Menghanyutkan Diri di Sungai Tungtung-Limbasari

Dengan mengenakan sebuah celana cargo pendek berwarna abu-abu, kaus lengan panjang yang bernada sama, serta sepasang sandal outdoor dan sebuah tas ransel berisi perbekalan, pagi ini saya sudah siap untuk menjelajah ke kabupaten Purbalingga-Jawa tengah.

Sudah hampir dua minggu lebih, orang-orang sudah membicarakan rencana pelesiran ini. Tua-muda kompak mempersiapkan diri mulai dari rencana perbekalan untuk makan siang hingga seragam yang akan dikenakan. Tak ada yang lebih menggembirakan selain bisa berpelesiran secara bersama-sama untuk melepas penat setelah melewati hari-hari kerja yang terkadang menguras emosi dan juga tenaga.

Sehari sebelumnya, masing-masing orang telah mendapat surat yang berisi rencana kegiatan yang akan dilakukan serta perbekalan yang harus dipersiapkan. Dari sekian orang yang ikut kegiatan ini, hanya beberapa orang saja yang mengenakan celana pendek. Orang tersebut tak lain dan tak bukan adalah saya sendiri serta seorang lagi. Niat awal sih agar saat sampai lokasi tidak perlu berganti pakaian lagi.

Langit pagi ini begitu cerah dengan pancaran sinar matahari yang mulai menampakan diri dari arah timur. Satu persatu peserta berkumpul di lokasi yang telah ditentukan. Berbagai macam tentengan dan perbekalan yang masing-masing orang sudah mendapat jatah sudah terkumpul di halaman. Ada salah satu peserta yang membawa satu kantong plastik besar mendoan hangat yang cukup menggoda untuk disantap pagi-pagi dengan segelas teh manis hangat.

Dari rencana awal, pukul 7 pagi seharusnya para peserta sudah berkumpul dan diberi pengarahan sebelum keberangkatan, namun harus molor selama satu jam hingga semuanya menampakan batang hidungnya.

Dua buah bus berukuran sedang telah terparkir di pinggir jalan. Saat itu peserta yang kurang lebih berjumlah 55 orang dibagi dalam dua bus. Setelah semua peserta diabsen satu-satu dan hadir maka pelan tapi pasti, bus berjalan meninggalkan lokasi menuju desa Limbasari-Purbalingga.

IMG_7337

Desa wisata Limbasari l Sumber

Canda tawa dan senda gurau mengiringi perjalanan hingga suasana menjadi cair dan tidak kaku. Setelah kurang lebih menempuh perjalanan selama satu jam dan ditambah tersasar beberapa kali, akhirnya kami sampai di parkiran sebuah area wisata air. Kami pikir inilah tempatnya, namun ini hanya dijadikan sebagai tempat parkir bus serta nantinya saat sudah selesai menjadi sarana untuk membersihkan diri.

Lima buah mobil bak terbuka berukuran kecil sudah menanti rombongan siang itu. Satu persatu para peserta naik, bak kawanan hewan ternak yang akan dibawa ke pasar. Mungkin momen langka ini hanya bisa dinikmati disaat-saat seperti ini. Kami semua larut dalam euforia kegembiraan dan menikmati semilir angin selama perjalanan.

Sebuah jalan mulus namun tidak terlalu lebar menemani perjalanan kami membelah hamparan persawahan hijau milik penduduk desa. Jarang sekali kami menemukan jalan rusak maupun berlubang. Kondisinya berbanding terbalik dengan yang terjadi di kabupaten Banjarnegara dimana jalan rusak menjadi sarana berkampanye menjelang pemilihan bupati yang akan dilaksanakan tahun depan. Kami sudah bosan dan muak dengan aneka macam poster berukuran raksasa yang mengobral janji di tengah kondisi sulit rakyatnya.

Iringan mobil bak terbuka berhenti persis di depan sebuah balai desa yang cukup besar. Di sana kami disambut oleh pengelola yang kesemuanya adalah penduduk desa setempat. Sebuah bangunan berbentuk joglo dengan aula yang luas di dalamnya kami masuki. Sebuah spanduk besar telah terpasang di panggung utama. Tumpukan perlengkapan untuk river tubing telah disediakan oleh pengelola.

Seperti biasa, sebelum memulai aktivitas outdoor, para peserta dibekali dengan berbagai macam informasi mengenai keselamatan dan cara evakuasi saat kegiatan berlangsung. Pak Agus namanya, salah seorang instruktur warga lokal setempat yang sudah berpengalaman dalam olahraga air ini. Dengan perawakan tinggi, kurus dan rambut gondrong beliau malah nampak sangat ramah terhadap kami. Tidak terlihat sama sekali kegarangan dari tampilannya. Mulai dari cara menyelamatkan diri sendiri, cara duduk dan larangan-larangan yang harus dipatuhi para peserta, kami semua dengan seksama dan santai mendengarkan detailnya.

Para peserta kali ini diangkut kembali menggunakan mobil bak terbuka melintasi hamparan sawah dan barisan perbukitan hijau dari kejauhan. Jalanan aspal yang mulus, seakan membelah hijaunya tanaman padi saat ini. Sendau gurau dan celotahan para peserta tak henti-hentinya saling bersahutan saat perjalanan menuju bibir Sungai Tungtung yang menjadi lokasi start olahraga river tubing ini.

IMG_7324

Jalanan mulus membelah persawahan hijau dengan latar belakang perbukitan l Sumber

Setelah berkendara naik turun melintasi perwasahan dan pemukiman warga, iring-iringan mobil bak terbuka kini sudah berada di ujung jembatan utama yang di bawahnya dijadikan lokasi start river tubing. Tumpukan ban dalam bekas besar berwarna hitam menjadi pemandangan yang mencolok-siap menyambut para peserta. Kurang lebih ada 15 orang pemandu yang dengan telaten, ramah dan sabar memandu kami mulai dari titik start.

Aliran air Sungai Tungtung ini lumayan deras dengan bebatuan beraneka ukuran menyebar memenuhi aliran sungai yang tergolong jernih ini. Pada sisi kanan kirinya hamparan perkebunan milik warga setempat menjadi pemandangan kami selanjutnya. Sungai ini tidak terlalu lebar, namun alirannya yang cukup deras malah dirasa cocok untuk dijadikan sebagai olahraga river tubing ini.

Tiap orang sudah memegang bannya masing-masing. Aba-aba dari para pemandu makin terdengar jelas. Tidak seperti yang dibayangkan sebelumnya, di sini kami harus sabar satu persatu bergantian menghanyutkan diri ke dalam sungai. Para pemandu secara berurutan meluncur terlebih dahulu dan siap siaga di titik-titik jeram yang akan dilewati.

DSC_0020

Antre satu persatu sebelum nyebur

Bermain air apalagi di sungai, belum afdol jika belum tercebur. Saya menjadi orang pertama yang harus terjungkir setelah melewati jeram pertama persis di bawah jembatan besar ini. Sebuah jeram dengan diapit bebatuan besar membuat ban yang saya tumpangi terbalik. Sukses sekujur tubuh basah kuyup. Ah..tak apalah toh sudah ada pelampung dan helm minus pelindung siku dan lutut. Saya yang sudah mempersiapkan diri dengan menggunakan sandal outdoor bertali dan celana pendek, merasa sangat terbantu disaat seperti ini. Sementara yang lain terlihat kerepotan dengan sepatu dan celana training panjang yang sangat merepotkan. Untuk yang tidak ingin repot malah lebih memilih bertelanjang kaki. Sebenarnya agak riskan juga jika sampai terjerembab atau malah menginjak bebatuan tajam.

Ritme bermain river tubing adalah setelah melewati jeram, para peserta harus berhenti atau menepi menunggu teman-temannya yang lain. Sementara itu para pemandu kembali lagi mengamankan jalur yang akan kami lewati, begitulah ritmenya berulang-ulang hingga titik finish. Kita tidak bisa seenaknya menghayutkan diri hingga menjadi yang paling terdepan. Tidak!!! bermain river tubing kuncinya sabar dan mengikuti instruksi dan aturan main. Terkesan membosankan memang dibanding bermain arung jeram tapi inilah aturannya.

Tak terasa hampir semua peserta merasakan terbalik saat melewati jeram maupun saat ban menabrak batu besar. Karena kita hanya duduk dan pasrah mengikuti kemana ban mengapung terbawa arus hingga berputar-putar, pinggang bagian bawah lama kelamaan akan terasa pegal dan nyeri. para peserta tidak diperbolehkan meregangkan tangan ataupun mendayung menggunakan tangan. Peserta meletakan tangan pada bagian samping ban untuk memantapkan posisi dan ketika turun melewati jeram, kaki harus diangkat tinggi-tinggi agar tidak menabrak bebatuan.

Rata-rata jeram di Sungai Tungtung ini termasuk dalam kategori sedang (dibanding dengan jeram di Sungai Serayu) namun untuk kejernihan air boleh dibilang sangat bagus karena benar-benar bening. Kami pun tidak menjumpai aneka macam sampah plastik milik warga sekitar. Sepertinya mereka sudah berkomitmen dengan dijadikannya Sungai Tungtung ini sebagai destinasi wisata baru yang dikelola oleh desa setempat.

DSC_0349

Saat-saat kami harus antri dan merasa kelaparan

Hampir tiga jam lebih kami bermain air dan tak terasa perut sudah keroncongan. Semua peserta mengeluhkan perasaan yang sama. Tidak seperti saat bermain arung jeram di Sungai Serayu yang mana di tengah-tengah perjalanan peserta bisa beristirahat sambil menikmati mendoan plus air kelapa muda, di sini praktis kami harus gigit jari. Pengelola hanya menyediakan camilan berupa tempe mendoan dan juga Cimplung (singkong rebus dicampur kelapa muda terus direbus dengan air gula hingga mengering) saat kegiatan finish di jembatan bagian hilir.

Ketika hampir mendekati garis finish, kami melewati area bendungan kecil untuk irigasi yang lumayan tinggi hingga membentuk gerujugan yang lumayan deras. Dari sini kami harus melempar ban masing-masing ke bawah dan berjalan menepi-melalui persawahan. Di sinilah titik tercantik untuk berfoto beramai-ramai dengan gerujugannya yang sangat deras. Dalam saku masih terdapat dua buah cokelat batangan yang sengaja saya persiapkan saat kegiatan berlangsung dan ternyata cukup efektif untuk mendongkrak kembali energi karena kelelahan.

33PBG-KINI2

Lokasi favorit untuk berfoto l Sumber

Pada kubangan kolam besar yang sangat jarang dengan bebatuan, para peserta diberi kebebasan untuk “menjahili” sesama dengan cara membalikan ban-ban yang lewat hingga mereka tercebur ke dalam air. Ini adalah bagian paling menyenangkan karena kami bisa jahil sejahil-jahilnya layaknya seorang anak kecil yang tengah bermain air. Tua-muda satu persatu mendapat gilirannya masing-masing oleh kejahilan kami-kami ini hehehe.

Sebuah jembatan berwarna orange-biru terlihat mencolok dari kejauhan dan itu menandakan petualangan kami segera berakhir. Satu persatu dengan basah kuyup dan kedinginan, kami menepi menuju titik berkumpul di bawah pohon kelapa untuk menikmati camilan yang telah disediakan oleh pengelola dan tentunya bekal yang sudah kami bawa dari rumah.  Tempe mendoan, cimplung, kelapa muda, urab, sambal, ikan asin, ayam dan buah-buahan sudah kami pindahkan dari mobil dan digelar di atas terpal. Dengan duduk bersila dan suasana yang sangat akrab, kami semua menikmati hidangan sederhana di pinggir sungai dengan beratapkan langit biru dan sepoi-sepoi angin.

Pukul 13.45 kami mengakhiri kegiatan ini dan kembali menaiki mobil bak terbuka menuju lokasi parkir di arena wisata air. Di sinilah kami bisa membersihkan diri sambil beberapa peserta yang tengah asyik bermain air di kolam renang-menunggu giliran mandi.

Mendekati salat ashar, dua bus berjalan pelan meninggalkan tempat ini menuju Banjarnegara. Langit cerah masih mengiringi kami hingga pulang ke rumah masing-masing. Sebuah pengalaman sederhana namun penuh makna dan bisa menjadi inspirasi untuk kami warga Banjarnegara yang juga punya banyak sungai-sungai cantik namun belum dimanfaatkan secara optimal untuk kegiatan pariwisata. Semoga, sungai-sungai dimanapun berada tetap dijaga kebersihannya sehingga bisa mendatangkan manfaat positif bagi penduduk di sekitarnya.

Advertisements

15 thoughts on “Menghanyutkan Diri di Sungai Tungtung-Limbasari

  1. Halim Santoso

    Seruuuu nih. Sudah lamaaaa banget nggak berarung jeram, saatnya beralih ke body rafting semacam ini. Sadar umur juga sih, takut nggak bisa deg-degan seperti naik arung jeram lagi hahaha. Airnya juga bening, cemplungable, beda ama pengalaman rafting di Sungai Progo dan Sungai Elo di Magelang yang airnya buthek. Belum pernah coba arung jeram yang jalur Sungai Serayu sih, next lah sekalian mumpung masih bisa dikontrol deg-deg ser-nya 😛

    Liked by 1 person

    Reply
  2. BaRTZap

    Sejauh ini aku belum pernah body rafting di sungai macam ini, tapi aku teringat cerita dari beberapa teman yang mencoba body rafting di Semarang. Ada satu hal dari segi safety yang menjadi concern ku, yaitu masalah potensi bagian bawah tubuh terbentur oleh batu. Agak riskan, karena bagian itu tempat berada tulang belakang yang kalau cedera bisa menimbulkan resiko yang luar biasa.

    Btw itu airnya kayanya bening banget ya. Menggoda buat nyemplung, plus pemandangan menuju tempatnya adem bangeeet. Ah jadi kangen main-main ke alam …

    Liked by 1 person

    Reply
    1. Hendi Setiyanto Post author

      Iya, sayangnya itu di Purbalingga yang notabene kab. tetangga. Kami kadang ngiri karena kondisi jalan di kab. kami mayoritas rusak parah, beda dengan tetangga yang bahkan mulus sampai pinggir sungai.

      Like

      Reply
  3. Pingback: 9 Barang Wajib Untuk Traveler Lokal Versiku | NDAYENG

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s