Cerita Perjalanan Tiga Kota [2]


Mobil kini melaju meninggalkan riuh pesta pernikahan yang begitu meriah. Perlahan melewati ramainya kota Klaten yang siang itu begitu terik.

Cerita sebelumnya di sini….


Perjalanan kurang lebih menempuh waktu satu jam lebih menuju tempat yang dituju. Ekspektasi awal menuju Umbul Ponggok tentu akan membahagiakan namun kenyataan berkata lain. Mobil yang kami kendarai kini susah mencari tempat parkir. Setelah bersusah payah mencari lokasi parkir, akhirnya mobil bisa masuk ke dalam sebuah halaman sekolah yang berada persis di samping pintu masuk obyek wisata Umbul Ponggok.

Kolam Ponggok

Ramainya….

Jalanan di depan lokasi wisata Umbul Ponggok begitu ramai, sesak dan riuh dengan para wisatawan lokal yang ingin mengisi akhir pekan mereka menikmati kesejukan air di lokasi ini. Suasana tak jauh beda bahkan lebih parah terlihat di kolam Umbul Ponggok yang kolamnya penuh dengan lautan manusia. Lupakan ekspektasi awal dan terima kenyataan. Setelah menengguk segelas Dawet Ayu Banjarnegara yang kebetulan penjualnya asli orang Banjarnegara, kami lebih memilih meninggalkan lokasi wisata ini dan berganti menuju kota tetangga, Jogjakarta.

Umbul Ponggok

Tidak ada setengah jam lebih di tempat ini, karena saking ramainya

Gerobak Dawet Ayu

Menemukan penjual Dawet Ayu Banjarnegara di Klaten dan yang jual asli orang Banjarnegara juga

Langit kini berganti kelabu, mendung dan perlahan rintik-rintik hujan turun. Semakin mendekati kota Jogjakarta, suasananya semakin tidak diinginkan. Macet, hujan dan hari makin gelap.

Macet Jogja

Hujan dan macet saat memasuki kota Jogja

Perjuangan menembus kemacetan Kota Gudeg ini berakhir juga di sudut jalan paling terkenal di kota ini. Selamat datang kembali di Malioboro. Ya beberapa tahun lalu saya terakhir ke kota ini dan kini perlahan wajahnya mulai berubah. Lokasi parkir kendaraan kini sudah tertata rapi pada bangunan khusus. Memang, perjalanan jadi lebih jauh dan harus jalan kaki tapi membuat sedikit kemacetan di jalan ini sedikit berkurang.

Hujan makin deras, dingin dan makin gelap. Kini trotoar dan jalanan Malioboro tengah mengalami peremajaan. Lembaran-lembaran seng dan beton kini teronggok di pinggir jalan. Proyek revitalisasi kawasan pedestrian jalan Malioboro ini masih belum rampung. Membayangkan bagaimana nantinya kalau sudah jadi dan bisa dipakai oleh para pejalan kaki. Namun kini suasananya masih semrawut dan sempit. Ya sabar saja, untuk menjadi lebih baik terkadang kita harus menerima kesemrawutan ini.

Saya berteduh di halaman Mall Malioboro, hujan makin deras. Orang-orang kini berkumpul di tempat ini. Atmosfer jalan ini masih belum berubah, selalu bikin kangen dan memori seakan kembali lagi beberapa tahun lalu. Pantaslah lagu yang dinyanyikan oleh Katon Bagaskara (Kla Project) akan selalu menjadi legenda bagi siapapun yang mempunyai kenangan manis di kota ini Perut makin lapar seiring hawa dingin menusuk.

Saya pun masuk mengelilingi sudut-sudut di dalam mall ini. Belanja? Ah saya bukan tipe orang yang gila belanja apalagi sadar diri jika isi dompet tidaklah tebal. Orang yang sudah paham dengan saya pasti tau ketika saya masuk ke dalam mall apa yang menjadi tujuan utama. Ya toko buku….bukan maniak buku juga tapi selalu tertarik menyusuri sudut-sudut dan bau harum buku-buku baru yang tertata rapi pada raknya.

Setelah ke sana kemari tanpa membeli sesuatu pun, kini saya menuju lantai dua atau tiga dari mall ini menuju sudut food court dan kali ini mendapat titipan untuk dibelikan dua loyang kecil Pizza. Saya belum pernah makan Pizza dan seandainya pun disuruh mencicipi saya kurang tertarik. Lidah saya lebih condong ke lidahnya orang desa yang suka dengan makanan tradisional. Tapi demi sebuah tugas mulia, saya pun antre dan memesan pizza yang membutuhkan waktu sekitar lima belas menit.

Sambal Pizza

Menunggu pesanan sambil mengamati orang-orang

Waktu menunggu tadi saya gunakan untuk mengamati aktivitas lalu lalang orang yang naik turun escalator mall ini. Para muda mudi terlihat sumringah dengan pasangannya masing masing sambil membawa tentengan hasil belanjanya. Sedangkan saya? Ya saya sendirian di tempat ini. Sengaja saat kami turun di Malioboro, saya memilih memisahkan diri dari rombongan dan nanti berkumpul pada titik yang telah ditentukan.

Pesanan saya sudah datang dan saya bergegas turun menuju lantai paling bawah guna dilanjutkan dengan menyeberang jalan Malioboro yang makin petang makin macet dan hujan ternyata makin deras saja.

Kini giliran saya yang harus menunggu rombongan lain yang tengah asyik dengan tujuannya masing-masing. Waktu yang masih lumayan lama saya gunakan untuk kembali berkeliling lagi ke toko-toko hanya sekedar untuk membunuh waktu. Maghrib segera tiba dan satu persatu rombongan telah berkumpul, kali ini kami akan menuju Alun-Alun Selatan untuk makan.

Rombongan mobil yang saya tumpangi kini terpisah dari rombongan, sejatinya kami akan menuju titik kumpul yang telah ditentukan sebelumnya, namun karena kurangnya informasi membuat saya dan teman-teman yang lain harus rela tersasar beberapa kali bahkan saat mobil sudah berada di Alun-Alun Selatan yang kalau bisa dihitung, mobil berputar-putar lebih dari 5 kali hanya untuk mencari keberadaan mobil yang lain.

Perjuangan itu akhirnya membuahkan hasil, ternyata mobil yang lain sudah lebih dahulu menepi pada lesehan dekat sebuah Sekolah Dasar. Kami termasuk rombongan mobil yang terakhir sampai sini. Sementara itu terlihat teman-teman yang lain tengah asyik menikmati segelas teh hangat dengan sepiring nasi goreng, serta mie godog yang terlihat mengepul mengeluarkan aroma serta asapnya yang bikin perut makin keroncongan.

Alunan pengamen bergitar yang tengah memainkan lagu Jogjakarta kini berada persis di depan kami yang sedang lesehan. Antrean yang panjang membuat kami harus sabar untuk mendapat giliran makan padahal perut sudah sangat lapar. Sesekali saya menyaksikan lembar demi lembar rupiah yang diterima oleh si pengamen tadi dari para pengunjung yang memberikan apresiasi. Tanpa perlu beranjak, si pengamen tadi terlihat mendapatkan banyak uang hanya dengan memainkan beberapa lagu yang dihargai lima ribu rupiah per sesinya. Sungguh rejeki nomplok bagi si pengamen tadi walaupun suaranya sampai terdengar serak dan terlihat kelelahan.

Jogja

Setelah susah payah menemukan tempat ini dan harus muter-muter Alun-Alun Selatan, akhirnya kami berkumpul juga

Sepiring Nasi Goreng Magelangan, Peyek Kacang, dan segelas teh manis hangat sudah tersaji di depan kami saat ini. Tanpa butuh waktu lama untuk kami menghabiskannya. Suasana makin ramai dan riuh dengan celotehan masing-masing orang guna menambah keakraban satu sama lainnya.

Jogjakarta malam ini begitu cantik walau sesorean hingga malam ini terus dibasahi rintik hujan yang membasahi seluruh penjuru kota. Aneka lampu warna-warni dari kendaraan hias yang berkeliling di sekitar Alun-Alun Selatan menambah cantik suasana malam.

Kini kami bergegas kembali ke rumah masing-masing di Banjarnegara dengan mobil yang terpencar kembali. Macet menjelang sholat Isya terlihat di jalan-jalan raya kota. Sekali lagi saya membawa kenangan yang akan selalu dikenang dari Kota Gudeg ini. Sampai jumpa lagi Jogjakarta, semoga kita bisa bersua lagi.

Advertisements

43 thoughts on “Cerita Perjalanan Tiga Kota [2]

  1. Alid Abdul

    Heeeeeeehh umbul pongok bisa seramai itu ya kalau weekend? Tak pikir foto yang bawah air itu gak rame banget haha. Deuh walau aku ndeso tapi ilatku doyang pizza kok. Ilat-ilat nggragas haha

    Liked by 1 person

    Reply
  2. Gara

    Terus pizzanya dimakan kapan Mas? Kayaknya nasi goreng magelangan sudah sangat mengenyangkan mah, haha. Kalau saya apa aja masuk, asal lapar, pizza magelangan juga boleh, hihi. Tapi masakan tradisional memang lebih menyenangkan dan mengenyangkan, apalagi sama teman-teman seperjuangan, pasti seru banget… ketimbang makan pizza cepat kenyang tapi juga cepat lapar lagi, sendirian pula #eh.
    Begitulah nasib tempat wisata hits, akhir pekan pasti ramai… apa perlu kita hari kerja baru main ke Umbul Ponggok? (Jujur sekalipun saya belum pernah ke sana. Tak begitu tertarik juga karena tidak bisa berenang, haha).

    Liked by 1 person

    Reply
    1. Hendi Setiyanto Post author

      pizzanya dimakan di rumah di Banjarnegara dan kamu tau sendiri kalau pasti sudah dingin kondisinya wkwkwkw.
      Untuk saat ini lidahku masih suka dengan masakan tradisional hahaha.
      Aku pun tidak bisa berenang, jadi misalpun bisa masuk ya paling cuma bisa lihat2 hahaha

      Like

      Reply
      1. Gara

        Pizza dingin? Haha, tetap enak kok… cuma memang paling nikmat pas panas-panas. Iya Mas, mending masakan tradisional ke mana-mana deh, hehe.
        Haha… senasib kita.

        Liked by 1 person

  3. Yasir Yafiat

    Emang agak susah kalau nyari parkir mobil di Umbul Ponggok, harus ngantri mobil lain keluar parkir dulu, baru bisa parkir. Dulu pas ke sana juga ramai sekali Hend, ampun banget pas mau ganti baju. Ngantrinya itu lo, subhanallah. Lama banget, al hasil ganti baju di dalam mobil.

    Liked by 1 person

    Reply
  4. jonathanbayu

    Kata penjaganya waktu saya kesana lebih baik ke Umbul Ponggok itu pagi-pagi banget atau sore-sore banget biar sepi dan merasakan kolam pribadi, trus pokoknya hindari deh yg namanya weekend. Kalo agak siang memang udah kaya kolam mandi massal hehehe

    Liked by 1 person

    Reply
  5. SITI FATIMAH AHMAD

    Assalaamu’alaikum wr.wb, Hendi Setiyanto…

    Walaupun yang ditempuh awalnya seperti satu cabaran dengan macet, hujan dan menunggu pesanan, tetap ada penawarnya apabila berkumpul beramai-ramai hingga melupakan apa yang sebentar tadi ditempuh. Iya, semuanya menjadi kenangan indah saat menulis pengalaman ini di sini. Kita banyak belajar tentang hidup melalui kepayahan yang kita temui dalam kehidupan ini.

    Salam sejahtera dari Sarikei, Sarawak.

    Liked by 1 person

    Reply
    1. Hendi Setiyanto Post author

      walaikum salam wr wb.menurut saya itulah seni dari sebuah cerita perjalanan yang tidak selalu manis namun akan terkenang dan begitu berkesan ketika kita bercerita ataupun menulisnya dengan orang-orang tersayang. salam…dari Banjarnegara semoga senantiasa sehat selalu

      Like

      Reply
      1. Fahmi (catperku)

        Iya, sekarang udah di indonesia, lagi ndekem di kampung(blitar) untuk sementara πŸ˜€

        itu rame di internet kayaknya pas aku di OZ, sempet viral kemana-mana kalo gak salah. yang foto underwater itu.

        Liked by 1 person

      2. Hendi Setiyanto Post author

        wah lagi pulkam ceritanya.
        eh iya dulu ingat2 lupa tapi emang foto yang di dalam air sambil melakukan aktivitas lain daripada yang lain sempat viral banget

        Like

  6. Fajrin Herris

    Ah aku waktu ke Jogya belum ada tempat hits seperti umbul pongok mas. Malah hanya ke Parang Tritis wae sama main ke Malioboro nya

    Liked by 1 person

    Reply
      1. Fajrin Herris

        Hahaha.. ya seperti ny di Klaten sih mas. Tapi mudah”an klo ada waktu akan balik lg ke Yogyakarta nih..

        Liked by 1 person

  7. bersapedahan

    ke umbul ponggo tapi ga sempet nyelem .. sayang ya, liburan awal tahun ini saya sekeluarga main jogja solo, termasuk ke umbul ponggok, biarpun rame .. karena sudah jauh2 kesini . ya nyelem juga .. ga afdol kalau ga sekalian sewa camera .. biar bisa foto eksis … hehehe

    Liked by 1 person

    Reply
  8. rynari

    Cendol dawet ayu lebih nikmat dari ‘cendol kolam ponggok’ ya Mas. Lah gaya saya menikmati Malioboro ya khasnya melihat gelombang pengunjung yg tak pernah surut dg aneka gaya. Salam

    Liked by 1 person

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s