Jelajah Bandung: Saat Orang-Orang Kurang Piknik ke Farm House Lembang

“Ini nggak bisa kayak gini dong!!” Teriak seorang lelaki berperawakan tinggi besar dengan kulit kuning dan mata sipitnya kepada seorang satpam. Keduanya terlihat ardu argumen hebat. Mata melotot. Nada suara makin meninggi. Tangan yang hendak memukul satu sama lainnya.

Entah ada masalah apa, kedua orang tadi menjadi tontonan pengunjung dari berbagai daerah yang hendak memasuki pintu masuk lokasi wisata Farm House Lembang.

Suasana jalanan Lembang macet parah. Arus kendaraan sudah diatur sedemikian rupa oleh polisi lalu lintas.

Baca cerita sebelumnya di sini!

Kami pun terpaksa turun di pinggir sebuah jalan raya sempit dan harus berjalan kaki lebih dari lima belas menit untuk mencapai pintu masuk Farm House Lembang.

berjalan kaki

berjalan kaki lumayan jauh menuju farm house

Langit Lembang makin gelap. Rintik-rintik hujan mulai turun. Suasana makin chaos. Orang-orang berlarian satu sama lain mencari tempat berteduh.

Ya Tuhan…demi apa jauh-jauh dari Banjarnegara ke tempat ini namun sejak di pintu masuk, kami sudah disuguhi pemandangan yang bikin pusing.

Orang-orang berebut satu sama lainnnya menuju pintu penjualan karcis masuk. Sementara itu di seberangnya, petugas keamanan yang seharusnya mengamankan lokasi malah tengah terlibat cekcok hebat dengan salah satu pengunjung. Si bapak Polisi pun terlihat acuh tak acuh. Tak ada upaya untuk melerai kedua orang tadi.

sesak di farm house

untuk bergerak saja susah apalagi berfoto-foto

Penyakit pusing yang saya alami pun kambuh. Ah ini berita buruk. Padahal karcis sudah di tangan dan tinggal masuk saja.

Berbagai macam orang telah memenuhi seluruh area Farm House Lembang yang sebenarnya tidak terlalu luas ini. Saya memilih menenangkan diri sejenak di pinggiran. Berteduh di bawah pohon pinus.

Cerita berikutnya pun bisa ditebak. Pas masuk ke dalam lokasi utama, suasana lebih parah, mirip pasar dadakan. Untuk berjalan saja susah, apalagi hendak berfoto.

Dengan susah payah, saya ikut nimbrung menuju lokasi pertama yaitu, lokasi Gembok Cinta, sudah barang tentu di sini magnet utamanya adalah gembok yang terpasang di pinggiran jalan.

Merasa makin terjebak di sini, saya pun buru-buru beralih ke lokasi berikutnya. Sebuah gedung dengan arsitek mirip rumah-rumah tradisional Jerman maupun Pegunungan Alpend Swiss terlihat di depan mata. Namun yang membuat aneh adalah hiasana lampu yang tergantung, kontras sekali, saya merasa berada di kota-kota Timur Tengah, setidaknya pernah melihat di foto-foto.

Isi dari gedung ini sebenarnya berupa toko souvenir khas Farm House Lembang. Mulai dari barang pecah belah, magnet kulkas, kaos, tas, topi dan masih banyak lagi yang dipajang dan dijual. Apakah saya membeli? Tidak! Mahal!

Saya hanya berfoto-foto saja saat memasuki gedung ini. Hati-hati juga karena jika kita teledor dan memecahkan barang-barang yang dipajang, maka kita harus menggantinya!

Semakin masuk ke dalam, suasana makin riuh dan khas seperti sedang memasuki perkampungan tradisional eropa. Arsitekturnya masih sama. Namun di sini difungsikan sebagai restoran, kedai roti, toko souvenir dan tempat penyewaan kostum khas petani susu orang Eropa atau apalah namanya.

farm house 3

makin masuk ke dalam, makin penuh dengan orang-orang

Dari sini kita bisa melihat antusias pengunjung yang ingin menyewa kostum dan berpose dengan latar belakang gedung-gedung tradisional eropa. Pengunjung terlebih dahulu harus menaiki sebuah anak tangga menuju gedung di lantai dua untuk antre menyewa kostum.

Apakah saya tertarik ikut mencoba kostum tadi? Tentu tidak!

Saya hanya memotret beberapa teman yang sudah cantik memakai kostumnya masing-masing. Sementara rasa pusing makin menjadi. Arggghhhh...rasanya ingin cepat-cepat keluar dari tempat ini.

Lokasi berikutnya berupa bangunan dengan tembok-tembok yang dihiasi tanaman merambat, sementara itu halamannya ditumbuhi aneka bunga dan tanamanย  yang ditata sedemikian rupa hingga menyerupai suasana pedesaan di Eropa sana.

Langit Lembang masih saja menangis. Kini saya bergegas keluar menuju tempat yang berbentuk galon penampungan susu raksasa. Di bawahnya sudah berbaris rapi orang-orang yang hendak menukarkan tiket masuk dengan segelas susu gratis. Ada pilihan susu rasa strawberry maupun susu biasa. Lagi-lagi saya harus sabar dengan orang-orang yang punya tujuan sama. Setelah bersusah payah akhirnya segelas susu segar rasa strawberry sudah di genggaman.

Saya beralih menuju sebuah tempat yang berisi truk-truk jadul yang dihias dan dibuat sedemikian rupa dengan bunga warna warni. Pengunjung bisa berpose semaunya.

Sambil menunggu teman lainnya. Saya menikmati semilir angin, rintik hujan dan hawa dingin Lembang ditemani susu dingin segar, sementara rasa pusing masih saja belum hilang.

Satu persatu teman-teman telah terlihat dan kami langsung saja menuju bus yang sudah terparkirย  di pintu keluar Farm House Lembang. Ndilalah hujan kini berganti bukan gerimis tapi deras dan pengunjung pun berhamburan keluar. Bubar!!!

Sama seperti saat masuk, saat keluar tempat ini kami pun mengalami kesusahan. Macet!!!

Jalur menuju Lembang macet parah mulai dari Farm House Lembang hingga memasuki kota Bandung. Namun jalur sebaliknya tidaklah terlalu parah.

Rombongan bis pergi meninggalkan Farm House Lembang dan menuju kota Bandung.

Bersambung…..

Advertisements

30 thoughts on “Jelajah Bandung: Saat Orang-Orang Kurang Piknik ke Farm House Lembang

  1. Desfortin

    Wah, bersambung to, hehe…pnsran jg dg 2 org yg bersitegang di awal, gmn crta slnjutnya ya…

    Bnyak bnget pngunjungnya ya, mas Hendi, berjubel bgtu.

    Ditunggu blog slnjutnya. Tks.

    Like

    Reply
  2. Johanes Anggoro

    Hmm kalo weekend ampun dah. Weekday aja pas ngepasin rush hour bandung itu kayak jakarta ๐Ÿ˜…

    Kalo lagi ga enak badan, aku ga mood sama sekali, sekalipun pas jalan2. Kok mas Hendi masih bs foto2 ya๐Ÿ˜†

    Like

    Reply
  3. Fanny Fristhika Nila

    Hahahahahaha… Baca ini, aku makin GA TERTARIK datang ke farmhouse, sengehits apapun tempatnya :p. Mungkin aku bakal dtg, kalo sudah sepi, dan kita jadi bisa lebih menikmati atraksi2nya. Selama masih crowded dan ga jelas begitu, aku jg ga bakal bisa nikmatin mas

    Like

    Reply
  4. Bimo Aji Widyantoro

    itu mau liburan apa mau belanja di pasar, sesak bener biar jalan aja mesti rapat-rapat.
    tapi disitu sih tantangannya apalagi kalau berhasil melewati, beuh rasanya pengen baring aja. Sebenarnya masalah ini sih bisa diatasi kalau pihak pengelola mau membatasi jumlah pengunjung biar gak membludak, misalnya dengan pembatasan jumlah tiket per hari ada berapa lembar gitu.

    Like

    Reply
  5. Halim Santoso

    Nggak kebayang kek apa itu ruamenya. Coba kalo ada Dian Sastro atau Nicholas Saputra gitu ramenya jd asyik karena demi minta foto bareng ya #halah. Hahaha. Btw pusingmu karena apa, Hen? Vertigo kah?

    Like

    Reply
  6. Matius Teguh Nugroho

    Farm House ini emang kayak cendol kalo weekend, bro. Udah jalannya macet, eh di sananya rame banget. Sirna sudah bayangan Rumah Hobbitt yang ada di citra dunia maya atau instagram ๐Ÿ˜€

    Like

    Reply
  7. bersapedahan

    farm house memang rame bangettt malah bikin macet pula.
    saya aja belum pernah kesini … sudah kebayang macet dan ramenya di dalam .. memang bikin pusinggg. Kalau kesini harusnya saat weekdays biar nyantai dan leluasa … tapi waktu kitanya yang ga leluasa .. haha

    Liked by 1 person

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s