Ada Apa di Gumelem Ethnic Carnival?

Semenjak batik ditetapkan oleh UNESCO sebagai Warisan Kemanusiaan untuk Budaya Lisan dan Nonbendawi (Masterpieces of the Oral and Intangible Heritage of Humanity) sejak 2 Oktober 2009, berbagai macam festival bertemakan batik banyak digelar di seluruh penjuru Nusantara. Mulai dari yang berskala besar seperti Solo Batik Carnival, Pekalongan Batik Carnival, hingga gelaran Jember Fashion Carnival yang telah banyak melahirkan desainer-desanier khusus untuk rangkaian kostum karnaval yang sering dipakai oleh kontestan ajang ratu kecantikan dunia yang diwakili oleh mereka yang terpilih mewakili Indonesia. Begitu pula yang kini ada even serupa yang digelar di Desa Gumelem, Kecamatan Susukan, Kabupaten Banjarnegara, Jawa Tengah yang terhitung masih dalam skala kecil dan juga baru.

Gumelem Ethnic Carnival baru digelar semenjak tahun 2015 hingga kini, jadi boleh dibilang masih sangat baru dan perlu perbaikan di sana-sini tanpa mengurangi semangat untuk maju para pemuda-pemudi dan warga desa Gumelem. Sama seperti even karnaval batik di berbagai daerah, di GEC ini juga tentunya menampilkan berbagai macam motif batik khas Desa Gumelem Wetan danΒ  juga Gumelem Kulon yang tentunya berbeda dengan daerah lain. Namun yang membuat beda dengan even serupa di daerah lain adalah, diadakannya berbagai macam pertunjukan seni dan kearifan lokal masyarakat setempat yang dikemas begitu menarik dan lain daripada yang lain.

Salah satu yang khas adalah ditampilkannya seni Tari Tradisional Ujungan, yaitu seni tari atau ritual untuk memanggil hujan pada jaman dahulu namun kini dikemas menjadi sebuah atraksi budaya yang menarik. Seni Ujungan sendiri berisi tarian oleh 2 orang lelaki yang memakai kostum khas masyarakat petani jawa dengan topi rumbai dan masing-masing orang memegang sejenis alat memukul yang terbuat dari kayu dan sebuah tameng yang terbuat dari gumpalan kain. Kedua pemain saling menyerang dan hanya boleh memukul pada bagian betis dengan seorang wasit yang memimpin jalannya ritual atau tarian ini. Jadi kedua pemain tidak secara sembarangan bisa memukul lawan tanpa aturan karena harus sesuai arahan atau aturan sang wasit. Β Selain itu tari Ujungan ini juga diiringi oleh musik gamelan sederhana khas Banyumasan yang menonjol pada permainan kendang dan juga syair-syair bahasa ngapak Banyumasan.

IMG_20161010_201918[1]

Rangkaian Acara GEC tahun 2016, sumber twitter Gumelem Ethnic Carnival

Semenjak desa Gumelem dijadikan sentra pembuatan serta desa wisata batik oleh pemerintah kabupaten Banjarnegara, maka semakin banyak even yang digelar di kedua desa tadi. Untuk tahun 2016 sendiri, gelaran GEC digabung dengan Event Budaya Purwareja-Klampok yang dijadikan kota sejarah. Itu cukup beralasan karena di Purwareja-Klampok banyak sekali bangunan-bangunan tua serta bekas pabrik gula yang berdiri, selain itu juga dikenal sebagai sentra kerajinan Keramik Klampok yang terkenal di kabupaten Banjarnegara.

Baca juga, Kraamkliniek Emanuel, GKJ Klampok dan Kaitannya Dengan Suikerfabriek

***

Waktu di layar handphone menunjukan pukul 10.12 saat saya dan Faizhal Arif Santosa keluar dari sentra pembuatan kerajinan Keramik Klampok, Mustika Keramik. Hampir 1 jam lebih kami di sini untuk mengetahui lebih rinci proses pembuatan keramik khas Klampok hingga menjadi barang siap jual yang banyak terpampang secara apik di galeri sekaligus toko yang lokasinya di pinggir jalan raya ini. Baca cerita lebih lengkapnya di sini.

Panas terik di hari minggu ini tidak menghalangi niat kami yang ingin menyaksikan gelaran Gumelem Ethnic Carnival yang kali ini memasuki tahun kedua. Bagi saya pribadi ini merupakan kunjungan yang pertama kali, beda dengan Faizhal yang sudah kedua kalinya menyaksikan GEC ini. Sebenarnya untuk berkunjung ke desa Gumelem bagi saya ini sudah yang kedua, namun saat kunjungan pertama gagal singgah lebih lama karena keburu hujan lebat dan akhirnya memutuskan untuk pulang saja.

Kebetulan sekali minggu ini kami berdua bisa klop untuk meniatkan diri menyaksikan GEC tahun 2016 ini. Lokasi desa gumelem yang berada di pinggir jalan raya Banyumas-Banjarnegara membuat pengunjung mudah menemukan lokasi ini. Apalagi kini sudah dibangun gapura besar bertuliskan Sentra Batik Gumelem yang menjadi tanda bagi para pengunjung. Saat kami ke sini terlihat jalanan yang sedang diperlebar dan juga diperbaiki. Jalanan yang membelah persawahan ini begitu cantik saat dilewati sambil semilir angin yang berhembus siang itu.

Tujuan kami yang pertama adalah balai desa Gumelem Wetan yang berada di pinggir perempatan jalan perkampungan nan tertata rapi. Setelah motor kami parkir di halaman rumah penduduk sekitar, dilanjutkan dengan melihat sebuah poster besar bertuliskan Gumelem Ethnic Carnival yang persis menutup jalan raya perkampungan ini dengan karpet merah tergelar memanjang membelah jalan raya nan terik saat siang hari. Entah kurang promosi atau apa, saat kami ke sini sekitar pukul 11.00 siang-suasana masih begitu sepi. Tak terlihat seperti sedang ada sebuah even yang melibatkan warga sekitar.

Tujuan kami berikutnya adalah menuju ke balai budaya yang berada di seberang jalan raya balai desa dan perlu jalan kaki beberapa menit. Menurut info, di sinilah lokasi pembukaan GEC ini. Berbeda dengan kondisi di balai desa, suasana di sini lumayan ramai karena telah berdiri tenda-tenda serta jejeran pedagang yang berjualan di sepanjang jalan raya.

Balai budaya di desa Gumelem ini terdiri dari 3 gedung utama berbentuk limas bercat warna putih dan salah satu gedungnya dijadikan sebagai lokasi berdandan bagi para peserta GEC yang nantinya akan memamerkan berbagai macam motif dan juga warna batik khas Gumelem. Rata-rata peserta yang berpartisipasi adalah pemuda-pemudi desa serta beberapa finalis Kakang-Mbekayu atau yang tergabung dalam IKAMURA (Ikatan Kakang-Mbekayu Banjarnegara), selain itu juga dibantu tata rias serta kostum oleh kumpulan mahasiswa Banjarnegara dari berbagai universitas di Jogjakarta yang tergabung dalam KMB (Keluarga Mahasiswa Banjarnegara). Jadi boleh dibilang kesemuanya dilakukan oleh para pemuda-pemudi yang kreatif. Namun menurut pengamatan saya, panitia sepertinya kurang melibatkan warga sekitar untuk turut serta dalam gelaran GEC ini jadi terasa kurang bernyawa menurut saya pribadi.

Sebenarnya selain GEC ini, ada beberapa hal yang membuat saya tertarik datang ke desa Gumelem ini. Menurut Faizhal, di desa Gumelem ini terdapat sebuah sumber mata air hangat di daerah Pingit, Masjid Kuno serta Kuburan Kuno makam salah satu sesepuh desa yang konon masih keturunan kerajaan Mataram. Untungnya saya berkesempatan mengunjungi masjid kuno ini dan menunaikan kewajiban sholat dzuhur secara berjamaah. Masjid Jami At Taqwa, nama masjid bersejarah ini. Jika dilihat sekilas dari tampak muka maka tidak terlihat jika masjid ini merupakan masjid kuno nan antik, namun saat kita masuk melalui bangunan belakang maka terlihat jelas sosok masjid antik ini dengan tiang-tiang gelondongan kayu berukir berwarna cokelat mengkilap yang menyangga atap berbentuk limasan bertingkat. Suasana begitu sepi, adem serta khusuk saat kaki melangkah masuk ke dalam masjid ini. Sangat cocok sekali untuk sejenak melupakan hingar bingar dunia dan mendekatkan diri pada sang pencipta.

20161120_121518[1]

Bagian depan masjid At-Taqwa yang bersejarah

20161120_121808[1]

Pilar-pilar dan rangka atap masjid At-Taqwa yang terbuat dari kayu jati

Saat langkah kaki hendak meninggalkan masjid, terdengar panggilan dari seorang gadis berhijab yang sekilas bukan berasal dari daerah sini. Dia meminta kami untuk diwawancari mengenai gelaran GEC ini untuk kepentingan tugas kuliahnya. Awalnya kami menolak namun saat dia terus membujuk dan memohon akhirnya kami pun luluh dan mengiyakan. Sudah disediakan list pertanyaan mengenai GEC ini yang harus kami jawab secara bergantian sambil dia merekam melalui handphone-nya. Saat wawancara berakhir, usut punya usut kami pun berkenalan lebih lanjut dan menanyakan asal dari rumah kami masing-masing dan ternyata dia masih satu kecamatan dengan saya, oalahhhh. Kami pun tersenyum memecah kebuntuan dan kekakuan beberapa puluh menit saat proses wawancara tadi.

20161120_124027[1]

Faizhal Arif Santosa saat diwawancara mahasiswi salah satu universitas di Jogjakarta

***

Hari makin siang, namun tanda-tanda acara peragaan busana dan pembukaan GEC ini belum terlihat akan segera dimulai. Entah menunggu apa saat itu, namun kami harap-harap cemas kalau-kalau bakalan kedahuluan hujan yang terkadang datang secara tiba-tiba tanpa memberi aba-aba terlebih dahulu. Selepas sholat dzuhur panitia akhirnya memulai pembukaan acara ini dengan berbagai macam prosesi sambutan oleh tokoh desa setempat serta panitia dan ditutup dengan pelepasan puluhan balon ke langit. Beberapa perempuan-perempuan cantik yang sudah bermake-up dan berkebaya ini diboyong menggunakan beberapa mobil dan juga dokar hias menuju balai desa Gumelem Wetan. Satu persatu warga sekitar serta pengunjung memadati lokasi peragaan busana yang bagian cat walk-nya berada di tengah jalan raya dengan beratapkan rindangnya pepohonan hijau.

20161120_134743[1]

Cewek Banjarnegara nan ayu bak dawet ayu

Balon-balon beraneka warna menghiasi jalanan yang akan dilewati para peragawan dan peragawati. Para penonton diatur sedemikian rupa agar tidak mengganggu para fotografer yang sedari tadi sudah pasang badan guna mendapat angle yang cocok. Kami juga tidak mau kalah karena sudah sedari tadi memilih posisi yang pas guna mengabadikan momen langka yang hanya terjadi setahun sekali ini.

Setelah dibuka acara oleh 2 orang presenter lokal, acara selanjutnya adalah pentas tarian tradisional yang dilakukan oleh 4 orang gadis ayu memakai kain batik berwarna putih, rompi hias dengan manik-manik, selendang warna kuning serta hiasan kepala berbentuk sayap burung beraneka warna hingga membuat wajah mereka semakin ayu saja saat memandangnya. Senyum manis dari bibir-bibir bergincu merah menyala serta pipi yang memerah seakan membuat siapa saja yang melihatnya terpesona. Apalagi ditambah dengan lirikan mata genit dengan bulu mata yang terlihat lentik. Mereka memainkan tarian dengan begitu gemulainya sambil diiringi alunan gamelan yang beritme pelan mendayu-dayu. Penonton seakan dibuat terhipnotis dengan penampilan mereka disaat cuaca sedang panas-panasnya.

Acara inti pun dimulai dengan peragaan busana yang diawali oleh para IKAMURA dengan mengenakan kebaya modern dengan bawahan kain batik dengan corak tetumbuhan khas Gumelem aneka warna. Dilanjut dengan tema batik wayangan serta semi modern yang diperagakan oleh pemuda-pemudi desa setempat. Satu persatu berusaha menampilkan yang terbaik dengan langkah-langkah yang berani walaupun pada beberapa bagian terlihat kaku, maklum mereka bukan peragawan dan peragawati profesional namun patut diacungi jempol dengan keberanian mereka.

20161120_140756[1]

20161120_140837[1]

20161120_141015[1]

20161120_141054[1]

20161120_141201[1]

20161120_141410[1]

20161120_141827[1]

Langit makin gelap namun peragaan busana batik belum selesai. Ada insiden kecil saat menjelang penampil yang terakhir, tiba-tiba saja listrik padam sehingga suasana berubah menjadi hening. Untungya panitia langsung tanggap dengan mencari genset terdekat dan menggotongnya ke lokasi ini. Semuanya pun kembali normal. Namun lagi-lagi acara sedikit terhambat karena hujan tiba-tiba datang sementara penampil masih terlihat siap-siap untuk berjalan menampilkan batiknya. Satu persatu penonton pun membubarkan diri, sangat disayangkan.Β  Acara fashion show batik pun selesai dan background bertuliskan Gumelem Ethnic Carnival langsung diserbu untuk berfoto-foto. Kami harus bersabar menunggu antrian untuk ikutan berfoto hingga harus ditinggal sholat ashar dan mengisi perut dengan semangkok soto ayam di saat cuaca gerimis dingin begini.

20161120_155612[1]

Kesenian Ujungan yang dipentaskan oleh alumni IKAMURA

Gelaran GEC belum berakhir, masih ada Pentas Seni Tari Ujungan serta kesenian kuda lumping yang akan digelar di halaman balai budaya desa Gumelem. Ternyata antusias penonton masih begitu tinggi saat kami datang ke sini selepas sholat ashar karena suasana sudah kembali ramai oleh alunan gamelan serta riuh penonton yang melihatnya. Saya hanya kebagian babak terakhir saat peserta perwakilan IKAMURA ikut menjajal tari Ujungan ini dan berakhir dengan salah satu peserta terkena pukulan kayu dan betisnya memar serta merah namun sorak-sorai penonton sedikit mengobati rasa sakit saat itu apalagi ditambah dengan tepukan tangan pemberi semangat. Hanya 3 babak saja kesenian tari Ujungan ini untuk kemudian dilanjutkan dengan kesenian kuda lumping.

20161120_160548[1]

Acara ditutup pentas tarian kuda lumping

Hujan makin deras dan hari juga semakin sore, kami memutuskan untuk mengakhiri kunjungan ke Gumelem ini dalam rangkaian GEC tahun 2016. Belum terpuaskan semua memang karena saya belum mengunjungi makam kuno serta sumber mata air hangat Pingit, mungkin lain kali harus berkunjung kembali ke kota ini khusus mengunjungi kedua tempat tadi sekalian melihat secara langsung proses membatik di sentra batik rumahan secara langsung. Gelaran GEC ini memang masih jauh dari kata sukses namun kami sangat mengapresiasi usaha warga setempat serta panitia yang ingin memperkenalkan potensi dan kearifan lokal di desa Gumelem guna dikenal oleh orang banyak. Semoga gelaran GEC tahun depan akan lebih baik lagi, semoga…..

Advertisements

41 thoughts on “Ada Apa di Gumelem Ethnic Carnival?

  1. Halim Santoso

    Karnivalnya lebih ke pameran busana ya? Hehe. Tapi untung nggak ada kostum ngejrenk ala Jember itu, pasti makin menurun kualitasnya kalo memakai yang nggak khas suatu daerah. Solo Batik Carnival salah satu yang surut karena tidak ada variasi lagi, terlanjur meniru sepak terjang kakaknya Jember Carnival. πŸ™‚
    Omong-omong tari tradisional di awal itu tari asal Yogya, tapi aku lupa namanya hehe.

    Liked by 1 person

    Reply
    1. Hendi Setiyanto Post author

      Awalnya jg kyk ga brjln lancar krna sepi. Tp ujung2nya rame juga walau sifatnya lokalan saja.
      Iya sih…lbih ke pagelaran busana gitu.
      Bgmnpun jg peniru biasanya kurang sukses.
      Tari golek/merak/srimpi.m

      Like

      Reply
      1. Halim Santoso

        Barusan cek betul itu Tari Golek Menak dari Yogya hehehe. Hiasan bulu dan kebaya tanpa lengan jadi khasnya. Ditambang jariknya pake motif parang, kalo di Solo penari Tari Golek-nya nggak boleh pake batik motif itu hehehe.

        Liked by 1 person

  2. ghozaliq

    Untuk skala desa, sudah meriah ini acaranya…

    Air panasnya itu, berkali-kali lewar situ gak kepikiran mampir, ya memang biasane kejar waktu tembus jalur selatan kalau lewat jalur susukan…

    Liked by 1 person

    Reply
    1. Hendi Setiyanto Post author

      Awalnya aku kira juga bakalan gagal nih acara karena saking sepinya eh pas siang udah lumayan ramai juga walau dihadiri penduduk sekitar saja.
      Aku juga belum kesampaian ke sumber air panas tersebut habisnya waktunya terbatas.

      Like

      Reply
  3. Gara

    Wah acaranya meriah. Memang masih dikhususkan untuk tamu undangan dan mayoritas masyarakat desa namun bagi saya acaranya sudah bagus banget, mengenalkan motif batik Gumelem ke masyarakat luas. Jujur saya baru dengar ada sentra batik ini, jadi tujuan acaranya (dan juga tulisan ini) dapat soalnya saya jadi kenal batik daerah sana, plus tahu kesenian lokal yang unik-unik punya. Eh ada sumber air panas juga, boleh nih, siapa tahu kalau pemandian tua ada peninggalan dari masa klasik juga.

    Liked by 1 person

    Reply
  4. leli

    Wah ada momen mati lampu, pasti panitia juga panik itu.
    Hmmm kenapa nggak nyewa pawang hujan ya ? πŸ˜€
    Biasanya di daerah saya kalau lagi karnaval gini pasti terang benderang, konon katanya karena udah pake pawang hujan.

    Bagus bagus peragawatinya ^^ sukaa kebaya sama rok batik nya

    Liked by 1 person

    Reply
  5. bersapedahan

    hebat .. wisata batiknya bisa meningkatkan perekonomian di daerah itu ya.
    ternyata disana juga ada wisata religi, alam, industri. Mudah2-an bisa terus dikemas semakin baik dan terus berkembang pariwisatanya.

    Liked by 1 person

    Reply
    1. Hendi Setiyanto Post author

      iya, potensi-potensi tadi masih belum terekspose semua, semoga ke depannya bisa dikemas lebih baik lagi agar bisa meningkatkan perekonomian penduduk sekitar

      Like

      Reply
    1. Hendi Setiyanto Post author

      konsepnya sebenarnya bagus namun eksekusinya yang masih kurang greget hingga hasilnya pun belum maksimal, kurang lebih seperti itu yang aku tangkap kemarin

      Like

      Reply
  6. alrisblog

    Pakainnya oke juga. Secara mereka ngadain di desa ini langka. Salut.
    Keren. Desa aja bisa ngadain acara carnival. Ini bukan desa sembarangan. Salut buat panitia dengan dukungan pihak terkait.

    Liked by 1 person

    Reply
  7. omnduut

    Aduh mbaknya ayu ayu tenaaan.

    Itu masjidnya dari luar keliatan (semi) modern dan biasa aja ya, tapi pas di dalam ternyata pakai pasak jati. Kayu jati segede-gede gitu pasti mahal banget.

    Liked by 1 person

    Reply
  8. Pingback: Ternyata Dusun Pingit Juga Punya Sumber Air Hangat Alami | NDAYENG

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s