Surya Yudha Cinema di Bibir Sungai Serayu

Sebuah kawasan wisata berdiri megah persis di pinggir aliran Sungai Serayu yang deras dan warna airnya yang berwarna coklat susu. Sebuah jembatan penghubung yang terbuat dari rangka besi terlihat gagah menghubungkan daerah Rejasa menuju Banjarnegara kota. Di sebelahnya masih tersisa puing-puing bekas jembatan berukuran kecil yang pada masa lalu kokoh tak terkalahkan. Sama seperti manusia, jembatan tua tadi harus pensiun seiring dengan lapuknya usia digantikan dengan jembatan baru nan moderen dan juga gagah.

Jalanan berliku, berkelok naik-turun nan sempit ini makin sesak saja oleh lalu lalang kendaraan yang hilir mudik melintasinya tiap detik. Deretan ruko-ruko beraneka bentuk berjejer dengan bangunan megah bertingkat-tingkat dengan arsitektur moderen-minimalis kontras dengan deretan perumahan penduduk yang kian terjepit di tengah gencarnya pembangunan di bibir Sungai Serayu ini.

Masih teringat jelas beberapa puluh tahun yang lalu saat sering melintasi daerah ini. Hamparan luas sawah nan hijau terlihat asri mengapit jalan raya ini. Dari kejauhan barisan perbukitan yang mengepung kota sempit Banjarnegara terlihat molek dengan kontras warna hijau yang menyelimutinya. Rumah-rumah sederhana masih banyak berjejer rapi mengikuti jalur jalan raya menuju Banjarnegara kota ini. Jaman telah berubah, pembangunan kian gencar-pelan tapi pasti satu persatu bangunan-bangunan lama tergantikan dengan bangunan-bangunan baru nan “cantik”.

***

Sebuah pesan singkat terlihat masuk dari aplikasi BBM, dari sekilas yang terlihat, sudah jelas jika itu pesan dikirimkan oleh Wedwi-Teman sekaligus tetangga sebelah rumah.

“Hend, nanti jadi kan ke Surya Yudha Park sekalian nyoba bioskop baru yang beberapa hari baru diresmikan?”

Dengan cepat, pesan itu pun langsung saya balas,

“Jadi lah, ini udah penasaran seperti apa rasanya bioskop baru yang baru diresmikan itu” Jadi mau berangkat jam berapa nih?”

“Kan jadwal pemutaran pertama Pukul 13.15, jadi sebaiknya berangkat sehabis Sholat Dzuhur saja biar masih kebagian tempat duduk yang nyaman plus nggak terlalu terburu-buru juga”

“Oke lah setuju-setuju saja, tunggu sebentar mau mandi plus siap-siap dulu ini”

“Sipp..lah”

Jujur, sebenarnya terakhir kali pergi nonton film ke bioskop adalah saat berkunjung ke kota Jogjakarta beberapa bulan yang lalu, jadi boleh dibilang sudah kangen dengan suasana menonton film apalagi ini dilakukan di kota sendiri tentu akan sangat spesial.

Berdasar sekilas sejarah, sebenarnya Banjarnegara pada akhir tahun 80-an hingga awal 90-an memiliki sebuah gedung bioskop yang cukup terkenal pada masanya. BIOSKOP CAHYANA, begitulah orang-orang menyebutnya. Letaknya berada di pusat kota Banjarnegara atau setelah melewati perempatan Pasar Wage-Banjarnegara. Namun kini yang tersisa hanyalah beberapa puing-puing bekas bangunan yang tidak terawat dan ditumbuhi semak belukar karena tidak terawat. Jadi boleh dibilang, masyarakat Banjarnegara rindu akan dihidupkannya kembali bioskop sebagai alternatif hiburan bagi masyarakatnya.

Cahyana-Teater-3

Bekas gedung bioskop Cahyana yang kini dibiarkan mangkrak l Sumber purwokertokita.com

***

Celana jeans berwarna abu-abu, sebuah kemeja garis-garis berwarna merah maroon, sepasang sandal gunung dan sebuah tas selempang sudah menempel rapi pada tubuh ini. Belahan rambut rapi plus semprotan parfum makin menambah paripurnanya tampilan siang ini. Mungkin kombinasi yang kurang cocok ketika hendak menonton film namun memakai sandal gunung akan tetapi saya lebih memilih mempertimbangkan rasa nyaman daripada sekedar gaya yang necis.

Jarak Surya Yudha Park plus di dalamnya Surya Yudha Cinema, lumayan cukup jauh bila ditempuh dari rumah yang berada di daerah Punggelan. Dengan mengendarai sepeda motor, butuh waktu kurang lebih 45 menit itu pun harus ekstra hati-hati karena hampir 80 persen kondisi jalan di kabupaten Banjarnegara rusak parah.

Dengan antusias saya menunggu di depan rumah kalau-kalau si Wedwi sudah lewat. Cuaca siang ini begitu cerah namun tidak terlalu menyengat di kulit. Langit berwarna biru dilengkapi dengan awan-awan putih nan cantik menghiasi langit daerah Punggelan. Sesuai dengan prediksi, jarak Punggelan-Rejasa (Banjarnegara) ditempuh kurang lebih selama 45 menit.

Sebuah gerbang yang tidak terlalu lebar menyambut kami menuju pintu masuk Surya Yudha Park. Lokasinya di Bawah kantor pusat BPR Bank Surya Yudha, salah satu induk usaha dari Surya Yudha Group milik konglomerat asal Banjarnegara yaitu Bapak Satriyo Yudiarto. Pengusaha sekaligus putra daerah yang berasal dari bibir Sungai Serayu, Rejasa-Banjarnegara. Mulai dari Bank, Hotel, Surya Yudha Park, Cafe, Bioskop dan juga Convention Hall dimiliki oleh pria yang sudah tidak muda lagi usianya namun jiwanya masih sangat muda dan produktif ini.

Setelah melewati gerbang masuk, jalanan berikutnya menurun melewati Hotel Surya Yudha, Arena Olahraga dan fasilitas pelengkap lainnya. Semuanya terpadu dalam one stop entertainment minus pusat perbelanjaan. Mungkin sebentar lagi juga bakalan tersedia di area ini, kita lihat saja ke depannya.

Motor sudah terparkir di tempat yang telah tersedia, suasana siang itu masih begitu ramai oleh para pengunjung dari berbagai macam usia. Deretan bis pariwisata pun terlihat di parkiran. Lokasi Surya Yudha Cinema sendiri berada di lantai 2 pada komplek hiburan mulai dari arena olahraga Bilyard, Convention Hall, Historia Cafe, Arena Mobil elektrik, Family Karaoke hingga sebuah kolam ikan lumayan lebar dengan ikon patung Liberti dan juga Merlion ala Singapura.

Dengan ornamen yang masih senada dengan tema moderen minimalis, lantai 2 ini terlihat cukup luas dengan sebelumnya disambut oleh gerai penjualan aneka snack pada sisi kanan anak tangga dan juga toilet berderet di sisi kiri anak tangga.

Surya Yudha Cinema sendiri memiliki 3 buah studio yang tiap harinya menayangkan film, baik mancanegara maupun lokal. Pemutaran film dimulai Pukul 13.15 hingga Hampir pukul 22.00 malam. Konter tiket berada di samping kiri setelah melewati gerai penjualan snack. Di sampingnya terdapat studio 1. Kondisi di lantai 2 ini sebenarnya semi-terbuka, jadi dari sini pengunjung bisa melihat sekeliling komplek arena one stop entertainment di Surya Yudha Park ini. Untuk tiket bioskop sendiri dibanderol mulai dari Rp 25,000 saat hari-hari biasa dan Rp 30,000 untuk hari libur (sabtu, minggu plus tanggal merah). Sebenarnya sesuai standar seperti harga tiket bioskop di kota Purwokerto.

Kebetulan saat pertama kali dibuka, film yang sedang beredar adalah film Batman vs Superman. Entah kebetulan atau tidak, saat itu pengujung begitu membludak padahal kami berdua sengaja datang ke sini jauh-jauh hari setelah pemutaran dan peresmian perdana bioskop ini namun antusias masyarakat Banjarnegara rupanya masih begitu tinggi.

20160403_125159.jpg

Sosok pemilik Surya Yudha Group, Bapak Satriyo Yudiarto

Tiket sudah ditangan, pemutaran filmnya tinggal beberapa puluh menit lagi. Kami pun duduk-duduk di meja dan kursi yang telah tersedia. Beberapa kali saya melihat sendiri ketika bos Surya Yudha Group ini ikut membantu memindah dan juga menata kursi bagi para pengunjung. Tentu bagi yang belum kenal atau familiar dengan orang ini akan mengira jika beliau adalah salah satu karyawan yang sedang bekerja. Sebuah kaos topi, celana bahan dan sandal sederhana terlihat dikenakan oleh Bapak Satrio Yudiarto ini. Sebuah penampilan yang begitu sederhana menurut saya, namun begitulah orang yang sudah sukses, seakan tampilan tidak terlalu penting.

***

Perempuan-perempuan muda nan anggun terlihat memberikan informasi kepada para pengunjung bahwa pemutaran film akan segera dimulai. Kami pun bergegas menuju studio 2 yang akan menayangkan film kami siang itu. Deretan kursi-kursi empuk yang masih baru terlihat rapi layaknya bioskop-bioskop pada umumnya. Sebuah layar besar terpasang di depannya. Kami memilih menonton pada kursi bagian paling atas. Terlihat muda-mudi ceria dengan pasangannya masing-masing. Ibu-anak dengan suka cita masuk satu persatu sambil menenteng pop corn dan minuman di tangannya masing-masing.

Sebelum film mulai diputar, seperti biasa ditayangkan cuplikan film-film yang akan segera dirilis ke layar lebar, namun yang membuat berbeda adalah saat pengelola menyisipkan promosi mengenai anak usaha yang dijalankan oleh Surya Yudha Group. Sebuah cara yang efektif untuk memperkenalkan berbagai macam anak usaha oleh perusaahaan lokal ini kepada penonton sebelum film ditayangkan.

Film pun dimulai, saya sebenarnya tidak terlalu suka dengan film-film action yang diangkat dari komik ini, tapi karena ini bioskop baru dan Wedwi juga yang paling antusias jadi saya pun menyanggupinya saja. Jujur 1 jam pertama menonton film ini begitu membosankan. Mulai duduk gelisah, mengantuk hingga suara anak-anak yang masih saja berbicara ini itu saat film berlangsung. Yang lebih parah malah penonton di belakang kami yang dengan tidak sopannya mengganggu kursi yang kami duduki. Pemandangan lainnya adalah beberapa remaja yang malah terlihat asyik bermain games di gawai mereka masing-masing saat film ditayangkan. Sering kali juga para penonton mondar-mandir keluar-masuk studio mulai dari yang hendak ke toilet hingga menenangkan anak mereka masing-masing yang rewel saat diajak nonton.

Hujan pun turun begitu derasnya saat film berlangsung. Lha kok tau? itulah mungkin kekurangannya dari bioskop baru ini. Saat itu masih terdengar jelas suara derasnya hujan yang jatuh di atap gedung ini ditambah lagi kualitas audio yang cempreng memekakan telinga. Namun kami masih memakluminya karena ini kan tergolong masih baru. Satu yang patut diapresiasi adalah pengelola tau betul bahwa Banjarnegara rindu hadirnya kembali bioskop dan tak perlu jauh-jauh ke Purwokerto untuk sekedar merasakan sensasi menonton film di gedung bioskop.

20160403_155838.jpg

Dari lantai 2 kita bisa melihat pinggiran Sungai Serayu

Film pun telah berakhir, hujan masih begitu derasnya sore itu. Kami bergegas menuju mushola di lantai dasar persis di bibir Sungai Serayu. Dari sini kami bisa menikmati aliran deras Sungai Serayu sambil duduk-duduk di kursi yang telah disediakan oleh pengelola. Di sebelah gedung bioskop ini terdapat arena kolam ikan cukup luas yang pada pinggirnya terdapat rumah-rumah merpati yang jumlahnya begitu banyak. Di atasnya terdapat patung Liberty dan juga Merlion yang saling berdampingan.

20160403_160748.jpg

Tiruan Merlion di area Surya Yudha Park

Dari kejauhan terlihat masjid megah, panggung terapung dan juga arena manasik haji yang dibuat sedemikian rupa menyerupai kota Mekah di Arab Saudi. Untuk ukuran kota Banjarnegara yang tidak terlalu luas dan ramai, sungguh Surya Yudha Park ini begitu lengkap menyajikan berbagai macam hiburan mulai dari arena waterboom, hotel, cafe, bioskop, karaoke arena olahraga yang akan memanjakan para pengunjungnya.

Hari makin sore, kami pun mengakhiri kunjungan perdana siang hingga sore di Surya Yudha Park ini. Motor yang kami parkir tidak beratap dan sialnya saya meletakan helm dalam posisi menengadah ke langit walhasil bagian dalam helm menjadi semacam gayung tempat mengambil air, basah sebasah-basahnya hingga bagian gabusnya.

Dengan membayar parkir Rp 2,000 sore itu kami meninggalkan arena Surya Yudha Park dengan perasaan senang. Bagaimana tidak, sekarang kota kecil Banjarnegara ini punya tempat hiburan baru yang dekat dan terjangkau bagi para warganya. Setidaknya Banjarnegara tidak hanya dikenal karena Dieng, Sungai Serayu, Salak Pondoh atau malah tanah longsornya. Banjarnegara kini punya tempat hiburan baru yang super lengkap, one stop entertainment yang akan memanjakan seluruh warga Banjarnegara yang mampir ke sini.

Advertisements

24 thoughts on “Surya Yudha Cinema di Bibir Sungai Serayu

  1. Avant Garde

    sek sek, aku agak bingung, ini bioskopnya di banjar apa purwokerto ?
    bangunannya keren mas …. btw, kemaren selain batman film apa aja yg diputar?

    Like

    Reply
  2. teGOEH

    kalo pulang kampung harus nyobain nih bioskop baru,
    btw beruntung juga ya saya dulu sempat nyicipin bioskop cahyana he he he

    Liked by 1 person

    Reply
      1. Hendi Setiyanto Post author

        oh ngono…padahal asik banget loh…biarpun airnya tidak bening alias kecoklatan apalagi pas musim hujan, arusnya makin deras dan menantang

        Like

      2. Hendi Setiyanto Post author

        hmmm nanti di tengah2 perjalanan disambut dengan tempe mendoan anget dan kelapa hijau segar, mantep dinikmati saat kedinginan hehehe

        Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s