Kisah Manis di Pasar Manis

Hiruk pikuk dan sorak sorai gempita menyambut pergantian tahun seakan tidak berefek apa-apa bagi saya pribadi beserta keluarga besar di rumah.  31 Desember Malam, bapak, ibu, adik dan keluarga kakak berkumpul di rumah hingga pukul sepuluh malam lebih. Tak ada tradisi bakar-bakar ayam maupun ikan. Hanya makan seperti biasa disertai iringan celotehan dan juga sendau gurau saja.

Hingga hampir tengah malam pun suasana malam masih begitu sepi, maklum kami tinggal di desa. Hiruk pikuk perayaan pergantian tahun baru seakan tidak terlalu berpengaruh signifikan. Hanya sesekali deru sepeda motor yang berlalu lalang di jalan raya depan rumah, sisanya sorak sorai keriuhan dari balik layar televisi.

Saat pagi hari, semuanya seolah seperti hari-hari biasa tanpa ada perbedaan yang cukup berarti. Lalu lintas kendaraan di depan rumah masih ramai. Tukang ojek pun hilir mudik ke sana ke mari mengantarkan penumpang ke tujuannya masing-masing. Para pedagang sudah sejak subuh membawa barang dagangan mereka menggunakan sepeda motor, mobil hingga dipikul sambil berjalan kaki. Sungguh, kehidupan yang terus berlangsung seiring roda ekonomi yang terus menggeliat saat hari masih gelap.

Hari ini, 1 Januari 2017 bertepatan dengan Hari Minggu yang mana hari ini merupakan Hari Pasaran Manis atau Legi yang berlangsung tiap 5 hari sekali. Lokasi pasar yang dekat dengan tempat tinggal membuat geliat ekonomi para penduduknya begitu terasa. Sebuah kesederhanaan demi untuk bisa terus hidup dengan cara berdagang.

Pagi-pagi sekali, Ibu sudah berdandan rapi. Stok sayuran dan barang kebutuhan pokok lainnya telah menipis. Isi kulkas pun sudah kosong melompong dan tinggal berisi air putih dingin saja dalam botol-botol kaca serta plastik.

Seperti biasa, sayalah yang menjadi andalan Ibu saat hendak menjalani rutinitas pergi ke pasar. Saya harus siap sewaktu-waktu Ibu ingin diantarkan ke sana ke mari, istilahnya adalah sebagai  tukang ojek pribadinya.

Awalnya saya malas-malasan dan ogah-ogahan pagi-pagi sekali harus beraktivitas. Hangatnya bantal dan guling serta kasur seakan menjadi candu untuk terus terlelap di balik selimut.

Tapi, ini kan hari libur, tahun baru lagi, masa masih terus bermalas-malasan?, Oke saya bangun, mandi dan siap sedia mengantar ibu ke pasar”.

Singkat cerita, kami berdua sudah berada di pasar dan saya malah iseng memisahkan diri dari ibu sembari menunggu selesai ibu berbelanja. Tujuan pertama saya adalah pasar hewan yang lokasinya paling timur dari Pasar Manis ini.

Tempat parkir yang memakan sebagian badan jalan sudah penuh oleh kendaraan roda empat hingga roda dua. Beberapa kali harus mencari lokasi yang pas untuk bisa memarkir motor dengan aman. Pintu masuk kecil menuju pasar telah penuh sesak dengan para penjual buah-buahan yang menggelar dagangan mereka persis di pintu masuk. Para tukang ojek masih dengan setia serta sabar menunggu para calon penumpang.

Kesan pertama memasuki pasar hewan adalah bau, ya bau pesing dari air kencing kambing yang bebas sembarangan menyalurkan hasratnya semau mereka. Bau asap rokok serta tembakau lintingan juga menambah kekhasan area ini. Pada pinggiran area ini terdapat banyak los-los penjual tembakau yang pada bangku-bangkunya sudah diduduki oleh para penggemar asap tembakau, menyan, hingga papir yang kesemuanya rata-rata adalah orang lanjut usia alias kakek-kakek.

20170101_081150

Aktivitas jual beli kambing di Pasar Manis

Aktivitas tawar menawar terdengar bersahut-sahutan antara penjual dengan pembeli. Embikan kambing-kambing dari berbagai ukuran, warna serta jenis kelamin seakan menambah riuhnya suasana pasar pagi itu. Kambing kecil, hingga besar pada lehernya telah diberi dadung (semacam tali) untuk mengikat dan memudahkan para penjual maupun pembeli saat menariknya.

20170101_081400

Anakan kambing dalam jumlah banyak dan dijual @Rp 400,000 rata-rata

Saya berdiri mematung menyaksikan dengan seksama atmosfir pagi ini yang bagi saya pribadi merupakan sebuah hal yang sangat unik. Sinaran matahari dari arah timur semakin terik saja dan membuat mata semakin silau, saya mencari posisi yang lebih teduh-menyemut di antara orang-orang.

Awalnya merasa canggung serta sedikit malu saat mengarahkan kamera memotret objek yang dirasa menarik. Tatapan-tatapan aneh serta seakan heran melihat saya yang masih muda ini mau-maunya ke tempat ini, mungkin itu yang mereka pikirkan. Namun semakin lama saya semakin asyik saja saat berada di sini.

Saya terus masuk ke dalam menembus puluhan ekor kambing serta puluhan manusia yang tumplek pada satu tempat.

Langkah kaki terus masuk jauh ke dalam pasar. Sebentar saja kaki ini sudah berada pada bagian becek serta basah yang merupakan area penjualan ikan segar. Beberapa baskom-baskom besar berwarna hitam serta berisi air dan juga berbagai macam jenis ikan terlihat di depan mata. Para penjual seakan terus berlomba menawarkan dagangan mereka masing-masing dan berharap dapat menarik pembeli untuk sekedar mampir-melihat dan kalau berjodoh mau membeli barang dagangan mereka.

20170101_082304

Dulunya, lokasi penjualan ikan digabung dengan penjualan kambing, tapi sekarang sudah berubah

Lagi-lagi area ini juga di kepung oleh banyaknya lapak-lapak para penjual tembakau yang mempunyai khas tiap lapaknya terdiri atas bangku-bangku kecil tempat pembeli mencoba berbagai macam tembakau sambil berbincang-bincang dengan sesama perokok.

Saya tidak merokok dan sebenarnya sangat terganggu dengan asap rokok. Untuk itu saya berusaha tidak terlalu dekat saat memfoto aktivitas mereka di sini.

Niat awal adalah ingin sarapan di salah satu penjual Soto legendaris milik Bapak Muhroni. Ya itu bayangan masa kecil saat itu, tapi kondisi sekarang ini saya kurang paham. Di mana letak kiosnya?, penjualnya siapa saat sekarang ini? dan semacamnya. Entah sudah tidak berjualan lagi atau saya yang kurang jeli, pagi itu saya gagal sarapan semangkok soto legendaris tersebut.

Hmmm sangat disayangkan tapi tidak masalah.

Pandangan seketika teralihkan saat melihat banyak orang berkerumun pada sudut pasar ini. Saya pun makin penasaran dan berusaha mendekat. Tebakan saya saat itu adalah……, biasanya ramai saat ada tukang obat tradisional yang sedang menggelar barang dagangannya lengkap dengan cerita-cerita ajaibnya yang membuat orang-orang betah berlama-lama untuk berkerumun di depannya. Tebakan saya pun benar tapi lebih tepatnya penjual obat atau ramuan untuk merontokan karang gigi serta mengobati sakit gigi.

20170101_083048

Tukang penjual obat untuk gigi dengan penampilan nyentrik namun banyak dikerumuni oleh orang-orang

Rambut keriting gondrong, kemeja warna pink yang mencolok serta dimasukan ke dalam celana Cargo Motif Militer yang dia pakai, serta menggunakan sepatu boots. Sungguh suatu tampilan yang mencolok serta rapi bagi saya.

Berbagai macam gambar serta potongan kliping koran yang dilaminating sedemikian rupa telah tergelar di lapaknya yang sederhana dan digelar begitu saja di atas lantai paving pasar. Tua-muda hingga anak-anak terlihat berjongkok, berdiri melingkar fokus mendengarkan penjelasan sang penjual obat tadi.

Di atas lapak yang tergelar tadi terlihat beberapa lembar uang lima puluh ribuan serta seratus ribuan dari hasil penjualan beberapa menit itu. Sungguh saya kagum dengan cara marketing yang joss diselingi cerita-cerita yang membuat orang betah berlama-lama di sini.

Pada beberapa bagian saat bercuap-cuap sang bapak tadi mempraktikan secara langsung kepada orang-orang yang berkerumun untuk membuktikan kemanjuran obat yang dijualnya. Beberapa orang dengan sukarela membiarkan gigi mereka dioles-oles serta dicungkil karang giginya menggunakan peralatan khas dokter gigi.

Ajaib!!!……,

Beberapa detik setelah dioles obat tadi, karang gigi yang mungkin sudah berpuluh-puluh tahun menempel tersebut rontok seketika. Saya nyengir melihat kejadian tadi, antara jijik namun juga sedikit takjub. Sang pembeli pun tidak ragu-ragu saat mempraktikan langsung tanpa menggunakan sarung tangan maupun masker, mungkin sudah terbiasa hehehe.

Semakin lama, satu persatu orang-orang tertarik membeli. Lembar demi lembar rupiah kini berpindah tangan seiring dengan renggangnya kerumunan. Saya pun ikut membubarkan diri tanpa perlu diberi aba-aba.

20170101_082925

Sang tukan obat saat melayani pembeli sambil menjelaskan, terlihat lembar uang kertas seratus ribu rupiah

Perut semakin lapar karena jam sarapan sudah lewat. Saya mencari lokasi penjual jamu yang sangat legendaris. Saya masih ingat betul saat masih kecil dulu sering minum jamu dengan gelas berukuran kecil dan yang dipilih pastinya jamu beras kencur, sementara itu pada waktu itu, ibu sedang sibuk memilih sayuran saat berbelanja.

Kini saya masih menemukan penjual jamu legendaris tersebut, Bu Gio nama penjual jamu tadi. Beliau sebenarnya berasal dari daerah Solo namun sudah lama menetap di Banjarnegara. Menurut saya beliau dari dulu hingga sekarang orangnya begitu-begitu saja alias tetap awet muda.

“Bu, tumbas jamune nggih” sapa saya saat itu pada Bu Gio.

“Badhe deunjuk teng mriki nopo dibungkus mawon, mas?

“Debungkus mawon, bu, kalih nggih”, sebungkuse pinten nggih?

“Sebungkuse kalih ewu mawon mas”

“Lha nek niki sing teng botol, pintenan bu?”

“Sing teng botol regine nem ewu tapi nggo njenengan gangsal ewu mawon”

“Oh ngono, kulo tumbas sing teng botol mawon lah bu”

Saya akhirnya lebih memilih jamu beras kencur yang dijual dalam botol bekas air mineral seharga Rp 5,000 sambil mencuri-curi waktu untuk memfoto si ibu saat melayani pembeli.

20170101_084326

Ibu Gio si penjual jamu legendaris tadi

Sebotol jamu telah didapat, kini saya melanjutkan mencari lokasi sarapan yang sudah lewat ini. Karena soto yang dicari tidak ditemukan, saya memutuskan saja mampir ke warung bakso yang juga legendaris, Bakso Pak Mamo. Namun sebelumnya  saya sempat mampir dahulu ke lapak penjual berbagai macam benda tajam untuk keperluan bertani seperti parang, pacul, cangkul, arit, pancong, golok, gorok atau gergaji dan berbagai macam benda tajam lainnya. Penjualnya seorang kakek-kakek yang memakai peci dan terlihat masih sangat gagah. Kiosnya saat itu ramai oleh para pembeli yang hendak membeli barang dagangannya.

Saya mencuri-curi waktu untuk memotret aktivitas yang menurut saya unik ini dan lagi-lagi orang menatap aneh hehehe, bahkan si ibu penjual buah pisang nyeletuk saat saya menenteng sebotol jamu. “Istrinya mau sehabis melahirkan ya mas?” hehehehe saya pun tersenyum sambil nyelonong menuju warung bakso yang berada di belakang lapak penjual buah pisang ini.

Harum daging sapi yang dikukus serta jeroan sapi yang mengeluarkan asap mengepul terlihat dari panci besar yang terdapat di gerobak bakso ini. Sang penjual (suami istri) Pak Mamo dan Bu Mamo terlihat sibuk melayani pembeli yang lumayan ramai. Kiosnya tidaklah sebagus yang dibayangkan namun penuh sesak oleh pecinta bakso yang tiap lima hari sekali berjualannya.

20170101_090556

Bapak Mamo tengah sibuk meracik bakso untuk pelanggannya

”Bu, pesan baksonya satu mangkok ya”

Dengan sigap bu Mamo langsung melayani pembeli dan meraciknya. Beberapa saat kemudian, semangkok bakso yang masih terlihat mengepul sudah tersaji di depan saya.

Tidak ada yang begitu menonjol dari bakso ini, hanya saja kuah serta bumbunya begitu terasa dan juga kental karena tiap beberapa saat akan ditambahkan bumbu baru ke dalam panci besarnya. Ini cukup beralasan agar kuahnya terus sama dari saat pertama kali buka hingga menjelang siang saat ini. Baksonya kenyal dan kuahnya juga tidak terlalu bau prengus karena jeroan sapi. Dan saya suka sekali apalagi jika ditambah kecap manis, sambal dan satu ketupat. Hmmm rasanya masih sama sejak dahulu hingga saat sekarang ini.

Tak terasa bakso sudah habis dan berpindah perut, keringat menetes dan juga hawa panas menyeruak menjelang siang ini.

“Berapa pak satu mangkok plus satu ketupat?”

20170101_085219

Semangkok bakso sudah tersaji, karena sesak dan sempit untuk memfoto semangkuk bakso tadi lumayan sulit, inilah hasilnya

“Oh, sepuluh ribu saja, mas”

Harganya sama seperti penjual bakso di tempat lain namun rasanya tentu sangatlah berbeda. Semangkok bakso yang juga ditemani beberapa teguk jamu beras kencur siang itu telah menutup perjalanan saya bernostalgia di Pasar Manis ini. Sungguh suatu pengalaman yang luar biasa dan membangkitkan memori masa kecil yang selalu teringat hingga dewasa saat sekarang ini.

Pasar tradisional selalu punya cerita sendiri dan juga memilik suatu yang khas dan juga unik dibanding mall ataupun pasar modern. Pengalaman tadi bisa menjadi tulisan yang menarik dan tak terasa bisa menjadi cerita hingga panjang lebar tertulis di blog NDAYENG ini.

Advertisements

32 thoughts on “Kisah Manis di Pasar Manis

  1. Halim Santoso

    Tukang obat giginya ilmu sulapnya ajaib yah, mampu bayar orang sebagai model yang bisa merontokkan karang giginya dengan cepat hahaha. Tipuan yang sering dijumpai di pasar tradisional. Hahaha. Pasar Manis ini mengingatkanku pada keramaian Pasar Bekonang di Sukoharjo waktu hari pasar jatuh Kliwon, Hen. Manis yang dijadikan nama pasar di situ artinya hari pasar “Legi” atau ada arti rasa manis yang lain?

    Liked by 1 person

    Reply
    1. Hendi Setiyanto Post author

      Entah itu orang bayaran si tukang sulap atau bukan, aku sih agak gimana gitu pas ngelihat tuh karang gigi pada rontok wkwkwk.
      Dalam penanggalan jawa sih seharusnya disebut Pasar Legi yang terjadi tiap lima hari sekali, tapi orang sini menyebutnya ya pasar manis, jadi manis karena penyebutannya sesuai hari pasaran saja.

      Liked by 1 person

      Reply
  2. desfortinmenulis

    Deskripsi yang bagus tentang Pasar Manis, meski panjang lebar, mas Hendi Setiyanto. Bagi saya yang di luar pulau Jawa inipun asyik untuk menikmati (membaca) cerita Anda.

    Sebuah pengalaman yang seru. Ternyata apapun (what you see, what you feel and what you experience) kalau mau ditulis, bisa jadi tulisan menarik, asal diniatkan. Ya kan, mas?

    Jalan-jalan ke pasar, kalau saya sich waktu masih SD dan SMP dulu sering sekali kesana bareng mama. Tapi sekarang, karena sudah dewasa dan sudah hidup sendiri, bahkan terpisah jauh dari mama, yaach… sangat jarang sudah saya ke pasar (walaupun sampai saat ini mama masih berjualan sayur di pasar tradisional)

    Liked by 1 person

    Reply
    1. Hendi Setiyanto Post author

      setuju sekali, mas apapun bisa dijadikan cerita yang menarik asal kita mau peka dan mengeksplore sisi uniknya. nggak usah hal2 yang terlalu jauh, biasanya di sekitar rumah banyak kok cerita menarik yang kalau kita jeli dan bisa mengemas maka akan jadi sesuatu yang menarik.
      aku pun sebenarnya jarang sekali ke pasar ini lha paling pol nemenin ibu saat ke pasar dan biasanya cuma nunggu di pintu masuknya saja. trim sudah berkomentar : )

      Liked by 1 person

      Reply
    1. Hendi Setiyanto Post author

      di daerahku cuma ada pasar Manis (legi), Pon sama Wage sisanya ya pasar libur. untuk pasar manis dan wage masih dalam 1 lokasi hanya waktunya saja yang berbeda sedangkan pasar pon ada sendiri bangunannya.
      Manis, Pahing, Pon, Wage, Kliwon

      Like

      Reply
  3. dewi Nielsen

    Mas, enak banget alur ceritamu..aku sampe senyum senyum menikmati ceritamu ini loh…terbawa ke suasana pasar, yg dimana ini dulu sering banget aku lakukan pas masih di tanah air. Sama aja ya ternyata,di kampungku juga ada tuh tukang gigi kayak gitu. Banyak banget yang percaya, Saya heran aja. Mungkin masyarakat membandingkan kalau ke dentist lebih mahal 😀 ha ha ha Tapi pls deh, tanpa sarung tangan…oh em jiii

    Liked by 1 person

    Reply
  4. Johanes Anggoro

    jadi inget waktu kecil, suka diajak ke pasar sama ibuk. dan sebagai upahnya makan bakso. entah kenapa meski rasanya pasti kalah sama bakso2 yg punya warung sendiri, tapi bakso yg buka di suatu pasar tetap memiliki “rasa” tersendiri 😀

    Liked by 1 person

    Reply
  5. omnduut

    Aku segede gini, masih suka main ke pasar. Paling seneng juga nemenin ibuk belanja. Gak malu. Hehe, soalnya banyak yang menarik di pasar. Kadang suka gatel mau foto tapi segan.

    Suka lihat foto2nya. Rasanya mau main ke sana juga, makan bakso sambil minum jamu 🙂

    Liked by 1 person

    Reply
  6. Yasir Yafiat

    Dulu, sering banget main ke pasar bareng temen-temen rumah semasa kecil hingga seumuran SMP. Entah itu hanya sekedar melihat-lihat ramainya pasar ataupun berbelanja. Paling lucu, pasar seringkali dijadikan teman saya sebagai tempat untuk ketemuan dengan cewek hehehehe. Maklumlah masih kecil belum begitu punya banyak uang, jadi ketemuannya di pasar biar bisa lebih bebas muter-muter. Dan pasar merupakan tempat umum yang sangat murah dan beli apapun di situ juga murah. Pasar tradisional memang memiliki hal yang unik. Berbeda dengan pasar modern ataupun swalayan.

    Liked by 1 person

    Reply
    1. Hendi Setiyanto Post author

      dulu mah pas jaman kecilku, ke pasar tujuannya ya ke toko mainan loak, tiap 5 hari sekali beli majalah bobo bekas dan majalah lainnya. terus beli poster pemain bola, otomotif dan beli mainan tamiya pas musim tamiya

      Like

      Reply
  7. Gara

    Yes! Saya paham dialog bahasa Jawanya! Saya paham, saya paham! Astaga plangak-plongok mendengar orang bicara bahasa Jawa ternyata ada manfaatnya juga. Terima kasih Mas, itu bagian dialognya saya kopi ya, kalau jalan ke pasar di daerah Jawa Tengah atau Jawa Timur akan saya praktikkan.
    Nama penjual baksonya mengingatkan saya pada Pepo dan Memo. Err…
    Pasar itu memang seru. Ada aja kejadiannya di sana. Saya juga suka melihat ikan-ikan segar yang dijual, masih hidup dan bergerak-gerak. Belum lagi gosip di kalangan pedagang, huuu seru banget mulut pasar itu #eh.
    Saya jadi ingat punya cerita juga soal Pasar Manis Purwokerto, mungkin akan rilis juga dalam waktu dekat, hehe…

    Liked by 1 person

    Reply
    1. Hendi Setiyanto Post author

      wah pepo dan memo itu siapa? wkwkwk. iya pasar manis purwokerto namanya mirip cuma lebih bagusan di sana kek nya kan diresmikan oleh presiden Jokowi

      Like

      Reply
      1. Gara

        Haha, presiden keenam kita Mas, dan mantan ibu negara.
        Iya di sana memang bangunannya baru. Tapi ceritanya buat blog itu pas bangunannya masih yang lama (ketahuan deh jalannya kapan, nulisnya kapan, haha).

        Liked by 1 person

  8. @eviindrawanto

    Sangat menarik membaca kisah manis di pasar manis kini. Ya begitulah pasar ya… segala transaksi antara jasa dan produk digelar satu persatu. Mengenai obat karang gigi nya, jangan-jangan emailnya juga ikut rontok 🙂

    Liked by 1 person

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s