Menjadi Jogja, Menjadi Indonesia, Melalui Kacamata Orang Banjarnegara

Dinginnya udara malam di Dataran Tinggi Dieng pada bulan Agustus, seakan tidak menyurutkan langkah orang-orang dari berbagai kota untuk rela menggigil menahan dingin demi melihat sang idola beraksi di panggung Jazz Dieng Culture Festival Tahun 2017. Tersebutlah sang vokalis dari grup band legendaris Kla Project yang terkenal dengan lagunya “Jogjakarta”, Katon Bagaskara. Musisi legendaris tadi menjadi magnet utama malam itu.

“Pulang ke kotamu ada setangkup haru dalam rindu”

“Masih seperti dulu, tiap sudut menyapaku bersahabat, penuh selaksa makna”

“Terhanyut aku akan nostalgi saat kita sering luangkan waktu nikmati bersama suasana Jogja”

Kelap-kelip cahaya dari gawai masing-masing penonton diiringi nyanyian secara serentak dari mulut-mulut mereka yang terus mengeluarkan uap karena hawa dingin yang terus menyelimuti. Suasana semakin syahdu malam itu, tak terasa mata pun berkaca-kaca mengingat kota penuh kenangan, Jogjakarta.

20170804_220313

Gelaran DCF malam itu

Kunjungan Kali Pertama Ke Jogjakarta

Jogjakarta, Kota Pelajar, Kota Budaya, Kota Gudeg seakan menjadi bagian hidup saya sedari zaman SMP sepuluh tahun yang lalu lebih. Jodoh saya dengan Kota Gudeg ini bermula saat kelas dua SMP dan saat itu sekolah tempat saya menimba ilmu hendak mengadakan tamasya, terpilihlah Jogjakarta. Berangkat dari Banjarnegara sekitar pukul satu pagi, rombongan bis yang berjumlah lebih dari lima ini menyusuri jalanan demi jalanan hingga sang fajar menyambut kami di pinggiran Pantai Parangtritis.

soloposdotcomparangtritis

Menikmati Ombak di Pantai Parangtritis, Source

Sebagai orang yang sejak kecil tinggal di daerah pegunungan, menyaksikan secara langsung bagaimana ombak silih berganti berdatangan itu sesuatu yang luar biasa.

Saya masih ingat betul pesan Ibu saat itu, “Lhe, mengko nek nang Parangtritis aja nganggo kaos warna ijo, mbokan ilang kegawa Nyi Roro Kidul, Penguasa Pantai Selatan”. (Nanti kalau ke Parangtritis jangan memakai kaos warna hijau, takutnya hilang dibawa Nyi Roro Kidul, Penguasa Pantai Selatan).

Belum lagi berbagai macam empon-empon (Bumbu dapur yang berasal dari berbagai jenis tumbuhan) yang disiapkan dari hasil berburu di lapak kembang, pasar tradisional yang menjual berbagai macam kebutuhan sawanan (istilah ini merujuk pada keadaan sakit secara tiba-tiba karena dipercaya disebabkan oleh hal yang tak kasat mata) hingga untuk nyekar (menabur bunga atau berziarah ke makam) tak luput disematkan dalam tas ransel saat itu. Ibu begitu khawatir saat anak lelakinya pertama kali ke pantai apalagi ke Pantai Parangtritis. Alhamdulillah semuanya aman, apa yang Ibu khawatirkan tidak terjadi.

Selain ke Pantai Parangtritis, kami juga mengunjungi jalan terkenal di Jogjakarta yaitu Jalan Malioboro, MONJALI (Monumen Jogja Kembali), dan Museum Dirgantara. Singkat memang karena kami melewatkan kunjungan ke Keraton Jogjakarta, namun itu kunjungan kali pertama yang meninggalkan kesan yang mendalam sebagai bocah nggunung.

Kunjungan Kedua Ke Jogjakarta

Lagi-lagi saat duduk di bangku SMK, Tuhan kembali mempertemukan saya dengan Kota Gudeg ini. Mungkin ini jodoh yang masih akan terus berlanjut. Kebetulan saat itu sekolah akan mengadakan kunjungan industri atau istilah sebenarnya adalah pelesiran, tamasya dan dari hasil voting terpilihlah Jogjakarta. Karena jarak sekolah dari rumah begitu jauh, saya terpaksa menginap di ruang kelas sekolah karena lagi-lagi akan berangkat pagi-pagi sekali.

Suasana gedung tua bersejarah sekitar titik nol kilometer

Suasana gedung tua bersejarah saat malam hari di sekitar titik nol kilometer

Karena saat itu agenda kegiatan padat, kami tidak bisa berkeliling ke Jogjakarta lebih lama namun saya masih ingat betul saat itu, saya, Puji dan Didi menaiki becak saat malam hari untuk berkeliling menikmati udara malam dan atmosfer jogja yang begitu khas. Gemerlap lampu jalanan kota dan gedung-gedung tua yang terlihat anggun saat malam hari, sukses membuat kami terkesima saat itu. Saat anak-anak yang lain sibuk berbelanja oleh-oleh, kami malah asyik dengan aktivitas malam itu, ya hanya berkeliling menikmati kota Jogja saat malam hari.

Kunjungan Ketiga Ke Jogjakarta

Selepas melewati masa-masa sekolah kini saya sudah memasuki dunia kerja. Beberapa tahun yang lalu seakan sudah menjadi tren ketika orang-orang memilih bepergian seorang diri atau istilah kerennya seorang Backpacker. Saat itu saya pun seakan terkena virus semacam itu. Menggendong ransel yang berisi pakaian dan keperluan lain selama perjalanan hingga berkenalan dengan orang-orang baru yang ditemui saat perjalanan. Rasa deg-degan dan antusias bercampur menjadi satu.

Saat di Jogjakarta saya dipertemukan dengan orang-orang baru dari latar belakang yang berbeda untuk kemudian menjadi akrab dan melebur dengan kebersahajaan Jogjakarta.

Tersebutlah seorang Backpacker asal Kota Gaplek, Wonogiri yang menjadi teman baru beberapa hari ke depan. Kami berkenalan, berbagi kamar hingga menyusuri sudut-sudut Kota Jogjakarta secara bersama-sama. Saya belajar, jika menjadi seorang Backpacker pemula, kita harus membuka diri, menerima hal-hal baru, menerima budaya baru dan mencoba memahami satu sama lainnya dan Jogjakarta telah mengajarkannya.

Perempuan-perempuan berusia senja dengan tampilan yang masih mempertahankan tradisi ke-Jawa-annya  terlihat semangat menggendong rinjing (sebuah wadah yang terbuat dari anyaman bambu dan biasanya digendong) menuju pasar-pasar.

Baru di Jogjakarta, saya bisa menyaksikan secara langsung bagaimana orang-orang yang telah berusia lanjut masih terus bersemangat mencari nafkah dengan cara berdagang. Satu hal lagi ketika pergi ke pinggiran Kota Gudeg ini, saya masih bisa menyaksikan orang-orang mengendarai sepeda onthel yang mungkin usianya sudah melebihi usia pemiliknya, berombongan melintasi jalanan-jalanan dan itu sangat menarik bagi saya.

Bagi saya menikmati Jogjakarta sesekali harus mencoba angkutan tradisionalnya yaitu kereta kuda yang masih banyak terlihat di sepanjang Jalan Malioboro. Para kusir memakai pakaian Lurik dan Blangkon yang sangat Njawani dan jarang ditemui di tempat lain. Mengakrabkan diri dengan mereka, berbagi cerita dengan mereka dan tak terasa kami menjadi semakin akrab.

idglobalbillitydotorg

Jalan Malioboro Tempo Dulu, Source

Untuk melihat lebih jauh lagi tentang Jogja, cobalah berkunjung ke Keratonnya. Rasakan nuansa kerajaan zaman dahulu, sosok Sang Sultan, Prajuritnya, Abdi Dalemnya, bangunannya, perabotannya, peninggalan-peninggalan bersejarahnya. Kita seakan diajak menerobos lorong waktu kembali lagi atau mengalami nuansa kerajaan di Tanah Jawa.

 

Kunjungan kali ketiga ini mengajarkan saya akan kekhasan Kota Gudeg dalam berbagai hal, salah satunya adalah budaya saling sapa satu sama lainnya, terlebih pada orang yang lebih tua. Saya pun bisa bebas menggunakan Bahasa Jawa kepada para pedagang atau orang yang ditemui dan dengan inilah saya merasakan keakraban sama seperti saudara sendiri.

IMG_20140921_061139-01

Sarapan pagi dengan Nasi Gudeg lengkap

Satu hal yang membuat Jogja istimewa adalah saat perut lapar, saya tidak perlu bingung mencari tempat makan. Ada beragam warung-warung yang merakyat dan bebas anda pilih, tentunya dengan harga yang terjangkau. Saya ingat betul saat pagi tiba, di pelataran pertokoan yang masih belum buka, saya bisa menikmati sepincuk Nasi Gudeg lengkap yang disajikan di atas daun pisang. Duduk di bangku-bangku kecil dan langsung menghadap si Ibu penjual saat sedang melayani pembelinya. Inilah salah satu bonus yang bisa didapatkan saat di Jogjakarta.

Kunjungan Keempat Kalinya di Jogjakarta

Hubungan intim saya dengan Jogjakarta seakan semakin mesra saat saya lagi dan lagi kembali ke kota ini. Perjumpaan saya dengan teman-teman baru dari latar belakang yang sangat berbeda seakan membuka mata dan pikiran saya untuk lebih terbuka terhadap hal-hal baru. Berjumpa dengan seorang aktivis perempuan yang berpikiran moderat namun tetap menjunjung nilai-nilai keagamaan tanpa mudah melabeli orang lain dengan predikat-predikat tertentu. Kami sering berdiskusi mengutarakan pendapat satu sama lainnya dan berbagi cerita tanpa merasa saling menghakimi.

Saya pun berjumpa dan berkenalan dengan seorang mahasiswa asal Manado yang sedang menempuh pendidikan di salah satu Universitas Swasta di Jogjakarta. Perjumpaan itu berlanjut ke ranah saling mengenal budaya satu sama lainnya, lagi-lagi saling berdiskusi membuat kami cepat akrab.

terkadang sampai lupa menutupi jalan raya saking asiknya

Inilah uniknya Jogja, ketika musisi jalanan sedang beraksi,orang-orang mengerumuni

Saat berada di Jogjakarta, saya bisa tiba-tiba saja bertemu dengan orang baru, berbincang dan dilanjutkan dengan diskusi tanpa mempedulikan tempat. Tanpa terasa kota ini terus berkembang mengikuti perkembangan zaman, pembangunan dimana-mana ada bahkan kondisi trotoar jalan Malioboro yang dulunya semrawut kini semakin tertata.

Ketika Jogjakarta Telah Menginspirasi Jalan Hidup Saya

Tanpa disadari atau tidak, perjodohan saya dengan Jogjakarta telah mengubah pandangan saya akan Indonesia. Dari sinilah saya mulai belajar untuk berani memulai sesuatu dengan hal-hal yang baru. Saya memang bukan bagian dari warga Jogjakarta tapi hubungan saya dengan kota ini lebih dari hubungan sekedar wisatawan dengan destinasi wisata yang dikunjungi. Dari kunjungan-kunjungan ke kota ini telah banyak membuat saya lebih memberanikan diri menjelajahi kota-kota lain di Indonesia.

Berawal dari Jogjakarta-lah saya kemudian belajar menulis, merangkai kata dan berbagi cerita melalui media blog. Kecanduan menulis itu semakin bertambah saat mengunjungi tempat-tempat baru, menceritakannya pada orang lain dan berbagi pengalaman. Perlahan tapi pasti saya mencoba menantang diri sendiri untuk tidak takut dengan perubahan, hal-hal baru, menghargai keberagaman yang sejatinya malah menambah warna di dalam kehidupan manusia.

Menjadi Jogja sejatinya mengingatkan saya akan akar KeJawaan yang selama ini kabur atau malah asing dari sendi hidup dan nilai-nilai Adiluhung dalam keseharian. Saya sadar jika saya masih punya darah sebagai orang Jawa yang sudah seharusnya mencintai dan mengenalinya.

Tak terasa dari Jogja lah, saya kini belajar mencintai kota sendiri yaitu Banjarnegara yang dulunya terasa asing. Kini saya bangga dengan kota kelahiran walaupun masih banyak hal-hal yang harus terus diperbaiki.

IMG_9842

Sebuah titik balik saat kali pertama menginjakan kaki di Pulau Belitong, Pantai Tanjung Pendam saat senja.

Hingga puncaknya saat saya untuk kali pertama bisa menginjakan kaki di pulau seberang, Belitong. Dulu saya hanya tau tentang Pulau Jawa, Seandainya pun tau tentang pulau-pulau lain di luar Pulau Jawa, hanya sekilas dari televisi, buku, peta dan media lainnya. Namun saat menginjakan kaki secara langsung, saya baru percaya bahwa Indonesia itu luas…luas banget, bahkan jika diberi kesempatan untuk mengunjunginya satu-satu, saya mungkin bisa butuh waktu bertahun-tahun.

Menjadi Jogja, Menjadi Indonesia

Bagaimanapun juga, pengalaman yang selama ini saya dapatkan dari hobi menulis tak bisa lepas dari kota pertama yang saya kunjungi selain Banjarnegara yaitu Jogjakarta. Kini saya percaya bahwa Menjadi Jogja, Menjadi Indonesia, atau bisa dikatakan, saat menjadi orang yang menyatu dan mempunyai hubungan emosional dengan Jogjakarta secara tidak langsung membentuk kita untuk menjadi manusia yang lebih Indonesia, mencintai keberagaman, saling menghargai, toleransi dan mengedepankan berdiskusi satu sama lain tanpa terlebih dahulu menghakimi maupun melabeli orang lain dengan kalimat-kalimat tertentu.

“Sudah semestinya keistimewaan Jogja adalah untuk Indonesia, Bahwa Menjadi Jogja adalah Menjadi IndonesiaSri Sultan Hamengku Buwono X.

Sumber foto:

  • Bendera Merah Putih di MONJALI, Sumber Foto: antarafoto, tirto.id
  • Kartu Pos Jalan Malioboro Tempo Dulu, Sumber Foto: id.globalbillity.org
  • Pantai Parangtritis, Sumber Foto: solopos.com

 

Advertisements

36 thoughts on “Menjadi Jogja, Menjadi Indonesia, Melalui Kacamata Orang Banjarnegara

  1. Desfortin

    Klop banget judul dan isinya. Keren.

    Waktu sy masih kecil sy sring diceritain oleh slh seorang yg kini mnjd sanak keluarga kmi, ia asal Jogja. Intinya, Jogja itu unik, kultural dan identik dg pndidikan. Pokoknya rame. Syng, sy sendiri sampe skrg blm prnh ke Jogja, walaupun prnh k pulau Jawa. Smoga kpn2 bs ksna, dan merasakan nuansa yg Anda ceritakan di atas.

    Oya, crta ttg gak boleh pke kostum warna hijau itu saat ke Pantai Parangtritis sdh sy dengar sjak sy SMP. Ternyata sampe skrg ttp diyakini ya.

    Indonesia itu, btul, luas skli. Dari Sabang sampe Merauke. Kita dijuluki sbgai nusantara, negeri yg berpulau-pulau. Karena itu, kita mesti bngga jd Indonesia, kota Jogja adlh slh satu representasi dari sgla krgaman Indonesia itu.
    So, jngan hanya oleh doktrin segelintir klompok/golongan kita jd org yg seolah lupa ttg Indonesia. Indonesia yg beragam namun ttp satu itu.
    Sy pun sbgai org Borneo bngga jadi Indonesia, bkn hanya slogan tp dari hati terdalam.

    Like

    Reply
    1. Hendi Setiyanto Post author

      itu ke pulau jawanya daerah mana ya?
      dulu sih banyak orang masih percaya kalau ke parangtritis ga boleh pakai kaos warna ijo, entah sekarang masih berlaku atau tidak.
      setuju sekali, kenal dengan orang dengan latar belakang yang berbeda membuat saya mulai berpikiran untuk lebih terbuka menerima perbedaan2 yang sejatinya malah menambah keberagaman…

      Liked by 1 person

      Reply
      1. Hendi Setiyanto Post author

        saya belum pernah ke Borneo, duh kapan ya….dulu tetanggaku banyak yang bertransmigrasi dan menetap di Pontianak dan sekarang sudah jarang pulang atau mungkin sudah lupa kampung halaman : )

        Liked by 1 person

      2. Desfortin

        Di kabupatenku ada program transmigrasi saatku lahir, dan sampe skrg desa2 transmigrasi di kecamatan tempatku lahir tsb masih ada, dan mayoritas Jawa…

        Like

  2. Halim Santoso

    Sudah empat kali ke Yogyakarta dan belum ke Solo? Apahhh? Jadi, ditunggu kedatangannya untuk berikutnya, pastinya kudu main ke Solo rodo suwe ben puas sing explore. Hehehe.

    Good luck buat lombanya. 😀

    Liked by 1 person

    Reply
  3. Abdul Jalil

    Jadi pingin jalan-jalan ke jogja lagi..Dulu ke sana pas study tour SMP,itupun hanya berkunjung ke museum dirgantara,dan belanja di malioboro,lalu saya sempat kesana lagi ketika cari2 info kuliah ke beberapa universitas negeri dan swastanya (walau sayanya malah gak kuliah).hhee.Kotanya nyaman ya,masih banyak sudut2 hijaunya.Ingin rasanya menjelajahi setiap pelosok nya.

    Liked by 1 person

    Reply
  4. Johanes Anggoro

    Waaah sama mas Hen, perkenalan dg jogja pertama kali pas SMP. Parangtritis, Museum Dirgantara, dan pastinya Malioboro😀

    Aku ga punya kenangan khusus dg kota ini, tapi entah mengapa selalu pengen kembali menjejak trotoarnya, menghirup udaranya, serta kehujanan di bawah langitnya 😀

    Like

    Reply
  5. tukang Jalan Jajan

    Saya menikmati tulisan ini dan merasakan bagaimana kakak menikmati setiap perjalannya. saya suka Jogja di Malam Hari. lebih hidup suasananya, kalau pagi di pasar tradisionalnya sembari menikmati sarapan. kalau sore? di pantai donnggggg 🙂

    Like

    Reply
  6. bersapedahan

    Jogja memang tempat asyikk .. tidak akan pernah bosan untuk bolak balik main ke Jogja.
    hmmm ..saya berapa kali ya main ke Jogja … Setuju dengan mas Hendi .. Jogja selalu memberikan inspirasi

    Like

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s