Cerita Perjalanan Tiga Kota [1]


Suara binatang malam masih samar-samar terdengar memecah keheningan malam.

Hawa dingin malam sesekali menusuk pelan dari balik sela-sela jendela kamar tidur.

Pagi yang masih begitu premature ini harus dihadapi dengan rasa mengantuk yang sangat.


Bergegas tubuh ini reflek menuju bagian belakang rumah guna menjalankan ritual pagi seperti biasanya. Tak ada yang begitu berbeda dengan pagi-pagi seperti biasanya, hanya saja saya harus bangun lebih pagi dari biasanya guna menempuh perjalanan lumayan jauh menuju Klaten-Jawa Tengah.

Bahkan pertanda datangnya azan subuh masih jauh api dari panggang, namun pagi ini saya sudah begitu rapi dengan pakaian necis, tubuh beraroma parfum dan sudah siap dengan ransel yang berisi setelan batik di punggung.

Mau kemanakah sepagi ini? Jawabannya adalah: perjalanan panjang untuk bersilaturahmi dengan seseorang yang tengah menggelar hajatan besar.

***

Pukul empat pagi dan saya masih menunggu dengan sabar sambil sesekali rasa kantuk masih begitu kuat menggelayuti kelopak mata yang makin lama makin terasa berat saja. Setiap beberapa menit sekali, telinga dan mata ini awas menyaksikan dengan seksama kendaraan siapa yang sudi mengangkut tubuh ini. Ya, perjalanan yang awalnya begitu matang namun pada detik-detik akhir menjelang keberangkatan, saya dibuat harap-harap cemas mengenai kejelasan siapa yang akan menjemput.

Sebuah mobil Avanza hitam terlihat berhenti di depan rumah, suara mesin yang tidak begitu kentara membuat saya harus pasang telinga lekat-lekat. Suara klakson menyusul belakangan-menandakan seseorang yang hendak menjemput itu telah datang.


Tapi keyakinan dari mana yang membuat saya begitu percaya bahwa mobil yang berhenti di depan rumah tadi mau menjemput?

Ah…bagaimana kalau itu segerombolan mobil yang berisi orang-orang yang hendak berniat jahat?

Ah siapa pula saya ini, orang penting juga bukan, orang kaya apalagi, masih jauh…jauh.


Saya memberanikan diri keluar dari rumah dan belum sempat berpamitan dengan orang tua yang terlihat masih tertidur ayam. Toh mereka juga tau kalau pagi ini saya akan pergi.

Kaca jendela mobil sedikit terbuka dan terdengar suara ajakan untuk bergegas masuk. Ahaaaaa, kali ini firasat saya benar, mereka memang berniat menjemput pagi ini tapi siapa sangka teman yang lain yang malah menjemputnya, padahal ekspektasi awal adalah akan menumpang mobil teman yang lainnya.

Hanya ada empat orang saja yang duduk di dalam mobil ini. Dua orang lelaki masing-masing duduk di bagian kursi kemudi dan yang lain di sampingnya. Di belakangnya terdapat seorang perempuan setengah baya yang ditemani saya sendiri. Percakapan pun sekedarnya saja karena ternyata hawa dingin membuat otot-otot tubuh enggan bergerak termasuk dalam menggerakan bibir untuk bersuara.

Mobil kini sudah terparkir kembali di depan sebuah rumah mewah berpagar besi yang begitu megahnya. Salah satu rekan kami pemilik rumah ini dan untuk beberapa saat kami harus sabar menunggu beliau keluar. Maklum kali ini yang kami tunggu adalah seorang hawa yang mana terkadang butuh beberapa saat untuk memoles diri sebelum bepergian, sabar kata kuncinya walau dalam hati seakan ingin terus menggerutu saja. Yang ditunggu itu telah tiba, bau harum semerbak wangi dari tubuhnya yang terkena udara dingin pagi menambah sensasi tersendiri bagi kami yang berada di dalam mobil. Seperti biasa, saat ada kaum hawa, suasana langsung cair dengan celotehan-celotehan yang memecah keheningan sedari tadi.

Perlahan tapi pasti, kendaraan yang kami tumpangi kini sudah mendekati daerah perkotaan yang jalanannya makin menjelang subuh makin ramai saja. Samar-samar suara panggilan azan subuh terdengar dari masjid-masjid yang kami lewati. Sebagai seorang muslim tentu akan lebih baik jika melaksanakan ibadah tepat waktu, mobil pun kami tepikan menuju masjid besar yang terletak di pinggir jalan raya Banjarnegara-Wonosobo.

Perkiraan kami, Banjarnegara-Klaten akan sampai lokasi pada pukul tujuh pagi tapi karena harus menunggu ini itu termasuk menunggu rekan lain berkumpul membuat jadwal yang sudah direncanakan molor begitu saja, ah sudah biasa.

Keramaian gerobak-gerobak sayur yang telah dimodifikasi sedemikian rupa pada sepeda-sepeda motor yang terpakir rapi di jalanan Pasar Kretek-Wonosobo menyambut kami pagi itu. Semakin ke sini, sinar fajar pagi menyeruak masuk dari jendela kaca mobil. Beberapa kali mobil harus terhenti beberapa menit saja setelah beranjak dari tempat sebelumnya. Macet dan hiruk pikuk aktivitas pagi manusia yang sedang menjemput rizki pada pasar tradisional begitu kental terasa. Saya begitu menikmati suasana pagi itu.

Entah karena efek perut yang masih kosong tanpa diisi cemilan atau makanan apapun, atau karena saya sudah latah terkena sindrom mabok kendaraan, rasa pusing dan semacamnya tiba-tiba saja datang saat mobil melewati kelokan naik turun menuju daerah perbatasan Wonosobo-Purworejo-Magelang. Saya kali ini menyerah dan memilih tidur pada kursi paling belakang yang berisi tas guna merebahkan diri agar bisa mengurangi rasa pusing ini.

Tak terasa saya tertidur beberapa saat dan kini mobil sudah memasuki Daerah Istimewa Yogyakarta. Ah perasaan seakan flashback beberapa tahun ke belakang. Saya selalu rindu dengan kota ini, entah kenapa begitu banyak kenangan yang tertinggal dan membekas dengan Kota Gudeg ini. Kota ini seakan terus menunggu untuk dikunjungi, disinggahi lagi guna merangkai kembali memori-memori yang perlahan terhapus dan beberapa hilang. Saya diingatkan kembali untuk tidak melupakan kota ini dengan segala dramanya.


Apa kabar Jogja?

Maaf kali ini sepertinya “kamu” hanya jadi tempat persinggahan sementara saja, jika memang berjodoh kembali, saat pulang nanti saya pasti akan mengunjungimu kembali.


Tak lama dan memang benar saja, sebentar saja mobil kami sudah berada di depan komplek Candi Prambanan dan sebentar lagi memasuki kota Klaten dan menandakan tujuan kami hampir sampai.

Kabut Mendut

Disambut Kabut di Komplek Pelataran Candi Mendut

Oh ya, sebelumnya kami sempat mampir sebentar di Pelataran Candi Mendut-Magelang guna menikmati kabut pagi ditemani aneka gorengan hangat yang tersaji oleh para penjaja di depan pintu masuk Candi Mendut.

Plang Candi Mendut

Sarapan di Pelataran Candi Mendut

Begitu pula kini kami juga sudah berada di pelataran Candi Prambanan namun hanya sekilas saja untuk berganti baju dan membeli sesuatu di mini market dekat pintu masuk Candi Prambanan. Perjalanan masih dilanjutkan guna bisa tepat waktu menuju hotel di tengah kota Klaten.

Setelah sempat tersasar beberapa kali dan harus memutar-mutar kota Klaten yang lumayan ramai pagi itu, akhirnya kami sampai juga di hotel yang dituju. Beberapa ibu-ibu menggunakan kesempatan ini untuk berdandan mengganti gaun-gaun yang sudah dipersiapkan jauh-jauh hari sebelumnya untuk dipakai pada acara nanti. Sementara itu bagi kami para lelaki, kesempatan menunggu para perempuan berdandan digunakan untuk berjalan-jalan menikmati Kota Klaten yang kebetulan saat itu masuk hari minggu dan beberapa jalan ditutup karena ada acara car free day. Bagi kami, berganti baju bisa dilakukan di mana saja termasuk di masjid terdekat dengan memanfaatkan toilet yang tersedia, praktis.

Candid Daun

Iseng saat menunggu, maksud hati mau memfoto anak kecil tapi malah ketutup sama orang tuanya

Sejam lebih telah berlalu, kini kami sudah tampak rapi, wangi dengan balutan celana bahan, sepatu, kemeja batik lengan panjang dan tatanan belahan rambut samping nan klimis dengan pomade yang menempel.

Foto Diri

Sudah tampil klimis dan rapi

Perjalanan dari hotel menuju gedung utama lokasi hajatan perlu beberapa menit berkendara, dan beberapa saat kemudian, kami sudah memasuki lokasi utama yang berada persis di Komplek Rumah Sakit Islam Klaten.

***

Sebuah gedung pertemuan milik yayasan sebuah organisasi keagamaan berdiri persis di seberang parkiran rumah sakit ini. Deretan mobil milik para tamu terlihat sudah berjejer rapi terparkir pada tempat yang telah disediakan oleh pengelola. Bahkan bis-bis berukuran besar pun terlihat memenuhi sebagian area parkir.

Lumayan telat juga saat kami ke sini karena acaranya sebenarnya telah dimulai sejam yang lalu. Rangkaian bunga beraneka warna dan rupa yang membentuk setengah lingkaran telah menyambut para tamu di pintu masuk utama sebelum memasuki gedung ini. Satu persatu para tamu berbaris rapi menunggu giliran masuk dan mengisi buku tamu yang telah disediakan oleh panitia. Pada kanan-kirinya terdapat para penyambut tamu yang telah berdandan rapi menggunakan pakaian adat jawa. Sebuh souvenir berupa kipas beraneka warna kini sudah berpindah tangan dari para tamu yang telah selesai mengisi buku tamu.

Memasuki gedung utama, suasana begitu ramai oleh para tamu undangan yang telah lebih dulu hadir. Alunan musik gamelan menyambut para tamu undangan yang telah hadir. Kursi yang sedemikian rupa tertata rapi pada kanan-kirinya. Di tengah-tengahnya terdapat sebuah jalan menuju lokasi utama panggung tempat kedua mempelai menjadi raja dan ratu sehari.

Nuansa putih nan glamour begitu terasa saat mata menuju pada panggung utama tempat kedua mempelai disandingkan. Raut muka bahagia seakan tidak bisa ditutupi oleh seluruh anggota keluarga yang hadir. Begitupun kami para tamu undangan yang sama-sama ikut berbahagia karena kini satu persatu para pelayan silih berganti berdatangan membawa hidangan-hidangan mulai dari Pembuka, Utama dan hidangan penutup yang datang bergantian seolah membuat para tamu undangan untuk terus makan…makan dan makan lagi. Oh ya..yang istimewa dari catering pada acara ini adalah tak lain dan tak bukan dari catering milik salah satu putra orang nomor satu di Indonesia ya…Chilli Catering milik Gibran Rakabuming Raka dibalik semua kelezatan hidangan-hidangan ini.

Cemilan Pembuka

Yang favorit cemilan mirip seekor bebek, gurih dan krispi namun lembut di dalamnya

Sup

Dilanjutkan dengan sup segar berkuah hangat ini

Menu Utama

Bukan ngiklan, hanya ingin mengabadikan momen dengan makanan utama yang super enak

Jus

Ditutup dengan jusa atau es buah segar ini

Sebagai orang yang jarang makan-makanan mewah menurut takaran saya pribadi, tentu membuat tangan ini gatal untuk mengabadikan satu persatu hidangan yang terus menerus disajikan. Sementara itu musik band pengiring kedua pengantin yang tengah berbahagia silih berganti menyajikan lagu-lagu nan romantis. Sajian ditutup dengan segelas es buah mentimun dengan biji selasih yang menyegarkan di tengah suasana terik siang itu.

Kami memutuskan untuk mengakhiri acara besar ini terlebih dahulu dibanding tamu undangan lainnya. Lupakan acara jabat tangan untuk mengucapkan selamat kepada kedua mempelai beserta keluarga besar mereka. Tamu undangan yang begitu banyak membuat antrian bakal panjang.

Adzan dzuhur berkumandang dari masjid di belakang gedung resepsi ini. Satu persatu tamu undangan memasuki masjid guna melaksanakan kewajiban ibadah. Perjalanan berikutnya rencananya akan menuju sebuah umbul yang berada di Dusun Ponggok-Klaten.

Bersambung……

Advertisements

54 thoughts on “Cerita Perjalanan Tiga Kota [1]

  1. desfortinmenulis

    Cerita perjalanan lagi. Digambarkan dengan bahasa sedikit seperti cerpen.

    Saya pada separuh cerita baru mengetahui kalau Anda cs ternyata mau menghadiri acara nikahan. Di awal saya penasaran, hajatan apa.

    Masih panjang lagi ya kisah perjalanannya? Saya salut mas pandai buat cerita panjang2 walau update tulisannya gak sering… 😀😀

    Liked by 1 person

    Reply
    1. Hendi Setiyanto Post author

      Wah trims atas pujiannya…sebenarnya biasa saja perjalanannya tp tak pikir gimana biar ttp menarik…
      Ntah mngpa klo nulis suka lupa titik jd bsa pnjang dan kdg nglantur wkkkk
      Sgja apdet sebulan 3x biar konsisten hehe

      Like

      Reply
      1. desfortinmenulis

        Mas, menurut saya, pasti pandai bercerita sama anak kecil. Biasanya org yg suka nulis panjang asumsi saya begitu.

        3 x sebulan… itu semua ttg deskripsi travelling atau deskripsi lainnya? Saya suka melihat orang menulis apa yg ia suka dan pahami.

        Liked by 1 person

      2. Hendi Setiyanto Post author

        mungkin karena saya aslinya orangnya suka dengan detail2 dan runut walaupun kadang suka lupa juga sih. 3 x sebulan semua tentang traveling, mas…karena sudah niat bikin blog yang fokus ke dunia traveling hehehe

        Like

      3. desfortinmenulis

        Kalau ttg travelling berarti mas harus travelling tiap bln ya? 😀😀… seru ya bisa jln2 terus aplagi masih single….

        Oya, dlm pelajaran Bahasa Inggris di kelas sy sering juga ngajak siswa membuat cerita atau pengalaman traveling atau liburan mereka. Dlm materi di klas itu disebut recount text, tapi lebih singkat sih ceritanya. Seru memamg menceritakan ulang pengalaman nyata.

        Oke mas, semoga ttp semangat aja nulisnya.

        Liked by 1 person

      4. Hendi Setiyanto Post author

        Ya. Aku mlh baru tau….
        Tergantung itu mah….bsa iya bsa jg tidak hehe intinya prioritas antara yg 1 dgn yg lainnya mna yg didahuluin. Tp mngkn krna msh single x ya 😆😆

        Liked by 1 person

  2. iyoskusuma

    Suasana di Candi Mendut itu romantis banget, Mas! Suka liatnya. Sambil nikmatin teh panas udah paling jos. Hehe..

    Eh, itu katering Gibran enak ya? Temen pernah pake, katanya harganya bersahabat, enak, dan bersih. Kok jadi laper ya. Haha.

    Liked by 1 person

    Reply
    1. Hendi Setiyanto Post author

      iya ya…padahal lokasinya dekat dengan jalan raya dan di kelilingi pemukiman warga, tapi pas berkabut begini, siapa sangka. kelihatan berada di tengah2 hutan.
      Menurut saya sih enak dan pelayanannya super cepat, kita tinggal duduk manis nunggu makanan diantar terus yang kosong diambilin hehehe

      Liked by 1 person

      Reply
  3. dewi Nielsen

    Nggak kuat liat sisirannya si Hendi ah 😉 klimis …ha ha ha….

    Itu makanan yaa…perutku langsung kontak..kayak magnet…tau aja kiblatnya kemana….terutama pas liat sup segar itu…sluuurp

    Liked by 1 person

    Reply
  4. Halim Santoso

    Banyak orang luar Solo Raya yang bilang kondangan di bekas Karesidenan Surakarta pasti pakai konsep “piring terbang” hehehe. Unik, katanya. Konsep rijsttafel yang menarik toh? 😀

    Liked by 1 person

    Reply
  5. Gara

    Iya, piring terbang, haha. Saya dulu baru sekali menghadiri pernikahan dengan konsep seperti itu. Menurut saya lebih bagus konsep demikian soalnya kita makan sambil duduk. Terus terang saya kurang nyaman kalau makan sambil berdiri, haha. Eh tapi betul juga kata Mas Halim ya. Kebanyakan model pernikahan seperti ini saya jumpai di daerah Solo Raya (kemarin kasusnya di Wonogiri). Kalau di luar itu (Semarang, misalnya) sudah jarang.
    Candi Mendutnya baguuuuuus. Duh mistis eksotisnya terasa banget dengan hujan dan kabut itu. Saya nggak nyangka kalau di sana bisa ada kabut setebal itu, saya pikir hanya di dataran-dataran yang tinggi banget seperti Dieng. Memang hujan selalu membawa berkah, bahkan ketika saya suka berpikir bahwa dalam jalan-jalan, hujan itu musibah, haha.
    Eh sori kalau kepanjangan, hehe.

    Liked by 1 person

    Reply
    1. Hendi Setiyanto Post author

      Iya jadi kita tinggal duduk manis, makan dan bisa menikmati hidangan yang terus menerus disajikan dan yang lebih penting lagi porsinya satu sama lainnya sama, beda dengan sistem prasmanan yang seringnya aku kebagian terakhir kali dan sudah bisa ditebak, lauknya habis, nasinya sisa dan terkadang tinggal oseng2 sama krupuk hahaha.
      Tapi dulu di kampungku juga masih ada sistem seperti ini, jadi kalau kondangan, pengunjung langsung disuguhi piring yang sudah berisi lauk pauk lengkap tapi biasanya yang diprioritaskan untuk anak-anak. tapi sekarang sudah berubah dan jadi sistem prasmanan semuanya.
      Iya aku juga baru pertama kali lihat kalau candi mendut yang notabene berada di pinggir jalan dan dikelilingi perumahan bisa berkabut seperti ini macam di dataran tinggi dieng.

      Like

      Reply
      1. Gara

        Iya, itu memang bisa jadi trik untuk tidak membuat biaya konsumsi membengkak, haha. Meminimalkan gunjingan orang-orang juga, sebab dari sebuah hajatan, yang paling berkesan tentu konsumsinya.
        Mistis ya auranya dengan kabut itu, hehe.

        Liked by 1 person

  6. Pingback: Cerita Perjalanan Tiga Kota [2] | NDAYENG

  7. Matius Teguh Nugroho

    Klimis banget, brooo. Hehe, aku sendiri malah benci klimis dan lebih suka rambut kering tanpa disisir 😀 (malah bahas rambut)

    Pagi-pagi di Candi Mendut sambil menyantap sepiring gorengan kayaknya nikmat ya…

    Liked by 1 person

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s