Jelajah Banjoemas: Melihat Sisa-Sisa Proyek Irigasi Bandjar Tjahjana Werken (BTW)

Pada masanya, Poerwaredja dan Klampoek merupakan dua daerah yang hidup dari manisnya tetesan tebu dari pabrik gula (suikerfabriek) yang ada di dalamnya. Kedua daerah ini sebelum bergabung menjadi sebuah kecamatan pada saat sekarang ini, dulunya merupakan lokasi konsentrasi para penjajah dari negeri Belanda yang membentuk komunitas mulai dari perumahan, gereja, sekolah, kantor pemerintahan dan yang menjadi bahan bakar utama kemajuan pembangunan saat itu adalah keberadaan suikerfabriek atau pabrik gula.

Ketertarikan saya akan sejarah kolonial di Indonesia, khususnya di sekitar kota kelahiran, Banjarnegara-seakan mendapatkan restu setelah pada tanggal 10 Juli 2017 mendapatkan ajakan dari blogger yang juga penyuka sejarah asal kota Solo yaitu Halim Santoso. Melalui komunitas pecinta sejarah yang tergabung dalam Banjoemas History Heritage Community (BHHC) dan ROEMAH TUA, saya mendapatkan info jika pada tanggal 13-15 Juli 2017 akan mengadakan kegiatan bertajuk JELAJAH BANJOEMAS, mrapat. Adapun agendanya adalah jelajah selama 3 hari, 4 kaboepaten dan 12 toedjoan. Lebih spesifiknya akan mengunjungi:

  • 4 bekas pabrik gula suikerfabriek yaitu : sf. Klampoek, sf.Kali Klawing, sf.Bodjong dan sf.Kalibagor.
  • 4 kerkhof atau kuburan belanda yaitu: Klampok, Purbalingga, Kalibagor dan Cilacap.
  • Susur rel SDS (Serajoedal Stoomtram Maatschappij) yaitu: Stasioen Klampok, Jembatan Serayu, Jembatan Kali Klawing dan Stasioen Bandjarsari.

Ekpektasi awal saya adalah, kegiatan semacam ini biasanya sepi peminat namun dugaan tadi ternyata salah karena saat hari pertama, peserta yang mengikuti kegiatan ini mencapai lebih dari dua puluh orang yang datang dari latar belakang yang berbeda mulai dari guru sejarah, pecinta alam, mahasiswa, karyawan, wirausahawan maupun pelajar.

Pesertanya pun ada yang berasal dari Banjarnegara, Purbalingga, Banyumas, dan Jogjakarta. Kami semuanya belum mengenal satu sama lainnya, hanya satu yang membuat kami cepat akrab yaitu ketertarikan akan jejak masa lalu, sejarah, kolonial dan hal-hal jadul lainnya.

Dari rangkaian kegiatan selama tiga hari tadi, saya hanya bisa mengikutinya pada hari pertama saja, sementara untuk hari kedua dan ketiga, saya absen.

Kamis pagi yang dingin dan berkabut tak menyurutkan semangat saya berkendara mulai dari Pukul 06.00 pagi menuju Lapangan Desa Majasari, Bukateja-Purbalingga yang dijadikan titik kumpul para peserta. Setelah berkendara selama kurang lebih 42 menit dan sempat tersasar sekali, saya pun sampai juga di lokasi yang telah disepakati tadi. Adalah sosok mas Jatmiko Wicaksono, salah satu penggagas, pecinta sejarah dan menjadi pemandu kami selama tiga hari ke depan.

kumpul di lap.majasari

berkumpul terlebih dahulu di Lapangan Majasari

Setelah semua peserta berkumpul dan mendapatkan selembar peta jadul sebagian daerah Poerwaredja Klampok  (Banjarnegara) dan Purbalingga, kami pun langsung beranjak menuju lokasi pertama menuju saluran air yang bernama Bandjar Tjahjana Werken (BTW) yang menghubungkan  aliran air dari Banjarnegara menuju Distrik TJahjana (zaman dahulu) atau saat ini Daerah Bukateja (Purbalingga) .

Sejumlah sepeda motor milik peserta Jelajah Banjoemas yang berjumlah sekitar dua puluh orang ini terparkir di sebuah lapangan yang pada pinggirannya mengalir saluran air yang penuh sejarah.

BTW kini

saluran air di atasnya

Pada saluran air ini juga terdapat terowongan bekas perlintasan lori-lori dan kereta yang mengangkut tebu-tebu dari perkebunan di daerah  Bodjong Purbalingga menuju Klampok. Nama perusahaan kereta uap pada masanya sudah ada dengan nama Kereta Uap Lembah Sungai Serayu atau Serajoedal Stoomtram Maatschappij (SDS).

terowongan air

tampak terowongan di bawah saluran air (bagian atas saluran air)

Menurut Prof. Purnawan Basundono yang asli orang Karangsari, Punggelan, Banjarnegara (Masih saudara jauh saya), sistem irigasi untuk mendukung kegiatan pertanian di wilayah Banyumas Raya telah ada sejak tahun 1884. Saat itu pemerintah Kolonial Hindia-Belanda membangun saluran irigasi yang berada di sebelah selatan Sungai Serayu dari Banjarnegara sebelah timur sampai dengan perbatasan dengan Kabupaten Purbalingga, di Purwareja-Klampok.

bandjar tjahjana werken

saluran irigasi bandjar-tjahjana werken, foto: koleksi tropenmuseum

Proyek Bandjar Tjahjana Werken ini dirancang oleh dua orang arsitek bernama E.W.H Clason dan D.Snell yang dimulai pembangunannya sejak tahun 1912 sampai dengan 1938. Proyek saluran air ini menggunakan aliran air dari bendungan di bawah Kampung Legok di atas pertemuan Sungai Merawu dan Serayu, kemudian lahan kering seperti Wanadadi, Susukan, Rakit, Bukateja (Tjahjana), Kejobong dan Kemangkon disulap menjadi lahan yang subur dan menghasilkan lebih besar hasil bumi. Proyek besar ini bernama Bandjar Tjahjana yang berarti aliran irigasi dari Bandjar (Banjarnegara) hingga Distrik Tjahjana (Bukateja) merupakan proyek irigasi besar dan dengan medan yang sulit.

BandjarTjahjana_resize

jalur saluran irigasi bandjar-tjahjana werken, foto: banjoemas.com

Air untuk mengairi Proyek Irigasi Bandjar Tjahjana diambil dari Sungai Serayu yang dibendung di dusun Legok Desa Rejasa (Mungkin di sekitar Surya Yudha Park Banjarnegara), sebuah desa sebelah utara Banjarnegara. Saluran airnya menembus beberapa perbukitan dan menembus di bawah sungai lain yaitu Sungai Merawu di Desa Jenggawur. Di sini saluran air harus dibuatkan syphon (gorong-gorong dari pipa).  Air Sungai Serayu dibendung tepat setelah aliran Sungai Serayu membelok jadi volume air besar dan deras. Kemudian air langsung menembus bukit dan dikeluarkan pada dinding bukit dari sisi yang lain, dimana di sana juga terdapat Sungai Merawu yang mengalir dari Pegunungan Dieng. Menurut Prof. Purnawan Basundono, orang Belanda pada waktu itu telah melakukan penelitian bahwa air dari Sungai Merawu tidak cocok untuk tanah pertanian sehingga Belanda dengan pekerja paksa pribumi bersusah payah membuat terowongan air di bawah Sungai Merawu.

Tidak itu saja, mereka juga membuat selokan hingga kedalaman 3-15 meter dan lebar hingga 10 meter, bahkan di daerah Kemangkon dibangun parit dengan cara membuat gundukan tanah. Sepanjang daerah Jenggawur hingga Rakit yang merupakan daerah perbukitan pun digali dan dikepras untuk mengalirkan air di atasnya.

Ini adalah proyek luar biasa besar dimana pekerjanya adalah orang Pribumi dan dikerjakan selama 5 tahun. Panjang proyek ini dari Banjarnegara hingga Bokol kurang lebih adalah 50 Km. Menghabiskan biaya f 1.700.000 (1,7 juta florijn atau bisa disebut Gulden (gold) Belanda, dulu kode mata uang f ini diambil dari kata florijn) dari yang di perkirakan hanya menghabiskan f 1.350.000 dikarenakan medan yang sangat sulit untuk membuat saluran irigasi di lembah dan transportasinya.

Kini yang masih tersisa hanyalah saluran air yang masih mengalir deras di pinggir lapangan dan di depan halaman perumahan warga, mengalir hingga melewati jalan raya perbatasan Bukateja (Purbalingga) ke Klampok (Banjarnegara).

Sekitar lima belas menit kami di sini dan dengan seksama para peserta Jelajah Banjoemas mendengarkan penjelasan dari ketua rombongan yaitu Mas Jatmiko Wicaksono. Perjalanan berikutnya menuju bekas jembatan tambangan yang kini sudah tidak tersisa jejaknya. Sebelumnya, sepeda motor yang berjumlah banyak tadi harus melewati jalan sempit di tengah permukiman warga sekitar.

Bersambung…

Referensi sebagian besar dari web: banjoemas.com

Advertisements

44 thoughts on “Jelajah Banjoemas: Melihat Sisa-Sisa Proyek Irigasi Bandjar Tjahjana Werken (BTW)

  1. Alid Abdul

    Aku pernah ikutan koko susur jalur kereta api di Magelang dan aku kapok ikutan wkwkwk. Ya aku juga suka sejarah tapi kalau cuma begituan aku kurang tertarik hehe.

    Jangan dikira pecinta historia dikit ya, banyak kok. Apalagi yang sudah berkomunitas, rame deh klo ada acara kumpul.

    Like

    Reply
    1. Hendi Setiyanto Post author

      emang melelahkan apalagi kalau yg ditemui cuma tinggal rel yang dikit banget plus di dalam dapur rumah warga lagi. Lebih senang dan antusias banget kalau datang ke rumah cagar budaya yang masih terawat dengan baik, tapi ya itu seninya susur sejarah : )

      Like

      Reply
  2. Gara

    Wah, bagus banget Mas. Banyak yang bisa dibahas dari perjalanan itu. Saya lihat juga infonya di Instagram tapi tidak bisa ikut karena jauh, haha. Tapi semoga suatu hari nanti bisa susur juga di sana, entah sendiri atau gabung dengan tur yang kebetulan ada di sana. Perencanaan proyek perkebunan oleh pemerintah kolonial memang matang sekali, ya. Segala-gala infrastruktur disediakan, padahal membangunnya tidak mudah. Yah meskipun membangunnya dengan kerja rodi, dan itu yang sangat disayangkan…

    Like

    Reply
      1. Hendi Setiyanto Post author

        hooh, era kita ya bukan seharusnya menjadi era pendendam terhadap penjajah, namun menjadi bahan pelajaran ke depan bagi bangsa Indonesia

        Like

    1. Hendi Setiyanto Post author

      iya, kalau di kota besar mungkin banyak ya? tapi di kotaku ya termasuk jarang dan senang bisa gabung dengan teman2 baru yang mempunyai minat yang sama

      Like

      Reply
      1. aryantowijaya

        Di Jakarta waktu itu aku sempat lihat. Tapi, kadang kalau di kota besar itu waktunya gak tepat. Di saat mereka ngadain tour, akunya masuk kerja, hehe. Alhasil, jelajah sendirian 😀

        Like

    1. Hendi Setiyanto Post author

      ini kecamatan kok, di Banjarnegara ada dua daerah yang dulunya berdiri sendiri2 namun setelah zaman kemerdekaan digabung menjadi Kecamatan Purwareja-Klampok, bukan Purworejo di timur Kebumen

      Like

      Reply
  3. bersapedahan

    semakin banyak komunitas pecinta sejarah seperti ini semakin baik, tempat2 bersejarah jadi diperhatikan … semoga tidak banyak tempat bersejarah yang “hilang”

    Like

    Reply
  4. Halim Santoso

    Yayyy ada namaku disebut, jadi terharuh hahaha. Kukira kemarin rombongan Jelajah Banyoemas hanya fokus ke bekas rel spoor dan pabrik gula saja, ternyata ada saluran irigasi yang punya sejarah menarik. Runut banget ceritamu tentang Bandar Tjahjana ini, kalo ejaan sekarang dibaca Cahyana, bukan? Fix, suk yen ke Banjarnegara atau Purbalingga plis kancani mrono. 😀

    Like

    Reply
      1. Avant Garde

        Lah, kirain yg diceritain di awal itu ketemuan sm belio :)) foto irigasinya keren bgt yah, itu ada korban kah waktu pembangunannya? lama bgt ya smp 5 taun gitu

        Like

      2. Hendi Setiyanto Post author

        maksudnya itu acara dikasih tau sama si Halim, dia ikut yang di Banyumas, sementara aku yang di Banjarnegara.
        Pastinya ada korban tapi kurang tau berapa.
        Lumayan panjang juga sih ya…

        Liked by 1 person

  5. Heri

    Wah saya kok tertarik dengan komunitas sampean mas, boleh saya ikut lain waktu kalau ada kegiatan lagi. Saya selalu kagum dengan bangunan peninggalan belanda, di desa saya tinggal ada beberapa bangunan jembatan kecil peninggalan belanda yang masih kokoh sampai sekarang. Saya sering merenung apa bahan dari jembatan tersebut hingga sampai sekarang sudah 100 tahun lebih masih berdiri kokoh, sedangkan bangunan jaman sekarang belum sampai umur puluhan tahun sudah pada rusak.Mungkin itu alasanya mengapa saya sangat menyukai bangunan bangunan peninggalan belanda, selain karena kukuatanya cerita di balik bangunanya juga selalu menarik.

    Like

    Reply
    1. Hendi Setiyanto Post author

      wah salam kenal mas Heri, sebenere ini komunitas se Banyumas Raya, coba cek web banjoemas.com untuk event2 yang akan datang.
      iya aku juga begitu, karena ketahanan bangunannya jadi bikin penasaran cerita di balik pembuatannya

      Like

      Reply
  6. Pingback: Jelajah Banjoemas: Yang Tersisa Dari Suikerfabriek Klampok | NDAYENG

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s