Saat Kopi Kretegan Pertama Kali Dipanen

“Kalau tau mau pulang cepat, tadi mending nunggu saja daripada harus naik ojek bolak-balik” Sambut ibu saat saya baru pulang kerja dengan muka sedikit cemberut.

“Memang habis darimana, bu?” Jawab saya sambil kaget.

Oalah le..le.ee.. “Tadi sama bapak, habis memetik kopi yang kata tetangga sudah ada yang matang”

Lagi-lagi saya pun masih kaget!!. “Kopi?, emang kita punya kebun kopi ya bu?”

“Makanya, kamu sekali-kali maen ke kebun, jangan cuma NDAYENG ke curug terus!!!” Kali ini ibu menjawab sambil berlalu menuju dapur rumah.

Belum sejenak istirahat dan berganti baju, sore itu saya langsung penasaran dengan apa yang tadi dibicarakan oleh ibu. Jadi ceritanya seharian ini, bapak dan ibu sehabis memanen kopi dari kebun yang jaraknya lumayan jauh dari rumah. Mereka berjalan kaki dengan memanggul dua kantong bekas beras penuh dengan kopi yang baru saja dipetiknya.

Kopi Dikupas

Biji kopi Kretegan yang telah dikupas

Saya yang sedari tadi masih belum ngeh, kini dibuat semakin penasaran karena setahu saya, bapak tidak punya kebun yang khusus ditanami tanaman kopi, ini alibi saya pribadi. Ternyata salah. Salah satu kebun milik bapak yang berada di desa tetangga dengan kontur tanahnya yang berlereng-lereng ternyata sudah dua tahun lebih ditanami tanaman kopi.

Kopi Daun Hijau

Tanaman kopi di kebun Kretegan

Saya kaget karena sore ini ternyata sudah menghasilkan kopi setidaknya dua kantong beras dan sudah teronggok di beranda rumah.

Lha kopinya dimana sih, pak?” Saya masih penasaran. Sudah saya cari di sekeliling rumah hingga ke bagian belakang rumah dan tidak menemukan keberadaan kopi yang baru saja dipanen tadi.

“Lha itu yang ada di beranda rumah!” Jawab bapak.

“Oohhh itu tho yang di dalam kantong beras, tak kira itu apa”

Langsung dengan sigap, kedua kantong beras yang berisi kopi tadi saya bawa ke belakang rumah.

Entah ada angin apa, kini saya tertarik dengan dunia perkopian. Setidaknya ini cukup beralasan semenjak beberapa minggu yang lalu, saya mendapatkan kesempatan mengikuti sesi perkenalan berbagai macam kopi dan dengan seksama mendengarkan penjelasan langsung oleh pakarnya. Selain itu, berkat kenal dengan Jujun dan Wedwi yang notabene seorang penggemar kopi, kini saya sedikit tertarik mengenal lebih dekat sosok kopi.

Tampah berukuran kecil, sedang dan besar yang lama teronggok di atap perapian atau “Para” dalam bahasa Jawa, saya ambil untuk kemudian dijadikan sebagai wadah untuk menggelar kopi yang baru saja dipetik.

Saya makin antusias saja melihat penampilan kopi yang baru saja dipetik. Ada yang berwarna merah tua, muda hingga hijau. Ukurannya rata-rata sedang alias tidak besar dan juga kecil.

Awalnya saya mengira biasa-biasa saja dan tidak ada yang salah saat memanen kopi dengan cara begini. Yaitu dengan memetik semua kopi, baik yang sudah matang ataupun belum.

Kenapa saya berkeyakinan seperti ini?

Bapak pun pernah berkata jika kopi yang dipanen hanya dipilih yang masih matang, ternyata membuat proses berbunga tanaman kopi berikutnya menjadi tidak teratur alias tidak bersamaan. Hingga tahun 2017 ini saya masih mempercayainya, bahkan rata-rata penduduk di kampung yang punya tanaman kopi, melakukannya demikian.

Kopi Daun Muda

Tanaman kopi di kebun Kretegan

Rasa penasaran dan ingin pamer pun timbul. Handphone yang tergeletak di atas meja, langsung saya raih untuk kemudian memotret kopi yang baru saja dipetik dan langsung diposting di akun Instagram.

“Sebagai anak petani, ku merasa gagal”

“Baru ngeh kalau bapak punya kebun luas yang khusus ditanami tanaman kopi”

“Ini baru hasil panen hari ini dan masih tersisa lumayan banyak di kebun, kata bapak”

“Untuk jenis kopi apa, aku kurang paham. Yang aku tahu, bapak menanamnya belum lama dan sudah bisa dipanen”.

Notifikasi Like pun langsung berdatangan. Beberapa yang melihat postingan tadi pun langsung berkomentar, salah satunya oleh akun IpongDjembe, seorang pecinta kopi asal Banjarnegara.

“Duh, ijo-ijone melu dipanen!” komen mas Ipong.

“Kudune sing abang-abang thok ya? Heheheh balas saya sambil merasa malu.

Belakangan saya baru sadar jika memetik kopi seharusnya dipilih yang sudah matang dan berwarna merah saja. Komentar lain pun berdatangan dengan nada yang sama. Antara malu dan bersyukur karena sudah diberitahu pun bercampur aduk.

Hingga ada salah satu pemilik akun Instagram yang makin penasaran karena saat itu mengirim pesan langsung di akun Instagram yang isinya kurang lebih, ingin mengetahui dimana lokasi kebunnya, tanamannya jumlahnya berapa dan disuruh difoto, beliau juga bercerita kalau beberapa hari yang lalu baru saja memanen kopi di kebunnya yang berada di daerah Bawang-Banjarnegara.

Rasa antusias karena hasil panen sore ini berlanjut. Hingga menjelang malam, saya berinisiatif untuk memilah kopi yang sudah matang dengan yang masih mentah dalam “Tampah”.

Bapak dan ibu pun bertanya. “Buat apa dipilah begitu?”

Lha ini cara panen yang benar, pak, bu. Dipilih yang mateng saja dan yang masih hijau jangan ikut dipetik” Jawab saya sambil berlagak menjelaskan bak seorang ahli kopi.

“Memang kamu tahu dari mana, lhe?” Tanya bapak yang masih merasa belum puas atas jawaban saya tadi.

“Tadi ada yang ngasih tahu di Instagram, pak” Padahal dalam hati saya ngikik, mana tahu bapak tentang apa itu Instagram?.

Kini bapak sedikit ngeh, mungkin saja. “Oh..gitu…”

Dari dua “Tampah” besar berisi kopi, hanya seperempatnya saja yang sudah matang. Saya pun masih bingung mau diapakan kopi-kopi yang sudah matang ini. Pengetahuan saya masih cetek dan beberapa kali mencari info langsung di youtube mengenai cara memproses kopi yang baru saja dipanen.

Oh ya, Kopi-kopi tadi dipanen di kebun bernama “Kretegan” jadi boleh dong kalau saya menyebut kopi-kopi ini sebagai “Kopi Kretegan”? Siapa tahu suatu saat kopi-kopi dari kebun milik sendiri ini bisa dikenal, digemari oleh masyarakat luas dan bisa mengangkat potensi lokal di kampung.

Advertisements

27 thoughts on “Saat Kopi Kretegan Pertama Kali Dipanen

  1. Halim Santoso

    Sayang memang yang ijo sudah dipetik, tapi kata temanku yang tinggal di desa Jawa Timur mereka juga terbiasa memetik seperti itu. Harga jual menentukan. Bagus kalau orangtua Hendi yang baru menanam dua tahun bisa memahami apa yang dirimu jelaskan berdasarkan komentar dari IG. Tahap pengeringan biji dan penyangraian pun akan mempengaruhi rasa dari gilingan biji kopi kelak. Jadi ayo belajar tentang kopi biar hasil panen berikutnya bisa diperkenalkan ke luar Banjarnegara. 😉

    Liked by 1 person

    Reply
    1. Hendi Setiyanto Post author

      rata2 petani tradisional ya begitu cara metiknya. jika ada yang sudah matang, makan sebagian besar kopi juga ikut dipanen. kata bapak sih biar pas nanti berbunga bisa seragam alias bersamaan. nah ilmu baru yang aku tau, ternyata tingkat kematangan saat proses memanggang itulah yang bisa bikin rasa kopi bermacam2, setidaknya itu yang baru ku ketahui.

      Liked by 1 person

      Reply
  2. Johanes Anggoro

    Waaah coba dikembangkan mas lumayan tuh sekali panen dpt 2 karung.
    Sambil belajar juga dr proses penanaman hingga tersaji dalam cangkir kopi.
    Kamu kayaknya juga berbakat jd pegusaha kopi hehehe

    Liked by 1 person

    Reply
    1. Hendi Setiyanto Post author

      iya ini baru panen pertama kali, awalnya aku kira tanamannya bagus2 dan terawat, lah pas tak datengin malah banyak yang pada kering. Maklum jarang dirawat juga sebenarnya. Hahaha tapi sampai detik ini aku belum suka minum kopi, apa boleh?

      Like

      Reply
      1. Hendi Setiyanto Post author

        kadang aneh yo, kalau diajak maen ke kebun orang yang misal ada embel2 wana wisata pasti semangat tapi kalau ke kebun sendiri kok beda ya? hahaaha

        Like

    1. Hendi Setiyanto Post author

      hahaha inilah ironisnya (nasehatin diri sendiri) aku hampir ga pernah main ke kebun sendiri, padahal tinggal di desa.
      Dijual kok, tapi dikeringkan terlebih dahulu. Harganya, kurang tau hahaha

      Liked by 1 person

      Reply
  3. prih

    Selamat panen kopi perdana Mas Hendi. pasti langsung googling ngelmu kebun kopi biar mendatangkan kemakmuran optimal.

    Like

    Reply
  4. bersapedahan

    kopi sekarang lagi naik daun … kopi Indonesia banyak yang enak2 lho, bahkan juara satu dunia kopi 2017 berasal dari Indonesia, kopi gunung Puntang Jawa Barat.
    kayaknya sekarang sat yang tepat menanam kopi .. mumpung trend pasarnya naik.
    Penasaran sama kopi Kretegan … pasarkan aja lewat instagram .. bantu bapak-e .. hehe

    Like

    Reply
    1. Hendi Setiyanto Post author

      untuk menghasilkan biji kopi berkualitas setidaknya butuh perawatan ekstra, sedangkan kemarin, tanaman kopi dibiarkan ala kadarnya. tak heran jika hasilnya kurang memuaskan.
      hooh di Banjarnegara pun lagi rame2nya kafe2 serta kopi-kopi dari tiap desa yang mempunyai rasa khas dan berita baiknya, anak2 mudalah yang lagi getol2nya mengeksplor

      Like

      Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s