Obrolan Melintas Waktu Dari Sebuah Warung Pecel

Perjalanan mengajarkan bukan seberapa jauh kamu melangkah namun seberapa berkualitas inti dari sebuah perjalanan itu sendiri.

Kurang lebih saya bisa menyimpulkan demikian adanya.

Sebuah gubuk sederhana dengan dua buah pintu pada sisi kanan dan kiri serta sebuah jendela semata wayang mengapitnya di tengah, terlihat masih menunjukan aktivitas sore itu. Mungkin inilah satu-satunya warung yang buka paling gasik di pasar ini.

Dengan penerangan lampu pijar seadanya dan kedua buah pintu yang hanya ditutup selembar tipis kain gorden jadul, warung ini malah terlihat ramah dan menanti orang-orang yang hendak singgah.

warung pecel

Pasar Manis, sebuah lokasi favorit penduduk kelas menengah ke bawah untuk bersosialisasi yang jaraknya kurang dari dua kilometer jauhnya dari rumah. Di sinilah terdapat sebuah warung pecel yang mulai buka sebelum hari Pasaran Manis tiba, tiap lima hari sekali.


Baca juga, Ke Pasar Rakyat Sukatani Yang BerSNI.


Bukan karena menunya yang istimewa, tempatnya yang mewah, maupun pemiliknya yang rupawan. Warung ini menawarkan sebuah pengalaman sederhana yang justru saat ini orang jarang melakukannya, bersosialisasi langsung dengan cara berbagi cerita satu sama lainnya.

Sore itu, sama seperti kebiasaan saya tiap hari pasaran tiba, saya kembali lagi ke tempat ini. Dari kejauhan sudah terdengar obrolan dan tercium kepulan asap rokok lintingan khas pedesaan yang baunya begitu khas.

Seorang kakek-kakek tengah duduk santai dengan satu kakinya diletakan di atas sebuah bangku kayu sederhana, sementara tangan satunya tengah asik memegang lintingan rokok kretek yang terus mengepulkan asap hingga memenuhi seisi ruangan sempit ini.

Di depan meja yang tertutup taplak dari bekas spanduk reklame sebuah rokok, terlihat seorang perempuan berambut ikal yang tengah mendengarkan dengan seksama cerita dari si kakek tadi.

Dapursempit

Sementara itu perempuan berkulit legam dengan  rambut panjangnya yang disanggul ala kadarnya dan tengah menghadap sebuah tungku “pawon” itu adalah pemilik warung ini. Ibu Pingah nama perempuan pemilik warung pecel yang masih mencoba bertahan di tengah euforia berbagai jenis warung makan baru di desa ini.

Bu-Pingah

“Asalamualaikum” sela saya saat memasuki warung pecel ini yang tengah ramai dengan obrolan ketiga orang di dalamnya.

Dari balik meja sudah  tersungging senyum manis Ibu Pingah yang sudah hafal betul dengan kedatangan saya sore itu.

“Sugeng sonten, mas” -Selamat sore, mas. Jawab Ibu Pingah dengan muka sumringah.

Kali ini saya tidak langsung memesan seporsi pecel dengan gorengan tempe favorit. Saya masih mendengarkan obrolan ketiga orang tadi yang sempat terhenti dan kini berlanjut.

Tempe-Mendoan

“Ah ini yang selalu saya suka dari tempat ini”  Sahut saya dalam hati.

Saya pun memberanikan diri menyapa kakek dan perempuan yang tengah seru-serunya berbincang.

“Sugeng sonten” -selamat sore yang langsung dibalas dengan senyum dan lontaran pertanyaan.

“Sering mengeneh, mas ?” -Sering ke sini, mas?” tanya sang kakek.

“Wah, meh unggal minggu teng mriki, kek” -Wah, hampir tiap minggu ke sini. Jawab saya dengan melempar senyum kembali.

Kakek tadi bernama Wiarjo, pemilik warung Ibu Pingah dan perempuan satunya adalah cucunya, Maryati. Ketiganya merupakan satu saudara tiga generasi, kakek, anak dan cucu.

Ibu Pingah yang dari tadi sibuk membolak-balik isi wajan penggorengan berupa gorengan ketan dan tempe mendoan serta sesekali menambah kayu bakar ke dalam mulut tungku kayu bakarnya pun ikutan nimbrung menimpali dalam bahasa ngapak Banjarnegara.

Pawonkayu

“Kie li anake pak Nur Kardi, putune allmarhum kaki Mahwari, Pejongkengan”-Ini anaknya pak Nur Kardi, cucu dari almarhum Kakek Mahwari, Pejongkengan.

Kini setelah tahu jika saya adalah cucu dari almarhum Kakeh Mahwari, rasa antusiasnya pun makin menjadi. Setidaknya saya bisa tahu dari cara duduknya yang kini berubah dari posisi santai ke posisi sejajar dengan bahu tegap. Matanya pun kini berbinar dan kepulan asap rokoknya kian meredup.

Pandangannya kini beralih pada langit-langit warung yang penuh bekas jelaga legam dan sarang laba-laba. Waktu seakan hendak mundur beberapa puluh tahun ke belakang dan saya pun ikut merasakannya.

“Gemien, kaki-mu karo aku kue, kancanan. Jaman gemien esih sering latian “terbangan” bareng giliran meng umah-umah”.-Dulu, kakekmu dan aku, berteman. Jaman dulu masih sering latihan “terbangan” (rebana) bersama secara bergilir ke rumah-rumah.

Kakek Wiarjo seakan tengah mengenang masa-masa manis saat masih muda dulu dan senyum tanda kebahagiaan tersungging manis dari bibir keriput dan legam.

“Ooo, brarti mbiyen, kakek Wiarjo niku kancane kakine kulo?” -Jadi, dulu kakek Wiarjo itu teman dari kakek-ku?. Tanya saya dengan penuh rasa antusias yang begitu besar.

“Iya, kancanan. Gemien jamanku esih akeh kanca sebayan sing ndue kesenangan pada, tapi siki wis pada ra ana” -Iya, dulu berteman.Dulu jamanku masih banyak teman sebaya yang punya hobi sama, tapi sekarang sudah tidak ada.

Memang, untuk seumuran orang saat ini, kakek Wiarjo boleh dibilang mempunyai umur yang panjang. Beliau kini berumur hampir 90 tahun, sementara rata-rata umur orang saat sekarang ini mencapai 65 tahun.

Beliau pun bercerita mengenai pengalaman hidupnya saat jaman masih muda dulu. Pernah beberapa waktu mendapat tawaran pekerjaan di kota Kembang, Bandung namun kedua orang tuanya tidak mengijinkan anaknya merantau terlalu jauh dan berharap bekerja di kampung saja. Hingga takdir yang menggariskannya untuk berjodoh dan tinggal di kampung sendiri hingga tua dengan perempuan satu kampung yang beberapa minggu lalu meninggalkannya untuk selama-lamanya.

Tergurat raut muka sedih dari balik senyumannya yang menandakan rasa kehilangan yang teramat sangat karena ditinggal belahan jiwanya hingga benar-benar maut yang memisahkannya.

Waktu seakan mengingatkan saya saat beberapa tahun yang lalu ketika memulai perjalanan pertama seorang diri, jauh dari rumah menuju Jakarta untuk mengadu nasib mencari pekerjaan.

Sebuah perjalanan pertama kalinya ke ibukota.

Perjalanan yang mengajarkan arti sebenarnya dari sebuah perjalanan hidup.

Perjalanan pertama selepas lulus sekolah menengah kejuruan.

Perjalanan dalam rangka mencari pengalaman kerja yang bertahan hanya tiga bulan saja dan kembali lagi ke kampung halaman.

Sebenarnya obrolan dengan kakek Wiarjo, ibu Pingah dan ibu Maryati masih panjang, namun saat hari makin gelap dan terdengar samar-samar suara panggilan adzan, membuat saya buru-buru meminta dibungkuskan saja seporsi pecel dan beberapa gorengan tempe mendoan yang masih mengepul dan mengurungkan diri untuk menyantapnya langsung di sini.

Dengan cukup membayar selembar uang lima ribuan, sore itu saya mengakhiri sebuah pengalaman baru dan makna dari sebuah perjalanan. Bahwa sebuah perjalanan mengajarkan bukan seberapa jauh kamu melangkah namun seberapa berkualitas inti dari sebuah perjalanan itu sendiri. Sebuah obrolan sederhana namun sarat makna dari dalam warung pecel di tengah Pasar Manis Punggelan-Banjarnegara.

Advertisements

38 thoughts on “Obrolan Melintas Waktu Dari Sebuah Warung Pecel

  1. Desfortin

    Oo … warung pecel nya warung tradisional mas ya. Hebat masih bertahan di tengah persaingan warung modern ya.

    Obrolah kalian juga seru kedengarannya, apalagi kalau mengenang atau mengetahui sebuah fakta dimasa lalu. Sambil ditemani makanan/minuman, obrolan pun terasa asyik.

    Liked by 1 person

    Reply
  2. Johanes Anggoro

    Manis itu pasaran Legi bukan mas? Memang daerah banyumasan nyebutnya Manis ya? Wah baru tau hehehe
    Kadang memang ngobrol dg org yg jauh lebih tua itu menyenangkan, melihat mereka mengenang masa mudanya dulu.

    Liked by 1 person

    Reply
      1. Hendi Setiyanto Post author

        ya betul, kadang “cerita” itulah yang menjadi daya tarik tersendiri. Ya mungkin sih tempatnya ga bersih2 amat alias berantakan tapi menurutku memang enak makanannya

        Liked by 1 person

  3. Lucky Caesar

    Bahagiaa baca ceritanyaa mas. Serasa balik ke kampung dan beli nasi pecel disana. Sambil bincang” banyak hal dengan ibu pedagang pecel yg tak lain tetangga sendiri. Hehehe
    Jd rindu rumah 😊

    Liked by 1 person

    Reply
  4. Halim Santoso

    Dari tulisanmu kali ini jadi belajar sedikit bahasa Banyumasan hihihi. Pas baca percakapannya kebayang logat ngapaknya. 😀

    Omong-omong daku penasaran gorengan ketan itu kek gimana, Hen?

    Liked by 2 people

    Reply
    1. Hendi Setiyanto Post author

      mungkin bagi orang yang jarang dengar, akan merasa lucu atau semacamnya, tapi ya faktanya itu cara kami berkomunikasi sehari2 hehehe.
      Ketan itu ya dari beras ketan atau kalau orang wetan mungkin nyebutnya Jadah yang dibentuk persegi kemudian digoreng

      Liked by 1 person

      Reply
  5. wening

    Semacam kearifan lokal yo Mas, di deket rumah sini juga ada warung lotek pecel yang ngehits, bangunan juga tua, gak berubah sejak saya kecil. Tapi kalau siang dikit udah gak keduman karena larisnya hehehe..

    Liked by 1 person

    Reply
  6. bersapedahan

    warungnya saja sudah menandakan perjalanan yang panjang dan cerita2 yang terjadi disana.
    warung2 sederhana dan banyak kisah begini .. bagi saya sih jadi tempat yang menarik untuk dikunjungi

    Liked by 1 person

    Reply
      1. Hendi Setiyanto Post author

        biarpun bentuknya berantakan, lokasinya terpencil, bangunannya super sederhana, entah kenapa, ini warung pecel fav kedua se-kecamatan Puggelan menurutku lho ya…

        Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s