Jelajah Bandung: Tiba di Gunung Tangkuban Perahu

Satu persatu, berbagai macam bis dengan aneka warna pergi meninggalkan lokasi parkir. Waktu menunjukan pukul 07.30 pagi. Langit Lembang masih terlihat gelap. Hawa dingin pun masih terus berhembus dari balik dedaunan pohon pinus yang banyak tumbuh di sekitar lokasi parkir.

Sang supir bus terlihat sudah memanaskan mesin kendaraan dan bersiap-siap berangkat. Para rombongan satu persatu memasuki bis. Namun semenit dua menit, belum ada tanda-tanda bis ini akan bergerak. Ternyata ada satu masalah, salah satu rombongan ada yang belum masuk bis dan kini entah berada dimana. Panitia pun dengan sigap mengecek setiap tempat, barangkali orang yang ditunggu tadi masih di kamar mandi, dan benar saja. Saat yang lain sudah selesai bersih-bersih,orang yang ditunggu tadi ternyata baru akan memulainya.

Baca cerita sebelumnya di sini!

Inilah β€œnikmatnya” pergi secara berombongan.

Macet di Jalan Menuju Gunung Tangkuban Perahu

Saat semuanya sudah lengkap, bis pun langsung berjalan menuju jalanan menanjak yang membelah hutan di punggung Gunung Tangkuban Perahu.

Hari masihlah pagi namun antrean kendaraan yang hendak menuju puncak gunung ini sudah mengular.

Tak bisa membayangkan bagaimana rasanya menekan pedal gas setiap beberapa menit sekali dalam kondisi berhenti di tengah-tengah jalan yang menanjak.

Terbersit pikiran kotor. Bagaimana kalau tiba-tiba rem blong dan sang supir tidak bisa mengendalikannya?.

Kendaraan akan mundur dan meluncur ke belakang, untuk kemudian menabrak apa saja yang ada di belakangnya termasuk antrean kendaraan berbagai ukuran. Ah, kadang manusia suka berpikiran yang aneh-aneh saat dalam kondisi seperti ini. Mencoba mengalihkan ke hal lain tapi tetap saja, berpikiran negatif terus.

Sebuah gerbang menuju pintu masuk pertama obyek wisata Gunung Tangkuban Perahu sudah terlihat di depan. Kondisinya mirip saat hendak berwisata ke Dataran Tinggi Dieng melalui jalur Wonosobo. Bedanya di sini semuanya dikelola oleh satu operator wisata sedangkan di Dieng, dimiliki dan saling diklaim oleh dua kabupaten yang bertetangga.

Alangkah lucunya garis-garis batas yang memisahkan kepemilikan antara satu dengan yang lainnya.

Setelah melewati gerbang tadi, bis kini semakin masuk ke dalam hutan-mengikuti jalanan yang meliuk-liuk. Berita baiknya, jalanannya lebar dan mulus. Coba kondisinya seperti jalanan di Banjarnegara, upsss!.

Saya pikir bis ini akan berhenti persis di pinggir kawah gunung tangkuban perahu. Ternyata tidak!! Bis ini hanya bisa berkendara sampai ke lokasi parkir gunung tangkuban perahu.

Lokasi parkirannya sangat luas, bersih dan sangat tertata dengan rapi walaupun ini berada di tengah hutan. Berbagai macam bis terlihat berjejer rapi di pinggir-pinggir. Di belakangnya terdapat toko-toko sederhana yang menjual berbagai macam souvenir.

Rombongan turun dan beristirahat sebentar. Ketua rombongan mencoba membeli tiket kendaraan menuju puncak Gunung Tangkuban Perahu. Ya, jadi kami harus berkendara lagi menggunakan mobil yang sudah dimodifikasi sedemikan rupa dengan jendela-jendela yang dibiarkan terbuka tanpa kaca. Itu pun kami harus antre karena saking banyaknya pengunjung dibanding kendaraannya.

ontang-anting

shuttle bus-tapi naiknya bukan bus, angkot

Tiket telah dibagikan dan satu persatu rombongan memasuki mobil yang hanya bisa menampung penumpang sekitar sepuluh hingga dua belas orang belum termasuk supir. Butuh waktu sekitar kurang dari lima menit saja hingga kami sampai di pelataran kawah gunung tangkuban perahu.

Akhirnya Sampai di Puncak Gunung Tangkuban Perahu

Saat kami turun, suasana begitu ramai. Orang-orang telah terlihat menyemut di sekitar pinggiran kawah gunung tangkuban perahu yang terlihat sudah mati tanpa aktivitas berarti.

ramai mobil

pemandangan dari atas bukit di sekitar kawah

Untuk mobil-mobil berukuran kecil, terlihat telah memenuhi parkiran di pinggir kawah. Ooh mungkin pengelola memperbolehkan beberapa mobil dan sepeda motor bisa masuk sampai puncak dan tergantung dengan jumlah lokasi parkir yang tersedia.

puncak hijau

dari gardu pandang, kita bisa melihat vegetasi di bibir kawah lainnya

Walaupun kondisinya sangat ramai, apalagi hari ini hari libur akan tetapi tempat ini begitu bersih, rapi dan sangat teratur. Jarang-jarang sekali lokasi tempat wisata yang pernah saya kunjungi bisa seperti ini.

Beberapa pengunjung ada yang tengah mengendarai kuda yang sengaja disewakan atau hanya sekedar duduk-duduk di pinggir tebing sambil menikmati manisnya jagung bakar dari para pedagang yang tak hentinya membakar jagung hingga menimbulkan aroma yang sedap.

Yang menjadi magnet utama tentu kawah Gunung Tangkuban Perahu. Kondisinya sangat indah dengan cekungan yang terlihat jelas, dalam, berupa kerikil-kerikil di sekitarnya.

Satu yang pasti, kawah ini terlihat tidak mengeluarkan asap apapun.

Bibir kawah ini dibatasi dengan pagar-pagar yang menjadi lokasi favorit pengunjung untuk berfoto. Tapi ya itu, kudu ekstra sabar mencari momen yang pas agar saat difoto tidak terlihat orang-orang yang tak perlu ikut terfoto.

kawah

kawah yang saat saya ke sini, tidak mengeluarkan asap sama sekali

Saya mencoba naik ke posisi bibir kawah yang lokasinya lumayan tinggi, namun hanya sampai setengah jalan saja karena harus antre dengan pengunjung lain.

Udara di sini begitu segar. Langit cerah. Jarak pandang sangat jernih tanpa kabut. Saya yang sejak awal sudah mempersiapkan kaca mata dan baru sadar kalau tertinggal di bis, harus rela nyengir, maklum mata saya ini sangatlah sensitif terhadap cahaya. Ada topi memang, namun itu belum cukup bagi saya.

Pada bagian kawah lainnya, terdapat sebuah gardu pandang berukuran cukup besar dan sangat cocok untuk mengabadikan pemandangan lembah, kawah hingga Kota Lembang dari ketinggian.

Di belakangnya terdapat juga sebuah bangunan yang mungkin mirip sebuah aula besar dan terlihat masih belum seratus persen selesai dibangun. Hanya butuh menaiki beberapa anak tangga untuk sampai ke gardu pandang ini.

Saya pun membayangkan jika dari gardu pandang ini dibuat semacam gondola dari lembah menuju puncak ini pastilah akan sangat menarik dan lain dari yang lain.

sisi lain gardu

gardu pandang dari kejauhan

bukit hijau

sebagai tempat wisata populer, pengunjung harus rela berdesakan di pinggiran kawah

mobil dari gardu pandang

deretan mobil pribadi yang memenuhi jalanan pinggir kawah

Setelah menemani seorang teman menawar seperangkat angklung dan berakhir dengan kata sepakat dengan harga dua ratus ribu rupiah, kami memutuskan untuk turun gunung.

Tidak lama memang kami di sini karena masih ada banyak tempat yang harus dikunjungi dalam sehari, ya sehari saja.

Sekitar pukul sepuluh pagi, rombongan turun ke lokasi parkir bis berada dan hendak mengeksplor Kota Lembang. Doakan semoga cuaca cerah hingga sore.

Bersambung…..

Advertisements

25 thoughts on “Jelajah Bandung: Tiba di Gunung Tangkuban Perahu

  1. Halim Santoso

    Kulihat sih beneran udah rapi parkir kendaraannya. Dulu malah naik angkot dari kota menuju ke Tangkuban Perahu. Trus pulangnya niat jalan ke kawah-kawah di bawahnya, tapi malah hujan deras di tengah jalan. Batal mlipir deh. Ahh baca ini jadi kangen Bandung dan Lembang oi.

    Liked by 1 person

    Reply
  2. Johanes Anggoro

    Semacam shuttle ya naik dr parkiran ke kawah? Persis kawah putih juga disediakan shuttle. Kalo ga salah inget, kalo bawa kendaraan sampe bibir kawah, bayarnya lebih mahal.
    Tangkuban perahu msh jadi PR nih, bbrp kali ke bandung blm kesampaian kesini.

    Like

    Reply
  3. Desfortin

    Tampak bgtu indah ya Tangkuban perahu. Sampai setua ini blm prnh ksna sya, πŸ˜‚πŸ˜‚

    Oya, klo dilihat dari foto, tdk tampak bgtu tinggi tu gunung ya. Brp sih mas Hendy tingginya dpl?

    Ditunggu ni edisi lnjutannya. Saya suka gaya Anda berkisah pd postingan ini, ada semi2 sprti cerpen, tp bkn jg. Keren, pngetikan huruf2nya jg rapi, ditulis dg apik.

    Like

    Reply
    1. Hendi Setiyanto Post author

      kata orang sih sudah rapi dibanding dulu, duh maaf komennya masuk spam hehehe. suatu saat pasti bisa ke pulau jawa mas.
      kurang tau berapa tingginya tapi karena bisa naik sampai puncak dengan mobil jadi ga terasa.
      hahah ga kepanjangan kan? wah saya belum apa-apanya lah, cuma nulis sesuai apa yang dialami saja

      Liked by 1 person

      Reply
  4. Fanny f nila

    Kyknya kalo naik bus wisata, memang hrs berhenti di parkiran bawahnya yaa.. Tiap kesana aku slalu liat bus di area bawH, yg mobil baru bisa naik sampe atas. Ini sbnrnya kawahnya memang udh ga aktif kan ya mas? Trakhir ksana aku ajak temen kuliahku dr malaysia, dan dia kagum banget :D. Tp ga pengen ah ksana kalo pas peak season. Gila ramenya :p

    Liked by 1 person

    Reply
    1. Hendi Setiyanto Post author

      iya kalau naik bis harus parkir di bawah tapi pas di atas ramai pula sih. setuju mending ke sini pas hari biasa, ampun2an dah sesak dan macetnya lembang

      Like

      Reply
  5. Gara

    Akhir-akhir ini kawah-kawahnya suka ditutup karena banyak gas beracun. Waktu saya ke sana, tidak bisa sampai kawah upas karena sebab itu. Sayang sekali, balik-balik kawah Tangkuban Perahunya sudah ditutup kabut dan tak terlihat apa-apa. Beruntungnya yang bisa ke sana dalam cuaca cerah. Ongkos naik jip ala-ala buat sampai puncak itu berapa?

    Like

    Reply
  6. prih

    wah parkiran mobil di bibir kawah rapi banget ya. Beberapa kali ke sini belum sepadat pemandangan di foto postingan ini.
    Berita hari ini Kawah Sileri di Dieng meletus ya, semoga semua tertangani secara optimal ya.

    Like

    Reply
    1. Hendi Setiyanto Post author

      iya tadi siang, setauku sih ga ada korban jiwa, cuma terkena cipratan lumpur dan sudah tertangani di puskesmas terdekat, yg bikin cemas malah kecelakaan helikopter basarnas yang akan ke dieng dan jatuh di temanggung : (

      Like

      Reply
  7. aryantowijaya

    Kalau dulu aku selalu naik ke Tangkuban via Jayagiri. Jalan kaki dulu selama 4 jam buat sampai di kawah.
    Tangkuban, walaupun skrg masuknya mahal tp ttep jd primadona kalau ke Bdg πŸ˜€

    Liked by 1 person

    Reply
  8. bersapedahan

    biasanya di tangkuban perahu anginnya kencang dan dingin bangettt ..
    sayang ya tidak sempat turun ke kawahnya, tapi kawah yang bisa sampai turun kebawah dan bisa rebus telor, posisinya agak sedikit ke bawah, terlewati oleh mobil waktu ke atas. Suasana alamnya keren banget untuk foto2.

    Like

    Reply
    1. Hendi Setiyanto Post author

      iya ini di kwah ratunya memang suasananya begitu sejuk, saya tidak mampir ke kawah yang bisa untuk ngerebus telor itu memang berada di bawah sebelum nyampai puncak

      Like

      Reply
  9. Pingback: Jelajah Bandung: Saat Orang-Orang Kurang Piknik ke Farm House Lembang | NDAYENG

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s