Menggembalakan Diri di Padang Savana-Pangonan-Dieng

Setelah sebelumnya rombongan fam trip bareng blogger sesi kedua berhenti sejenak untuk mengisi perut di warung makan sekitar objek wisata Candi Arjuna, Dieng, Banjarnegara-perjalanan dilanjutkan dengan mengendarai sebuah mobil berpelat merah milik dinas pariwisata kabupaten Banjarnegara menuju pintu masuk Sikunir-Padang Savana Pangonan. Ini merupakan sesi kedua fam trip bareng blogger yang sebelumnya pernah dilakukan pada bulan agustus kemarin yang berfokus mengeksplore Banjarnegara kota. Kali ini kami berkesempatan untuk sedikit mengeksplore Banjarnegara bagian atas, lebih tepatnya di dataran tinggi Dieng.

Sebuah mobil yang kapasitasnya seharusnya diisi oleh 6 orang, kini sesak duduk saling berhimpitan oleh 9 orang. Saya yang kebagian duduk pada bagian belakang harus rela menahan bokong yang hanya sedikit bisa duduk di atas jok mobil. Oh ya rombongan kali ini kurang lebih masih dengan blogger-blogger lama namun ada sedikit tambahan orang karena beberapa blogger tidak bisa hadir saat sesi fam trip kedua ini. Saya sendiri, Amir, Arif, dan Razin merupakan blogger lama ditambah tour guide kami yaitu mas Noer Jowo. Namun kali ini kami mendapat teman baru yaitu Havid yang berasal dari Wanayasa-Banjarnegara yang notabene masih satu kecamatan dengan Razin. Selain itu ada juga 2 orang tambahan lagi dari dinas pariwisata yang saat itu berkenan mendampingi kami, salah satunya adalah pak Aryadi Darwanto yang lumayan eksis di akun instagramnya.

Perjalanan dari lokasi Candi Arjuna hingga menuju ke pintu masuk Padang Savana Pangonan kurang lebih memakan waktu 10 menit saja. Mobil yang mengantar kami kemudian putar balik setelah rombongan turun dari mobil. Sebelum memulai pendakian ringan, para peserta diajak melihat-lihat salah satu sentra industri pengolahan buah Carica (Pepaya Gunung) atau nama lainnya Vasconcellea Cundinamarcensis  yang tanamannya banyak terdapat di dataran tinggi Dieng.

20160922_090632.jpg

Tanaman dan buah Carica yang banyak ditanam di dataran tinggi Dieng

Pepaya dieng atau karika (sering ditulis carica, Vasconcellea cundinamarcensis,) adalah kerabat pepaya yang menyukai keadaan dataran tinggi basah, 1.500–3.000 m di atas permukaan laut. Di wilayah Banjarnegara dan Wonosobo tanaman ini biasa disebut Carica, dan di Bali tanaman ini disebut Gedang Memedi.Daerah asalnya adalah dataran tinggi Andes, Amerika Selatan.

Tanaman pepaya dieng merupakan pohon kecil atau perdu yang tidak berkayu, mirip dengan pepaya biasa, tetapi mempunyai cabang yang lebih banyak dan ukuran semua bagian tanaman lebih kecil.Tinggi rata-rata adalah 1-2 meter, bunga jantan memiliki tangkai yang panjang hingga 15 cm dan bunga betina berukuran lebih besar dengan tangkai yang keras dan pendek.

Buah pepaya dieng berbentuk bulat telur dengan ukuran panjang 6–10 cm dan diameter 3–4 cm. Buah matang berbentuk telur sungsang dengan ukuran 6–15 cm x 3–8 cm, dagingnya keras, berwarna kuning-jingga, rasanya agak asam tetapi harum, di sekeliling rongganya terdapat banyak sekali biji yang terbungkus oleh sarkotesta yang putih dan berair.Buah yang belum matang memiliki kulit yang berwarna hijau gelap dan akan berubah menjadi kuning setelah matang. Biji buah berwarna hitam dengan jumlah yang banyak dan padat.Buahnya mengandung getah, dan getah ini akan semakin berkurang dengan semakin mendekati kematangan. Getah ini mengandung papain yang bersifat proteolitik.

Pepaya dieng merupakan sumber kalsium, gula, vitamin A dan C. Pepaya dieng mengandung banyak minyak atsiri dan merupakan turunan dari asam lemak. Kebanyakan merupakan senyawa 3-hidroksiester, yang juga ditemukan pada beberapa tanaman tropika lainnya seperti nanas, mangga, gooseberry, tamarillo, dan sawo.

Pepaya dieng diintroduksi ke Indonesia pada masa menjelang Perang Dunia II oleh pemerintah kolonial Hindia Belanda, dan berhasil dikembangkan di Dataran Tinggi Dieng. Sekarang “carica” menjadi salah satu buah tangan khas dari daerah itu.

Buah ini dapat dijadikan sirup, jus, manisan, dan selai. Buah ini cocok dimakan oleh orang yang memiliki perut lemah terhadap buah-buahan karena mempunyai sifat memperbaiki pencernaan.Daging buahnya juga dapat dimakan segar. Di Jawa, buah ini dijual kepada wisatawan, digunakan untuk konsumsi setempat, dan dikalengkan. Di Amerika Selatan, buah ini dijadikan minuman ringan non alkohol dan dijadikan selai. Buah yang masih muda biasanya dikeringkan untuk dijadikan serbuk bahan pembuatan obat penyakit kulit atau kosmetik. Daunnya dapat digunakan sebagai pelunak daging karena mengandung zat papain. Selain itu, zat papain digunakan dalam berbagai industri makanan dan farmasi. Di daerah Dieng buah pepaya gunung masih merupakan konsumsi lokal dan dibuat minuman awetan dalam kaleng namun masih dalam jumlah terbatas.

Pepaya dieng memiliki kandungan yang baik untuk kesehatan tubuh, beberapa manfaat dari pepaya dieng, di antaranya adalah:

  • Kandungan serat tinggi pada buah pepaya dieng dapat melancarkan proses pencernaan.
  • Kandungan papain dalam buah pepaya dieng dapat berguna untuk menetralkan pH dan membunuh bakteri jahat dalam usus.
  • Kandungan Vitamin A dalam pepaya dieng lebih besar dari pada buah wortel sehingga baik untuk kesehatan mata.
  • Kandungan Vitamin A dan Vitamin C juga baik untuk menangkal radikal bebas dan sinar UV yang dapat merusak kesehatan kulit.
  • Vitamin B kompleks berperan penting dalam metabolisme tubuh yang dapat menghasilkan energi tambahan bagi kesehatan tubuh.
  • Pepaya dieng mengandung zat agrinin yang dapat menghambat tumbuhnya sel kanker dalam tubuh.
  • Pepaya dieng dapat juga digunakan sebagai penunda penuaan dini /anti aging bagi Penderita diabetes akut dan hipertensi, disarankan tidak mengkonsumsi buah ini sama sekali.

Sumber: Wikipedia Bahasa Indonesia

Saat kami ke sini ada dua lokasi sentra industri pengolahan buah Carica yang lokasinya persis di pintu masuk menuju pendakian padang savana Pangonan (karena lokasinya berada di tengah-tengah bukit). Seorang suami-istri terlihat sedang sibuk mengepak buah Carica yang telah diolah menjadi manisan dengan kemasan cup kecil-kecil. Kami pun berkenan mencicipi manisan tersebut yang tentunya rasanya sangat manis (kalau yang tidak suka terlalu manis, bisa dicampur dengan air tawar agar rasanya pas).

20160922_085457.jpg

Salah satu pengusaha pengolahan buah Carica menjadi manisan di dataran tinggi Dieng

Setelah cukup puas mencicipi manisan carica plus sedikit membawanya untuk oleh-oleh pendakian ringan ini, kami langsung menuju lokasi pintu pendakian yang unik karena kami harus naik sebuah anak tangga yang terbuat dari bambu-persis di atas pipa besar tempat mengalirkan uap panas bumi. Rimbunan tanaman Carica yang dijadikan warga setempat sebagai tanaman pembatas lahan menyambut kami siang itu. Seorang ibu-ibu setengah baya terlihat tengah menyiangi tanaman kubis dari rumput-rumput liar yang tumbuh di sekitar lahannya.

Ada juga tanaman terong belanda yang bentuknya unik namun rasanya sedikit masam dengan dominan warna merah mirip orang sedang menyirih jika dimakan langsung. Saya pun menahan tawa saat Amir (blogger Kebumen) mencicipi langsung terong belanda yang dia petik di pinggir jalan setapak pendakian. Dengan raut muka kecut menahan masamnya terong belanda dan mulutnya yang merah belepotan karenanya, saya menahan senyum melihat tingkah polahnya.

Saat menuju Pangonan sebenarnya ada beberapa jalan sekaligus menuju objek wisata Sikunir untuk melihat sunrise maupun menuju ke beberapa destinasi wisata di sekitarnya. Rombongan sejenak melepas lelah karena nafas sudah ngos-ngosan. Arif (blogger Purbalingga) yang terlihat subur (sebelas dua belas dengan saya) terlihat kelelahan dan sesak nafas, maka kami pun memutuskan berhenti sejenak dengan pemandangan kawah Sikidang yang terus menerus mengeluarkan asapnya yang mengepul bak kereta uap dan sangat jelas terlihat dari ketinggian saat ini kami berada.

Setelah posisi kami berada di puncak (dalam bayangan saya pribadi) kini jalanan setapak yang sangat rapi dan indah karena ditanami bunga-bunga terlihat menurun. Vegetasi kini berubah yang tadinya berupa cemara hutan, tanaman lamtoro-kini menjadi rimbunan hijau tanaman bambu Pringgondani yang batangnya kecil-kecil dengan dedaunan yang rapat. Terlihat juga beberapa aktivitas penduduk yang sedang mencari rebung dari tunas muda bambu Pringgondani ini. Menurut para petani, rebung muda dari jenis bambu ini rasanya sangat enak, renyah jika diolah dan dimasak dengan benar. Saya sendiri tidak terlalu suka dengan olahan rebung karena terkadang rasanya sedikit pahit.

Rimbunan tanaman bambu perlahan berubah ketika kami perlahan mendekati luasnya hamparan padang savana yang unik karena di tengah-tengah puncak perbukitan. Padang savana ini dinamakan “Pangonan” atau kalau bisa diartikan bebas artinya adalah “Tempat Menggembala” (pendapat saya pribadi). Ini merupakan fenomena aneh bagi saya pribadi karena di puncak bukit dan diapit oleh bukit terdapat sebuah padang savana yang hanya ditumbuhi rumput. Saya berpikir kalau lokasi ini dulunya adalah sebuah cekungan kawah gunung purba (mungkin).

Saat rombongan dari dinas pariwisata terlihat sibuk berfoto-foto dan menjelajah sudut-sudut padang savana Pangonan, kami rekan blogger justru asyik tidur-tiduran di atas rumput yang sedikit menguning ini. Suasananya begitu sejuk dengan karpet rumput alami dan atap langsung berupa langit biru yang sewaktu-waktu berubah karena kabut yang tiba-tiba saja datang.

20160922_103107.jpg

Duduk-duduk santai sambil menikmati hening serta damainya Pangonan

Teringat saat masa kecil dahulu, sepulang sekolah menggembalakan kambing yang jumlahnya lebih dari 5 ekor pada hamparan tanah lapang sambil duduk-duduk menyaksikan lahapnya kambing menyantap rerumputan hijau. Ah…masa kecil memang selalu indah untuk selalu dikenang apalagi saat sekarang ini. Kami pun saling bercanda satu sama lain dengan rekan blogger sambil leyeh-leyeh tiduran mendengarkan lagunya Achmad Albar yang berjudul “Menanti Kejujuran” dari handphone serta tersenyum saat melihat rombongan dari dinas pariwisata justru terlihat paling heboh dengan berulang kali berfoto levitasi.

Saya, Amir, Arif, Havid, Razin dan Mas Noer Jowo menikmati siang itu tanpa berkeluyuran ke sana ke mari. Entah kenapa, cuma duduk-duduk saja saat di sini sambil sesekali terdengar kicauan burung-sungguh sudah menyenangkan dan merasa dalam hati. Saya pun bersyukur masih diberi kesempatan dan kesehatan untuk menikmati dan mengagumi ciptaan Tuhan yang maha agung ini.

Hampir 2 jam lebih kami berada di sini dan saat kabut makin pekat, kami pun memutuskan pulang kembali.  Siang itu perjalanan begitu menyenangkan walau harus capek-capek dahulu saat mendakit bukit.

Baca juga, Pendakian ke Gunung Sindoro

Padahal ini belum ada apa-apanya dibanding pengalaman saya dulu saat mendaki Gunung Sindoro akan tetapi kok kali ini saya merasa ngos-ngosan juga? mungkin karena jarang berolahraga jadi tubuh rasanya cepat merasa lelah. Padang savana Pangonan, sebuah fenomena alam unik yang menjadi daya tarik orang-orang berduyun-duyun datang ke Dataran tinggi Dieng, semoga suatu saat saya bisa kembali lagi ke tempat ini dengan membawa teman-teman baru.

Advertisements

40 thoughts on “Menggembalakan Diri di Padang Savana-Pangonan-Dieng

    1. Hendi Setiyanto Post author

      Baru kali ini, jalan-jalan bener-bener menikmati suasananya, lha cuma duduk-duduk saja hampir 2 jam, bahkan tidak menjelajahi sudut-sudutnya. Duduk-duduk, saling ngobrol dan tiduran,,,damai banget

      Liked by 1 person

      Reply
  1. Pingback: Menggembalakan Diri di Padang Savana-Pangonan-Dieng | Info Wisata Banjarnegara

      1. Hendi Setiyanto Post author

        iya begitulah, walau sebagian besar masuk wilayah Banjarnegara namun orang-orang/wisatawan lebih mengenal Dieng-Wonosobo karena aksesnya yang lebih mudah dijangkau

        Liked by 1 person

  2. prih

    Selalu terpikat dengan fenomena embun upas di padang savana bukit Pangonan Dieng ini Mas Hendi. Meski hanya menatap Bukit Pangonan dari museum Kailasa, lah mau nanjak tulang kurang mendukung nih.

    Liked by 1 person

    Reply
  3. BaRTZap

    Ah ini juga. Carica! Suka banget sama manisan buah satu ini. Sekarang kalau gak salah, di Bogor juga sudah ada yang jual. Dipasok dari sekitaran Dieng juga sepertinya.

    Kayaknya asik ya duduk-duduk di Pangonan ini.

    Liked by 1 person

    Reply
  4. Pingback: 10 OLEH-OLEH YANG WAJIB DIBELI DI DIENG | NDAYENG

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s