Jelajah Bandung: Mabuk Kendaraan

Waktu menunjukan pukul 16.15 sore. Jumat sore ini cuaca begitu tidak bersahabat, selepas sholat jumat tadi cuaca berubah drastis dari yang tadinya cerah berganti menjadi mendung pekat dan akhirnya hujan deras pun turun. Mungkin jika hari ini seperti hari-hari biasanya itu tak menjadi masalah, tapi hari ini adalah hari penting bagi saya karena persiapan menuju Kota Kembang sudah sejak jauh-jauh hari dinanti.

Semakin sore, hujan masih enggan untuk berhenti, malah sebaliknya makin deras saja. Ransel yang berisi berbagai macam barang bawaan sudah tertata rapi. Saya pun dibuat bingung antara harus membawa sepeda motor sendiri hingga sampai kota Banjarnegara atau naik mobil-menumpang teman.

Hingga selepas maghrib yang notabene waktu keberangkatan hampir tiba akhirnya saya memutuskan membawa sepeda motor saja yang kalau memang diperlukan akan dibawa sampai kota, namun jika tidak diperlukan karena ikut menumpang mobil teman, niatnya akan ditinggal saja dan dititipkan di lokasi penitipan sepeda motor yang tersedia di sekitar kota.

***

Sejak awal, kondisi tubuh sudah menunjukan gejala yang tidak biasa. Mulai dari kepala pusing hingga perut yang terasa mual padahal perjalanan belum dimulai. Ah ini seperti firasat buruk bahwa perjalanan akan dilalui dengan kurang lancar. Tapi sejenak pikiran negatif tersebut saya buang jauh-jauh. Perjalanan ini kan bertujuan untuk mencari hiburan dan pengalaman baru, saya harus selalu berpikiran positif.

Untuk informasi saja, saya tidak sendiri menuju Bandung, kami kebetulan pergi berombongan karena ini adalah acara kantor dan sebuah bis sudah menunggu di sekitar kota.

Berangkat Dari Banjarnegara

Seperti biasa, kami berangkat malam sekitar pukul 20.30 wib, sama seperti jam keberangkatan bis trayek Banjarnegara-Bandung yang setiap harinya selalu ada di Terminal Proyek Mrican-Banjarnegara.

bis kuning

bis dari berbagai daerah terlihat sedang parkir

Awal-awal perjalanan, semuanya berjalan seperti biasanya. Canda tawa, celotehan, dan yang tidak ketinggalan adalah berswafoto dengan grupnya masing-masing di dalam bus. Bagi yang lain, duduk manis sambil sesekali menikmati cemilan dirasa sudah sangat membahagiakan. Sementara untuk yang tidak suka ngemil, bisa bermain dengan gawainya masing-masing atau malah ada yang lebih memilih tidur, saking ngantuknya sekaligus menahan pusing karena mabuk kendaraan.

Saya yang lebih senang duduk pada kursi bagian belakang sendiri setiap naik bus-pun menikmati perjalanan awal ini walaupun jalanan yang kami lewati tidaklah semulus yang kami bayangkan sebelumnya. Salah satu alasan lebih memilih duduk pada kursi bagian belakang sendiri adalah, saya dan teman-teman seperjalanan bisa bebas menikmati perjalanan dengan celotehan dan saling ngobrol tanpa takut mengganggu penumpang lainnya.

Jalur Banjarnegara-Bandung via Purbalingga-Banyumas-Cilacap-Ciamis-Garut-Bandung kami lewati dengan tidak begitu menyenangkan yang kami kira sebelumnya. Jalanan yang berliku-liku serta bergelombang dan pada beberapa bagian banyak yang berlubang telah sukses membuat seisi bis terkena mabuk kendaraan karena guncangan yang datang bertubi-tubi.

Saat Penumpang Mengalami Mabuk Kendaraan

Salah satu faktor yang lebih memperparah perjalanan kali ini adalah ulah si sopir yang mengemudikan kendaraanΒ  secara ugal-ugalan. Alhamdulillah, saya tidak sampai muntah akan tetapi rasa pusing dan mual melanda sepanjang perjalanan.

Hal yang sama juga dialami teman-teman yang duduk pada bagian belakang. Lutfi, salah satu teman yang dikenal anti mabuk kendaraan pun harus pasrah menerima kenyataan karena dia orang pertama yang harus buru-buru mencari kantong keresek untuk menampung isi perut yang bergejolak diguncang oleh bus dan kondisi jalan yang aduhai.

Perjalanan berikutnya pun harus dilalui dengan perjuangan menahan mabuk kendaraan untuk semua penumpang. Saya hanya bisa menenggak beberapa obat anti mual yang sengaja dipersiapkan sebelum keberangkatan.

Jangan bayangkan bisa tidur nyenyak selama perjalanan. Mata ini seakan telah tersetting untuk terus terjaga. Alasannya simpel, saya tidak mau memejamkan mata karena merasakan sendiri bagaimana sang supir menjalankan bis ini yang bikin deg-degan sepanjang perjalanan.

Sesaat saya bisa beberapa detik terlelap karena saking ngantuknya tapi otak berseberangan karena rasa was-was tiba-tiba dikejutkan dengan suara rem yang mendadak saat melewati tikungan tajam dan hendak menyalip kendaraan lainnya. Secara serentak, seisi bis terbangun karena kaget.

Menahan BAB Saat Pagi Hari

Perjalanan semakin terasa makin jauh saja tanpa tau kapan akan sampainya. Perbatasan Jawa Tengah dan Jawa Barat pun telah terlewati namun tanda-tanda akan sampai kota Bandung masih jauh api dari panggang. Karena saat ini libur long weekendΒ Hari Raya Imlek, jalanan menuju bandung dari arah Garut terlihat sangat padat dan merayap sekitar pukul 01.00 pagi.

pom bensin

Berhenti di pom bensin guna rehat sejenak dari guncangan bis di jalan

Saat bis berhenti mengisi bahan bakar, tidak digunakan sia-sia oleh seisi penumpang bis untuk sejenak meluruskan punggung serta rasa pusing dan juga untuk buang air kecil. Beberapa penumpang terlihat langsung muntah-muntah saat baru saja turun dari bis. Hawa dingin khas dataran tinggi Jawa Barat terasa menusuk tulang di pagi buta seperti ini.

Sehabis Mabuk

Muka-muka orang sehabis mabuk kendaraan

Rombongan bis dari berbagai macam plat nomor kendaraan terlihat terparkir rapi di pom bensin ini. Semuanya rata-rata mengangkut penumpang yang hendak menuju lokasi wisata. Beberapa rombongan dari Jawa Barat terlihat hendak menuju Dieng-Banjarnegara-Jawa Tengah. Begitu pula sebaliknya dari arah Jawa Tengah ke Jawa Barat.

Tunggu dulu!! Jangan dulu puas karena bisa menyalurkan hajat menahan kencing sepanjang perjalanan. Kondisi toilet di pom bensin sangatlah penuh dengan antrian anak-anak remaja seusia sekolah menengah pertama yang juga sama-sama ingin ke toilet.

Alamakkkk….sabar-sabar…. kondisinya sudah seperti pasar, ramai sekali walaupun saat pagi buta begini.

***

Bis kini makin memasuki gerbang tol menuju kota Bandung dan waktu menunjukan pukul 03.35 pagi dan sebagai umat muslim yang taat, supir menepi menuju sebuah rest area unik bertemakan all about strawberry. Sebuah plang, pos satpam hingga dekorasi toko serta isinya berbentuk aneka macam strawberry. Halaman parkir yang luas dan berlokasi strategis di pinggir jalan raya menuju gerbang tol membuat banyak bis yang memarkirkan kendaraanya di sini.

Sebuah masjid megah dengan arsitektur khas timur tengah terlihat gagah di samping toko dengan dekorasi strawberry yang terlihat masih tutup. Lagi-lagi yang menjadi buruan para penumpang adalah toiletnya. Begitu pula bagi saya sendiri yang saat ini sudah memasuki masa-masa menjalankan ritual pagi dan tidak boleh tidak dilewatkan. Apesnya kali ini toiletnya hanya berjumlah dua buah dengan dibagi untuk laki-laki dan perempuan. Alamakkk...saya harus sabar menahan mules dari perut yang rasanya ingin berontak untuk segera dikeluarkan.

Satu, dua, tiga, empat orang sudah lewat dan akhirnya giliran saya pun datang. Tapi tunggu dulu jangan terlalu senang karena di sini berlaku aturan tak tertulis mengenai waktu penggunaan toilet yang harus bergantian dengan yang sudah mengantri di depan pintu. Gedoran pintu tanda untuk bergantian seakan saling bersahutan dengan suara-suara aneh yang berada di dalam toilet saat berjuang melepaskan hajat wajib tiap pagi.

Akhirnya Tiba di Bandung

Matahari semakin terlihat menampakan sinarnya dari arah timur dan bis saat ini berada di jalan Tol Pasteur menuju Bandung. Pemandangan persawahan, dan kabut yang menyelimuti Bukit Tunggal serta Gunung Tangkuban Perahu dari kejauhan semakin terlihat. Kali ini rasanya saya baru bisa menikmati perjalanan dengan kondisi tubuh yang dibilang normal tanpa pusing maupun mual.

Barisan perumahan yang berjejer rapi di pinggir jalan tol ini semakin menambah semarak kota Bandung, pertanda tujuan kami makin dekat. Mata kemudian terkesima dengan sebuah pemandangan stadion megah yang berdiri megah di tengah-tengah hamparan sawah dengan arsitektur modern dominan warna biru.

Gelora Bandung Lautan Api nama dari stadion sepak bola ini yang sosoknya sangat mencolok di tengah sepi dan hijaunya sawah di sekitarnya. Kami hanya bisa memandangnya dari balik jendela kaca bis yang berjalan melewati jalanan tol yang terbilang sepi pagi ini.

Bis kini telah keluar dari gerbang tol dan memasuki kota Bandung yang pagi ini begitu lengang namun hawa dingin sudah terasa hingga dari dalam bis. Kami melewati taman-taman yang berada di tengah kota dan langsung menuju kawasan Lembang yang jalanannya makin menanjak.

Kalau boleh saya membandingkan, kawasan Lembang itu mirip dengan Dataran tinggi Dieng, hanya saja di sini pada sisi kanan kirinya dipenuhi oleh rumah-rumah dan vila-vila beraneka bentuk.

Sekitar pukul 07.00 pagi kami akhirnya sampai juga di kawasan rest area, penginapan, wahana bermain dan juga Resto Grafika yang berada di pintu masuk menuju Gunung Tangkuban Perahu-Lembang-Bandung. Badan terasa sakit dan rasa mengantuk masih terasa. Padahal ini adalah baru awal dari perjalanan menuju Bandung.

Bersambung…..

Advertisements

42 thoughts on “Jelajah Bandung: Mabuk Kendaraan

  1. Johanes Anggoro

    Aku juga bukan tipe orang yg mabukan kalo naik bis ato kendaraan lainnya mas. Tapi ya itu, kalo lagi gak fit bisa2 mabuk pusing mual.
    Posisi duduk juga berpengaruh sepertinya. Aku suka duduk di bangku paling belakang, byk yg bilang posisi ini paling ga enak.
    Tp mnrtku malah bangku belakang itu pandangannya luas, sehingga bis meminimalisir mual atopun pusing.
    Nah beda kalo duduknya di barisan tengah, mnrtku malah gampang pusing. Kalo di depan paling depan sekalian. Kalo belakang, ya paling belakang sekalian πŸ˜€

    Like

    Reply
    1. Hendi Setiyanto Post author

      seumur-umur sih aku juga belum pernah sampai muntah, paling ya mual sama pusing doang. Setuju, aku juga lebih suka duduk pada bagian belakang, nyaman saja sih menurutku. kalau di depan asyik sih tapi jadi deg2an malah karena lihat jalanan langsung

      Like

      Reply
  2. ghozaliq

    Menurutku jalur di daerah Majenang berlubang dan bergelombang paling parah, begitu masuk Kota Banjar kok terasa beda aspalnya. Ya juga karena supirnya yang berasa suting FasFarius mungkin, awkakwa

    Mungkin kalau badan pegal setelah perjalanan pulang oke lah, tinggal ngasur di rumah. Lha kalau ini gimana ceritanya, perjalanan berangkat sudah pegel linu, mungkin kudu nyetock jamu tolak linu ya, apa karena badan sudah tua ya Mas? jadi dibawa jauh dikit sudah ngilu…akwakwkaw *mlayu ah…

    Like

    Reply
    1. Hendi Setiyanto Post author

      pas banget…nggilani juga sih, dari Banjarnegara jalannya sudah aduhai, eh sampai perbatasan jateng-jabar juga lebih aduhai mana berlika-liku hahaha. Ini yang bikin ga bisa tidur, lha pas nikung berasa bis mau rubuh gitu hahaha. padahal aku juga sudah nyetok obat-obatan tapi ya mau gimana lagi, renta wkwkwk

      Like

      Reply
  3. bungananda

    Kalau tipe yang Morning Person kayak kamu itu biasanya paling bahaya kalau buat travelling, Mas. Ha ha ha ha …. Aku dulu pernah waktu di lihat Sunrise di Borobudur, subuh-subuh udah sampai puncak, tiba-tiba perut juga bergejolak. Alamak, alhasil nahan di depannya patung Budha, sambil berharap rasanya segera hilang.
    BTW, enjoy Bandung. Ditunggu pos berikutnya.

    Like

    Reply
    1. Hendi Setiyanto Post author

      yesss ada kembarannya hahahaha, iya nih aku kalau pergi2 selalu was-was saat pagi hari karena kudu wajib. pernah pas naik gunung, ya terpaksa bangun pagi2 banget biar ga ketauan teman2, hahahaha duh ninggalin jejak di gunung

      Liked by 1 person

      Reply
  4. Gallant Tsany Abdillah

    Bisnya dicarter ya?
    Kalo aku bergantung kondisi bis sama kondisi tubuh. Kalo bisnya yang bumel, tanpa AC, sopir ugal ugalan, mau se-fit apapun badan biasanya tetep pusing. apalagi kalo cuaca lagi panas, siang hari, tubuh nggak fit. ah nggak selamet deh sampe tujuan langsung muntah hahahaha.

    tapi sejauh ini naik bis besar gitu aman aman aja kalo aku πŸ˜€

    Like

    Reply
    1. Hendi Setiyanto Post author

      iya karena ini perginya rombongan ya carter gitu. setuju sih, kombinasi berbagai macam problem tadi kadang bikin pusing, tapi seumur2 ya belum pernah sampai muntah, eh tpi kata orang kalau sudah muntah malah bikin plong.
      untungnya kemarin berkunjung ke kota dengan hawa sejuk jadi ya ga panas2 banget malah nyampai Bandung gerimis hehehee

      Liked by 1 person

      Reply
  5. wisnutri

    ngga enaknya pergi liburan pas longweekend seperti ini, jalanan penuh-pom bensin penuh-toilet penuh-tapi hati tetep aja kosong *lah, malah baper* hehe

    saya juga tipe orang yg suka duduk dikursi belakang kalau naik bus mas. posisi kursinya kan lebih tinggi dari yang lain, jadi bisa bebas liat view jalanan. mau tengok kanan-kiri-atas-bawah bisa-bisa aja, bebasss! tapi ya itu, kudu tahan sama goncangan ban kendaraan kalau lewat jalanan yg bergelombang

    Liked by 1 person

    Reply
    1. Hendi Setiyanto Post author

      hooh mau gimana lagi, bisa pergi2nya kalau pas libur gitu yang notabene klop dengan orang2 yang juga ingin liburan.
      Kemarin karena rame2 sih seneng2 saja, ga usah baper, aplagi lihat orang2 yang bergandeng tangan gitu hahaha.
      Di belakang bebas walau kadang dijadikan tempat penitipan barang2 pas pulangnya hehehe

      Like

      Reply
  6. abesagara

    Hyahahaha, dasar mabokan, kue betewe sepanjang perjalanan muter dangdut panturaan ora mas? Biasane supir bis kulon mesti kudu goyang panturaan nek nyupir, wkwk.

    Like

    Reply
  7. rynari

    Penghuni Dieng cantik jalan2 ke Lembang ya Mas. Rest terminal grafika ramah pengunjung jadi jujugan perjalanan ke Lembang-Tangkuban Perahu. Mat lanjalan..

    Like

    Reply
    1. Hendi Setiyanto Post author

      rata2 orang pernah mengalaminya, dulu waktu masih kecil mah kuat, akhir2 ini saja kadang bikin pusing (malu2in) cuma ya sebatas pusing saja tanpa muntah2 hahaha

      Like

      Reply
  8. Evi

    Kebayang Bagaimana tersiksa nya di atas bus, yang sopirnya ugal-ugalan sementara jalannya juga jelek dan berkelok. Kalau saya pasti sudah muntah πŸ™‚

    Like

    Reply
  9. Desfortin

    Wah, saya sangat mengerti gimna rasanya naik kendaraan sprti itu mas, supir yg relatif ugal-ugalan, jln yg kurang bagus, mabok kndraan, pas mau buang hajat dg situasi demikian, saya pernah nglmi itu semua, what such a bad experience…

    Apapun yg dialami, itulah suka duka alias resiko seorang traveller wisata. Soalnya pd akhirnya akan terbyarkan oleh indahnya destinasi, ya gak seh?

    Like

    Reply
    1. Hendi Setiyanto Post author

      itu semacam teman yang mau tidak mau harus ikut dalam setiap perjalanan hahaha. ke depannya walau mungkin saja bisa mengalami hal yang sama, setidaknya harus sedia obat-obatan anti mula dan sebagainya, tapi untuk nahan BAB kayae susah hahaha

      Liked by 1 person

      Reply
  10. Fanny F Nila

    Waaah asyiknya ke bandung… Ga mampir jakarta jg mas :)?

    Aku sbnrnya ga bisa jg naik bus.. Baru kalo terpaksaaaaa bgt , bakal naik.. Tp selagi msh bisa naik kendaraan lain, aku lbh milih itu.. Krn aku jg mabokan mas.. Apalagi kalo busnya jorok, supir ugal2an.. Ya ampuun nyerah lah.. Mnding sewa mobil ato naik mobil sendiri πŸ˜€

    Like

    Reply
    1. Hendi Setiyanto Post author

      kebetulan itu di bandung jg cuma bentar doang, karena hari berikutnya harus masuk kerja gitu. penginnya ke jakarta pas opening ceremony asian games 2018, dah jadi impian gitu kan jarang2 asian games ada di Indonesia

      Like

      Reply
  11. Pingback: Jelajah Bandung: Selamat Pagi Lembang!! – NDAYENG

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s