Bersusah Payah Menuju Bukit Lingga-Yoni

Panas menyengat aspal jalanan dan debu yang berterbangan sukses menyambut kami saat melintasi pertigaan perbatasan dua kecamatan yaitu kecamatan Pagedongan dan Bawang. Sebenarnya kedua kecamatan ini hanya dipisahkan oleh batas wilayah berupa tugu yang sudah tidak bisa dikenali bentuknya. Cara terbaik mengetahui kita sudah meninggalkan atau memasuki kedua wilayah tadi adalah dengan cara bertanya langsung kepada penduduk sekitar.

Setelah tersasar beberapa kali untuk mencari jalan alternatif menuju wilayah Masaran-Bawang-Banjarnegara, saya dan Wedwi akhirnya memutuskan menepikan sepeda motor kami menuju sebuah warung makan yang saat itu sedang ramai oleh pengunjung untuk bersantap siang. Perut sebenarnya sudah sangat keroncongan karena beberapa jam lalu hanya diisi oleh dua sisir pisang berukuran sedang serta beberapa teguk air mineral.

Kami bertanya mengenai jalur yang harus kami pilih menuju daerah Masaran. Untungnya si ibu pemilik warung makan tadi dengan ramah memberikan penjelasan. Satu catatan penting adalah, kami sudah melenceng lumayan jauh dari tujuan kami yang sebenarnya. Untungnya kami berinisiatif berhenti di dekat warung makan ini. Bergegas kami meninggalkan warung makan ini setelah diberi penjelasan oleh si ibu.

Mencari sebuah wilayah atau desa dengan minim rambu-rambu penunjuk jalan tentu harus ekstra sabar tiap beberapa puluh meter berhenti untuk bertanya pada penduduk sekitar. Tidak cukup sekali atau dua kali, kami lebih sering bertanya daripada harus tersasar lumayan jauh dan malah makin merepotkan.

Jalanan beraspal masih mulus ini melewati perumahan penduduk yang lumayan bagus-bagus. Setelahnya kami harus membelah persawahan serta perkebunan jagung yang terlihat hijau terkena paparan sinar matahari. Naik turun melewati jembatan dan anak sungai menjadi pemandangan kami selanjutnya. Di daerah yang berada pada kontur perbukitan ini ternyata banyak dihuni oleh penduduk secara bergerombol maupun berderet di sepanjang jalan raya ini.

Mata kami seakan awas mengikuti sebuah bukit yang terlihat menonjol diantara beberapa gugusan perbukitan di daerah ini. Sebuah bukit hijau yang berbentuk Lingga-Yoni apabila dilihat dari kejauhan ini seakan membuat mata kami awas saat berkendara. Perlahan tapi pasti, kami melewati jalanan yang memutar mengelilingi bukit hingga makin mendekat. Kini kami sudah persis berada di bawah bukit ini.

picsart_08-12-01.12.46.jpg

Sebuah bukit yang katanya dinamakan Lingga-Yoni

Sebuah persawahan yang pada beberapa bagian sedang ramai oleh orang-orang yang hendak memanen padi. Area persawahan ini berada di sisi kanan kiri jalan raya beraspal nan menanjak ini. Pada sebelah kanannya terdapat aliran sungai kecil berwarna kecoklatan yang memutari sisi terluar area persawahan. Kolam-kolam ikan dengan pondok bambu di atasnya menjadi pemandangan yang menyegarkan mata.

Motor kami parkir dekat sebuah ruko satu-satunya di pertigaan jalan ini. Di sebelahnya terdapat kolam ikan serta pondok bambu kecil. Kami berhenti sejenak sambil beristirahat. Dari sini, bukit Lingga-Yoni sudah terlihat makin dekat namun membayangkan bagaimana susahnya bisa sampai puncak membuat kami kebingungan. Dilihat makin dekat ternyata bukit ini hijau dan lebat dengan aneka macam pepohonan hijau.

Tanpa berpikir panjang, kami berjalan melalui pinggiran sawah nan becek dan gembur ini. Salah sedikit kaki bisa terjerembab oleh lumpur yang dalam dan susah mencabutnya. Kali ini giliran saya yang kebagian sial. Setelah beberapa kali terpeleset dan terjatuh ke kubangan lumpur. Saya pun memilih jalan yang malah mempersulit keinginan untuk mendekat ke kaki bukit ini.

Setelah melewati hamparan sawah-perkebunan jagung dan juga tanaman kacang tanah. Kami berdiskusi dan menyimpulkan bahwa jalan yang kami pilih ini salah. Sama sekali tidak ada jalan setapak, yang ada hanyalah hamparan tanaman lebat dan juga tebing-tebing tanah yang susah dijangkau. Kami memutuskan berbalik arah dan menuju pertigaan jalan tempat kami menitipkan motor. Saat kembali pun saya terjebak lagi. Jalan yang saya pilih malah berupa tanggul yang baru saja dibuat oleh petani yang sedang mencangkul. Jadi saat saya injak, kaki akan terjerembab makin dalam ke lumpur. Wedwi sudah jauh pergi meninggalkan saya seorang diri.

Setengah tubuh sudah kotor dan basah karena lumpur. Perut makin keroncongan. Saya memilih membersihkan diri terlebih dahulu melalui saluran air kotor yang berada di pinggir jalan. Tidak layak memang, namun daripada makin kotor dan makin lengket, jadi ya terpaksa dilakukan.

Kami memutuskan melanjutkan perjalanan menggunakan motor sembari bertanya kembali kepada penduduk sekitar mengenai cara termudah menuju puncak bukit Lingga-Yoni. Ternyata ada jalan yang langsung bisa mendekati pintu masuk bukit Lingga-Yoni ini. Pintu masuk ini sebenarnya adalah jalan setapak yang biasa dilalui oleh penduduk sekitar menuju kebun di punggung bukit Lingga-Yoni. Sebelum pintu masuk, ada beberapa rumah warga sekitar yang cocok untuk dijadikan tempat kami menitipkan motor kami. Perjalanan selanjutnya dilakukan melalui jalan setapak yang licin dan juga menanjak.

Sebenarnya bukit Lingga-Yoni bukan merupakan sebuah tempat wisata. Bukit ini pada puncaknya terbentuk dari bebatuan yang terlihat menonjol membentuk simbol Lingga. Ketinggiannya pun relatif masih masuk akal untuk kami daki selama beberapa puluh menit saja. Dari punggung bukit ini, kita bisa melihat pemandangan Tampo Mas dan juga daerah Bawang dari kejauhan.  Pepohonan cengkih dan albasia hampir mendominasi di sini. Beberapa kali kami tersasar menemui jalan buntu dan berakhir pada sebuah punden batu atau mungkin kuburan  karena terdapat beberapa batu yang teronggok dan mirip sebuah kuburan.

20160522_130948.jpg

Dari kejauhan terlihat bukit Tampo Mas

Karena merasa salah jalan, kami pun turun kembali memilih jalan setapak yang lain. Jalan setapak ini berada di sisi jurang curam dengan pohon cengkih tumbuh rapat. Sebuah tebing yang merupakan puncak bukit Lingga-Yoni saat ini sudah persis berada di depan kami. Pada tebingnya yang berbentuk memutar mirip *alu ini pada beberapa sisi ditumbuhi pohon liar dengan akarnya yang  seakan mencengkeram tebingnya. Di sisi lainnya terdapat pohon aren tua yang lagi-lagi juga tidak jauh dari tebing.

Kami memutari tebing, mencari cara agar bisa sampai puncak sana. Setelah memutar beberapa kali ternyata tidak ada jalan masuk menuju puncak selain kita harus bergelantungan pada akar pohon yang mencengkeram sebagian tebing ini. Wedwi mencoba terlebih dahulu sampai puncak pohon yang akarnya dapat digunakan untuk tangga alami ini. Akan tetapi hasilnya nihil. Sepertinya kami tidak bisa sampai puncak tanpa perlengkapan yang lengkap layaknya hendak panjat tebing. Selain bebatuan yang sangat curam, berlumut dan juga berair. Tanpa perlengkapan yang memadai malah akan membahayakan keselamatan kami.

picsart_08-12-01.11.34.jpg

Setelah bergelantungan pada akar pohon, kami pun akhirnya gagal juga menuju puncak

Perjuangan kami seakan sia-sia hingga detik ini. Tinggal selangkah lagi, kami bisa sampai puncak sana. Tetapi kami tidak mau ambil resiko terlalu nekat untuk memaksa naik. Walhasil kami hanya bisa puas berfoto sambil bergelantungan di akar pohon ini sambil menikmati pemandangan Tampo Mas dari kejauhan. Agak sedih memang rasanya, tapi mau bagaimana lagi. Hari juga makin sore. Kami tidak ingin terjebak di sini apalagi jika sampai turun hujan.

20160522_130031.jpg

Dengan perasaan kecewa,kami turun bukit sambil bergegas menuju tempat kami menitipkan motor. Saat pulang, kami menyempatkan diri untuk menunaikan kewajiban di masjid dekat pinggir sungai. Yang unik adalah masjid ini seperti sudah beberapa tahun tidak digunakan ibadah oleh penduduk. Debu dan sarang laba-laba hampir menghiasi ruangan masjid ini. Entahlah apa mungkin karena kurang dirawat atau memang sudah tidak digunakan lagi.

Yang lebih uniknya adalah saat kami hendak pulang yang seharusnya melewati pertigaan Pasar Wage-Banjarnegara malah kami keluar melewati pertigaan SMKN 2 Bawang yang jaraknya dari kota sekitar 3 kilometer lebih. Padahal niatnya ingin mampir ke alun-alun Banjarnegara. Saya pun ngakak karena kebodohan kami saat itu.

Sejenak beristirahat sambil ditemani es dawet ayu Banjarnegara untuk siang yang super panas ini. Saat menuju rumah, beberapa kali motor hendak jatuh mulai dari menghindari jalan berlubang hingga oleng karena ban motor bagian belakang tiba-tiba pecah. Syukurlah akhirnya kami sampai rumah dengan selamat.

Mungkin kami saat ini gagal menuju bukit Lingga-Yoni ini, akan tetapi kami puas karena seharian bisa menjelajah hutan, persawahan dan menikmati keindahan alam Banjarnegara.

Tabik…..

Advertisements

8 thoughts on “Bersusah Payah Menuju Bukit Lingga-Yoni

  1. Gara

    Wah medannya menantang banget, untuk ukuran saya mungkin hanya bisa melihat puncaknya saja, kalau mau dicapai mah jauh banget ya, hehe. Tapi saya tertarik dengan punden dan makam batunya, hehe, tidak adakah cerita-cerita yang berkembang di masyarakat soal ini? Sebab pemilihan nama lingga-yoni untuk sebuah bukit adalah hal yang unik, dan bukan tidak mungkin kalau di bukit ini sebenarnya kaya akan peninggalan yang agak nyerempet logika, kan, hehe.
    Kalau saya jalan-jalan ke Banjarnegara, mohon bantuan panduan ya Mas, hehe.

    Liked by 1 person

    Reply
    1. Hendi Setiyanto Post author

      sebenere pas ke sini sih adanya semacam batu-batu yang tergeletak, aku pikir semacam kuburan mungkin. tapi aku nggak nyampai puncaknya abis kudu pakai peralatan lengkap. Memang sekilas dari kejauhan ini bukit mirip simbol siwa dalam kepercayaan hindu india kayak di film2 gitu, maklum aku awam banget dengan hal beginian hehehe

      Like

      Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s