Mencintai Kembali Kota Kelahiran, Banjarnegara

Sang fajar pembawa harapan itu kini kembali lagi membawa kabar gembira bagi seluruh umat manusia di bumi. Begitu pula kabar gembira saat fajar mulai menampakan dirinya itu menghinggapi sebuah rumah sederhana yang dikelilingi oleh kebun dan juga rimbunnya tanaman bambu yang suara gesekan daunnya saat terkena hembusan angin seakan mengingatkan penghuni rumah untuk terus terjaga.

Pada sebuah desa kecil di ujung kabupaten Banjarnegara, tanggal 18 juni pagi, di dusun Krajan lahirlah sesosok bayi laki-laki mungil yang masih merah diiringi suara tangisan yang memekakan telinga namun disambut tangis haru bahagia oleh segenap anggota keluarga. Hanya ada dua rumah yang saling berdekatan saat itu, sisanya berjarak lumayan jauh dari tempat tinggal keluarga ini. Ya itulah saya sendiri, Hendi Setiyanto-sosok bayi laki-laki mungil yang menambah jumlah anggota keluarga bapak dan ibu. Terlahir sebagai anak laki-laki ke dua dengan jarak enam tahun dari kakak laki-laki pertama.

Tak ada yang lebih membahagiakan selain kehadiran sesosok anak manusia yang sudah dinanti-nanti selama sembilan bulan di dalam kandungan seorang ibu. Sebagai anak laki-laki, saya pun tumbuh dan berkembang seperti anak laki-laki kebanyakan. Bermain air, lumpur, menangkap ikan di aliran sungai-sungai kecil (kalen), berburu burung, merumput untuk kelinci, hingga menggembalakan kambing Gibas (sejenis domba) ke tengah-tengah lapangan. Sungguh masa-masa kecil yang pada jaman sekarang ini mungkin akan sulit ditemui.

***

Saya lahir, tumbuh dan bersekolah di Banjarnegara, sebuah kota kecil yang mungkin orang-orang di luar sana tidak tahu, mungkin mereka akan paham ketika menyebut Dieng dan paham kalau dataran tinggi Dieng juga sebagian berada di Banjarnegara dan sebagian lagi berada di Wonosobo.

Saya pun tahu kalau Banjarnegara identik dengan Dawet Ayunya, Sungai Serayunya, Salak Pondohnya, Keramik Klampoknya, atau Banjarnegara Gilar-Gilarnya. Ya, saya paham sampai di luar kepala semua julukan-julukan kota Banjarnegara tadi, namun saya baru sadar dan memahami kota kelahiran sendiri ini belumlah lama. Saya hanya terpaku pada cerita-cerita orang tua, buku-buku pelajaran dan berita-berita lainnya.

Ya saya dulu dengan congkaknya menyebut diri sebagai putra asli daerah yang serba tahu mengenai kota kelahiran sendiri dan lebih sering berpikiran negatif dengan Banjarnegara. Saya pun sering terjebak dalam pemikiran “Rumput tetangga lebih hijau daripada rumput sendiri” dimana saya selalu membanding-bandingkan kemajuan kota sendiri dengan kota lain tanpa sedikit pun memberikan kontribusi maupun solusi sederhana. Apalagi saat Banjarnegara bertubi-tubi menjadi perbincangan khalayak ramai ketika bencana tanah longsor melanda. Hati seakan teriris mendengar saudara-saudara sendiri mengalami musibah demi musibah. Saat itu pun saya hanya bersikap acuh tak acuh tanpa sedikit pun memberikan bantuan, setidaknya doa.

***

Setahun telah berlalu, semacam ringkasan perjalanan, saya pun berdua dengan sahabat saya, Wedwi Priyogo secara rutin sejak tahun lalu memulai kembali misi “ Mencintai Kembali Kota Kelahiran”. Awalnya hanya sekedar memburu pemandangan-pemandangan indah, membuktikan diri jika sudah pernah menjelajah lokasi A atau B maupun sekedar menambah koleksi foto-foto indah di akun Instagram. Mulai dari Curug yang lokasinya mudah dijangkau hingga berada di balik bukit dengan melintasi jalan setapak hingga hutan namun yang kami dapat hanya menuntaskan rasa puas tanpa memaknai tujuan sebenarnya dari perjalanan tadi. Namun perlahan sudut pandang itu berubah saat saya untuk pertama kalinya melihat meriah dan semangatnya warga Banjarnegara memperingati kelahiran kotanya sendiri.

20160822_112048

Dengan antusias, segenap warga Banjarnegara menyambut kirab

***

22 Agustus 2016, beberapa polisi, satpol pp dan polisi lalu lintas terlihat di sudut-sudut kota. Lalu lintas kendaraan masih sama ramainya seperti hari-hari biasanya. Pada hari ini, Banjarnegara memperingati hari ulang tahunnya ke 185 tahun. Sebuah usia yang tidak muda lagi. Sekilas sejarah, kota Banjarnegara sebelumnya berada di kecamatan Banjarmangu-berada di seberang Sungai Serayu dan berada pada tanah yang berbukit-bukit hingga kemudian kota “digotong” ke seberang selatan Sungai Serayu seperti saat sekarang ini. Maka tidak heran jika setiap hari jadi Banjarnegara, para pejabat serta pimpinan daerah hingga melibatkan warga masyarakat melakukan napak tilas menempuh perjalanan menggunakan dokar dari Banjarmangu ke Banjarnegara Kota.

Berapa kali saya menyaksikan napak tilas tadi? ya seumur-umur baru kali ini menyaksikan sendiri prosesi hari jadi Banjarnegara.

Kemana saja selama ini? ah saya termasuk orang yang dulu sangat apatis dengan kota kelahiran sendiri, bahkan even-even yang diadakan di kota sendiri enggan untuk sekedar mencari tahu apalagi ikut berpartisipasi.

Bahkan saat masih bersekolah di kota, hanya sesekali sekedar mengintip berbagai acara yang diadakan di alun-alun kota, mulai dari pameran hasil pertanian, bazaar hingga karnaval kemerdekaan. Sisanya hanya sekedar dijadikan tempat menuntut ilmu dan rutinitas harian lainnya.

Saat prosesi arak-arakan dokar dari arah Banjarmangu mendekati Kota Banjarnegara, perlahan tapi pasti-tanpa dikomando, warga Banjarnegara berbaris rapi di pinggir-pinggir trotoar hingga di sepanjang jalan raya yang akan dilewati rombongan para pejabat dan pimpinan daerah. Para petugas keamanan pun sudah bersiaga di pos jaganya masing-masing guna mengatur dan merekayasa arus lalu lintas agar tidak mengganggu prosesi acara.

Siswa-siswi sekolah berseragam putih-merah satu persatu menyemut-memenuhi pinggir jalan raya diikuti oleh guru-guru mereka berpakaian khaki. Pedagang-pedagang dadakan satu persatu pun mempersiapkan diri untuk menggelar lapak dagangan mereka masing-masing di antara riuh dan sesaknya pengunjung yang menanti prosesi acara. Siswa-siswi berseragam putih-abu-abu terlihat mengintip dari balik jendela gedung bertingkat yang berada persis di seberang pom bensin kota.

Para polwan cantik namun tetap tegas terlihat elok dengan selendang dan polesan bedak yang membuat mereka terlihat makin cantik. Dengan alat musik kentongan serta angklung yang mereka bawa, para polwan dan istri polisi tadi berbaris rapi dengan sedikit gelisah serta sesekali mengelap peluh yang berjatuhan seiring makin teriknya cuaca kota Banjarnegara siang itu.

20160822_102054

Para Polwan & istri Polisi sedang menunggu iring-iringan dokar

Saat rombongan dokar sudah semakin dekat, barisan para pemuda-pemudi dan kakang-mbekayu Banjarnegara mengenakan baju tradisional perlahan bergerak dari halaman gedung DPRD Banjarnegara. Mereka membawa panji-panji simbol kota Banjarnegara diiringi dentuman drum band sederhana dengan ritme pelan. Sementara di belakangnya terdapat beberapa laki-laki yang membawa foto-foto bupati Banjarnegara dari masa ke masa dengan cara dikalungkan ke leher mereka masing-masing. Diikuti oleh gagah dan luwesnya kakang-mbekayu Banjarnegara berjalan keluar gedung DPRD menuju perempatan pom bensin kota.

Riuh harmoni kentongan, angklung dan kendang yang dibawakan oleh para polwan membuat suasana kota makin meriah. Mereka berlenggak-lenggok bak peragawati yang sedang pentas namun kali ini berada di atas jalan aspal kota. Rombongan bupati dan wakil bupati serta pejabat lainnya sudah di depan mata. Penonton pun kian berjubel hendak mengabadikan rangkaian acara tadi.

20160822_112525

Berjalan pelan mengikuti irama tetabuhan

Kali ini kuda putih dan seorang lelaki berpakaian jawa terlihat gagah berkeliling seperti hendak melakukan patroli. Para pejabat pun kini sudah turun dari dokar hias mereka masing-masing dan mulai berjalan berpasang-pasangan dengan perempuan-perempuan cantik berkebaya hijau mengkilat dengan jaritnya masing-masing. Mereka berjalan menuju alun-alun hingga berakhir di Pendopo Dipayudha Adigraha.

20160822_111920

Sang pembuka jalan dengan kuda putihnya

Di tengah-tengah perjalanan, seluruh mata yang menyaksikan disambut oleh keluarnya enam gunungan yang terdiri dari buah-buahan, sayur-sayuran, singkong, jajanan pasar, salak dan juga padi yang merupakan simbol hasil bumi dari kabupaten Banjarnegara. Dengan masing-masing ditandu oleh empat orang lelaki berbagai usia berpakaian tradisional jawa berwarna mencolok.

Para wartawan, fotografer maupun pengunjung yang membawa kamera kini makin merangsek mengikuti iring-iringan gunungan hingga ikut berjalan di sela-selanya. Begitu juga saya saat itu yang rela berpanas-panasan untuk sekedar ikut mengabadikan momen tadi.

20160822_113823

20160822_113749

Iring-iringan gunungan hasil bumi mendekati perempatan alun-alun Banjarnegara

Sementara itu di sepanjang jalan banyak sekali anak-anak perempuan yang sudah berdandan dan berpakaian tradisional menyambut para pengunjung dengan tarian Geol Banjarnegara. Mereka seakan tidak memperdulikan panasnya cuaca siang itu. Mereka sangat antusias saat bapak Bupati Sutedjo Slamet Utomo beserta istri serta Bapak wakil bupati Hadi Supeno beserta istri melambaikan tangan tanda salam.

Keenam gunungan tadi sudah berada di pintu masuk pendopo dan sebelum prosesi dimulai, beberapa gunungan sudah menjadi rebutan oleh para warga masyarakat yang sejak tadi sudah menunggu prosesi dimulai. Mungkin di daerah lain, pemandangan seperti ini sudah jamak disaksikan setiap tahunnya. Ada yang sengaja mengharap berkah dari hasil gunungan yang didapat, sekedar berwisata maupun malah menjadi ajang mencari jodoh. Semua bergembira dengan apa yang mereka lihat dan saksikan siang itu, termasuk saya sendiri.

Saat malam hari, untuk pertama kalinya, saya mendapatkan kesempatan menyaksikan malam resepsi hari jadi kota Banjarnegara ke 185 yang diadakan di Pendopo Dipayudha Adigraha. Deretan kursi tertata rapi di bawah temaramnya lampu hias yang tergantung di langit-langit bangunan joglo ini. Sementara itu, samar-samar hentakan drum dan juga bass yang memainkan lagu-lagu Koes Plus menyambut para tamu yang hadir malam itu. Merinding…bagi saya yang baru pertama kali mengalami pengalaman seperti ini.

20160822_222506

Rangkaian acara demi acara berlangsung hikmat, meriah namun dalam suasana santai dan ramah. Pemerintah kabupaten Banjarnegara menyajikan hiburan tradisional mulai dari tari-tarian hingga alunan gamelan yang membuat pikiran dan hati trenyuh dibuatnya. Yang istimewa lagi, malam ini para penampil didominasi oleh mahasiswa dan mahasiswi seni ISI Surakarta yang kebetulan sedang melaksanakan Kuliah Kerja Nyata (KKN) di kota Banjarnegara. Sajian malam itu ditutup dengan semangkok soto sapi yang uapnya masih mengepul dari mangkok-mangkok. Sungguh sebuah pengalaman yang akan selalu dikenang sampai tua.

Di umur saya saat sekarang ini, saya baru sadar jika kota kelahiran saya ini punya tradisi yang tidak kalah dengan kota-kota tetangga tentu dengan ciri khasnya masing-masing. Terkadang belajar mencintai itu harus ikut melebur menjadi satu dengan cara ikut menyaksikan acara seperti ini. Jangan cuma mengeluh ini itu, kurang ini itu tanpa kita tidak mau mencari tahu atau bahkan memahaminya. Ada begitu banyak cara untuk menunjukan sumbangsih dan rasa peduli bahkan rasa cinta kita terhadap kota kelahiran, salah satunya dengan media tulisan di blog seperti ini.

Kini saya paham, belajar mencintai itu, kita harus menerima kurang dan lebihnya tanpa perlu mengeluh dan mengeluh terus namun minus solusi maupun aksi nyata. Mungkin ini hanya sedikit cara saya mencintai kota kelahiran ini. Mungkin juga ini tidak berarti dan tidak berefek apa-apa, namun saya masih mempunyai harapan jika kelak Banjarnegara dapat berbicara banyak di tingkat nasional bahkan internasional dengan “Good Newsnya”. I love Banjarnegara!

Tulisan ini diikutsertakan dalam lomba Blog Visit Jawa Tengah 2016 yang diselenggarakan oleh Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Provinsi Jawa Tengah @VisitJawaTengah (www.twitter.com/visitjawatengah).

Advertisements

23 thoughts on “Mencintai Kembali Kota Kelahiran, Banjarnegara

  1. Avant Garde

    aku belum pernah ikut resepsi kenegaraan mas hehe… keren…
    itu pejabat2 sm istrinya kok mau ya jalan kaki, kalo disini mas.. jangan harap.. pejabat ya duduk manis di tenda yg ada kipasnya sambil dadah dadah ke peserta pawai
    pawai foto bupati juga unik, itu bupati yg udah meninggal?

    Liked by 1 person

    Reply
  2. bersapedahan

    kota kecil selalu menarik, saya dan keluarga kadang2 berwisata ke kota2 kecil dan explore tempat2 disana … seru .. tidak macet dan tidak ramai tempat2 wsatanya.
    Baca tulisan ini … jadi pengen juga nanti jalan2 ke Banjarnegara

    Liked by 1 person

    Reply
  3. Pingback: Fam Trip DINBUDPAR Banjarnegara Bagian 2 : 3 Aktivitas Menyenangkan Dalam Waktu 1 Hari | NDAYENG

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s