Mendemnya Kampung Krajan

“kakang-kakang pada plesir maring ngendi, ya-yi, tuku dawet, dawete Banjarnegara, seger anyes legi, apa iya, dawet ayu, dawete Banjarnegara”

Sayup-sayup suara lengkingan sinden yang sedang nggelelo, memecah kesunyian siang ini di Kampung Krajan, Karangsari.

Pada pelataran rumah yang masih berupa tanah kering serta berkerikil, terlihat patok-patok dari bilah-bilah bambu yang dibuat sedemikian rupa sebagai pagar pembatas darurat.

Sebuah kandang memanjang bekas kambing-kambing tinggal, kini sudah terpasangi payon yang terbuat dari deklit berwarna biru cerah. Sebuah panggung sederhana dari papan-papan kayu yang ditata sedemikian rupa kini sudah tertata dengan cantik. Di atasnya sudah terdapat seperangkat gamelan khas berupa kendang, kenong, kempul, seperangkat angklung dan tiga buah gong berukuran kecil yang satu persatu sedang dites suaranya.

Terdapat sebuah meja kayu lapuk dengan masing-masing di atasnya berisi sesaji berupa kembang, kelapa muda, empat gelas kopi hitam pekat dengan jigurnya serta sepasang boled yang masih berlumuran tanah.

Beberapa menit kemudian, seorang dukun laki-laki yang berpakaian bak jawara jawa serba hitam serta memakai ubed kepala bermotif batik-membawa sebuah benda hitam panjang. Belakangan saya baru tahu kalau benda yang dimaksud tadi adalah sebuah pecut. Pecut tadi semacam benda wajib yang selalu dijampi-jampi terlebih dahulu sebelum benda-benda lainnya.

Sang dukun tadi sebentar kemudian membacakan mantra-mantra yang keluar dari mulutnya dan terlihat berkomat-kamit. Sesaat kemudian, pecut tadi dilemparkan ke atas genteng, entah apa maksudnya mengapa demikian?

Ritual berikutnya adalah yang paling penting dan pokok dalam sebuah pertunjukan seni ebeg atau kuda kepang yaitu menyiapkan seperangkat ebeg yang terbuat dari anyaman bambu dan dibuat sedemikian rupa. Ebeg-ebeg tadi ditata sedemikian rupa, saling dijajarkan satu sama lain hingga mereka menjadi kokoh seperti sedang berdiri. Tidak lupa, mantra-mantra pun kembali dibacakan dari mulut sang dukun.

***

Satu persatu, warga kampung telah memenuhi halaman rumah yang siang ini mendapat hajat. Tua-muda, lelaki-perempuan antusias berduyun-duyun duduk manis melingkari halaman yang sebenarnya tidak terlalu luas.

Saya makin antusias melihat pemandang tadi yang sejatinya sudah sangat jarang dilakukan di kampung ini. Terhitung sudah puluhan tahun berlalu saat terakhir kali kampung ini menggelar hajat seperti ini.

Satu yang membuat pentas siang ini menarik perhatian warga kampung. Semua pemain ebeg yang akan tampil adalah para remaja lelaki usia SMP. Sangat mengejutkan banyak orang karena para remaja tadi masih sudi melakoni seni tradisi yang sudah lama vakum di kampung Krajan ini. Mereka terlihat menarik dengan riasan wajah aneka warna yang membuat muka para remaja tadi terlihat garang dan dewasa. Riasan wajah tadi dilengkapi dengan kostum aneka warna dengan manik-manik yang menghiasinya.

ebeg tengah

pertunjukan babak pertama

Kini satu persatu para pemain berbaris rapi memasuki halaman yang saat ini dijadikan panggung utama milik warga kampung.

“manjuh pada neseg” ucap sang dukun memberi aba-aba kepada para pemain ebeg.

“kie pan langsung dimulai bae?” sahut pemain kendang yang tengah bersiap-siap menabuh alat musik yang kini disandingnya.

“iya langsung bae, demulai” jawab sang dukun dengan mantap.

Alunan berbagai macam alat musik tradisional yang ditabuh para pemain, kini menjadi sebuah harmoni yang nyaman untuk didengar oleh telinga masing-masing penonton. Tak lupa suara khas sinden yang melengking dengan kata-kata dalam bahasa ngapak Banyumasan, menambah warna pertunjukan siang ini.

Kini para pemain ebeg telah menunggang kuda-kudanya dan berjalan perlahan memutari seisi halaman yang dijadikan panggung. Semakin lama ritmenya semakin cepat dan diikuti dengan gerak langkah yang semakin cepat pula. Beberapa menit kemudian, suasana menjadi kontras, kini alunan gamelan menjadi pelan dan formasi tarian telah berubah dengan berbaris rapi menjadi tiga bagian. Lenggak lenggok kepala dan mata disertai tangan satu memegang ebeg dan tangan lainnya memainkan sangkur menjadi pemandangan yang khas. Hingga beberapa menit kemudian para pemain ebeg satu persatu meninggalkan panggung dan kembali ke belakang para niyaga.

Tenang, ini belum berakhir. Ini adalah permulaan babak pertama.

Para penabuh gamelan pun beristirahat sambil sesekali tangannya memegang lintingan rokok kretek yang terus mengepul satu sama lainnya. Pada sela-selanya, suara seruput kopi hitam dari gelas yang diteguk bergantian dengan kepulan asap rokok.

Anak-anak yang menonton pun tidak mau kalah, mereka merengek minta uang kepada orang tua mereka untuk kemudian dibelikan sekantong kecil plastik berukuran seperempat kilo yang telah terisi beberapa buah cilok dengan saus pedasnya.

Saya hanya bisa menyaksikannya dari balik pohon rambutan yang meneduhi halaman rumah ini, suasana siang itu yang terasa asing.

***

Permainan pun dilanjutkan. Kini irama dan gerak langkah para penari semakin cepat semakin kaku, semakin bertenaga diikuti dengan ekspresi wajah yang makin terlihat garang.  Semakin cepat, semakin para penari terlihat menikmati alunan nada serta tetabuhan gamelan yang juga sama ritmenya.

Satu persatu, para pemain berteriak melengking dan matanya mendelik, tubuhnya kini kaku dan posisi tubuhnya berlutut seakan hendak menerkam siapapun yang ada di depannya. Inilah tanda atau permulaan para pemain mulai kesurupan. Riuh tepuk tangan dan teriakan para penonton seakan menjadi penyemangat.

Meja kayu yang tadi telah rapi dengan aneka sesaji kini satu persatu berantakan dan isinya kini berceceran. Ada yang langsung memakan boled mentah dengan ganasnya seakan sedang memakan jagung bakar. Ada yang langsung menyambar segelas kopi hitam pekat dan membuat mulutnya menjadi hitam tak karuan. Ada yang dengan beringas, menggigit kelapa hijau dan mengupasnya dengan gigi-gigi mereka. Linu rasanya melihat mereka melakukan demikian, namun inilah menariknya dari pertunjukan ebeg ini.

mendem

saat para pemain sudah tidak sadarkan diri

Para pemain gamelan dan sinden tidak serta merta berhenti bersenandung. Mereka menjadi latar utama dan penambah menariknya pertunjukan ebeg ini. Sang dukun pun tidak mau kalah, dengan pecutnya, ia memecut dengan keras para pemain ebeg yang tengah kesurupan. Semakin keras dan cepat ia memecut, maka semakin beringas pula para pemain ebeg ini.

Kini lingkaran manusia yang mengelilingi halaman ini semakin menciut karena saking antusiasnya. Beberapa penonton yang berada di depan secara sadar langsung duduk di atas tanah kering tanpa peduli celana mereka kotor. Saya yang beberapa menit lalu masih leluasa berdiri, kini semakin terdesak oleh antusiasme para penonton.

Berjam-jam para pemain ebeg ini mendem dan tak sadarkan diri tanpa terlihat kelelahan. Malah saya yang menontonnya kini semakin capek dan pegal karena beberapa jam berdiri.

Hari makin gelap, langit di ujung barat kampung terlihat semburat oranye-menandakan waktu sande kala makin dekat. Sang dukun pun kini mendapatkan gilirannya untuk menyadarkan para pemain ebeg ini kembali ke kondisi normal. Satu persatu pemain ebeg di pegang kepalanya sambil dibacakan mantra-mantra, sesaat kemudian mereka mengerang dan tubuhnya kaku hingga sadar kembali seperti sedia kala.

Saya mengakhirinya dengan tersenyum walau badan letih. Tenang pertunjukan ini belum selesai, nanti malam masih ada kelanjutan pertunjukan ebeg, lengger, dan wayang kulit. Kampung Krajan ini benar-benar punya hajat besar selama sehari semalam.

Advertisements

32 thoughts on “Mendemnya Kampung Krajan

  1. Desfortin

    Kesenian ebeg ini sama dg kuda lumping gtu ya mas? Kuda lumping sih waktu msh sya SMP dulu sring nonton.

    Menarik ya, pemain/pnarinya rmja2 SMP, hebat mreka rela dibuat kesurupan, hee…

    Nonton kuda lumping sya kdang ngrasa takut, aplg pd sesi mkan beling, hii…

    Like

    Reply
      1. Yasir Yafiat

        Nah caranya, sering-sering ngadain event kayak gitu biar mereka merasa bahwa masih ada yang peduli dengan kesenian tersebut. Tugasnya dinas nih untuk membantu melestarikan.

        Like

  2. bersapedahan

    hampir sama dengan kuda lumping, tapi ada beberapa perbedaan dan ke khas-annya
    kuda lumping daerah jabar sih pake di pecut pecut dan makan beling …

    Like

    Reply
    1. Hendi Setiyanto Post author

      setahuku, ebeg di kampungku sudah jarang yang pada makan beling, seram juga kalau lihat remaja2 tadi makan beling, bahaya….
      kalau dulu sih pas zaman kecil masih melihat yang pada makan beling tapi rata2 yang memainkan ya orang2 dewasa

      Like

      Reply
    1. Hendi Setiyanto Post author

      setahuku belum ada ebeg yang minta dawet saat mendem wkwkwk, Banjar Banjir Dawet nanti bulan Agustus 2017, sekalian Parak Iwak di sungai Serayu, DCF, dlll
      Ga, tergantung orang mau nanggap kapan

      Like

      Reply
  3. rynari

    Postingan ini mengingatkan pertunjukan jaran kepang sekian dasa warsa silam saat saya tinggal di Banjarnegara. Saat pemain ‘ndadi’ waduh perut ikutan terasa kram. Regenerasi ya yg main para teruna remaja.

    Liked by 1 person

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s