Nyadran Gede di Makam Sesepuh Desa Gumelem

Langkah kaki di panas terik siang itu tak menyurutkan niat saya mengejar rombongan penduduk  menuju makam tetua kampung yang paling dihormati di Desa Gumelem, Kecamatan Susukan, Kabupaten Banjarnegara.

Alunan suara gamelan jawa masih terdengar di balai desa.

Saya tertinggal jauh dari rombongan. Dengan terus mempercepat langkah dan sesekali berlari, akhirnya saya bisa berbaur dengan penduduk kampung yang berpakaian adat jawa.

Penduduk laki-laki memaki beskap lengkap, sementara yang perempuan memakai kebaya dengan Rinjing dan Tenong yang dipunggu dan digendong. Beberapa lainnya berpakaian seperti biasanya.

Memunggu-01

Tenong yang berisi nasi dan lauk pauk ini sebenarnya untuk para tamu pejabat

Rute yang saya kira tidak terlalu jauh ternyata berbanding terbalik. Betis sudah mulai pegal karena berlari terus sepanjang jalan. Terlihat sekali jika saya ini kurang banyak gerak.

Jalanan berbatu yang ditata sedemikian rupa membelah hamparan pemakaman desa yang berjejer di sini kanan dan kirinya. Jalanan menanjak menuju puncak bukit yang berada di tengah-tengah Desa Gumelem.

Kini saya sudah tergopoh-gopoh langkah demi langkah dengan nafas ngos-ngosan berjalan bersama seorang ibu yang menggendong rinjing. Sementara itu di sampingnya ada seorang anak yang sekilas terlihat kurang sehat. Memakai jaket, sepatu, membawa sapu tangan. Pada sekujur tubuhnya banyak terdapat luka lecet, sepertinya anak ini terkena gangguan kulit. Saya tak tega menanyakan lebih detail. Saya hanya terus berjalan bertiga dengan si ibu dan anaknya tadi sambil sesekali berbincang-bincang.

Selain terdapat makam-makam penduduk sekitar, di sini juga terdapat makam sesepuh kampung, tokoh penting hingga makam yang disucikan oleh penduduk sekitar karena berjasa menyebarkan agama Islam di kampung ini.

Komplek Makam Ki Ageng Gumelem

Komplek makam pertama sebelum ke puncak bukit adalah makam Ki Ageng Gumelem yaitu seorang panglima perang yang diutus oleh Panembahan Senopati dari Kerajaan Mataram untuk menetap dan merawat makam Ki Ageng Giring.

Gerbang1-01

Gerbang menuju makam Ki Ageng Gumelem dan para Demang terdahulu

Setelah melewati komplek makam pertama, saya dengan bersusah payah harus melewati jalanan menanjak menuju puncak bukit yang diberi nama Bukit Ilangan yang letaknya di pinggir Desa Gumelem. Di Bukit Ilangan inilah terdapat makam suci dan dikeramatkan oleh penduduk sekitar yaitu makam Ki Ageng Giring.

Makam Ki Ageng Giring

Makamkigiring2-01

Pusara makam Ki Ageng Giring

Ki Ageng Giring sendiri adalah seorang penyebar agama Islam dari Kerajaan Mataram yang berkelana hingga sampai ke Daerah Gumelem (wilayah Banjarnegara).

Konon di sekitar Desa Gumelem inilah, beliau wafat. Oleh para santrinya, keranda jenazah Ki Ageng Giring ini hendak dibawa menuju Gunung Kidul (wilayah Mataram) namun sesampainya di Bukit Ilangan, keranda jenazah tidak bisa diangkat oleh para santrinya dan semakin terbenam tanah. Atas peristiwa inilah, para santri lantas mengebumikan jenazah di Bukit Ilangan ini. Kini makam Ki Ageng Giring masih bisa dijumpai di puncak Bukit Ilangan, Desa Gumelem.

Menuju Puncak Bukit Ilangan dan Makam Ki Ageng Giring

Saya dan ibu-ibu sekitar yang memunggu tenong serta menggendong rinjing, tak kenal lelah berjalan kaki menuju makam di puncak bukit. Dari hasil bincang-bincang saya, rata-rata ibu-ibu serta penduduk sekitar punya berbagai tujuan datang ke sini, salah satunya selain ingin berziarah juga mengharap berkah keselamatan, kesehatan, kesuksesan, keberhasilan panen dan tujuan lainnya.

Termasuk oleh ibu dan anak yang saya temui tadi. Sayangnya saya lupa menanyakan nama kedua orang saya temui tadi padahal kami berbincang lama dari sejak berangkat hingga turun kembali ke balai desa.

Satu kalimat yang terus saya ingat dari perkataan si ibu

Lhe, kamu sehat terus ya biar kayak mas ini (saya)”.

Saya pun terharu dan kemudian terus memberikan semangat kepada si anak tadi untuk terus sehat.

Belakangan saya sadar, jika kedatangan anak dan ibu tadi salah satunya meminta kesembuhan atas penyakit yang diderita dengan lantaran berziarah ke makam ini.

Menjelang bulan suci Ramadhan atau bulan Sadran dalam penanggalan Jawa, penduduk berbondong-bondong menggelar acara selamatan atau istilah orang sini menyebutnya “Nyadran Gede”.

Ada lima tingkat jalanan berundak sebelum mencapai puncak utama lokasi makam Ki Ageng Giring. Kelima tingkat ini menggambarkan sholat lima waktu. Setelah berjalan sekitar tiga puluh menit, saya dan rombongan akhirnya sampai juga di pintu masuk makam.

Ada dua buah pendopo utama di depan pintu masuk utama atau di tingkat tiga. Di sini suasana begitu ramai. Tenong dan rinjing ditata di dalam pendopo, sementara itu penduduk sekitar menunggu dengan sabar di pinggiran pendopo.

Krinjingberkat-01

Rinjing-rinjing yang berisi nasi dan lauk pauk dari para penduduk sekitar

Pada tingkat kedua, terdapat penjaga yang berpakaian beskap dan menjaga pintu masuk utama. Saya pun melanjutkan langkah menuju gerbang utama yang berbentuk mirip candi dengan batu bata merah yang menjadi bahan utamanya.

Sementara itu di tengahnya terdapat gapura kecil dengan pintu kayu jati berukir dan diperkirakan sudah berusia puluhan tahun. Saya harus menunduk saat melewatinya.

Gerbang7-01

Gapura dari batu bata dengan pintu masuk berukuran kecil

Kini saya sudah di makam utama Ki Ageng Giring. Terdapat sebuah pendopo dan cungkub dengan serambi yang mengitarinya. Suasana ramai siang itu. Orang-orang membaca tahlil dan tahmid saling bersahutan, begitu pula dengan saya.

Makamkigiring-01

Menyaksikan orang-orang yang sedang berdoa

Bau kemenyan, dupa dan aneka kembang menjadi pemandangan yang tak biasa bagi saya. Setelah acara doa selesai, kini orang-orang berpindah menuju pendopo di tingkat tiga tadi.

Tenong dan rinjing yang sedari tadi sudah ditata, kini satu persatu dibuka isinya. Sajian tumpeng, oseng-oseng mie, serundeng, kecambah, oreg tempe, rempeyek kacang pun semuanya dibuka dan digelar di atas daun pisang.

Saya merasa antusias melihat pemandangan tadi. Sebagai warga kampung, saya merasa asing dengan tradisi ini, padahal mungkin dulunya ini sudah biasa. Saya beserta penduduk laki-laki duduk bersila menggelar dan membagi sajian tadi.

Semua orang khusyuk mengamini lantunan doa yang dibacakan.

Setelah menggelar doa, sang juru kunci membuka bungkusan putih dari kain mori yang berisi kembang, rajangan daun tembakau, dan uang receh yang dikumpulkan dari para penduduk sekitar yang membawa tenong dan rinjing.

Sesaji

Aneka kembang dari para penduduk yang nantinya akan ditaburkan di atas pusara makam

Barang-barang tadi nantinya akan didoakan terlebih dahulu oleh sang juru kunci sesuai dengan permintaan masing-masing penduduk yang memberikannya. Kemudian kembang dan rajangan tembakau di sebar di atas pusara makam Ki Ageng Giring, entahlah saya tidak bertanya lebih lanjut, maksud dari ritual tadi.

Sebongkah kecil nasi, lauk mie, peyek kacang, dan oreg tempe kini sudah tersaji di depan mata. Sebelumnya terlebih dahulu dibacakan doa dan wejangan oleh sang juru kunci bernama Bapak Yatno.

Jurukunci-01

Sang Juru Kunci (mengenakan pakaian jawa) Bapak Yatno

Saya kira acara makan bersama ini akan berlangsung lama, namun ternyata cuma sebentar saja. Setelah menyuapkan nasi beberapa suap ke mulut, orang-orang bergegas membubarkan diri dan masing-masing memberkat (mengambil nasi serta lauk pauk untuk dibawa pulang).

Orang-orang dari latar belakang, status, pangkat dan identitas-identitas lainnya berkumpul, duduk satu lantai. Bergembira mengikuti tradisi dengan cara makan bersama seperti ini.

Belum juga selesai menghabiskan nasi beserta lauk pauk di atas daun pisang, seorang bapak-bapak telah menawarkan sebongkah nasi dan lauknya untuk dibawa pulang. Kata beliau, ini nasi berkat, pamali kalau menolak membawa pulang!. Saya pun menyambut dengan gembira, tawaran si bapak tadi dan langsung membungkusnya untuk kemudian saya masukan ke dalam tas.

Saat turun dari bukit, saya kembali bertemu dengan si ibu dan anak saat berangkat tadi. Kami turun bersama siang itu. Si ibu masih terlihat menggendong rinjing yang berisi nasi dan lauk pauknya. Si anak biarpun terlihat kelelahan, namun dari sekilas raut wajahnya, terlihat sangat senang. Setidaknya itu yang saya tangkap.

Dalam hati saya berdoa

“Tuhan, tolonglah berikan kesembuhan pada si anak ini dari segala macam penyakitnya” Aamiin…

Ah rasanya saya sudah lama tidak melakukan makan bersama seperti ini. Kalau diingat, mungkin dua puluh tahunan yang lalu saat masa-masa panen selesai, orang tua menggelar acara makan nasi jagung bersama di atas tampah dan kini sudah jarang dilakukan.

Sebenarnya inti dari acara ini adalah selamatan dengan cara berziarah ke makam suci sesepuh kampung dan penyebar agama Islam menjelang bulan suci Ramadhan. Mungkin tradisi seperti ini masih banyak dilakukan oleh orang-orang. Membersihkan makam keluarga, berdoa dan memanjat syukur atas nikmat karunia dari Tuhan.

Advertisements

53 thoughts on “Nyadran Gede di Makam Sesepuh Desa Gumelem

    1. Hendi Setiyanto Post author

      jarang2 ya? aku tadinya juga mikir kalau acara semacam ini bakalan sudah punah tapi malah sebaliknya, seneng bisa mengikuti acaranya hingga selesai

      Like

      Reply
  1. ghozaliq

    Ngopo wae je Mas, mlaku sitik kok wes pegel dengkule…(curiga)

    Dan entah mengapa ya, rasa masakan nek acara kaya kue lewih enak….ahaha mbuh ngelih mbuh doyan… Wkwkwkw

    Like

    Reply
    1. Hendi Setiyanto Post author

      Jal aku mlayu2 awit ngarep balai desa tekan puncak bukit ilangan…lha gempor…nanjak bgt…
      Aku mberkat akeh tp krna pulangnya mampir smpe sore jd nasinya semuanya jd kering

      Like

      Reply
  2. Desfortin

    O Nyandran Gede itu artinya selamatan to..

    Tradisi ini apa di-mix gitu dg agama Islam, atau tradisi yg kemudian diberi mkna baru?

    Unik ya acaranya, pake acra mkan sbnyak itu, tp skdar ritual.

    Di Jawa bnyak ya aneka tradisi sprti ini, msih kental budayanya meski jaman trus maju

    Like

    Reply
    1. Hendi Setiyanto Post author

      Sejauh pemahamanku sih seperti itu. atau berziarah ke makam gitu.
      Hooh, masih terpengaruh antara budaya hindu, tradisi jawa dan juga islam.
      Kalau di Banjarnegara sih, sejauh ini yang masih mempertahankan tradisi ini ya di Desa Gumelem ini.

      Liked by 1 person

      Reply
  3. didisahertianblog

    Jadi Inget waktu jaman kuliah didi makan bareng pas ulang tahun sahabat didi dengan cara yang sama.

    Foto ibu-ibu yang membawa rinjingan ngingetin didi dengan upacara sebelum nyepi di Bali dimana mereka bersama-sama berjalan ke pura membawa rinjingan yang ditaruh dikepalanya.

    Like

    Reply
    1. Hendi Setiyanto Post author

      wah ultah makan bareng seperti ini? unik sekali dong.
      mirip2 ya? cuma di sini mereka pakai pakaian seperti biasa, banyakan berkerudung juga, kemarin beberapa yang berpakaian kebaya lengkap hanya sampai di makam sesepuh demang di Gumelem saja, tidak sampai puncak karena jalannya susah.

      Liked by 1 person

      Reply
  4. Halim Santoso

    Masih kental banget budaya Jawa jelang Ramadan di Gumelem. Dari tulisan ini jadi tahu asal usul sejarah Gumelem. Lalu si tokoh ada hubungan dengan kerajinan tanah liat yang telah berkembang di sana nggak, Hen?

    Like

    Reply
    1. Hendi Setiyanto Post author

      Kalau dengan kerajinan tanah lihat, setahuku eranya sudah sedikit beda, kerajinan tanah lihat berkembang pada era 60-an gitu karena beberapa orang klampok ada yang bekerja pada sentra keramik dan beberapa memperoleh ilmunya di Bandung dan Kebumen.
      Tapi peninggalan yang masih kental dengan Mataram ya adanya motif corak Batik khas gumelem dan sentra pembuatan pisau, alat cangkul, dan juga pandai besi, sayang aku kemarin belum sempat lihat langsung

      Liked by 1 person

      Reply
  5. Yosef krisna

    Sadranan di tempat saya masih pakai wadah seperti lincak itu mas buat bawa makanannya…biasane anak kecil pada ikut…rebutan buah hehehhe…kalo gede carinya ingkung

    Like

    Reply
    1. Hendi Setiyanto Post author

      penyebutan “tenong” atau istilah lincak memang berbeda2 ya? bahkan di beberapa kec. di Banjarnegara juga menyebutnya beda. tenong selain buat bawa nasi dll juga biasanya dijadikan tempat menyimpan tahu sebelum dijual di pasar, namun sekarang jarang yang memakainya.
      Kemarin ada juga ingkung tapi aku ga berani minta ke warga, karena pasti bakalan banyak yang minta hehehe

      Like

      Reply
  6. Johanes Anggoro

    Mlayu tenan mas? Niat banget😂
    Jelang bulan puasa di berbagai daerah tradisi serupa masih banyak mas.
    Duh jd inget dulu pernah ikut nyadran, makan bareng2 gitu seru😀

    Like

    Reply
    1. Hendi Setiyanto Post author

      hoooh karena aku datangnya sedikit telah 15-20 menitan. untung masih kekejar dan lari dari balai desa menuju bukit ilangan gitu.
      aku juga baru pengalaman pertama ini, lagian kalau makan besar gitu udah jarang banget, dulu mungkin pernah tapi dalam rangka yang lain

      Like

      Reply
  7. Gallant Tsany Abdillah

    Di desaku udah nggak ada lagi tradisi nyadran, atau ada tapi aku nggak tau *dikeplak. tapi kalo di desa tetangga masih ada. pas bulan Rajab katanya.
    paling enak emang makan rame rame gitu hahaha. seru.

    Like

    Reply
  8. Abdul Jalil

    Tradisi yang patut dilestarikan nih,menyatukan semua golongan masyarakat.Kumpul-kumpul bersama memang sudah jadi budaya kita.

    Saling follow blog ya gan..

    Like

    Reply
  9. Iwan Tantomi

    Owh, ada juga ya nyadran yang ke makam seperti ini, kalau di Sidoarjo dan wilayah pesisir Jatim, nyadran kerap dilakukan di tengah laut, dengan menghanyutkan sesajen.

    Oya, anak tadi sakit apa pastinya memang?

    Like

    Reply
  10. rynari

    Bagian dari nguri-uri budaya ya Mas. Dengan pemaknaan lain bisa sbg sarana tingkatkan relasi ke atas dan sosial ya. Wah nasi berkatan bungkus daun makin sedap disantap rame2 ya.

    Like

    Reply
    1. Hendi Setiyanto Post author

      aku sih selalu mengambil sisi posifit dari acara seperti ini, bertemu dengan orang2 baru, makan bersama dan aku cuma modal pede aja hingga bisa dapat jatah nasi plus berkat dua kali hahaha.
      hooh enak, tapi aku nggak ngabisin karena masih ada lanjut ke tempat lain, walhasil aku bwa aja di ransel

      Like

      Reply
  11. Pingback: Ternyata Dusun Pingit Juga Punya Sumber Air Hangat Alami | NDAYENG

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s