cirebon: sportourism.com
  • Tarling Candra Kirana: gigipriadji.net
  • Stasiun Cirebon: wikipedia.org

 

  • Sumber Video:
  • Video Tarling Klasik, youtube Kang Ato, tautan: https://www.youtube.com/watch?v=AA0w_H7-WP8
  • Vide Tarling Sri Avista, youtube Jr.Creative, tautan: https://www.youtube.com/watch?v=JH_N31jUzqw
Advertisements

31 thoughts on “Mengenal Lebih Dekat Cirebon Melalui Seni Musik Tarling

  1. Johanes Anggoro

    Orang awam pasti nyari gerbong sesuai tiket itu ngitung urutan gerbong dr belakang lokomotif. Padahal ga selalu yg di belakang lokomotif itu gerbong nomor 1. Bisa jadi kereta bagasi/pembangkit. Kereta makan biasanya letaknya di tengah.

    Like

    Reply
    1. Hendi Setiyanto Post author

      dan aku salah gerbong tapi mujurnya tak terusir padahal tiket sempat dicek lho, petugas yang ngecek malah bilang, “oh masnya tadi tukeran tempat duduk ya?” me: bingung….

      Like

      Reply
  2. BaRTZap

    Meskipun jarang, tapi aku pernah dengar beberapa lagu-lagu tarling. Terutama ya Waru Doyong yang terkenal itu. Buatku ini salah satu jenis musik yang sangat merakyat, dan terkadang kocak liriknya. Di tengah gempuran musik-musik kontemporer, aku rasa musik khas daerah macam ini memang mulai tergencet keberadaannya. Tapi kok ya, aku yakin kalau sesedikit apapun, penggemarnya tetap saja ada.

    Btw, itu foto nasi jamblang nya bikin kangen Cirebon beneran deh Hen 🙂

    Terimakasih sudah menambah wawasan soal tarling ini. Dan aku doakan, semoga menang yaaaa …

    Like

    Reply
    1. Hendi Setiyanto Post author

      iya salah satu penyanyinya adalah Aas Rolani dan aku lupa menuliskannya malah hehehe.
      waru doyong, kembang kilaras, manuk kepodang. Era 99 lagu2 td sangat populer dan aku juga suka.
      setuju…tiap kesenian punya pangsa pasarnya masing2 biarpun jumlahnya sedikit.
      aaminn, makasih,,,

      Liked by 1 person

      Reply
      1. BaRTZap

        Ah iya itu dia, Aas Rolani, pernah dengar juga namanya. Btw, tarling yang sekarang mulai terpengaruh campursari juga gak sih?

        Like

      2. Hendi Setiyanto Post author

        iya kepengaruh banyak aliran musik, dulu sempat eranya musik ska, jadi ada waru doyong yang ada sentuhan ska, sekarang yang mirip campursari pun ada, dangdut juga

        Liked by 1 person

  3. Gara

    Wah, musik yang baru saya tahu namanya: tarling. Menarik juga ya, sejarahnya adalah akulturasi musik lokal dan budaya Eropa modern. Memang kreatif benar orang-orang Indonesia, bisa mencipta musik dari alat reparasian. Mudah-mudahan seni ini bisa tetap lestari. Pelakunya sejahtera, peminatnya abadi dan tidak terbuta gengsi. Terima kasih sudah mengenalkan, Mas. Semoga berhasil dengan kompetisinya.

    Like

    Reply
    1. Hendi Setiyanto Post author

      iya ini gabungan dari alat musik modern yang dimasukan nada laras terus campur2 ada unsur tradisional sunda hingga kini yang banyak versinya, dangdut, campursari.
      Eh…semoga tidak bosan ya, karena tulisan lagi-lagi untuk perlombaan : )

      Liked by 1 person

      Reply
  4. aryantowijaya

    Akhirnya numpak sepur juga ya mas.
    Kalo dari Senen sampai Cirebon pemandangan di luar jendelanya monoton. Jalur keretanya lurus tok dan kecepatan keretanya ngebut whusss. Jadi, tidur adalah pilihan tepat. 😀

    Like

    Reply
    1. Hendi Setiyanto Post author

      iya, keretanya lumayan cepat sih, dan sepanjang jalan ya persawahan, antusias kalau pas lewat jembatan atau tikungan sih, sisanya ya karena ngantuk berat, aku tidur gitu.
      yang pemandangannya menarik, kereta jalura apa?

      Like

      Reply
      1. aryantowijaya

        Yang menarik itu kereta di Daop 2 mas.
        Di petak Purwarkarta – Padalarang, treknya berbukit-bukit. Ada puluhan jembatan, dan satu terowongan Sasaksaat. Pemandangannya ciamik.

        lalu, mulai dari petak Cicalengka sampai Banjar, pemandangannya juga oke banget.

        Like

      2. aryantowijaya

        Ndak, daop 2 itu selatan mas, via Bandung.

        Kalau ke Jogja via Cirebon, rute pegunungannya itu ada di petak Ciledug – Purwokerto. Pemandangannya juga oke. Cuma, di sini keretanya udah gak bersilang, soalnya jalurnya sudah double track

        Like

  5. Desfortin

    Menurut saya, sbgai seorang Dayak, musik Tarling ini easy listening, saya pun suka dg alunan musiknya.
    Mantap mas Hendi, sekalipun cukup pnjng lbar Anda mengulasnya (mestinya bs dibuat 2 part), tp krn diulas dg baik, saya pun tuntas membacanya.
    Thanks for the share.

    Like

    Reply
      1. Desfortin

        Itu problem yg kesekian, ni pas di kota jd bs online lg, tp problem utama memang ada hal lain yg sulit utk sy crtakan, cukup menguras pikiran,

        Like

  6. bersapedahan

    Tarling … sudah lama bener ga denger nama itu … kalau ga baca ini .. lupa deh … apalagi generasi millenial … kayaknya mesti dikenalkan ke generasi millenial dengan sentuhan kekinian .. biar tidak terlupakan

    Like

    Reply
    1. Hendi Setiyanto Post author

      hehehe, itu generasi remajaku ya lumayan familiar lah, maklum karena tinggal di kampung jadi hiburan yang macam tarling ya begitu gampang diterima, tapi akhir2 ini jarang ada begituan lagi hehehe

      Like

      Reply
  7. Fanny Fristhika Nila

    Keren tulisannya mas.. Moga2 kamu bisa menang. Yg dibahas unik. Jujurnya, aku baru tau tarling cirebon setelah baca ini :D. Musiknya sih sesekali denger, tp ga tau namanya tarling. Selama inj tau corebon cm nasi jamblangnya dan batik cirebon 😀

    Like

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s