Mengejar Sang Presiden

Jumat, 16 Juni 2017 akan menjadi hari yang bersejarah bagi hidup saya. Bagaimana tidak, untuk kedua kalinya Presiden Republik Indonesia, Jokowi kembali berkunjung ke Kota Dawet Ayu, Banjarnegara. Kunjungan yang pertama bertepatan dengan tragedi longsor yang terjadi di kawasan Banjarnegara bagian atas yang terkenal akan rawan longsor. Saat itu rasa-rasanya tidak mungkin bagi saya yang jarak rumah dengan kota kabupaten sekitar tiga puluh enam kilometer ditambah lagi harus berkendara ke Banjarnegara bagian atas dan dalam kondisi bencana, menyempatkan diri untuk bertemu dengan orang nomor satu di Indonesia.

Hampir tiap ada kunjungan ke pelosok Nusantara, saya selalu update untuk menontonnya melaui channel youtube. Sosok yang sederhana, merakyat, dan pekerja keras, telah membuat rasa kagum saya bertambah kepada sang presiden ke tujuh ini.

Pucuk dicinta, ulam pun tiba. Untuk kedua kalinya, sang presiden kembali lagi mengunjungi Banjarnegara, kali ini dalam rangka Safari Ramadan, Pembagian PKH (Program Keluarga Harapan), KIP (Kartu Indonesia Pintar), dan juga PMT (Pembagian Makanan Tambahan). Rasa-rasanya kesempatan kali ini tidak boleh terlewatkan.

Dari jadwal kunjungan yang saya baca, sekitar pukul setengah dua belas siang, rombongan mobil Presiden ini akan menuju Kota Banjarnegara. Bisa dibayangkan bagaimana macetnya jalanan dan tentu saja penutupan jalur akan sangat mungkin terjadi.

Berbekal nekad, siang itu saya memutuskan untuk tetap pergi ke kota dan berharap saat memasuki jalan kota, rombongan mobil Presiden belum sampai. Benar saja, walaupun suasana jalan saat itu sudah sangat ramai oleh polisi lalu lintas, TNI, warga serta siswa-siswi yang berdiri di pinggir jalan, saya pede saja berkendara hingga menuju Masjid An-Nur, barat Alun-Alun Banjarnegara.

Sekitar pukul dua belas kurang, saya sudah sampai di jalan arah menuju Masjid An-Nur dengan selamat. Namun apa yang saya duga ternyata benar, jalan menuju masjid dan alun-alun telah ditutup dan disterilkan. Saya pun putar otak dan memilih jalan arah RS.Hj.Anna Lasmanah Soemitro Kolopaking. Pada perempatan lampu merah sebelum rumah sakit, saya memilih memarkir motor di depan sebuah distro yang saat itu sepi. Walaupun harus rela berjalan kaki lagi menuju masjid, siang itu saya berusaha tetap tenang dan berusaha terus semangat.

Jalan Kauman yang berada di belakang Masjid An-Nur siang itu sepi, hanya ada petugas keamanan yang sedang buru-buru menuju masjid untuk mengikuti sholat jumat dengan Presiden RI. Saat saya sudah sampai di pelataran masjid, ternyata bapak Jokowi sudah berada di pelataran. Saya pun buru-buru masuk dengan terlebih dahulu melewati pintu metal detector, ransel digeledah, dan tubuh diraba oleh PASPAMPRES.

Tidak ada halangan yang berarti dan saya bisa melenggang masuk untuk kemudian mengambil air wudhu dan berdesakan dengan pengunjung lainnya. Walaupun kebagian shaf pada serambi kedua masjid, saya merasa beruntung karena bisa melihat langsung sosok bapak Jokowi dari dekat. Namun harus sabar untuk bisa bersalaman secara langsung.

masjid 2

Jokowi memasuki masjid

Acara berikutnya pun dimulai dengan panggilan adzan, kotbah sholat jumat dan dilanjutkan dengan sholat. Seluruh jamaah terlihat sangat tertib, khusyuk. Satu yang membuat saya salut adalah pengamanan yang terbilang sangat lengang. Saya bahkan berpikir jika ini seperti kunjungan pejabat-pejabat pada umumnya dan bukan orang nomor satu di Indonesia yang berkunjung.

Sang khatib membawakan kotbah tentang Kemajemukan Indonesia dan ajakan untuk saling bergandengan tangan bersatu padu tanpa membedakan suku, agama dan juga ras.

Sholat jumat pun dimulai, suasana khusyuk dan juga hening. Semua orang khusyuk mendengarkan bacaan surat dari Al Quran sama seperti sholat jumat pada umumnya.

Setelah sholat usai, Presiden Joko Widodo pun memberikan pidato singkat dan kemudian pergi meninggalkan Masjid An Nur. Nah inilah momen dimana saya bisa bersalaman langsung dengan Sang Presiden. Rasanya seperti mimpi tapi ini nyata. Semua orang berbaris rapi dan kebagian satu-satu untuk bersalaman langsung. Saya memilih tidak berfoto dan ingin merasakan langsung jabatan tangan.

Sementara itu di luar masjid, orang-orang sudah menunggu dengan tertib dan juga ingin ikut berjabat tangan langsung.

masjid

Jokowi meninggalkan masjid

serambi masjid

di luar masjid pun acara salaman tetap dilakukan

Agenda selanjutnya adalah menuju Alun-Alun Banjarnegara yang berada persis di timur Masjid An Nur. Di sana sudah tersedia tenda besar yang dijadikan untuk acara pembagian PKH, KIP dan PMT.

alun-alun banjarnegara

PASPAMPRES menghalau warga memasuki panggung utama

alun-alun

penonton hanya bisa menyaksikan dari kejauhan

Acaranya sama persis seperti yang saya tonton di youtube. Menyanyikan lagu kebangsaan Indonesia Raya, pidato singkat dari Menkes Nila Farid Moelok dan dilanjutkan pidato singkat dari Bapak Presiden Joko Widodo.

Acara yang ditunggu-tunggu pun tiba. Tak lain dan tak bukan adalah sesi kuis yang berhadiah sepeda. Masih ingat apa saja yang sering dijadikan bahan pertanyaan oleh Sang Presiden? Ya nama-nama ikan kali ini tidak absen dan ditanyakan kembali. Selain itu juga pertanyaan tentang Pancasila, aksi silat serta tembang macapat.

tenda

hanya yang punya ID cards saja yang bisa masuk

Pertanyaan pertama dijawab oleh seorang murid SD. Ia diminta menyebutkan seluruh sila dari Pancasila dan dijawab dengan benar. “sana ambil sepedanya!” suruh Sang Presiden.

Pertanyaan kedua dijawab oleh seorang ibu yang awalnya diminta memeragakan silat seperti yang sebelumnya dilakukan saat kunjungan ke Banyumas. Namun si ibu tidak bisa dan akhirnya sang presiden menggantinya dengan pertanyaan tentang jenis-jenis ikan dan kali ini aman tanpa adanya ikan K**** wkwkwkw.

sepeda

salah satu yang beruntun dapat sepeda dari Jokowi

Pertanyaan ketiga dijawab oleh ibu muda yang disuruh menyanyikan tembang macapat dan ia memilih lagu Bapak Pocung dengan lancar walau suaranya fales.

Acara pun akhirnya selesai dan rombongan pergi menuju Pendopo Dipayudha Adigraha. Ada insiden kecil saat bubar, ketika seorang ibu jatuh pingsan namun segera tim medis cepat tanggap menolongnya. Sedikit kericuhan juga terjadi saat Sang Presiden membagikan buku tulis kepada warga. Namun segera bisa diatasi segera.

Dengan berakhirnya acara, saya pun memutuskan pulang dengan hati puas walau tidak bisa berfoto namun bisa berjabat tangan langsung dengan Sang Presiden.

Sampai jumpa lagi Sang Presiden, Bapak Joko Widodo.

Advertisements

24 thoughts on “Mengejar Sang Presiden

  1. Johanes Anggoro

    Bakal ada yg komen nyinyir ga ya hahaha
    Entahkah, keliatannya byk yy ga suka dg presiden kita ini. Tapi buktinya malah sebaliknya, begitu dirindukan sekedar untuk bertemu ataupun bersalaman.

    Semoga beliau selalu diberi kesehatan. Amin.

    Liked by 1 person

    Reply
    1. Hendi Setiyanto Post author

      nyinyir mah biasa, kritik juga hal biasa, benci juga boleh, suka juga boleh kan orang beda-beda pandangan. Kalau aku sih sebagai rakyat biasa senang aja bisa salaman langsung dengan presiden, siapapun itu presidennya hahaha

      Like

      Reply
  2. Desfortin

    Wow, brslman dg bpk Jowoki. So impressive, pastinya, ya kan.

    Knp baru diupdate skrg mas crtanya?

    Seru bs brtmu langsung dg bpk presiden. Sy sllu mrasa lucu klau udah udah bgian kuis, aplgi sjak insiden ikan tongkol itu, wkwk….

    Mudah2an pak Jokowi bisa k Kinipan atau setidaknya ke kab. Lamandau,

    Like

    Reply
    1. Hendi Setiyanto Post author

      senang dan beliau memang sangat merakyat, mau satu-satu nyalamin orang, bahkan ada yang selfie bareng dengan syarat harus bilang dulu.
      semoga ya bisa mampir ke Borneo dan ke kab.Lamandau…

      Liked by 1 person

      Reply
  3. Gara

    Wah selamat Mas, bisa bertemu RI 1. Saya belum pernah bertemu, apalagi bersalaman dengan beliau. Semoga suatu hari nanti bisa, wkwk. Saya jarang mengikuti tapi kuis-kuis berhadiah itu kini sudah jadi ciri khas beliau ya, hehe. Menurut saya beliau presiden yang paling banyak melakukan hal-hal yang berarti bagi rakyatnya, bahkan meski hal tersebut sangat kecil sekalipun. Bersahaja, kalau kata orang. Semoga hal ini terus bertahan ya, agar lebih banyak lagi kemajuan dan hal positif bagi Indonesia.

    Like

    Reply
  4. aryantowijaya

    Wah mas, aku ya kepengen salaman sama beliau. Walau sama-sama tinggal di Jakarta, tapi melihat pak presiden cuma bisa dari layar kaca sajaa hhehehehehe

    Like

    Reply
  5. Alid Abdul

    Jadi nanti klo aku ke Banjarnegara Paspamresnya aku maksimalin dua kali lipat, nanti klo kamu mau salaman sama aku kudu mandi junub dulu bhuahaha

    Like

    Reply
  6. rynari

    Beribadah satu ruangan berlanjut salaman dg RI1 menjadi kenangan indah ya Hen. Lanjut berkarya Hen ajan tiba saatnya jumpa lagi dg RI1.

    Like

    Reply
  7. bersapedahan

    saya pernah 3 momen berdekatan dengan beliau .. momen2 lengang tidak rame, tapi saya tidak bersalaman .. hehe .. #SokGengsi … tapi saya foto dan film-in.
    Pertama kali dipagi hari di Kebun Raya Bogor ketika saya bersapedahan kesana, kedua di Lobby rumah sakit di Jakarta (nah ini lengang banget, beliau jalan sendiri kayaknya habis jenguk seseorang, penjaga hanya berada di kejauhan, ga rame karena rumah sakit wah di Jkt) dan ketiga kali ketika sholat Jumat di Bali, berhubung Bali jadi yang jumatan juga hanya sedikit.

    Like

    Reply
    1. Hendi Setiyanto Post author

      oh yang di bogor pas lari2 gitu ya, kayak foto di bawah bukan? iya juga sih, kalau momentnya pas lengang malah jadi aneh kalau tiba2 nyelonong minta salaman, tapi kalau pas ramai gini kan jadi ga jaim apalagi sungkan

      Like

      Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s