Ketika Maut Hampir Menjemput


”Puncak Gunung Slamet masih terlihat gagah di depan mata.

Semakin mendekat, semakin terlihat jelas gagah dan besarnya gunung ini.

Jalanan menanjak yang membelah area persawahan menyambut kami dengan semilir angin yang berhembus dari berbagai arah.

Motor yang kami kendarai terus melaju menembus jalanan yang lumayan masih baik kondisinya”.


***

Sehari sebelumnya,

Libur Natal telah usai, bertepatan dengan hari minggu membuat kami ini yang masih terikat kerja harus rela gigit jari karena berharap Natal jatuh pada hari senin agar bisa libur 2 hari sekaligus. Apa daya setelah senin pagi harus memulai rutinitas kembali, akhirnya berkesempatan mendapatkan jatah cuti bersama selama satu hari dan saya mengambil jatah tersebut pada hari selasa.

Sahabat saya sejak kecil, Wedwi Priyogo yang kebetulan juga sudah memasuki dunia kerja juga tidak bisa memilih untuk bisa libur sesuka hati, bahkan hari minggu pun dia tetap masuk-belum lagi kalau dapat jatah shift pagi atau malam.

Setelah berembug dan mengklopkan jadwal libur akhirnya kami sepakat untuk jalan kembali menyusuri curug yang sudah lama tidak kami jelajahi.

Selasa, 27 Desember  2016, akhirnya kami berkesempatan untuk bisa jalan dan tujuan kami adalah Kota Perwira, Purbalingga.

Malam harinya,

Tak seperti biasanya semalaman ini saya tidak bisa tidur nyenyak. Beberapa kali terpaksa harus terbangun saat tengah malam. Hujan rintik-rintik terdengar dari balik jendela. Dingin brrrrr.

Entah karena saking antusiasnya atau gugup, saya merasa gelisah semalaman ini. Saya berfikir mungkin ini karena hampir beberapa bulan ini kami belum mengunjungi kembali curug dan terakhir yang kami kunjungi adalah curug di daerah Purbalingga.

Rencana kami pun sama yaitu menuntaskan rasa penasaran mengenai keberadaan curug yang beberapa waktu lalu terlewati saat pulang dari Goa Lawa Purbalingga.

Selasa pagi,

Sekitar pukul delapan kurang tiga menit saya sudah siap-siap menjemput Wedwi dan dia berujar untuk menunggu sekitar sepuluh menit lagi. Sembari menunggu selama sepuluh menit, saya pun menonton televisi yang pagi itu menyiarkan persidangan Basuki Tjahaja Purnama.

Pukul delapan lewat alias sudah hampir sepuluh menit lebih barulah ada chat whatsapp masuk


“i’m ready” balas Wedwi.


Tidak seperti biasanya yang menggunakan motor Wedwi dan dia juga yang kebagian jatah menjadi pengemudinya, kali ini saya sendiri yang menjadi kemudi motor matic berwarna putih.

Sekitar pukul setengah sembilan akhirnya kami pergi dan jalanan tidaklah terlalu ramai pagi itu.

Jujur, kami lupa nama curug yang hendak kami datangi, berbekal insting untuk bertanya pada siapa saja yang lewat, kami pun toh akhirnya sampai juga di lokasi tujuan setelah melewati kota Purbalingga-Mrebet-Hingga ke Desa Binangun.

Jalanan terus menanjak dengan semakin berkendara kami semakin dekat dengan kaki Gunung Slamet yang sudah ada di depan mata.

Tidak susah menemukan curug yang pada akhirnya kami tahu namanya yaitu Curug Kecom dan Curug Tempuran yang lokasinya saling berdekatan. Lokasinya yang berada di belakang rumah penduduk serta area persawahan milik penduduk desa setempat.

Untuk jalur sendiri, warga setempat telah berinisiatif untuk membuat berbagai macam petunjuk hingga ke bibir curug. Setelah berkendara melewati pinggiran rumah penduduk, motor kami parkir persis di belakang pos ronda berbentuk rumah panggung yang pagi itu dijaga oleh bocah laki-laki. Bocah tersebut usut punya usut merangkap sebagai juru parkir dan juga penjaga tempat penitipan helm milik pengunjung.

Saat kami ke sini hanya ada kami berdua yang berkunjung. Perjalanan dilanjutkan dengan berjalan kaki melewati pemukiman penduduk. Dalam perjalanan kami sering berjumpa dengan para “penderes” atau tukang nira yang sedang mengambil air nira dari pohon-pohon kelapa yang sejak semalam sebelumnya mereka pasang.

Aroma air nira yang tengah digodok serta berserakannya wadah-wadah air nira di belakang rumah menandakan bahwa mayoritas penduduk bekerja sebagai seorang “penderes”.

Kami menyapa bapak-bapak yang tengah mengangkut air nira yang terbagi dalam wadah-wadah dan berkesempatan mencicipi manisnya air nira yang baru saja diturunkan dari pohon kelapa. Tidak murni dan jernih memang penampakan air nira karena belum disaring namun rasanya legit, manis alami.

Pada akhir obrolan dengan bapak tersebut, saya sebenarnya hendak meminta ijin untuk melihat lebih dekat proses pembuatan gula dari air nira dan dengan senang hati bapak tersebut memperbolehkan, namun Wedwi sudah berjalan jauh menuju curug dan saya pun berujar bahwa nanti saja pas pulangnya mampir ke rumah bapak tadi.

***

Jembatan kecil yang melintas di atas saluran air berselokan yang tertata rapi kami lewati. Di depan kami sudah terhampar area persawahan yang pada beberapa bagian terlihat sudah lewat masa panen.

Curug Tempuran (3)

Berjalan di pinggir selokan air menuju curug

Kami terus mengikuti aliran air dari selokan tadi hingga bersumber pada sebuah sungai besar dengan bebatuan khas tanpa bongkahan-bongkahan tetapi seperti bebatuan yang tergerus aliran air dalam waktu yang lama. Lagi-lagi kami menemukan fenomena seperti ini pada sungai-sungai di kaki Gunung Slamet.


Selamat Datang di Curug Kecom, Curug Tempuran, Pancuran Songo dan Sendang Mawar.


Begitulah yang tertulis di plang yang terdapat di area ini. Selain itu juga ada himbauan agar Pengunjung tidak bermain air di dalam sungai dan curug saat cuaca mendung dan hujan.

20161227_102647

Tanda Peringatan

Sebenarnya kami bingung mana yang Curug Tempuran dan mana yang Curug Kecom. Karena arah panah mengarah ke sebelah kanan sementara curugnya berada di bawah alias di sebelah kiri plang. Toh bukan menjadi masalah karena kami sudah antusias melihat air yang lumayan jernih dengan bebatuan aneka bentuk yang hampir menutupi seluruh aliran sungai dengan ciri khas seperti  bebatuan yang secara terus menerus tergerus air hingga menciptakan celah-celah yang unik nan alami.

Curug Tempuran (2)

Wedwi terlihat asyik duduk di atas bebatuan dekat aliran curug

Sebelum melihat curug yang berada di bawah, kami penasaran dengan curug yang satunya karena sedari tadi kami belum menemukannya. Perlahan kami mencari curug yang satunya dengan berjalan kaki melewati aliran sungai dengan cara melompati satu persatu bebatuan yang mirip jembatan alami. Perjalanan dilanjutkan dengan menaiki lereng-lereng kebun milik warga dengan jalan setapak pada sebelah kanan kami yang berupa rimbunnya tanaman bambu.

Hampir lima belas menit lebih kami berjalan menanjak dan belum juga menemukan keberadaan curug yang kami cari. Setelah naik turun jalanan licin serta beberapa kali istirahat sejenak di pinggir sungai akhirnya kami memutuskan untuk kembali lagi saja ke tempat semula tadi yang sudah pasti keberadaan curugnya pada bagian bawah saat pertama kali memasuki tempat ini.

Kali ini saya menjadi orang pertama yang kurang beruntung karena saat kaki hendak melompati bebatuan yang pada bagian terlihat licin, naasnya membuat saya terpeleset dan tercebur ke dalam air. Wedwi pun hanya tertawa melihat kejadian tadi sementara baju, celana dan tas sudah basah kuyup.

Karena sudah tau dimana lokasi curug saya pun memutuskan untuk memisahkan diri, niatnya mencari jalan menuju curug pada bagian bawah sungai ini dengan menyeberang sungai yang berlawanan dengan Wedwi. Saya pikir ini adalah jalan tercepat menuju curug di bawah sana dan ternyata saya malah tersesat hingga ke tebing yang sangat curam dan salah sedikit bisa jatuh ke jurang sana.

Baju sudah makin kotor karena terkena tanah yang basah. Beberapa kali mencoba untuk tidak menyerah tapi semakin jauh melangkah malah jalan semakin menyempit  dan tidak bisa dilewati lagi. Karena buntu ya sudahlah menyerah saja kembali lagi ke tempat semula. Belakangan saya baru tau kalau Wedwi mencoba missed call beberapa kali menanyakan keberadaan saya yang terpisah lumayan lama.

Dari kejauhan terlihat Wedwi sudah duduk-duduk di bibir atas curug yang kalau dilihat ketinggiannya lebih dari lima belas meter. Awalnya saya berfirasat kurang enak karena dia kok tumbenan duduk-duduk ke area yang sangat berbahaya tadi padahal biasanya dia termasuk orang yang sangat wanti-wanti saat menjelajah ke curug agar berhati-hati biar tidak celaka.

Curug Tempuran (4)

Jurang yang jaraknya hanya beberapa centi meter saja

Pada bagian tebing atas sungai terdapat gardu pandang yang terbuat dari tatanan bambu dan terlihat masih baru. Dari sini saya bisa melihat pemandangan atas sungai sebagai sumber aliran sungai menuju curug di bawahnya. Dari atas juga bisa melihat posisi Wedwi yang sebenarnya sangat berbahaya karena beberapa centi meter saja adalah berupa jurang tempat air dari atas sungai ini berjatuhan menuju kolam di bawah.

Curug Tempuran (5)

Kolam di bawah sana dilihat dari atas

Saya meminta Wedwi untuk turun dan berbicara keras dari kejauhan. Terlihat dia berbegas menggendong ranselnya untuk menyeberang sungai.

Beberapa detik kemudian suasana tiba-tiba menjadi hening seheningnya. Jantung berdebar kencang dan firasat buruk menggelayuti hati dan pikiran. Saya masih yakin jika tadi dia sudah melompati bebatuan untuk menyeberang namun hampir semenit lebih belum muncul juga keberadaannya.

Curug Tempuran (7)

Sesaat sebelum terpeleset dan jatuh

Apa yang saya takutkan menjadi kenyataan. Dari atas sini saya melihat Wedwi terjatuh dari curug yang ketinggiannya sekitar lima belas meter dan jatuh ke dasar kolam di jurang sana.


Tolong..tolong…tolong…tolong…..tolong….!!!!


Dari atas sini terlihat Wedwi yang sedang berusaha untuk terus sadar dari terjangan air dan aliran air. Dengan posisi terlentang, mata merah, mulut terus berusaha untuk dijadikan penolong pernafasan. Untunglah tas ransel yang masih tergendong membuatnya bisa terapung serta sedikit menahan guncangan bebatuan di bawahnya.

Curug Tempuran (6)

Bayangkan jatuh dari ketinggian dan selamat

Ingin rasanya meloncat dari sini tapi jika dilakukan tentu malah semakin menambah kekacauan karena selain terlalu tinggi toh saya juga tidak bisa berenang.

Dalam hati masih terus berdoa sembari terus tenang dan terus berusaha memanggil Wedwi agar terus tersadar dari kejauhan.

Setelah dirasa aman dan kondisi Wedwi juga aman, saya menuruni tebing dengan seutas tali dan berusaha untuk tetap tenang hingga sampai bawah.

Saya berteriak namun tak ada seorang pun di tempat ini kecuali kami berdua. Perasaan sudah campur aduk antara panik dan ingin menolong tapi bagaimana caranya? Apa saya juga harus ikut melompat ke jurang sana dan menolongnya?

Perasaan dan rasa bersalah berkecamuk.


Bagaimana kalau dia tidak selamat?

Bagaimana saya bisa menolongnya?

Minta bantuan siapa di tempat sesepi ini?


Namun Tuhan masih memberikan mukjizatnya siang itu. Perlahan kepala Wedwi dan ranselnya muncul ke permukaan dengan nafas yang ngos-ngosan terkena arus sungai. Perlahan dia terbawa arus hingga ke pinggir sungai.


Alhamdulillah ya Allah…..

Dia masih selamat…


Saya bergegas turun melewati bebatuan licin dengan aliran air dan berpegangan pada seutas tali yang tersedia hingga sampai di bawah aliran curug ini.

Terlihat Wedwi lemas dengan pakaian basah kuyup dan mata merah karena terkena air dan tergeletak di atas batu. Saya masih yakin kalau dia masih sadar dan benar dia masih selamat dari tragedi yang benar-benar membuat sekujur tubuh ini lemas saat menyaksikannya.

Curug Tempuran (8)

Syok dan pakaian basah kuyup

Ajaibnya dia sadar dan sedikit tersenyum kecut sambil mengulurkan tangannya gunamelihat kondisi handphone-nya yang basah kuyup apakah masih nyala.

Curug Tempuran

Sudah bisa menenangkan diri

Saya masih belum sepenuhnya sadar dengan kejadian tadi dan masih belum percaya dengan apa yang dilihat tadi. Berkali-kali ingin teriak karena kejadian tadi.

Hampir sepuluh menit lebih Wedwi masih tiduran di atas bebatuan dan mungkin sedang memulihkan perasaannya tadi. Kami terdiam beberapa saat dan akhirnya saya yang memulai percakapan.


Ayolah kita pulang saja!


Saya raih tangannya untuk membantunya berjalan dan seperti tidak terjadi apa-apa kami kembali menaiki tebing untuk pulang dengan dibantu seutas tali saat saya turun tadi.

Kami masih sering bengong mungkin karena mengingat kejadian tadi yang begitu cepat dan hampir saja kehilangan nyawa. Untungnya tidak terjadi lecet-lecet atau patah tulang. Hanya kepala sedikit pusing katanya.

Kami duduk di depan tempat parkir beberapa saat dan memutuskan langsung pulang saja ke rumah. Dengan membayar biaya parkir plus biaya titip helm, kami berdua meninggalkan lokasi curug ini dengan perasaan masih campur aduk tidak karuan.

Saya masih terus merasa bersalah karena sejatinya saya sendirilah yang mengajak Wedwi menemani ke lokasi curug ini. Di atas sepeda motor kami hanya terdiam tanpa bicara. Mungkin dia masih syok begitu pula dengan saya. Guna memecah keheningan saya menawarkan diri untuk mampir makan siang di warung mie ayam pinggir jalan. Dia pun setuju.

Suasana sedikit cair dan dia mau bercerita tentang pengalaman buruk tadi. Sebelumnya dia pun bercerita juga hampir tenggelam saat bermain arung jeram di Sungai Serayu. Dia dan seorang temannya tercebur saat perahu melewati jeram dan beberapa saat tidak muncul dari dalam air karena terkena pusaran air yang begitu besar. Ajaibnya dia dan temannya selamat namun sang guide dan teman lainnya terlihat pucat pasi melihat kejadian tersebut.

Tak terasa perbincangan tadi membuat mie yang kami pesan hampir habis karena saking laparnya. Siang itu dengan pakaian Wedwi yang masih basah kuyup kami akhiri dengan langsung pulang ke rumah di Banjarnegara. Sebenarnya saya sudah menawarkan diri untuk berganti pakaian dengan celana di dalam tas yang kebetulan sengaja saya bawa namun dia kurang tertarik.

Kejadian tadi sungguh membuat saya terbuka mata untuk selalu menomorsatukan keselamatan jiwa saat berpelesiran dimana pun daripada sekedar memperoleh foto-foto yang cantik untuk dipasang di instagram. Ingatlah keselamatan jauh lebih penting, ada keluarga yang menanti di rumah. Semoga peristiwa tadi  menjadi pelajaran bagi kita semua terutama diri saya pribadi.

Advertisements

76 thoughts on “Ketika Maut Hampir Menjemput

  1. Gara

    Ya Tuhan, serem banget. Itu kalau saya mungkin dalam beberapa bulan akan stop dulu buat jelajah ke curug, minimal sampai trauma agak hilang. Syukurlah si Wedwi masih selamat. Iya mah keselamatan memang nomor satu, nggak apa-apa deh foto yang diambil biasa saja yang penting tidak ada kejadian suatu apa yang mengancam nyawa. Kemarin saja waktu saya jelajah terowongan kereta api saya tak berani ambil foto dari tengah rel, mending dari samping saja, takut kalau ada kereta yang datang tiba-tiba. Safe traveling ya Mas!

    Liked by 1 person

    Reply
    1. Hendi Setiyanto Post author

      Setuju sekali, Gara. Ya namanya juga lagi apes dan sekaligus mujur menurutku. Trauma sih kayaknya enggak tapi akan teringat terus dan waspada pastinya. Sehari setelah kejadian aku tidak bisa tidur dan terus membayangkan kejadian yang dialami tadi. Tapi hidup kan harus jalan terus ke depan, ya berpikir positif saja dan terus waspada

      Like

      Reply
    1. Hendi Setiyanto Post author

      eh btw komenmu kok masuk spam ya? wkwkwk…iya nih agak gimana gitu juga kalau nggak bisa renang padahal main air kan seharusnya mengasyikan, pernah beberapa kali sampai parno naik kapal karena pengelola tidak menyediakan pelampung, atau pas maen ke green canyon pangandaran yang udah kayak anak kecil gelagapan nggak bisa terapung satu sama lainnya wkwkwk

      Like

      Reply
  2. didisahertianblog

    Bacanya sambil deg deg ser. Syukurlah kakak Dan kak wedwi bisa pulang dengan selamat. Memang lebih baik goto biasa saja namun selamat Dari pada goto luar biasa namun keselamatan malah dipertaruhkan. Safe traveling untuk kita semua.

    Liked by 1 person

    Reply
    1. Hendi Setiyanto Post author

      ini juga tumbenan dia biasanya juga wajar2 saja saat mengunjungi curug tapi pas di curug ini aku juga kaget karena dia malah duduk2 di dekat jurang. Syukurlah masih diberi keselamatan

      Like

      Reply
  3. ikrom

    eh ikut ndredeg
    untung masih bisa selamat
    klo k tempat seperti air terjun gitu memang harus hati2
    memang benar apa yg disarankan pada papan peringatan terutama ketika hujan

    Liked by 1 person

    Reply
    1. Hendi Setiyanto Post author

      padahal pas tau dia melompat tapi belum muncul juga, perasaanku sudah ga karuan antara percaya dan ga percaya terus kalau sampai celaka mau minta tolong siapa, padahal sudah berteriak dan tak seorang pun yang mendengar

      Like

      Reply
    1. Hendi Setiyanto Post author

      iya aku juga mikir gitu, coba (amit2) pas kepleset terus kepala terbentur batu lah pas jatuh kan bisa tak sadarkan diri dan tenggelam, syukurlah…syukurlah…

      Like

      Reply
  4. desfortinmenulis

    Awalnya saya berpikir mungkin Anda yang mengalami naas tersebut, ternyata teman Anda, si Wedwi itu.

    Waduh2… niat mau plesiran/piknik koq malah dapet insiden sih, mas. Btw, teman Anda si Wedwi itu gak bisa berenang juga ya?

    Saya setuju banget kalau bepergian, apalagi jauh kayak itu, safety first.

    Syukur dech, mas Hendi, walaupun mungkin plesirannya sedikit “gagal”, tapi tentu itu menjadi pengalaman berharga agar lain kali selalu awas.

    Liked by 1 person

    Reply
    1. Hendi Setiyanto Post author

      iya, kebetulan aku berada di pinggir sungai dan melihat dari kejauhan saja. dia juga aneh pada waktu itu karena tumbenan juga mau duduk2 di dekat bahaya seperti itu padahal biasanya malah dia yang selalu wanti2 untuk terus waspada. syukurlah berakhir dengan baik, Tuhan masih sayang…

      Like

      Reply
      1. Hendi Setiyanto Post author

        lha…kalau ga salah malah dia yang minta difoto…mungkin saat itu biar ga trauma banget dan aku memang langsung menghiburnya dengan becandaan

        Like

  5. rynari

    Membaca saja ikutan ndredheg Mas Hen. Puji Tuhan mas Wedwi selamat. Menjadi pengingat bersama menikmati keelokan alam tetap perlu waspada ya. Salam

    Like

    Reply
    1. Hendi Setiyanto Post author

      aku pun ikut lemas seketika melihat kejadian tadi, tapi sekali lagi Tuhan masih memberikan kesempatan hidup bagi temanku tadi dan kami pun tersenyum pada akhirnya

      Like

      Reply
    1. Hendi Setiyanto Post author

      alhamdulillah memang begitu adanya walau kalau diingat2 kembali bikin lemes. trims sudah mampir dan meninggalkan jejak di blog NDAYENG ini : ), slam kenal

      Like

      Reply
  6. Dandy Siswandy

    si wedwi itu engga bisa berenang yaa ? dia ngapung karena ranselnya aja ? asli beruntung banget temenmu mas. ngeri banget jatuh kaya gitu takutnya dibawah engga terlalu dalam dan kena batu tapi kalau terlalu dalan dan engga bisa berenang sama aja #serbasalah

    hati hati mas bro kalau main ke curug

    Liked by 1 person

    Reply
  7. Dhody Sableng

    alhamdulillah dah selamet. jangan kapok main ke Ds. Binangun ya bang,
    lain waktu main lagi, kebetulan aku anak situ

    Like

    Reply
  8. Pingback: Kilas Balik Blog NDAYENG | NDAYENG

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s