Goa Lawa di Kaki Gunung Slamet

Jalan penghubung dua kabupaten yang saling bertetangga ini sudah setengah perjalanan kami lewati. Sudah tidak terhitung berapa banyak ranjau-ranjau darat yang kami lewati hingga selamat sampai setengah perjalanan. Namun selincah-lincahnya tupai meloncat, suatu waktu pasti pernah terjatuh, begitu pun dengan motor yang kami kendarai yang tiba-tiba oleng karena ban motor bagian belakang tiba-tiba meletus. Syukurlah, kami masih diberi keselametan seperti sosok Gunung Slamet yang jaraknya kian mendekat dari posisi kami saat ini.

Setelah urusan ban pecah selesai, kami pun melanjutkan perjalanan menuju kota Purbalingga-Perwira yang jaraknya kian mendekat. Perbaikan jalan hampir kami temui di sepanjang jalan yang kami lewati. Kami harus ekstra sabar dan legowo untuk satu persatu antri melewati jalan yang hanya dibuka satu lajur ini.

Kota Purbalingga yang jalanannya lebar-lebar dan juga rapi, sudah kami lewati. Tujuan kami berikutnya menuju jalanan yang makin menanjak dengan hawa sejuk yang berhembus dari berbagai arah. Jalan ini juga menghubungkan dua kabupaten, yaitu Purbalingga dan Pemalang.

Jalan berliku nan mulus serta dikelilingi pepohonan yang hijau juga asri sudah kami lewati. Dari kejauhan, barisan perbukitan hijau menjadi penghibur kami siang itu.

Sebuah tugu besar dengan patung kelelawar hitam yang merentangkan sayapnya menyambut kami di samping jalan raya. Selamat datang di Goa Lawa-Karangreja-Purbalingga.

Begitu banyak nama goa yang dinamai Goa Lawa yang saya tahu, namun kali ini kami akan mengunjungi Goa Lawa yang berada di kecamatan Karangreja-Purbalingga-Jawa Tengah.

Hawa dingin makin menusuk tengkuk dan semilir angin yang berhembus pun makin menambah kesejukan kawasan ini.

Barisan kios yang berjejer rapi dengan atap segitiganya menyambut kami. Selain menyediakan tempat penitipan motor, di sini juga tersedia jasa penitipan helm tentu dengan terlebih dahulu membayar beberapa lembar rupiah.

Hari raya lebaran telah usai, namun harga tiket masuk ke kawasan ini belum tergoyahkan alias masih lumayan mahal dari harga biasanya padahal sudah tertera jelas berapa biayanya beserta tetek bengeknya pada poster yang tertempel di dinding. Kami tidak mau berdebat dengan si penjaga loket dan dengan legowo melenggang masuk dengan damai.

Dikutip dari Wikipedia, Goa Lawa terbentuk dari aliran lelehan lava Gunung Slamet ribuan atau ratusan tahun yang lalu dan kemudian menjadi dingin dan mengeras sehingga menghasilkan aneka bentuk seperti saat sekarang ini. Jarak Gunung Slamet dengan Goa Lawa ini terbilang tidaklah terlalu jauh sehingga hawa sejuk kian terasa saat berada di sini.

Sejarah penemuan Goa Lawa ini terjadi ketika para petani-petani di desa Siwarak-Karangreja-Purbalingga (sekitar tahun 1978) menemukan ribuan kelelawar yang membuat sarang dari salah satu lubang pada suatu bukit di dekat desa Siwarak. Para petani akhirnya sampai juga di bibir lubang tadi dan menemukan sebuah goa yang masih belum dikenal, kejadian tersebut kemudian dilaporkan ke pemerintah daerah setempat hingga pada tanggal 30 November 1979, goa ini ditetapkan sebagai objek wisata oleh pemerintah daerah Purbalingga.

20160717_120828.jpg

prasasti peresmian goa lawa

Di dalam Goa Lawa sendiri terdapat banyak goa-goa yang mempunyai namanya masing-masing, di antaranya adalah:
Goa Batu Semar
Goa Waringin Seto
Goa Dada Lawa
Goa Pancuran Slamet
Goa Sendang Slamet
Goa Sendang Drajat
Goa Gangsiran Bupati
Goa Lobang Panembahan
Goa Rahayu
Goa Keris
Goa Langgar
Goa Cepet
Goa Putri Ayu

Dari semua goa-goa tadi ada jalur penghubungnya masing-masing hingga bisa ditelusuri satu persatu, namun hanya ada dua goa yang letaknya terpisah dan tidak terhubung satu sama lain yaitu:
Goa Golek Kencana dan Goa Angin

Kawasan wisata Goa Lawa ini begitu luas dengan rerumputan hijau dan juga puluhan pohon pinus yang menyambut wisatawan dan seakan mengajak mereka untuk menggelar tikar dan berteduh di bawah rindangnya. Andai kata lupa membawa tikar dan juga cemilan, jangan khawatir karena di sini banyak tersedia penyedia jasa penyewaan tikar plus tinggal pilih mau pesan makanan atau cemilan apa.

20160717_130243.jpg

pintu masuk lapis ke dua (tempat menyerahkan karcis masuk)

Sebelum memasuki pintu utama menuju tangga yang menurun hingga berujung di mulut goa, lagi-lagi kami disambut dengan patung kelewar hitam yang sayapnya terbentang lebar. Ada tiga baris anak tangga yang menurun-menuntun pengunjung untuk satu persatu melewatinya hingga sampai di mulut goa nan lembab ini.

berita_75474_800x600_PURBALINGGA_goa_lawa_gerbang

sebelum memasuki lobang goa, pengunjung disambut patung kelelawar, sumber

Sebenarnya Goa Lawa ini memiliki banyak lubang pada bagian atasnya hingga sinar matahari bisa masuk menerangi gelapnya goa ini, namun hampir kesemuanya kini diberi atap dan berpagar demi keamanan pengunjung yang melihat dari bagian atasnya.

20160717_113107.jpg

menuruni anak tangga menuju pintu masuk goa

Saya dan Wedwi pun satu persatu menyusuri jalan sempit yang menghubungkan mulut goa satu dengan yang lain dengan kondisi lantai becek, lembab serta remang-remang lampu penerangan yang sudah tersedia pada bagian tertentu.

img_20160717_115429.jpg

salah satu sendang yang cukup lebar dengan jembatan besi

Air berjatuhan dari sela-sela dinding goa dan pada bagian tertentu membentuk sebuah kolam maupun sendang yang pada beberapa orang memiliki kepercayaan bahwa air sendang tersebut mempunyai khasiat. Kami hanya tahu kalau air di sini sejuk dan bikin segar tentunya.

Ada begitu banyak nama goa di dalam goa ini namun kami tidak menghafalkannya satu persatu. Ada yang dalam kondisi terang dan juga ada yang sebaliknya, gelap total. Pada beberapa bagian, kami harus membungkukan badan agar tidak terbentur dinding goa yang lumayan rendah. Pada bagian tertentu juga terdapat sebuah jembatan buatan yang melintasi sendang berukuran lumayan lebar.

20160717_114618.jpg

salah satu batu yang dinamakan batu keris

Tidak lama kami berada di sini, selain lembab dan becek, makin siang makin banyak pengunjung yang berkunjung ke goa ini hingga menambah ramai objek wisata ini. Spot paling menarik untuk berfoto adalah di mulut goa dan di bawah lubang cahaya pada bagian atas goa ini.

img_20160717_120120.jpg

salah satu spot menarik untuk berfoto adalah di mulut goa

Selain kami tidak menemukan seekor pun kelelawar, kami juga baru sadar kalau pintu masuk dan pintu keluar berada pada jalur yang berbeda. Tenang, dijamin tidak tersasar.

Saya masih ingat ketika ibu masih remaja dan masih hobi berpetualang, beliau pernah mengunjungi Goa Lawa ini dan kondisinya berbeda jauh seperti saat sekarang ini. Saat itu (menurut cerita beliau) akses menuju goa sangatlah penuh perjuangan. Butuh senter, tali tambang serta penerang berupa lampu petromak jadul yang cara menghidupkannya salah satunya dengan dipompa terlebih dahulu. Saat itu pun binatang kelelawar jumlahnya masih lumayan banyak karena mungkin belum dijamah oleh manusia-manusia. Dari situ, saya pun merenung…jika jiwa berpetualang saya mungkin menurun dari kegemaran ibu sewaktu masih remaja tadi.

Perut kami berdua seakan memberi sinyal jika sudah saatnya diisi, semangkok mie ayam dan nasi rames ditemani tempe mendoan hangat menjadi santap siang kami saat itu. Selepas menunaikan kewajiban salat dzuhur di masjid sekitar objek wisata Goa Lawa ini, kami memutuskan melanjutkan perjalanan berikutnya.

Untuk urusan buah tangan atau oleh-oleh janganlah pusing memilihnya. Ada begitu banyak oleh-oleh mulai dari souvenir, cemilan, kaos hingga buah nanas kuning berukuran mini yang merupakan buah khas di sekitar lereng Gunung Slamet banyak tersedia.

picsart_08-31-09.26.42.jpg

dapat nanas dengan harga murah meriah

Sebelumnya saya sempat menawar satu buah nanas pada penjual yang berjualan di dalam lokasi objek wisata Goa Lawa seharga hampir Rp 7,500 per buah. Karena dirasa mahal, saya pun tidak jadi membelinya dan kejutannya adalah saat kami keluar objek wisata ini, terdapat penjual nanas yang baru saja memanennya langsung dari kebun dan menajajakannya di pinggir jalan. Tau berapa harga yang saya dapat untuk satu buahnya? Kira-kira seharga Rp 2,500 saja dan itu beda jauh dengan penjual tadi.

Saya pun pulang dengan beberapa ikat nanas yang sedianya untuk oleh-oleh keluarga di rumah, sedangkan Wedwi tidak ikutan beli, katanya jarang beli oleh-oleh saat bepergian.

Petualangan siang itu kami akhiri dengan senyum lebar dan rasa puas karena sudah mengobati rasa penasaran kami mengenai keberadaan Goa Lawa ini. Selain itu, perjalanan kali ini seakan menjadi nostalgia masa-masa remaja ibu yang kini diwakili oleh anaknya ini.

Advertisements

6 thoughts on “Goa Lawa di Kaki Gunung Slamet

    1. Hendi Setiyanto Post author

      Selain karena difoto pakai kamera hp, memang pada bagian tertentu tidak terdapat lampu hehehe, malah ada yang gelap total plus lampu kadang nyala kadang mati gitu.

      Like

      Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s