Kumpul Blogger di Warung Kopi

Minggu pagi, 26 Maret 2017-Banjarnegara diguyur hujan deras sejak sabtu malam hinggu minggu siang.

Padahal ini hari libur dan sudah saatnya untuk menyegarkan pikiran kembali setelah disibukkan dengan rutinitas harian yang terkadang membuat mood menjadi jelek, ditambah lagi menjelang akhir bulan.

Sebagai seorang yang bisa bepergian saat hari minggu dan tanggal merah saja, saya kadang rindu untuk bisa keluar rumah dan mencari suasana baru. Kebetulan hari ini adalah untukΒ  pertama kalinya para blogger dari pelosok Banjarnegara yang telah lama vacuum mendapatkan kesempatan kembali untuk berkumpul dan mengenal satu sama lainnya.

Dengan inisiatif saya, Idah Ceris, Jujun dan Mas Ganjar, kami sepakat untuk menghidupkan kembali komunitas blogger Banjarnegara yang lama mati suri tanpa ada tanda-tanda keaktifan.

Seminggu sebelumnya, kami telah berunding mengenai teknis acara, tempat hingga hal apa saja yang harus dibahas untuk acara pada hari minggunya. Lokasi pertemuan yang tadinya dilaksanakan di tempat A, B dan C kemudian berubah hingga terpilihlah sebuah restoran bernuansa pedesaan dengan menu andalan berupa ikan air tawar dan juga kopi khas Banjarnegara dari jenis (Arabica dan Robusta).

Culinary Iwak & Kopi Sabin yang terpilih menjadi tempat pertemuan perdana kami.

Rumah Kopi Sabin

Culinary Iwak dan Kopi Sabin Menjelang Maghrib

Dari Punggelan sendiri personil yang hadir adalah saya sendiri, Ela, dan Jujun. Kami sebelumnya benar-benar belum mengenal satu sama lain. Yaelah…, padahal kami satu kecamatan.

Sekitar pukul 12 lebih, kami meluncur menggunakan sepeda motor menuju daerah Gemuruh-Bawang-Banjarnegara.

Rintik-rintik hujan gerimis masih saja berlangsung di sepanjang perjalan kami siang itu, namun tidak menyurutkan langkah kami untuk terus melangkah menuju pertemuan perdana para blogger yang rasa penasaran satu sama lain begitu tinggi.

Saat kami bertiga sampai di lokasi pertemuan, terlihat hanya seorang Lutfie Achmad Fahrezy yang sedang duduk manis seorang diri menunggu teman lain datang, dia datang paling awal dan sesuai janji yaitu tepat pukul 13.00 siang.

Belakangan kami baru tahu kalau dia juga salah satu blogger yang ikut serta dalam acara kumpul-kumpul ini. Kami pikir dia adalah pengunjung resto yang sedang menanti gebetannya untuk makan sambil menghabiskan hari minggu dengan penuh cinta.

Peserta kedua yaitu rombongan M Razin dan Havid yang keduanya sudah saya kenal lumayan lama karena sebelumnya kami pernah berpelesiran bareng saat HUT Kota Banjarnegara tahun lalu.

Berikutnya ada Tri Mei dan Ira yang kali ini baru pertama kali bertemu. Keduanya mengenakan hijab dan terlihat cantik dengan tentunya sedikit malu-malu, kami pun saling berkenalan satu sama lain.

Kemudian rombongan Rasyid, Ian Alam, Febri, Idah Ceris serta beberapa rekan media cetak serta elektronik juga turut hadir duduk satu meja dengan kami guna membahas masa depan dunia perbloggingan di Banjarnegara.

Sesi perkenalan satu persatu dimulai dengan terlebih dahulu dibuka oleh saudara Jujun mengenai tujuan diadakannya pertemuan para blogger Banjarnegara. Dilanjutkan dengan perkenalan satu persatu blogger yang hadir menceritakan awal mulai ngeblog dan kesan setelahnya.

Awalnya kami masih canggung satu sama lainnya, maklum walaupun beberapa orang telah kenal tapi untuk bertatap muka langsung dengan jumlah peserta hampir 15 orang, ini merupakan pertama kalinya bagi kami semua.

Acara demi acara berlangsung mulai dari kesepakatan pembuatan akun media sosial khusus untuk Blogger Banjarnegara, penanggung jawab web blog Banjarnegara hingga kepengurusan dan penanggung jawab masing-masing sosial media resmi blogger Banjarnegara.

Depan Kopi

Blogger Banjarnegara dari pelosok kecamatan berkumpul menjadi satu

Makin ke sini, suasana semakin cair apalagi ditemani menu berupa Ikan Bakar Kecap, Urab Daun Singkong Serta Sambal yang satu persatu mengisi meja panjang tempat para blogger bertemu.

Sama seperti generasi milenial saat ini, kurang afdol rasanya kalau melihat makanan yang sudah tertata cantik tanpa terlebih dahulu mengabadikannya untuk kemudian diposting ke sosial media mereka masing-masing.

Ikan Bakar

Menu Ikan Bakar di Culinary Iwak

Salah satu keistimewaan ikan bakar di sini adalah, ikan yang diambil langsung di kolam-kolam yang tersedia di sisi kanan kiri lokasi resto ini. Selain itu lokasinya di tengah-tengah hamparan sawah nan hijau dengan pemandangan Pegunungan Lawe dari kejauhan.

Walaupun begitu, Culinary Iwak ini sangat mudah dijangkau dengan kendaraan karena biarpun di tengah sawah tapi sebenarnya berada di pinggir jalan raya Banyumas-Banjarnegara-Wonosobo dan sangat mudah ditemukan.

Sore itu satu persatu pengunjung makin ramai saja datang ke sini untuk menikmati hamparan sawah dan juga menu yang telah tersedia. Walaupun sebenarnya ini baru pertemuan perdana tapi kami akhirnya sudah mulai akrab satu sama lain dan tidak canggung seperti beberapa jam tadi.

Pembahasan teknis kepengurusan dan tetek bengeknya telah selesai dan kami sepakat untuk terus memberikan Good News bagi kota Banjarnegara tercinta. Kami ingin orang-orang di luar sana mengenal Banjarnegara jangan hanya karena jalannya yang rusak atau saat bencana tanah longsor melanda, kami ingin dikenal sebagai sebuah kabupaten yang mempunyai banyak potensi alam, hasil bumi hingga sumber daya manusia berupa anak-anak muda yang ingin terus maju demi kota tercinta.

Tunggu dulu…., acara belum selesai.

Mas Danu sebagai peramu di Kopi Sabin Banjarnegara kini mendapat giliran untuk mendemonstrasikan kemampuan dan pengetahuannya tentang bermacam kopi.

Dua buah teko khusus untuk menyeduh kopi telah tersaji di atas meja. Beberapa gelas dan juga gula semut juga sudah tersedia di sampingnya. Kami makin duduk merapat dan suasana kini berganti menjadi serius untuk menyimak detail demi detail mengenai pengetahuan kopi, cara mengolah, beda rasa saat memanggang, cara penanaman dan sebagainya yang dijelaskan runtut oleh mas Dani.

Kopi Demo

Suasana makin cair kala sesi perkenalan Kopi Sabin dimulai

Satu persatu para blogger mengabadikan momen tadi dengan cara merekam suara, memfoto, mencatat hingga mengabadikannya dengan kamera gawai mereka masing-masing.

Saat demo berlangsung, mas Danu menjelaskan dua jenis kopi khas Banjarnegara yang masing-masing tersimpan dalam teko kaca.

Kopi yang pertama adalah jenis kopi Robusta Leksana dari daerah Leksana, Karangkobar yang berada pada ketinggian 1100 mdpl. Untuk proses pasca panen yang paling umum untuk Robusta adalah proses natural, proses pasca panen ketika biji kopi merah langsung dipetik dan dijemur.

Robusta Leksana pasca panen natural tanpa dikupas. Kalau yang dikupas ada full wash dan semi wash, bedanya ada pada fermentasinya, dikupas, dicuci, direndam selama beberapa jam. Untuk yang semi wash hanya dicuci (diciprat-ciprat air) tanpa terlalu bersih dan kemudian dijemur.

Untuk Kopi yang kedua dan sudah berada pada teko yang kecil berisi kopi jenis Arabica dari Kubang-Karangkobar dengan proses pasca panen full wash.

Untuk metode penyeduhan di Kopi Sabin ada beberapa diantaranya adalah:

  • Tubruk, kopi digiling dengan tingkat kehalusan berlainan, membuat rasa beragam.
  • Metode V60, atau metode saring.
  • Metode air press atau ditekan.

Untuk ketinggian tanaman jenis Kopi Arabica Kubang di kebun sekitar 1000 mdpl, Kopi jenis ini mempunyai rasa yang cenderung asam dan rasa pahit yang ringan.

Di Kopi Sabin sendiri menyediakan berbagai jenis kopi yang kesemuanya berasal dari kebun di sekitar Banjarnegara, diantaranya:

Untuk Jenis Robusta

  • Robusta Pletuk yang berada pada daerah Curug Pletuk, Pesangkalan.
  • Robusta Leksana
  • Robusta Kubang

Untuk Jenis Arabica

  • Arabica Babadan
  • Arabica Kasmaran
  • Arabica Ratamba
  • Arabica Kubang

Perbedaan rasa pada kopi juga dipengaruhi oleh ketinggian dan juga kondisi tanaman lain yang di sekitar perkebunan kopi.

Mengapa demikian?

Karena tanaman kopi mempunyai sifat menyerap unsur-unsur mineral dari tanaman dan tanah di sekitar sehingga menciptakan cita rasa yang berbeda pada biji kopi yang dihasilkan.

Bagi saya pribadi yang bukan pecinta kopi, walaupun sudah beberapa kali mencicipi beberapa jenis kopi tanpa gula yang didemonstrasikan oleh Jujun (Pecinta Kopi Banjarnegara), belakangan baru sadar jika rasa kopi sebenarnya tidak hanya dominan rasa pahit.

Ada beberapa jenis kopi yang saat dirasakan saat pertama kali di lidah adalah asam, sedikit pahit, hingga langsung terasa pahit dan berat. Entahlah…belakangan juga saya baru sadar jika menikmati kopi ada yang beranggapan untuk terlebih dahulu tidak menggunakan gula atau pun jika kurang suka, bisa menambahkan gula secukupnya. Memang tidak ada yang salah karena tergantung selera masing-masing orang tentunya.

Dari penjelasan mas Danu (Kopi Sabin), untuk seduhan ideal segelas kecil kopi takarannya adalah 2 sendok teh dan bisa ditambahkan gula semut jika mau. Saya selama ini tahunya kopi tubruk khas pedesaan yang biasanya disajikan oleh penduduk saat kita bertamu ke rumah. Kopi yang masih terlihat ampasnya dan dominan pahit campur manis karena gula pasir atau gula jawa.

Penjelasan singkat tadi membuka mata saya pribadi sebagai seorang yang baru kenal dengan dunia perkopian khususnya kopi khas Banjarnegara, daerah tempat tinggal saya sendiri.

Gegap gempita dunia perkopian yang ditandai dengan maraknya kafe-kafe di seantero kota ternyata masih dibilang baru karena mulai ramai sejak awal tahun 2015 kemarin. Satu yang membuat saya salut adalah kecintaan anak-anak muda Banjarnegara yang kini getol mengeksplor potensi yang ada di Banjarnegara khususnya kopi.

Sebenarnya penjelasan tentang kopi di Kopi Sabin masih asyik untuk terus dilanjutkan tapi berhubung waktu hampir menjelang maghrib membuat kami memutuskan untuk mengakhiri sesi perkenalan singkat dunia perkopian ini dan itu juga menjadi tanda bahwa sesi kumpul blogger Banjarnegara juga harus diakhiri untuk pertemuan perdana ini. Tapi sejatinya ini adalah awal dari rencanan-rencana besar ke depan demi mengeksiskan kembali blogger Banjarnegara dan juga good news dari Kota Dawet Ayu ini.

Sawah

Pemandangan menjelang senja di samping Culinary Iwak dan Kopi Sabin

Kumpul blogger sore ini ditutup dengan foto bersama dengan blogger, awak media, pegiat sosial dengan latar belakang Kopi Sabin dan area persawahan Culinary Iwak. Sampai jumpa lagi : )

Foto Bareng

Foto penutup kumpul blogger dengan latar belakang persawahan

Culinary Iwak dan Kopi Sabin

Gemuruh, Banjarnegara, Jawa Tengah

Buka Setiap hari mulai pukul 14.00 sampai dengan 23.00

IG: culinary_iwak

IG: kopisabin

Β 

Advertisements

49 thoughts on “Kumpul Blogger di Warung Kopi

    1. Hendi Setiyanto Post author

      wkwkwk, komentarnya ternyata masuk spam dan baru ketauan.
      iya nih baru mulai kenal, tapi penginnya tau saja dan bukan menjadi seorang pecandu.
      siapp…nek bisa diajak mengunjungi kebunnya langsung hahaha

      Like

      Reply
  1. Halim Santoso

    Seru nih acara kumpul blogger ama anak mediasosial Banjarnegara. Macam kopi yang dijual di sana juga variatif. Bolehlah Kopi Sabin jadi rujukan buat nongkrong kalau mlipir Banjarnegara lagi. πŸ™‚ Titip salam buat Idah, mas Jujun ama Lutfi ya. Ehmm baru kenal tiga orang itu aja, yang lainnya belum familiar hahaha.

    Liked by 1 person

    Reply
  2. Desfortin

    Seru mas ya, kumpul bareng2 tman2 yg punya hobi sama sambil nikmati kuliner yg ada.

    Sya jd ingat tmpat mangkal sya di akhir pkan bareng tmn2 sya waktu msh kuliah, kmi biasa ke kampung lauk. Dsna disediakan aneka ikan bkar atau goreng dlsb, diambil langsung dari kolam khusus…

    Liked by 1 person

    Reply
      1. ghozaliq

        heh….beda kecamatan ya…. aku kecamatan Bawang… πŸ˜€ tapi sering dolan Wanadadi mbe Punggelan

        aku pas melintas naik travel itu lihat kalian lagi pada foto bareng Mas, tapi apa daya…bukan aku yang nyupir…akwakwa jadi ya gak bisa berhenti…

        Liked by 1 person

  3. fAnny f nila

    Waah nama kopinya blm ada yg aku denger nih.. Jd pgn tau rasanya seperti apa. Walopun aku bukan pecinta kopi sih mas, hanya sekedar icip2 :D. Dan msh blm kuat mnum kopi yg tanpa gula.. :(. Eh btw gula semut apaan sih?

    Liked by 1 person

    Reply
    1. Hendi Setiyanto Post author

      ini kopi lokal khas Banjarnegara jadi ya masih asing di telinga, termasuk bagi penduduk asli sini.
      sama, aku pun ga kuat minum kopi tanpa gula, jadi pas nyoba ya dikit aja karena penasaran dengan beragamnya rasa kopi yang baru aku tau

      Like

      Reply
  4. reza

    Wah asik tuh main bareng sama teman-teman yang hoby nya sama, ngopi sama nongki-nongki hehe. BTW, kopi khas Banjarnegara belum pernah denger.

    Liked by 1 person

    Reply
  5. bersapedahan

    tiap perkebunan kopi memiliki rasa yang khas .. saya belum pernah nyoba kopi Banjarnegara .. jadi penasaran .. hehehe
    btw .. kayaknya sering banget blogger disana ketemuannya ya .. tambah teman dan sharing ilmu .. keren

    Liked by 1 person

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s