Plesiran di Pulau Bali Dalam Waktu Semalam? Mengapa Tidak

Lusa saya sudah beranjak dari Kota Banjarnegara menuju pulau lain (masih di Indonesia) untuk mencoba mengeksplor dan mencicipi pengalaman baru. Siapa tak kenal Pulau Dewata, Bali. Rasanya tidak sah menjadi WNI (Warga Negara Indonesia) kalau belum menginjakan kaki ke pulau yang satu ini.

Berawal mimpi dari zaman SMK yang saat itu rata-rata siswa-siswinya melakukan pelesiran ke Pulau Bali menggunakan jalur darat, melewati propinsi Jawa Timur dan menyeberang melalui Pelabuhan Ketapang menuju Gilimanuk hingga akhirnya sampai di lokasi yang dituju. Saat itu saya pun punya keinginan yang sama, sayang, mimpi dari ke-280 siswa satu angkatan saat itu harus dikubur dalam-dalam. Pihak sekolah lebih memilih Solo dan Jogja daripada ke Bali. Pertimbangannya waktu itu karena masalah waktu yang cuma terbatas, sementara kegiatan lain di sekolah masih lumayan padat.

Kini tinggal selangkah lagi mimpi saya itu akan segera terwujud. Kebimbangan pun tiba-tiba datang. Apa saya harus menempuh jalur darat? Misal melalui jalur udara, mau lewat Bandara Adi Sutjipto-Jogjakarta atau lewat Soekarno-Hatta dan harus berangkat dulu ke Jakarta?.

Coba pembangunan Bandara Jenderal Soedirman-Wirasaba-Purbalingga sudah selesai, padahal pemerintah baru berencana akan membangun bandara militer ini menjadi bandara komersil akhir tahun ini. Apa iya saya harus menunggu hingga selesai pembangunan yang mungkin memakan waktu setahun atau dua tahun, atau bahkan lebih? Keburu tubuh sudah mulai renta bisa-bisa.

Banjarnegara-Jogjakarta

Setelah mempertimbangkan matang-matang, akhirnya saya memilih berangkat lewat Bandara Adi Sutjipto-Jogjakarta. Dari rumah di Banjarnegara, saya harus berkendara menggunakan sepeda motor sampai Terminal Proyek Mrican dan di sana sepeda motor dititipkan di samping pos polisi lalu lintas.

Saya rasanya masih trauma saat beberapa tahun yang lalu, sepeda motor kena tilang dan harus rela menginap di POLRES selama seminggu karena lupa membawa surat-surat kendaraan, untungnya kali ini motor diinapkan supaya aman saja.

Dari Terminal Proyek Mrican sekitar pukul delapan pagi, saya sudah memesan mobil travel jurusan Banjarnegara-Jogjakarta yang ditempuh sekitar 4 jam lebih.

Pengalaman beberapa tahun yang lalu, saya lupa membawa obat anti mabok, sehingga perjalanan selama 4 jam menuju Jogjakarta berasa naik Roller Coaster. Saat itu badan panas dingin, kepala pusing, perut mual namun masih tetap jaim menahan muntah karena di belakang kursi yang saya duduki banyak penumpang cewek berusia muda. Sekilas mungkin mahasiswi yang baru saja pulang kampung ke Banjarnegara. Akan sangat memalukan jika sampai muntah. Kurang lebih seperti itu suasana beberapa tahun yang lalu dan kini tidak mau terulang kembali, amit..amit.

Bandara Adisutjipto-I Gusti Ngurah Rai

Alhamdulillah, perjalanan kali ini aman hingga sampai Bandara Adi Sutjipto. Tiket maskapai pelat merah milik pemerintah Indonesia sudah di tangan, ah rasanya mimpi jadi kenyataan, sejak dulu memang ingin merasakan langsung naik si burung besi warna biru ini dan kini tinggal beberapa jam lagi akan segera terwujud.

Suasana bandara siang itu tidaklah terlalu ramai. Ini merupakan pengalaman kedua saya naik pesawat jadi sudah tidak katro-katro amat. Sampai di pintu masuk pesawat, sepasang pramugari yang memakai kebaya warna oranye dengan ramah menyambut saya dan mengarahkan kursi sesuai yang ada di tiket.

netz.id

Bandara Internasional Adisutjipto-Jogjakarta

Beruntungnya saat itu bisa duduk di dekat jendela dan bisa menyaksikan secara langsung suasana langit dari sini. Walaupun pengalaman kedua kalinya naik pesawat, namun saat pesawat mau take off, rasanya masih bikin parno.

Posisi duduk yang semula sejajar tiba-tiba harus miring dan itu yang bikin jantung deg-degan. Begitupun saat sudah di atas awan, sesekali mata dan telinga awas melihat apakah mesin masih terus menyala, pesawat bergetar tak wajar atau tidak, pokoknya tangan keringat dingin selama penerbangan hingga lupa snack yang dibagikan oleh pramugari tak disentuh apalagi dimakan.

Setelah berhasil landing di Bandara I Gusti Ngurah Rai, rasanya plong. Melawati pintu kedatangan dan berhasil keluar dari bandara dan merasa tidak percaya kalau kini saya sudah benar-benar sah menginjak tanah Pulau Dewata.

travelholic

Bandara I Gusti Ngurah Rai-Bali

Plesiran Bareng Blogger-Blogger Hits

Saya tidak langsung mencari taksi atau kendaraan lainnya karena menunggu 4 orang rombongan lainnya. Ke-empat orang tadi adalah Mbak Pungky Prayitno (blogger hits Purwokerto), Mas Yayan atau Om Ndut (blogger kece Palembang), Koh Deddy Huang (blogger Palembang), dan Koh Halim (blogger Solo).

Saya yang terbiasa apa-apa paling cepat harus menunggu lumayan lama saking antusiasnya berangkat. Terlihat seorang perempuan muda dengan senyuman khasnya mendekat, saya lumayan paham wajahnya walau belum pernah bertemu langsung namun sudah lama menjadi followernya, dia tak lain dan tak bukan adalah Mbak Pungky Prayitno, kami pun langsung berkenalan dan orangnya benar-benar ramah.

Berikutnya terlihat 2 orang laki-laki yang postur tubuhnya hampir sama, saya yakin mereka berdua adalah Yayan dan Koh Deddy dari Palembang. Wah…akhirnya kami bisa kopdaran juga setelah sekian lama cuma bisa  saling komen di blog masing-masing. Kemudian disusul dengan kedatangan si Halim yang khas dengan kaca matanya, ini pun kali pertama kami bisa bertemu langsung setelah beberapa kali gagal kopdaran hehehe.

Sopir dari pihak Bali Funky terlihat sudah menunggu di pintu keluar bandara dengan selembar kertas bertuliskan “Selamat datang di Bali, Bali Funky”. Kami pun berkenalan dan langsung menuju mobil yang sedari tadi sudah menunggu.

Tujuan kami selepas dari bandara langsung menuju hotel tempat kami menginap di kawasan sekitar Pantai Kuta. Mimpi apa saya bisa menginap di hotel bintang lima untuk kali pertama.

***

Petualangan Dimulai

Beberapa hari di Bali jadwal kami begitu padat, berikut beberapa aktivitas yang kami lakukan bersama mulai dari Rafting, Trekking dan juga Cycling.

1.Rafting di Sungai Telaga Waja, Karangasem

kiristraveltales.com

Rafting di Telaga Waja

Perjalanan menuju Sungai Telaga Waja memerlukan waktu sekitar 2 jam ke arah timur Bali dengan jalur yang semakin menanjak, tanda area rafting sudah dekat. Kami disambut welcome drink sebagai pembuka sebelum memulai rafting. Selain itu juga kami terlebih dahulu memakai helm, pelampung dan tutorial singkat tentang keselamatan.

Sungai Telaga Waja sendiri merupakan sungai yang disucikan oleh masyarakat lokal setempat. Masyarakat lokal Hindu Bali di sekitar sungai, sering memanfaatkan aliran airnya untuk keperluan upacara keagamaan, jadi sudah sepatutnya kita sebagai wisatawan harus turut menjaga kebersihan, kesopanan serta menghargai kearifan lokal masyarakat setempat.

Beberapa dari kami yang membawa peralatan seperti kamera dan dompet ternyata bisa dibawa dan dititipkan pada pemandu di dalam dry bag, jadi tidak perlu takut kehilangan momen berharga tanpa sempat mengabadikannyaAda hal menarik dan seru saat kami dipisah dan dipasangkan dengan wisatawan dari negara lain. Jadi selain bisa bermain rafting, kami juga menambah teman teman baru, kebetulan saat itu bareng wisawatan mancanegara, luar biasa.

Setelah menuruni lembah, lagi-lagi kami diberi briefing dan petunjuk aba-aba sebelum mengarungi sungai sejauh 16 km selama 2,5  jam. Jeram di Sungai Telaga Waja memang seru dan tidak kalah dengan jeram di Sungai Serayu yang sudah pernah saya coba.

balisuntours.com

Rafting di Telaga Waja

Di tengah perjalanan kami harus turun karena ada air terjun yang tidak mungkin diarungi. Kemudian kami juga berhenti di satu titik untuk membeli minum dan juga berfoto di tengah pemandangan alam yang masih alami. Beberapa air terjun kecil terlihat sangat menarik dan sayang jika dilewatkan untuk berfoto.

Salah satu hal yang menantang bagi kami terjadi ketika arus sudah mulai tenang, pemandu merapatkan kapal dan meminta semua wisatawan berbaring di dalam perahu. Seluruh dayung dan barang bawaan diletakkan di belakang. Setelah menunggu giliran, perahu berjalan perlahan dan rupanya menuju dam-bendungan.

Rasanya benar-benar menegangkan terjun dari ketinggian 5 meter di tengah derasnya arus bendungan. Rasa was-was dan perut yang menahan mual menjadi pengalaman menarik bagi saya pribadi, untungnya tidak sampai muntah.

baliyogatour.com

Rafting di Telaga Waja

Sebenarnya bermain arung jeram di sini sangatlah aman, asalkan kita mau mematuhi aba-aba dari pemandu, bagaimana saat harus mendayung, harus masuk ke dalam perahu karet atau membetulkan posisi duduk agar saat terkena goncangan tidak goyah.

Bermain air selama 2,5 jam rasanya terlalu sebentar padahal tubuh sudah mulai menggigil kedinginan ditambah perut yang harus segera diisi kembali.

2.Trekking di Bukit Cinta Campuhan, Ubud

baliteen-adventure.blogspot.co.id

Bukit Cinta Campuhan

Patokan utama menuju Bukit Cinta Campuhan ini adalah Museum Blanco di jalan raya Ubud. Setelah melewati tikungan dan terlihat sebuah villa, kami harus berbelok lagi menuju sebuah Pura dan tak lama kemudian, kami sampai juga di jalur menuju bukit. Saat itu para bli bli Bali dengan ramah menyambut kami.

Jalur trekking terbentang sejauh 2 kilometer sudah menyambut kami. Rombongan kami sudah siap dengan bawaan berupa minuman karena di atas sana tidak ada pedagang minuman dan tak lucu jika harus kelelahan lalu kehausan seperti pengalaman saat mendaki ke Gunung Sundoro beberapa waktu yang lalu.

Jalur trekkingnya sendiri telah dibangun dengan baik selebar kira-kira 1,5 meter. Yang menarik dari bukit ini adalah jenis vegetasinya yang lumayan unik, karena biasanya bukit ditumbuhi semak belukar maka di sini beda, bukit ini ditumbuhi padang rumput hingga setinggi satu meter. Lalu kenapa dinamakan bukit cinta? Kata pemandu sih karena di sini biasanya banyak yang mendaki bersama pasangan masing-masing kecuali tentu saja yang jomblo, upss. Tapi kami kan ramai-ramai jadinya tetap menyenangkan.

bukit cinta

Bukit Cinta Campuhan

Satu tips saat ke sini adalah mempersiapkan fisik dan stamina, jangan seperti saya yang baru berjalan beberapa puluh meter saja sudah ngos-ngosan, maklum saya termasuk tipe orang yang malas berolahraga.

Saat sampai di puncak bukit, siapkan peralatan kamera maupun gawai yang sudah dibawa karena tempatnya sangat instagramable banget.

3.Cycling Dengan Rute Kintamani Hingga Ubud

balitourmurah.com

Bersepeda di Tengah Sawah

Kapan terakhir kali bersepeda? Kalau saya akan menjawab kurang lebih dua bulan yang lalu. Hampir tiap pagi rutin, hingga suatu saat sepeda kesayangan rusak dan belum bisa diperbaiki hingga sekarang.

Lalu di Bali mau bersepedaan di mana?, Panorama pegunungan, sejuknya udara Kintamani, pemandangan sawah terasering yang ada di Ubud menjadi lokasi yang cocok untuk bermain sepeda. Rasa-rasanya jika ingin menikmati sisi lain wisata di Pulau Dewata, di sinilah lokasinya.

Aktivitas wisata bersepeda di Bali dengan rute start Kintamani dan finish di Ubud, pada awalnya banyak dinikmati oleh wisatawan Eropa khususnya dari negara Denmark dan Swedia. Namun akhir-akhir ini wisatawan Indonesia, mulai menyukai aktivitas wisata naik sepeda di Bali, lebih khusus untuk rute start Kintamani dan finish di Ubud.

Kami bisa menyaksikan orang-orang lokal beraktivitas dalam keseharian sementara saya merasa lebih sehat karena kaki terus saja menggowes pedal sepeda. Saat melewati pedesaan di Kintamani, kalau beruntung bisa menemukan anjing khas dari daerah ini yang sempat booming saat dijadikan lirik lagu era 2000-an.

Perjalanan harus dinikmati sesantai mungkin dan jangan buru-buru ingin cepat sampai di daerah Ubud. Saat sudah mendekati titik finish, saya beruntung karena masih di suguhi sajian khas suasana pedesaan di Ubud yang terkenal akan banyaknya orang luar negeri yang menetap di sini.

balitoyayatra.com

Bersepeda Melintasi Sawah

Jadi, kapan kalian juga ikut merasakan Rafting, Trekking dan Cycling seperti saya ini? wajib banget dicoba saat ke Pulau Bali apalagi ingin mencoba sesuatu yang baru dan anti mainstream.

Tak terasa mulai dari bermain arung jeram, mendaki bukit hingga bersepeda selama di Bali hampir berakhir. Rasanya baru beberapa menit yang lalu kami bertemu dan beberapa jam ke depan kami harus kembali ke daerah masing-masing. Pertemuan singkat saya dengan blogger-blogger hits tadi menyisakan pengalaman yang luar biasa dan saya jadi banyak belajar dari mereka.

***

….dan ternyata

Senyum lebar, muka berbinar dan seluruh tubuh yang berasa pada sakit menghinggapi seketika. Hingga beberapa saat kemudian, suara menggelegar sontak telah membangunkan mimpi manis selama di Bali.

“Hendi…..!!!!!! Apa ora arep mangkat kerja? Jam semene esih ngorok bae!!!!” (Hendi!! apa tidak berangkat kerja? jam segini malah masih ngorok!!!)

Teriak ibu dari balik pintu kamar sambil tangannya tak henti menggedor-gedor pintu. Saya pun langsung terperanjat kaget sambil langsung reflek mengelap tetesan air di pipi yang sudah membasahi bantal putih yang kini sudah berubah menjadi peta Pulau Bali.

sleepsugar.com

Mimpi Manis Sampai Ngiler

“Ala biyung….jane inyong agi ngimpi!!!!!, (oalah ternyata saya sedang mimpi) saya pun mulai sadar jika sedari tadi saya cuma mimpi plesiran ke Bali.

Jadi…daripada saya kesal sendiri karena Pagi dan Ibu telah mengubur mimpi pelesiran ke Bali, sekiranya cerita di atas bisa menjadi jalan pembuka doa untuk disegerakan menginjakan kaki di Pulau Dewata dan bukan hanya sekedar mimpi belaka, mari sama-sama kita doakan, aamiin…..

“This post is my attempt to be chosen as 1 of the 4 winners of Bali Funky Blogger Hunt in collaboration with Pungky Prayitno”

Disclaimer: Karena tulisan tadi berupa khayalan atau mimpi belaka, jadi mohon dimaafkan jika aktivitas yang saya tulis mungkin kurang nyambung, foto-foto bukan milik pribadi, tapi tetap mencantumkan sumber aslinya, mencatut nama blogger lain, apalagi bagi kalian yang sudah benar-benar plesiran di Bali, hehehe. Mohon dimaafkan : )

  • Sumber Foto:
  • Pura di Bali-indonesia.travel
  • Bandara-Adisutjipto-netz.id, Bali, travelholic.blogspot.com
  • Rafting- kristaveltales.com, baliyogatours.com
  • Trekking-baliteen-adventure.blogspot.co.id, disocvergianyar.com
  • Cycling-balitourmurah.com, bali.toyayatra.com
  • Tidur ngiler-sleepsugar.com

 

Advertisements

47 thoughts on “Plesiran di Pulau Bali Dalam Waktu Semalam? Mengapa Tidak

  1. Halim Santoso

    Wahahaha ngarepku di gambar terakhir ada fotomu yang beneran ngorok dan udah bikin peta Pulau Bali di sarung bantal. Buruan dibikin petanya! #ehh 😀 😀

    Like

    Reply
      1. Halim Santoso

        Buahaha biar sok sok candid kan keliatan ngiler beneran. Aturr hahaha. Oh iya, matur nuwun udah disebutin jadi satu dari tiga teman yang asyik diajak jalan bareng. Good luck buat lombanya dan kutunggu jalan bareng benerannya. Wes nunggu sekian puluh purnama iki. 😀 😀

        Like

  2. Rizka Rachmaniar

    Waahaha gokiil. Dapet notif dari email. Langsung baca karena ngerasa kalo ke Bali keknya ga pernah bisa untuk rafting atau cycling, paling city tour. Dan baru mau nanya kalo cycling capek bgt gaaa di Sana karena biasanya Suka drop abis cycling wkwkwkwkwk dasaaaar kak Hendii. Keren banget daaah udah gausah traveling jadi penulis aja lah. Bahahahaha

    Like

    Reply
    1. Hendi Setiyanto Post author

      Haseekkkk…bisa menghibur orang dgn kengawuran cerita 😂😂😂
      Eh…tp emg sgja riset wisata yg anti mainstream sih…cma ya kevalidannya ga bisa jd patokan

      Like

      Reply
  3. Rizka Rachmaniar

    Satu lagi, kirain tuh pas dibangunin. Emang capek bgt dari tour Bali kilat yg kegiatan fisik semua. Ga percaya malah kalo sebenernya ceritanya khayalan wahahahaha masih sempet scroll up dalem hati “serius jadi dari tadi ini org ga ke mana2?” Wkwkwkwkwk

    Like

    Reply
  4. Fauzi Amiruddin

    kereeen, seandainya ceritanya beneran di Bali, tapi belum ke Bali aja ceritanya udah seru kek gini, apalagi udah beneran ke Bali heheh. mudah2an menang ya, tulisannya juara sih, kalau aku yg juri, pasti mas hendy yang menang #kode hahahah.

    Like

    Reply
    1. Hendi Setiyanto Post author

      Wah makasih atas respon positifnya. Saya berusaha terbaik tp kputusan ada di tangan juri dan kehendak Tuhan.
      Smga saja tulisan ini menemui takdirnya yg baik, aamiin…

      Like

      Reply
  5. Lazwardy

    Waah.. Cerita yg keren.. Salam kenal mas, saya Lazwardy ato bisa dpanggil Didit, blogger asal Lombok… Kapan2 qta bisa kopdaran bareng2 hehehe…

    Like

    Reply
  6. BaRTZap

    Huahahaha, aku pikir beneran semua ini selesai dalam satu malam. Ternyataaa … Eh tapi memang pilihan kegiatan itu salah satu yang wajib kalau sempat ke Bali agak lamaan Hen. Rafting di Telaga Waja, trekking di Bukit Campuhan, seruuu. Apalagi kalau barengan dengan traveler-traveler yang berpengalaman. Jadi bisa berbagi cerita juga … Sukses ya Hen. Semoga menang 🙂

    Like

    Reply
  7. Zevi

    aku bacanya serius mas. aku pikir memang sudah pernah trip bareng bali funky, lah dalah bawahnya haha, semoga menang ya mas.

    Like

    Reply
  8. Gara

    Wkwk, saya ngakak sendiri bacanya. Visualisasi yang sangat detil! Pasti tercapai Mas nanti, kalau se-vivid ini pembayangannya, yakin deh. Saya doakan semoga tercapai. Bali memang masih menyimpan sejuta pesona. Saya pun belum pernah melakoni wisata-wisata seperti yang Mas tulis di sini, sepertinya seru banget. Ah saya tunggu sajalah cerita-ceritanya Mas dulu setelah perjalanan di sana nanti!

    Like

    Reply
    1. Hendi Setiyanto Post author

      hahahaha aamiin..tapi ya misal pun ga lolos tulisanku, rasa-rasanya aku sudah puas karena banyak yang komen seperti yang aku harapkan. biarlah tulisan ini menemui takdirnya sendiri hahaha

      Like

      Reply
      1. Gara

        Semangat Mas, yakin, pasti kesampaian ke Balinya. Jalannya akan terbuka. Kita cuma perlu percaya, hehe.

        Like

  9. omnduut

    Orang-orang berbondong ke Bali, eh akunya belom pernah. Menarik melihat Bali di sudut pandang yang berbeda di tulisan ini. Semoga menang yaaa! Ya siapa tahu bisa ke Bali barengan *niatnya mau ikutan juga hehe

    Like

    Reply
  10. Dunia Faisol

    Hehehehehe dari sudut mimpi ternyata. Itu bagus. Aku sendiri dah menabur-nabur mimpi di sudut Bali yang konon instagramable, yahh moga kita bisa ketemu ya mas.

    Salam #DuniaFaisol

    Like

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s