Mengunjungi Tampo Mas, Penyokong Utama Pembangunan Waduk Mrican-Banjarnegara

Ada legenda yang berkembang di kalangan penduduk Banjarnegara-Jawa Tengah mengenai sebuah gunung batu/bukit batu yang berada di sisi selatan kota Banjarnegara atau lebih tepatnya berada di kecamatan Pagedongan dan Bawang. Sebuah gunung batu yang namanya bisa diasosiasikan dengan legenda Gunung Tampo Mas di Sumedang-Jawa Barat atau bahkan yang lebih heboh pada era delapan puluhan adalah tragedi kecelakaan kapal laut Tampo Mas yang merenggut banyak korban jiwa.

Saat kita mencoba mengetikan kata kunci “Tampo Mas” dalam mesin pencari Google, yang muncul pertama kali memang mengenai tragedi kapal laut Tampo Mas yang terbakar, kemudian Gunung Tampo Mas di Sumedang dan yang terakhir adalah Gunung Batu Tampo Mas di Banjarnegara-Jawa Tengah. Mungkin orang-orang akan terkecoh dengan penamaan yang hampir serupa tadi namun sejatinya berbeda lokasi yang cukup jauh. Untuk itu kali ini saya akan lebih berfokus ke Gunung Batu Tampo Mas yang berada di Banjarnegara.

Kembali lagi ke legenda Tampo Mas di Banjarnegara yang tidak bisa dikaitkan dengan pembangunan salah satu bendungan yang cukup besar di Jawa Tengah. Bendungan Mrican yang berada di kecamatan Wanadadi-Bawang ini merupakan sebuah bendungan yang dibuat untuk memenuhi kebutuhan pasokan listrik untuk sebagian pulau Jawa dan Bali. Bendungan Mrican ini sejatinya adalah sebuah bendungan yang pasokan airnya berasal dari aliran Sungai Serayu yang berhulu di dataran tinggi Dieng melewati Wonosobo-Banjarnegara-Purbalingga-Banyumas.

Selain dikenal sebagai bendungan Mrican oleh penduduk sekitar, bendungan ini sejatinya juga memiliki nama resmi yang terpampang di pintu masuk jalan menuju Wanadadi dari arah Banjarnegara. Waduk Panglima Besar Jenderal Soedirman, itulah nama resmi dari waduk besar ini. Pembangunannya sendiri dikerjakan saat masa kepemimpinan Presiden Soeharto. Dimulai pengerjaannya sekitar awal delapan puluhan hingga selesai awal tahun sembilan puluhan, dengan melibatkan banyak pekerja baik dari orang pribumi maupun pekerja asing.

waduk-panglima-besar-jendral-soedirman-1

sumber foto di sini

Salah satu penyokong utama pembangunan waduk ini adalah dipasoknya jutaan kubik bebatuan yang diangkut dari daerah Pagedongan-Bawang yang jaraknya lebih dari lima kilometer. Dari sinilah asal mula legenda Tampo Mas berkembang dan diyakini oleh penduduk Banjarnegara.

Legenda yang mungkin akan dianggap mustahil ini berkembang dari mulut ke mulut selama beberapa generasi. Mereka percaya bahwa Gunung batu Tampo Mas yang jarak dari lokasi sekarang Waduk Mrican lebih dari lima kilometer ini, suatu saat jika roboh atau longsor maka longsoran bebatuannya akan membendung Sungai Serayu. Entah ini hanya legenda belaka atau memang cuma cerita turun temurun. Karena secara logika tentu tidak mungkin karena Gunung batu Tampo Mas sendiri bila dihitung dari ketinggiannya dengan jarak robohnya ke arah Sungai Serayu jelas hal mustahil untuk terjangkau.

Namun kini semuanya terjadi, tentunya dengan cara yang masuk akal. Gunung batu tersebut diledakan dengan menggunakan dinamit-dinamit hingga bebatuannya runtuh untuk kemudian diangkut menuju daerah Mrican. Jalan-jalan lebar dan beraspal pun akhirnya dibangun untuk memudahkan pengangkutan dari Pagedongan-Bawang menuju daerah Mrican. Hingga saat ini waduk Mrican telah berdiri gagah dan Gunung batu Tampo Mas yang menyisakan sebuah cerukan cukup luas sisa-sisa galian bebatuan.

***

Berbekal legenda tadi, pagi ini saya dan Wedwi memutuskan untuk melihat sendiri kebenarannya.  Kami berangkat dari rumah lumayan agak siang sekitar pukul sembilan pagi, molor satu jam lebih dari yang direncakan karena ada sesuatu hal yang mendadak.

Dengan berboncengan sepeda motor, kami berdua berangkat dari Punggelan menuju kecamatan Pagedongan. Jalur yang kami lewati cukup menantang. Jalan raya yang mayoritas rusak parah dari tingkat desa hingga kabupaten ditambah lagi saat ini hujan seperti berada pada puncaknya membuat perjalanan kami penuh tantangan.

Sebenarnya ada tiga jalur alternatif menuju Gunung Batu Tampo Mas. Yang pertama adalah melalui jalur pertigaan Mantrianom-Bawang depan SMKN 2 Bawang. Yang kedua adalah melalui pertigaan Pasar Pucang-Bawang dekat SMKN 1 Bawang dan yang terakhir adalah melalui perempatan Pasar Wage-Banjarnegara kota menuju pintu masuk ke kecamatan Pagedongan yang terkenal dengan hutan pinus, damar serta Curug Pletuknya.

Baca juga mengenai perjalanan saya menjelajah kecamatan Madukara, mulai dari curug hingga pepohonan pinus di sini 

Karena hari minggu, jalanan kota terlihat ramai namun tidak terlalu padat apalagi macet. Setelah beristirahat sejenak di pom bensin Blambangan untuk berganti celana pendek, kami meneruskan perjalan menuju Pagedongan. Beberapa kali kami tersasar memilih pertigaan maupun perempatan yang harus dilewati. Namun setelah bertanya pada penduduk sekitar, akhirnya kami sampai juga di pintu masuk Gunung Batu Tampo Mas ini.

Saat ini Gunung Batu Tampo Mas lebih dikenal sebagai salah satu sumber tambang rakyat yang dikelola secara swadaya. Memasuki pintu masuk yang memiliki struktur jalan lebar namun dengan kondisi aspal yang sudah mengelupas di sana-sini, kami disambut dengan deretan truk-truk besar yang sedang mengantri bahan tambang berupa pasir, batu, hingga kerikil yang siap diangkut. Ada juga berbagai macam alat berat yang tengah mengerjakan pengerukan tebing tanah untuk diratakan dan dibuat menjadi tempat penampungan sementara pasir-pasir dan juga batu.

Disarankan untuk memakai masker, celana pendek , sandal gunung, kaos dan yang paling penting adalah topi untuk menghalau hawa panas saat ke sini. Debu-debu beterbangan dengan bebasnya dan salah-salah bisa mengakibatkan sesak nafas.

Setelah melewati deretan truk, kita akan memasuki sebuah jalan yang tidak terlalu lebar dengan portal yang melintang di tengah jalan. Hanya ada seorang anak kecil yang bertugas membuka-tutup portal ini. Kami pikir akan dikenai biaya masuk saat ke sini, namun kami melenggang bebas tanpa halangan saat itu.

Jalanan beraspal mulus yang hanya beberapa puluh meter, kini berganti dengan jalanan bebatuan berukuran sebesar buah salak yang disebar begitu saja membelah hutan jati yang terlihat masih hijau dedaunannya. Butuh perjuangan ekstra untuk melewatinya apalagi memakai motor matic seperti yang kami alami.

Dari jauh samar-samar terlihat sebuah kolam tenang di dalam cekungan bebatuan dan juga suara palu besar yang tengah memecah batu dari tebing. “Selamat datang di Gunung Batu Tampo Mas”. Sebuah kolam yang cukup lebar dengan ditumbuhi tanaman teratai menyambut kami di bawah sana. Sebuah cekungan bekas galian batu yang kini menjadi semacam danau buatan tempat menampung tadahan air hujan.

14170107631734117726

Cerukan hasil dari pengambilan bebatuan Gunung Tampo Mas l Sumber di sini

Hawa di sini sangat terik dan panas. Sementara itu di sekelilingnya terdapat rimbunan pohon jati yang terlihat rapat dan hijau. Bapak-bapak dengan kulit legamnya tengah berjuang memecah bebatuan dengan palunya masing-masing. Gubuk-gubuk sederhana beratapkan pelepah daun kelapa terlihat di beberapa sudut. Sementara itu beberapa pemancing tengah dengan sabar duduk-duduk menahan hawa panas di pinggir batu dekat danau buatan ini sambil berharap kail mereka bergerak sebagai tanda bahwa umpan dimakan oleh ikan-ikan.

Kami terus berjalan sambil menahan hawa panas. Sekilas pemandanga tebing-tebing di sekeliling kami mirip dengan yang berada di kawasan GWK-Bali. Hanya saja di sini bebatuannya terlihat tidak beraturan karena sisa-sisa bongkahan bekas diambil batunya. Ada yang tengah memecah batu lempeng menjadi ukuran kecil hingga ada yang dengan sabar berdiri di atas bukit guna membuat patahan-patahan dengan menggunakan semacam paku besi pipih berukuran besar dengan ujung yang lancip.

IMG_20160522_105952

Aslinya cuaca siang itu sangat terik dan bikin nyengir terus

Patahan-patahan tadi sengaja dibuat agar nanti hasil bongkahan batunya terlihat rapi dan tidak remuk. Bongkahan batu di sini rata-rata dibuat membentuk lempengan-lempengan beraneka bentuk untuk kemudian dikumpulkan dan diangkut dengan truk-truk. Sebaiknya hati-hati saat melewati tebing dan mata harus awas dengan orang yang tengah memecah tebing di atas sana karena sewaktu-waktu bebatuan dari tebing bisa saja tiba-tiba longsor dan mengenai orang yang lewat di bawahnya.

Sebenarnya untuk orang yang punya hobi memancing dan juga olahraga panjat tebing, tempat ini sangat cocok untuk melakukan kedua aktivitas tadi selain sebagai lokasi tambang tentunya. Dengan tangan kosong pun kita bisa memanjat tebing namun beresiko jika terjatuh karena runcingnya tebing-tebing di sini. Jadi kalau memang hendak melakukan olahraga panjat tebing, sebaiknya menyiapkan peralatan yang memadai untuk keselamatan.

IMG_20160522_113116

Yang ini jangan ditiru!!!

Hari makin terik, beberapa pemancing terlihat berpindah tempat mencari posisi yang teduh dari sengatan matahari langsung. Kami pun menepi menuju pinggiran cekungan batu yang menutupi panas matahari dan duduk ngadem di bawahnya. Sesekali kami berbincang-bincang sambil tak henti-hentinya mengabadikan pemandang sekitar dengan kamera masing-masing.

Saya tidak membayangkan bagaimana susahnya bekerja di sini. Perjuangan pria-pria tangguh yang tengah mencari nafkah untuk keluarga mereka masing-masing di tengah panas menyengat kawasan ini. Saya pun menerawang ke masa lampau, bagaimana penderitaan rakyat pribumi saat harus mengikuti kerja paksa memecah dan mengangkut batu di saat cuaca panas disertai mata awas oleh para prajurit-prajurit kompeni dilengkapi senjata yang selalu siap siaga seperti dalam film-film jadul.

Terlihat juga seorang nenek-nenek tua yang tengah mengumpulkan kepingan-kepingan batu hasil dari palu yang dipukul-pukulkan oleh anaknya ke batu yang berada di pinggiran tebing. Sesekali sang nenek berteduh di gubuk daun kelapa sambil meneguk sebotol air minum dari bekas botol air mineral yang dibawanya. Jika sudah saatnya jam makan siang, mereka berdua duduk bersama menikmati bekal masing-masing yang dibawa dari rumah. Sebuah pemandangan sederhana penuh makna di tengah kondisi yang tidak nyaman ini.

Koleksi foto-foto yang diambil di sini sudah lumayan banyak. Sambil duduk mengecek satu persatu hasil jepretan kami masing-masing, mata menerawang menuju tanaman teratai yang cukup banyak di atas kolam lebar ini. Airnya berwarna hijau dan di beberapa bagian terdapat sampah kayu dan plastik. Di pojok sana terdapat semacam keramba ikan yang entah masih difungsikan atau tidak. Di tengah keramba terdapat gubuk kecil beratapkan seng dan juga berdinding kayu.

Saat mengecek hasil foto, tiba-tiba kartu memori di handphone saya rusak. Pantas saja dari tadi layar tiba-tiba mati saat hendak melihat hasil foto. Ternyata eh ternyata yang bermasalah adalah kartu memorinya. Mau tidak mau saya harus rela kehilangan foto-foto tadi dan melepas kartu memorinya agar handphone tidak macet dan harus direstart berulang.

Hari makin terik dan sebentar lagi sudah memasuki waktu salat dzuhur, kami beranjak pergi meninggalkan tempat ini. Sebelum pergi kami menikmati buah pisang yang ternyata Wedwi bawa di tasnya yang diletakan di atas jok motor. Lumayan cukup mengganjal perut di saat jam makan siang seperti ini sambil meneguk air minum yang masing-masing kami bawa di tas.

Rasa penasaran kami sudah terpuaskan siang itu. Entah benar atau tidak tentang legenda penduduk Banjarnegara, nyatanya Gunung Batu Tampo Mas saat ini masih ada dan terus eksis dari kegiatan pertambangan. Selain itu keberadaan Waduk Mrican pun saat ini masih difungsikan sebagai PLTA yang menyuplai kebutuhan listrik untuk sebagian pulau Jawa dan Bali. Semoga kedua tempat ini akan selalu dikenang karena keberadaan mereka yang saling memberikan keuntungan semacam simbiois mutualisme.

Tabik….

Advertisements

8 thoughts on “Mengunjungi Tampo Mas, Penyokong Utama Pembangunan Waduk Mrican-Banjarnegara

  1. prih

    Woo keelokan Tampo Mas menantang adrenalin para pemanjat ya Mas Hendi. Bahu membahu dengan waduk Mrican mengalirkan berkat kesejahteraan bagi Banjarnegara. Salam ndayeng.

    Liked by 1 person

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s