Watu Geong, Antara Wayang Kulit dan Bencana Alam

“Pak, tau dimana letak batu berukuran raksasa yang kondisinya tergantung di atas bukit?”

Siang itu entah ada angin apa, saya tiba-tiba saja menanyakan keberadaan suatu batu unik yang berada di daerah perbatasan Jembangan (Banjarnegara) dengan Gunung Wuled (Purbalingga) kepada salah seorang rekan kerja yang berprofesi sebagai Juru Malaria Desa (JMD) yang kebetulan mendapat tugas mengawasi daerah Jembangan.

Pak Amin, nama dari Juru Malaria Desa tadi yang sudah menjalani profesi ini selama lebih dari sepuluh tahun. Setiap harinya beliau berkeliling desa untuk mencari orang-orang yang sakit terutama demam untuk diambil darahnya dan kemudian diperiksa di laboratorium.

Bukan hal yang mudah menjalani profesi ini, medan yang sulit diakses, jalanan rusak hingga lokasi perumahan warga di Desa Jembangan Kecamatan Punggelan, Banjarnegara yang tersebar di kaki bukit hingga puncak bukit membuat tugas yang diembannya itu tidaklah seindah yang saya bayangkan sebelumnya.

Bukan tanpa alasan mengapa saya kekeuh bertanya tentang keberadaan batu raksasa ini yang menurut saya sangat menarik untuk dilihat lebih lanjut. Memori seakan kembali mundur 12 tahun ke belakang saat saya masih duduk di bangku Sekolah Menengah Pertama. Saya kembali teringat dengan sosok anak tinggi kurus dengan suara cempreng khas dan sekilas anaknya mirip Si Untung pada sinetron era 90-an yaitu Tuyul dan Mbak Yul yang saat itu berperan sebagai asisten rumah tangga pada keluarga Mbak Yuli.

Diman, nama anak yang saya deskripsikan tadi yang tak lain dan tak bukan adalah teman sebangku saat kelas 1 SMP. Diman, anak asli daerah Jembangan yang jarak tempuh dari rumah ke sekolah bisa memakan waktu 1 jam lebih dengan menggunakan kendaraan bak terbuka saat itu. Dari dialah saya kembali merasa penasaran tentang keberadaan batu raksasa yang menggantung di atas bukit yang selalu dia ceritakan kepada saya saat itu. Lokasi rumahnya yang tidak jauh dari lokasi batu raksasa tadi berada membuat rasa penasaran saya saat itu makin begitu besar, namun sayang hingga detik ini saya belum sekalipun bisa menebus rasa penasaran tadi.

Walaupun keberadaan batu raksasa tadi yang sejatinya tidak berada di wilayah Jembangan-Banjarnegara melainkan di Gunung Wuled-Purbalingga namun akses jalan dari wilayah Punggelan-Banjarnegara terasa lebih dekat dibanding harus memutar ke daerah Rembang-Purbalingga.

Gunung Wuled adalah nama sebuah desa yang berada di wilayah Kecamatan Rembang Kabupaten Purbalingga. Gunung Wuled sendiri sebagian besar wilayahnya berada pada daerah ketinggian dengan luas wilayahnya mencapai 543 hektare dengan jumlah penduduk mencapai 5376 jiwa yang terbagi dalam 1259 kepala keluarga.

Peta Purbalingga

Peta Kabupaten Purbalingga, Sumber Foto: Kaskus

Gunung Wuled kini dikenal sebagai Desa Wisata yang sering dikunjungi oleh para turis lokal sekitar wilayah Kabupaten Purbalingga maupun Banjarnegara. Bentangan alam yang berada pada daerah ketinggian dan berbukit-bukit membuat  wilayahnya mempunyai potensi alam yang bisa dikembangkan menjadi daerah wisata.

Belakangan saya baru sadar jika sebuah fenomena batu raksasa yang sejak jaman SMP membuat penasaran itu ternyata bernama Watu Geong atau Batu yang tergantung, bergoyang jika diterjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia. Akses menuju Watu Geong ini bisa ditempuh melalui jalur Danakerta (Banjarnegara) ke Rembang (Purbalingga) hingga melewati jalanan yang terus menanjak menuju Gunung Wuled (lokasi Watu Geong berada). Jalur lain juga bisa diakses melalui jalur Jembangan (Banjarnegara) langsung ke Gunung Wuled (Purbalingga) namun jalanan yang akan dilewati tidaklah semudah pilihan yang pertama tadi.

***

Sama seperti daerah lain di Indonesia, setiap tempat yang menjadi fenomena tentu mempunyai cerita tersendiri baik itu sebuah legenda maupun cerita rakyat yang diceritakan secara turun menurun pada setiap generasi. Begitu pula dengan cerita ataupun legenda di balik fenomena Watu Geong yang berada di daerah Gunung Wuled.

Keberadaan Watu Geong di Gunung Wuled tidak lepas dari cerita panjang dan erat kaitannya dengan sosok Kiai Wuled, salah satu cikal bakal penamaan daerah Gunung Wuled yang di dalamnya terdapat Watu Geong.

Jadi Siapa Sebenarnya Kiai Wuled itu?

Jejak Kiai Wuled, pendiri Desa Gunung Wuled memang tidak mudah dilacak. Tapi setidaknya ada beberapa lokasi yang disebut-sebut masyarakat sekitar sebagi cikal bakal lahirnya desa Gunung Wuled ini.

Sketsa Kiai Wuled

Penggambaran Kiai Wuled dalam sketsa, Sumber Foto: Jemari Gunung Wuled

Di Manakah Tempatnya?

  1. Perigi

Perigi mungkin tidak tepat disebut sebagai Hutan Perigi karena tempat ini tidak terlalu luas. Lokasinya berada di tepi sebelah barat Sungai  (Kali) Bawang – Gunung Wuled. Penanda tempat ini adalah adanya beberapa pohon besar yang berusia ratusan tahun. Di sekitarnya saat sekarang ini sudah sangat susah menemukan jenis dan usia pohon seperti itu. Saya kurang paham seperti apa sosok pohon besar dan dari jenis apa pohon tadi.

Dahulu di tempat ini terdapat bangunan gubuk sebagai tempat istirahat orang yang berziarah baik dari desa Gunung Wuled atau warga luar desa. Tapi sejak sekitar sepuluh tahun lalu, gubuk itu sudah tidak ada lagi. Lantas apa yang diziarahi? Ada dua makam di dalam Perigi – Gunung Wuled. Namun tidak ada batu nisan yang menjelaskan nama orang yang dimakamkan. Tapi masyarakat Gunung Wuled menyebut makam itu adalah makam Kiai Wuled dan pengikutnya. Jika hal ini benar, maka inilah titik mula kita bisa menelusuri sejarah Kiai Wuled serta asal usul penamaan Desa Gunung Wuled.

Perigi – Gunung Wuled dikenal sebagai daerah yang dianggap angker oleh masyarakat sekitar. Ada banyak cerita dan mitos yang beredar mengenai tempat ini. Terlepas dari pencitraan penduduk sekitar yang mengenal tempat ini sebagai tempat yang  terkesan angker, ada beberapa sisi positifnya yang bisa diambil dari kesan tadi, dengan adanya kepercayaan itu justru secara tidak langsung telah menyelamatkan tempat ini dari kerusakan akibat keserakahan manusia kepada alam. Orang tidak berani berulah maupun berbuat macam-macam di tempat ini. Apalagi menebang pohon-pohon yang ada secara sembarangan.

  1. Makam pengikut Kiai Wuled

Dahulu ada sekitar sembilan atau sepuluh makam yang tersebar di sebelah timur Sungai  (Kali) Bawang – Gunung Wuled. Masyarakat sekitar menyebut makam tersebut merupakan makam para pengikut Kiai Wuled. Tempat ini juga menjadi satu kesatuan lokasi ziarah dengan daerah Perigi. Di sebelah timurnya terdapat batu besar yang seolah bergantung di atas tebing tapi tidak pernah jatuh. Orang yang berusaha mencoba menjatuhkan batu itu tidak pernah bisa.

Sayangnya, peninggalan makam keramat itu kini tidak akan dijumpai lagi. Di atas makam itu kini telah dibangun rumah bertingkat. Sementara makam telah dipindahkan ke pemakaman umum Desa Gunung Wuled, tapi tidak jelas lokasinya di mana.

  1. Si Onje

Si Onje berada di tepi Sungai Gintung – Gunung Wuled yang berbatasan langsung dengan Kecamatan Punggelan Kabupaten Banjarnegara. Tempat ini berupa petilasan yang masih ramai dikunjungi masyarakat dari berbagai daerah hingga saat ini. Kebanyakan pengunjung justru dari luar Desa Gunung Wuled. Mereka biasanya berkunjung pada hari Selasa atau Jumat Kliwon, hari yang dianggap keramat oleh sebagian besar orang Jawa.

Tempat ini berupa hutan kecil di mana terdapat sejumlah makam di dalamnya. Tidak jelas makam siapa yang berada di sana. Tapi masyarakat Gunung Wuled menyebutnya sebagai makan dari Syeh Rubiyah Kembang.  Tokoh itu sangat lekat dengan sejarah berdirinya Kadipaten Purbalingga dan Kadipaten Pasirluhur (sekarang Kabupaten Banyumas). Jika benar, maka pada zaman dahulu, Gunung Wuled memiliki peran yang penting bagi pemerintahan setempat.

Bagi para peziarah disediakan tempat istirahat berupa beberapa gubuk yang cukup luas. Sebelum memasuki awal bulan Ramadhan, penduduk sekitar menggelar acara tutupan dimana acara ziarah tidak diperbolehkan selama bulan Ramadhan.

  1. Gunung Korakan

Menurut cerita tutur para sesepuh di desa Gunung Wuled, Gunung Korakan yang berada di sebelah selatan desa konon menjadi tempat pijakan kaki kiri Kiai Wuled ketika melakukan tiwikrama karena murka terhadap anak dari Adipati Onje bernama Cakrakencana.

  1. Gunung Siringgeng

Gunung ini berada di sebelah selatan desa Gunung Wuled. Konon gunung ini menjadi pijakan kaki kanan Kiai Wuled saat menentang Cakrakencana.

Itu baru sekilas mengenai asal usul penaman Desa Gunung Wuled yang ternyata memiliki banyak bukti mengenai keberadaan sosok Kiai Wuled yang meninggalkan jejak pada beberapa tempat di Desa Gunung Wuled.

Jejak selanjutnya tidak lepas dari pemahaman orang Jawa kuna yang setiap melakukan sesuatu mereka menghitung dan menentukannya dengan cara bersemedi, puasa dan lain sebagainya.

Pemahaman orang Jawa Kejawen ditentukan oleh kepercayaan mereka pada berbagai macam roh-roh yang tidak kelihatan yang dapat menimbulkan bahaya seperti kecelakaan atau penyakit apabila mereka dibuat marah atau penganutnya tidak hati-hati. Untuk melindungi semuanya itu, orang Jawa kejawen memberi sesajen atau caos dahar yang dipercaya dapat mengelakkan kejadian-kejadian yang tidak diinginkan dan mempertahankan batin dalam keadaan tenang. Sesajen yang digunakan biasanya terdiri dari nasi dan aneka makanan lain, daun-daun bunga serta kemenyan.

Kegiatan orang Jawa kejawen yang lainnya adalah meditasi atau semedi. Menurut Koentjaraningrat, meditasi atau semedi biasanya dilakukan bersama-sama dengan tapabrata (bertapa) dan dilakukan pada tempat-tempat yang dianggap keramat misalnya di gunung, makam keramat, ruang yang dikeramatkan dan sebagainya. Pada umumnya orang melakukan meditasi adalah untuk mendekatkan atau menyatukan diri dengan Tuhan.

Sama seperti daerah lain di Indonesia, khususnya di tanah Jawa semua tempat pasti memiliki cerita tersendiri. Begitu pula dengan Watu Geong. Menurut Juweni (75) warga desa Gunung Wuled, “Watu Geong merupakan tempat bersemayamnya senjata dari para Pandawa, sehingga puluhan tahun yang lalu diyakini sebagai tempat untuk mencari wangsit ataupun senjata pusaka”

Selain cerita tersebut, Juweni menambahkan “Watu Geong merupakan tempat bertapa tokoh pewayangan, yakni Pandawa dan Punakawan. Sehingga masyarakat Dusun Sirebut dan sekitarnya tidak berani mengadakan pagelaran wayang kulit”

Konon kalau ada yang berani menggelar pagelaran wayang kulit, akan menimbulkan bencana. Salah satunya adalah runtuhnya Watu Geong. Karena alasan tadi, hingga detik ini, penduduk sekitar belum ada yang berani menggelar pagelaran wayang kulit di desanya.

Beberapa kejadian antara percaya dan tidak percaya pernah terjadi di Gunung Wuled ini, salah satunya adalah bencana alam banjir bandang dan tanah longsor yang terjadi pada tanggal 6 Januari 2010, tidak ada korban jiwa yang melayang saat itu, akan tetapi beberapa rumah warga rusak berat diterjang banjir dan tanah longsor. Tercatat ada 8 rumah yang dihuni masing-masing oleh kepala keluarga Tarmaja, Manto, Mino, Martono, Sumarso, Tunggul dan juga Gubes yang turut menjadi korban kejadian tanah longsor dan banjir bandang tadi.

Menurut penuturan Tarmaja (80) korban sekaligus sesepuh desa setempat, 30 menit sebelum kejadian salah seorang warga bernama Yanto menggelar hajatan berupa kesenian tradisional lengger (Baladewa). Memang untuk kesenian lengger sendiri sebenarnya tidak dilarang karena memang beberapa warga juga pernah menanggapnya di desa Gunung Wuled ini, akan tetapi menurut warga lain yaitu Rasmudi yang merupakan Juru Kunci Petilasan Sangulara, warga tersebut kurang mengindahkan imbauan yang dikatakan oleh Rasmudi. Rasmudi mengingatkan untuk melengkapi persyaratan sebelum menggelar kesenian lengger berupa selamatan pada hari senin, memberikan sesaji berupa bubur kolak dan pinang renteng ke petilasan serta jangan sampai kelewat waktu yang telah ditentukan tadi.

Selain pelanggaran ketiga persyaratan tadi, pemilik hajat juga mengindahkan himbauan juru kunci petilasan berupa larangan menyanyikan Kidung Baladewaan (Kidung yang dinyanyikan dalam pagelaran wayang). Walhasil, pagelaran lengger diiringi oleh kidung tadi yang diidentikan dengan pagelaran wayang pada umumnya.

Hujan disertai angin sepanjang siang dan sore hari tanggal 6 Januari 2010 pada puncak gunung beriringan dengan pagelaran lengger yang meriah di desa ternyata membawa sebuah bencana (entah ini memang murni bencana alam atau ada hal lain, penulis kurang tahu) suara gemuruh dari puncak gunung membawa material berupa bebatuan dan batang kayu disertai campuran air-tanah melewati sungai di pinggir desa. Walhasil sungai kecil itu pun tersumbat material longsor dan mengakibatkan rumah di sekitarnya rusak parah.

Menurut Tarmaja,

“nek ana wayang liwat nggawane wayang Bawor, biasane kan decangking lha gunung nengeri karo pertanda swara gemuruh”

Jika ada wayang yang lewat membawa wayang Bawor, biasanya dengan cara dijinjing dan gunung memberi pertanda dengan suara gemuruh.

Kejadian pada tanggal 6 Januari 2010 tadi akan selalu diingat oleh seluruh warga Gunung Wuled agar terus waspada terhadap bencana alam serta mitos, cerita, legenda yang turun temurun dipercayai oleh setiap generasi agar tidak menggelar pagelaran wayang kulit di desanya.

Lalu siapa sebenarnya sosok Pandawa dan Punakawan yang kita kenal dalam dunia perwayangan?

Pandawa dan Punakawan/Panakawan sendiri merupakan sosok penting dalam dunia pewayangan, menurut Wikipedia Bahasa Indonesia, Punakawan sendiri berarti:

Punakawan

Sosok keempat Punakawan dalam dunia perwayangan, sumber foto: Yoki Mirantiyo

Punakawan (diambil dari bahasa Jawa) atau panakawan KBBI adalah sebutan umum untuk para pengikut kesatria dalam khasanah kesusastraan Indonesia, terutama di Jawa. Pada umumnya para punakawan ditampilkan dalam pementasan wayang, baik itu wayang kulit, wayang golek, ataupun wayang orang sebagai kelompok penebar humor untuk mencairkan suasana. Namun di samping itu, para punakawan juga berperan penting sebagai penasihat nonformal kesatria yang menjadi asuhan mereka.

Istilah panakawan berasal dari kata pana yang bermakna “paham”, dan kawan yang bermakna “teman”. Maksudnya ialah, para panakawan tidak hanya sekadar abdi atau pengikut biasa, namun mereka juga memahami apa yang sedang menimpa majikan mereka. Bahkan seringkali mereka bertindak sebagai penasihat majikan mereka tersebut.

Punakawan sendiri terdir dari 4 tokoh dalam dunia pewayangan yang mempunyai ciri khas tersendiri baik secar tampilan fisik maupun kepribadian, keempat sosok Punakawan tadi terdiri dari:

Semar

Sosok Semar, Sumber Foto: Javanese Puppet

  • Semar berasal dari kata Samara (bergegas). Semar merupakan pusat dari Punakawan sendiri dan asal usul dari keseluruhan punakawan itu sendiri. Semar disegani oleh kawan maupun lawan Semar menjadi rujukan para kesatria untuk meminta nasihat dan menjadi tokoh yang dihormati
Gareng

Sosok Gareng, Sumber Foto: Javanese Puppet

  • Nala Gareng berasal dari kata nala khairan (memperoleh kebaikan). Gareng adalah anak Semar yang berarti pujaan atau didapatkan dengan memuja. Nalagareng adalah seorang yang tak pandai bicara, apa yang dikatakannya kadang- kadang serba salah. Tetapi ia sangat lucu.
Petruk

Sosok Petruk, Sumber Foto: Javanese Puppet

  • Petruk berasal dari kata fat ruk (tinggalkanlah). Petruk adalah anak kedua Semar. Tokoh petruk digambarkan dengan bentuk panjang yang menyimbolkan pemikiran harus panjang. Petruk merupakan tokoh yang nakal dan cerdas, serta bermuka manis dengan senyuman yang menarik hati, pandai berbicara, dan juga sangat lucu.
Bagong

Sosok Bagong, Sumber Foto: Javanese Puppet

  • Bagong berasal dari kata al ba gho ya (perkara buruk). Bagong adalah punakawan Jawa. Bagong adalah anak bungsu Semar atau punakawan ke 4. Dalam cerita pewayangan, Bagong adalah tokoh yang diciptakan dari bayangan Semar. Bagong bertubuh tambun gemuk seperti halnya Semar. Karakter yang disimbolkan dari bentuk bagong adalah manusia harus sederhana, sabar, dan tidak terlalu kagum pada kehidupan di dunia.

Selain Punakawan, sosok kelima Pandawa juga tidak bisa lepas dari cerita penduduk sekitar mengenai asal muasal keberadaan Watu Geong ini. Dalam dunia perwayangan, kelima Pandawa tadi dikenal sebagai sosok laki-laki gagah yang bersaudara dan mempunyai kesaktian tersendiri lengkap dengan senjata pamungkasnya masing-masing.

Kelima sosok Pandawa tadi adalah:

Pandawa Lima

Pandawa Lima dalam dunia perwayangan, Sumber Foto: Wayang

Yudhistria/Puntadewa adalah anak sulung Prabu Pandu dan Dewi Kunti. Sebenarnya dia anak kedua dari Kunti karena anak pertama yang bernama Karna diasuh oleh Adirata. Puntadewa merupakan putra (titisan) Dewa Yama/Dharma karena Pandu menerima kutukan sebelum dia sempat bercinta dengan istrinya. Yudhistira atau Puntadewa yang derajat keluhurannya disamakan dengan derajat para dewata, tokoh ini dikenal memiliki senjata berupa Tombak Jamus Kalimasada.

Bima adalah putra kedua dari Pandu dan Kunti yang notabene titisan Batara Bayu (dewa angin). Dia merupakan yang terkuat di Pandawa karena secara fisik, dia memiliki postur yang tinggi dan berotot. Bima memiliki senjata berupa sebuah Gada bernama Gada Rujakpala.

Arjuna merupakan putra ketiga Pandawa atau putra terakhir dari Pandu dan Kunti. Dia adalah salah satu tokoh Pandawa yang paling tampan, Arjuna sendiri dikenal memiliki sebuah senjata berupa busur panah bernama Pasupati.

Nakula dan Sadewa adalah anak dari Pandu dan Madri yang lahir karena bantuan Batara Aswin (Dewa Tabib). Mereka adalah anak kembar dimana Nakula sebagai saudara yang lebih tua. Masing-masing saudara kembar ini memiliki senjata pamungkasnya masing-masing berupa Tirtamanik, adalah sebuah cupu yang berisi Air Kehidupan dan Maniktira adalah busur panah yang memungkinkan pemakainya untuk mendatangkan hujan, atau mengeringkan samudra.

Sosok Punakawan dan Pandawa tadi yang tidak bisa dilepaskan dari cerita di balik keberadaan Watu Geong berada membuat penduduk sekitar secara turun temurun percaya bahwa Watu Geong merupakan lokasi kedua sosok tadi bersemedi dan tempat menyimpan pusaka mereka masing-masing.

***

Lalu apa menariknya lokasi wisata Watu Geong?

Bagi yang ingin mengunjungi Watu Geong, dianjurkan pada awal musim kemarau. Karena kabut tidak begitu tebal dan intensitas curah hujan sudah berkurang.

Magnet utama tempat ini adalah keberadaan sebuah batu seukuran rumah yang seolah menggantung (geong-geong, dalam bahasa Jawa Banyumas) di salah satu puncak Gunung Korakan, sebelah selatan Desa Gunung Wuled. Dahulu kala, batu raksasa ini kerap dijadikan sebagai tempat bertapa atau bersemedi untuk mencari wangsit. Tapi kini Watu Geong menjadi salah satu destinasi wisata yang menyedot kunjungan banyak orang yang ingin berpetualang di alam bebas.

Screenshot_2017-03-24-21-11-51-1[1]

Sumber Foto: IG watugeong

Screenshot_2017-03-24-21-11-02-1[1]

Sumber Foto: IG watugeong

Screenshot_2017-03-24-21-11-33-1[1]

Sumber Foto: IG watugeong

Jalan menuju lokasi wisata Watu Geong sendiri berada pada pinggir jalan raya yang berkelok-kelok. Pengunjung bisa menitipkan dan memarkir kendaraan roda dua mereka di pinggir jalan raya yang tidak terlalu lebar. Sebelumnya para pengunjung harus menaiki puluhan anak tangga berupa tanah yang ditata sedemikian rupa oleh penduduk sekitar dan dikuatkan dengan patok kayu sebagai penahan agar tidak longsor pada tiap pijakannya.

Butuh waktu sekitar lima belas menit untuk menyelesaikan satu demi satu anak tangga tadi dengan disuguhi pemandangan alam berupa pepohonan kelapa dan rumah penduduk sekitar di bawahnya. Saat ini lokasi wisata Watu Geong ini dikelola oleh POKDARWIS (Kelompok Sadar Wisata) pemuda setempat dan tiap pengunjung dikenakan tiket masuk sekitar Rp 5.000. Di dalam lokasi wisata Watu Geong ini, pengunjung bisa menikmati pemandangan perbukitan dan jika langit cerah tanpa kabut, bisa melihat sosok Gunung Sindoro dan Sumbing serta Waduk Mrican Banjarnegara pada arah timur.

Terdapat beberapa gubuk-gubuk serta gardu pandang yang dibuat mirip ujung kapal dan terbuat dari anyaman bilah-bilah bambu. Untuk bisa berdiri di atas Watu Geong tadi, pengunjung harus ekstra hati-hati karena sangat berbahaya jika lengah sedikit bisa terpeleset dan jatuh ke jurang, untuk itu jika pengunjung yang tetap nekat maka pengelola membatasi maksimal 3 orang saja yang boleh naik ke atas Watu Geong ini.

Saat pagi hari, pengunjung bisa menikmat sunrise dari atas Watu Geong ini dengan pemandangan Gunung Sindoro Sumbing dan Waduk Mrican sebagai pelengkapnya. Jika anda mampir ke Rembang-Purbalingga, jangan lupa untuk meluangkan waktu sejenak ke  Gunung Wuled, lokasi Watu Geong ini berada dan sekaligus membuktikan sendiri mitos dan legenda penduduk sekitar mengenai asal muasal penamaan Watu Geong kepada penduduk lokal langsung agar lebih puas.

Referensi:

Yokimirantiyo.blogspot.co.id

Munsipsadewa.wordpress.com

Jemarigunungwuled.com

Nayaka production indie movie “Mitos Bencana Dari Gunung Wuled”

Wikipedia bahasa indonesia

Instagram Watu Geong

Jelajah Wisata – Watu Geong Rembang Purbalingga, oleh May Candra Santosa

IG @watugeong

Javanesepuppet.blogspot.com

Advertisements

42 thoughts on “Watu Geong, Antara Wayang Kulit dan Bencana Alam

  1. Desfortin

    Wow, it’s a long post to read..

    Begitulah klo pegiat travelling klo udah brkisah…hehe….

    Seru ya mengunjungi tmpat2 yg menyimpan crta unik..membawa angan kita ke peradaban msa lampau…

    Aku juga rencna mau nulis ttg asal mula kisah kampung tmpat tinggal sya skrg? Sprti mitos tp masyrakat bgtu mykininya.

    Oya, teman Anda Diman, namanya persis mirip dg nama tmn sy rekan guru, hee….

    Di daerahku ada jg batu menggantung di atas bukit, klo ada ksmptan smg nnti bisa kuungkap… ttp smngat nlis mas Hendi, short post juga gpp pak..

    Liked by 1 person

    Reply
    1. Hendi Setiyanto Post author

      Wkwkwk aku kalau udah niat banget ya gini jadinya, kudu pokoe, biarlah capeknya nanti.
      Sebenarnya belum kesampain lho ke sininya dan aku cuma dari hasil riset dan nanya langsung ke orang yang sudah pernah ke sini.
      Nama kampungnya apa , mas? terus kisahnya tentang apaan?
      Bedanya dia teman sebangku jaman SMP, eh ada juga sih rekan kerja namanya pak Sardiman tapinya.
      Nama batunya apa? penasaran…..
      Eh iya, jarang2 kok yang panjang2 gini wkwkwk

      Like

      Reply
      1. Desfortin

        Nantilah kita liat, klo dah jd blog nya, kampung yg sya tinggali skrg. Ada trtulis di bbrpa blog ku, heee…

        Sbnrnya batunya di Bukit Sampuraga Kab. Lamandau

        Liked by 1 person

  2. Matius Teguh Nugroho

    Intro-nya panjang banget, bro! wkwkwk 😀

    Hm kalau aku sih cenderung mempercayai bahwa everything happens under the control of God. Aku percaya ada hantu, setan, jin, iblis, atau apalah itu sebutannya. Tapi soal bencana alam dan kejadian besar lainnya, I don’t relate them to those mystical beings.
    Konon yang terganteng itu bukan Arjuna, tapi salah satu dari si kembar. Yang diperankan Vin Rana di serial Mahabharata pokoknya.

    Btw batunya nggak kelihatan “geang-geong”. Apa sudutnya kurang ke bawah?

    Liked by 1 person

    Reply
    1. Hendi Setiyanto Post author

      😂😂😂😉 karena saking asyiknya, nulisnya jd panjang gini bgt….tp aku puas…karena unek2 nya aku tumpahin semua.
      Vin Rana tuh sapa ya? 😀
      Betul…seharusnya ngambil sudut dari posisi sebaliknya tp susah keknya..aplgi pke kmra hp

      Like

      Reply
  3. Nusantara Adhiyaksa

    banyak Potensi dan Sejarah yang ada di Purbalingga, harus kita lestarikan nih wawasan dan keberlangsungan kebudayaannya …
    Watu Geog sebagai bagian dari Sejarah harus dijaga keberadaannya, Ayoo main ke Purbalingga ..

    Liked by 1 person

    Reply
  4. Halim Santoso

    Legenda daerah yang menarik nih. Memang masih banyak tempat yang sering dikaitkan dengan keadaan mistis lalu muncul kisah tokoh yang kadang tidak ada kebenarannya, ada juga yang memang tercatat dalam sejarah. Tokoh itu jadi panutan yang sering bikin manusia jadi takut dan mau nggak mau menghargai alam. Maksud baik dari para leluhur di masa lalu supaya alam terus terjaga, nggak dirusak oleh keserakahan manusia.

    Good luck, Hen. Semoga menang! 😉

    Liked by 1 person

    Reply
    1. Hendi Setiyanto Post author

      kita ambil positifnya saja, semoga dengan cerita yang berkembang turun temurun ini, membuat orang2 lebih menghargai alam dan seisinya agar tetap lestari : )
      Terima Kasih…

      Like

      Reply
  5. sarah

    Wah panjang sejarahnya ya. Coba beneran ditemukan senjata si kembar Nakula Sadewa disana, bisa heboh ya. Knp gak dibuatin replikanya aja ya biar makin menarik gitu. #ngarep#ngayal. Salam kenal mas

    Liked by 1 person

    Reply
  6. bersapedahan

    foto di atas batu keren benerrr … spot menarik akan menjadi promosi mendatangkan wisatawan.
    Tulisannya lengkap dan enak dibaca … Semoga tulisan ini menjadi juara … aamiin

    Liked by 1 person

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s