Jelajah Bandung: Suatu Sore di Pasar Baru

Kota Kembang sore ini diguyur hujan. Hampir tiap jalanan yang dilewati basah dan terlihat beberapa genangan air.

Niat hati mampir ke Alun-Alun Bandung dan mengunjungi Masjid Agung Bandung pun pupus sudah. Rencana berubah. Kami memilih untuk mampir ke Pasar Baru. Tentu saja tujuannya adalah memuaskan hasrat belanja bagi para shopaholic. Saya? Ah tidak!! Selain dompet yang tidak tebal, rasa pusing masih terasa hingga kini.

Laju bis kini semakin mendekati Depo Kereta Api Bandung yang dari kejauhan sudah terdengar sibuk dengan suara klakson yang saling bersahutan.

Di samping depo kereta api tadi terdapat sebuah jalan yang lumayan lebar dan hanya dibatasi oleh pagar kawat. Lebar memang, tapi kondisinya kontras. Lubang jalan yang menganga dimana-mana serta tergenang air mirip kolam ikan dadakan di siang hari bolong.

pasar baru 1

kondisi jalanan di seberang depo kereta api

Suasananya pun begitu kontras dengan bangunan-bangunan di sekitarnya. Ada sebuah rumah sakit swasta dengan gedung bertingkat yang terlihat gagah, namun di belakangnya terdapat pemukiman kumuh yang mengelompok.

Saat semua orang memilih untuk pergi meninggalkan tempat ini dan menuju Pasar Baru, saya, Sigit dan kedua teman lainnya malah memilih duduk-duduk di pinggiran depo kereta api sambil menikmati suasana sore itu.

Sebuah warung kopi terlihat ramai oleh para pengunjung yang hendak menikmati suguhan hangat secangkir kopi beserta aneka gorengan yang tersedia. Penunggu warung kopi ini adalah seorang ibu-ibu bertubuh subur. Celotehan bahasa Sunda terdengar dari bangku-bangku warung kopi ini. Jelas saja, saat ini saya sedang berada di Tanah Pasundan.

Niat awal hanya ingin keluar sebentar dari bis untuk mencari udara segar untuk kemudian dilanjutkan tidur saja di dalam. Namun suasana sore itu seakan menggelitik rasa penasaran saya hingga memutuskan untuk berkeliling sebentar.

Saya dan Sigit mencari toilet umum hingga masuk ke rumah-rumah kumuh milik warga. Jangan bayangkan bagaimana kondisinya. Rumah-rumahnya saja seperti itu apalagi kondisi toiletnya.

Anak-anak terlihat tengah menikmati suasana sore dengan bermain-main. Saya memasuki gang-gang sempit nan becek, melewati halaman rumah warga yang pada beberapa bagian dijadikan sebagai lapak tempat mereka berjualan.

Ada sebuah mushola yang berada di tengah-tengah pemukiman warga. Sayang di tempat ini tidak terdapat toilet hanya ada tempat untuk berwudhu. Akhirnya saya dan Sigit pun memilih memutar kembali ke tempat semula dan rela tetap memakai toilet umum yang kondisinya sangat memprihatinkan.

Dengan sebuah ember kecil yang tiap kali ada orang ingin memakainya maka si pemilik akan mengisinya kembali, saya masuk ke dalam dengan nafas yang terus ditahan untuk melawan rasa bau tidak sedap. Di atas toilet ini digunakan oleh pemiliknya sebagai tempat tidur. Saya yang berada di bawahnya bisa mendengarkan dengan jelas suara langkah-langkah kaki yang menapak langit-langit di atas. Suara perbincangan pun terdengar.

β€œBerapa bu? Tanya saya kepada si ibu penunggu toilet umum ini.

β€œdua ribu, mas” jawab si ibu tadi.

Saya pun melangkahkan kaki berikutnya menuju warung kopi tadi. Sepertinya saya terkena masuk angin. Di warung kopi ini pun, si ibu menjual obat-obat warung yang umum dijual. Alangkah terkejutnya saya ketika membeli satu sachet sirup masuk angin yang dihargai lima ribu rupiah. Padahal dengan harga yang sama, di kota sendiri bisa dapat dua sachet. Ah…namanya juga di kota, apa sih yang nggak mahal, bahkan kencing pun harus bayar. Gumam saya dalam hati.

Kali ini saya memilih duduk sambil melihat lalu lalang orang-orang di depan. Sangat kontras sekali rasanya. Mas-mas yang berpakaian necis melintasi tempat kumuh nan becek dan sesekali melipat celananya yang tidak ingin kotor karena genangan air.

Ada juga perempuan yang terlihat cantik menaiki sebuah becak dan melintas melewati jalanan yang berlubang. Pedagang asongan, tukang becak, pelintas sepeda motor semuanya berlalu lalang satu sama lainnya.

pasar baru 6

tergenang air

Makin sore, para pedagang semakin ramai. Mulai dari pedagang tas, kaos, mainan hingga oleh-oleh khas Bandung seperti dodol pun tak luput dijajakan kepada penumpang yang hendak memasuki bis masing-masing.

pasar baru dagang

pedagang kaos khas Bandung

Satu persatu, rombongan yang baru saja pulang dari belanja berdatangan. Terlihat muka-muka kecewa yang terpancar dari wajah mereka. Lha ekspektasi awal, belanja di Pasar Baru itu harganya murah-murah, namun kenyatannya sebaliknya. Memang, mahal itu juga relatif.

Saya hanya tersenyum melihat ekspresi mereka. Beberapa orang malah memilih membeli oleh-oleh di sini, membelinya dari penjual yang menggelar dagangan di emperan pertokoan yang terlihat tutup. Harganya pun bisa ditawar, tinggal pintar-pintar saja menawarnya.

Ora Urus-Pasar Baru

gambar di truk bagian belakang

Hari makin gelap, semua penumpang sudah memasuki bis masing-masing dan ini merupakan akhir dari kunjungan singkat ke Kota Kembang, Bandung.

Sampai jumpa lagi, semoga kita bisa bersua lagi

Advertisements

46 thoughts on “Jelajah Bandung: Suatu Sore di Pasar Baru

  1. Gara

    Kadang agak ironis, di sebuah kota yang mungkin sudah cukup maju, wilayah-wilayah yang masih kurang berkembang dan bisa dikatakan kumuh seperti itu masih ada. Tapi memang demikianlah kenyataannya ya, wkwk. Saya suka foto-fotonya Mas, menangkap banget situasi masyarakat di sana, tidak cuma gambaran soal genangan air tapi ada elemen manusianya juga, keren banget. Saya belum pernah ke bagian Bandung yang ini, namun sepertinya di daerah Paskal, ya?

    Liked by 1 person

    Reply
    1. Hendi Setiyanto Post author

      sebenarnya ini juga terpaksa hahaha, aku yang beberapa waktu lalu sudah kena pusing jadi nggak ikutan rombongan belanja dan lebih memilih duduk di bis hingga bosan terus keluar ke sekitar. pokoknya kalau bis-bis mau ke pasar baru parkirnya di sini terus ke sana naik becak atau jalan kaki gitu

      Like

      Reply
      1. Gara

        Oh begitu ya Mas. Terima kasih infonya. Memang jalan depan Pasar Baru itu padat banget, makanya bus pasti dipindah ke tempat jauh.

        Like

  2. Hastira

    pasar baru adalah pasar yg familiar bagiku, dari kecil suak diajak ke sini krn ibuku kulakan baju di ini untuk dijual lagi

    Like

    Reply
  3. omnduut

    Apa karena dia tahu orang luar jadi dimahalin ya? tega bener puyer dihargai dobel.

    Aku terakhir kali ke Pasar Baru tahun 2005. Gak ngeh juga apa di sana mahal/murah. Yang jelas dulu banyak orang Malaysia yang belanja di sana hehehe

    Like

    Reply
      1. omnduut

        Dari logat bicara, cara berpakaian dsb hehehe. Tapi emang paling enak kalo masuk angin minum puyer tolak angin itu. Sama segelas teh hangat. πŸ™‚

        Like

  4. bersapedahan

    kalau belanja disana harus ada guide orang lokalnya supaya dapat tempat toko yang oke.
    kata teman saya yang punya toko di kota lain, untuk ngisi barangnya belanjanya selain di tanah abang juga di pasar baru ini barangnya berbeda dengan Tanah Abang .. ya tapi harus tahu toko yang mana saja πŸ™‚

    Like

    Reply
    1. Hendi Setiyanto Post author

      iya kata orang-orang memang harganya miring tapi tidak semua penjual sih, setuju, harus bwa orang lokal buat nunjukin atau mandu, karna kemarin malah ada yang dapat harganya sama atau cenderung mahal hahaha

      Like

      Reply
  5. Matius Teguh Nugroho

    Hehe kalo gitu judulnya bukan suatu sore di Pasar Baru dong πŸ˜€

    Sayang kamu nggak ikut ke Pasar Baru. Kalo nggak tertarik berbelanja, di sekitar Pasar Baru itu semacam pecinan-nya Bandung. Ada klenteng, banyak bangunan tua, cakue legendaris, warkop sejak 1930-an, dan pabrik kopi tua Bandung.

    Like

    Reply
      1. Matius Teguh Nugroho

        sebut saja di belakang stasiun kereta api bandung πŸ˜€

        itu adalah salah satu titik di Bandung yang memprihatinkan, jalannya nggak layak banget, kalo malem jadi prostitusi kelas menengah

        Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s