Damai di Curug Sinom Indah

Tak seperti biasanya, siang itu cuaca begitu terik. Sebagian awan putih menggumpal di atas langit Banjarmangu. Sisanya hanya hawa panas yang pelan namun pasti berganti menjadi semilir sejuk udara khas pegunungan.

Motor kami terus melaju mengikuti alur jalan yang naik dan berkelok-kelok melintasi hamparan perkebunan salak yang berada pada sisi kanan-kiri jalan raya ini. Seperti kilas balik, beberapa waktu lalu jalanan menuju arah Karangkobar masih berupa aspal yang penuh lubang dan pada beberapa bagian telihat dalam proses pembetonan jalan. Namun kini semua sudah berubah, jalanan sudah mulus dengan beton yang terlihat masih baru.

Kami pun sekali lagi harus melewati daerah bekas bencana tanah longsor beberapa tahun yang lalu. Kondisi di sekitar longsoran tanah tersebut masih sama seperti terakhir kali kami ke sini. Hanya menyisakan sebuah rumah sederhana bercat putih yang sebagian bangunannya terkubur tanah namun kondisinya masih lumayan bagus. Nasib berbeda terjadi pada semua bangunan yang berada di sekitar rumah tersebut. Semuanya rata terkubur longsoran tanah. Rumah tadi seakan menjadi saksi bisu bencana alam yang merenggut banyak korban jiwa.

Sebenarnya tujuan kami kali ini adalah hendak mengunjungi salah satu kecamatan di Banjarnegara bagian atas. Kalibening (sungai yang bening) adalah sebuah kecamatan di Banjarnegara, Jawa Tengah yang lokasinya berada pada ketinggian 600-700 meter dpl. Iklimnya sejuk dengan mayoritas penduduknya bekerja sebagai petani sayur mayur berupa kubis, wortel, kentang, daun bawang hingga labu siam.

Kecamatan Kalibening sendiri terdiri atas 17 desa yang kesemuanya terpencar di lereng-lereng pegunungan . Beberapa desa malah dilebur dan masuk ke  Kecamatan Pandanarum karena saking luas wilayahnya. Dari Kalibening kita bisa melihat Gunung Rogojembangan yang berbatasan langsung dengan kabupaten Pekalongan.

Berbekal informasi mengenai curug-curug yang terdapat di kecamatan Kalibening, kami nekat menyusuri jalanan yang belum kami kenal. Sekali lagi kami hanya menggunakan insting dan juga berbekal bertanya pada penduduk sekitar. Disaat banyak orang lebih menggantungkan masalah lokasi melalui aplikasi canggih pada smartphone mereka, kami lebih memilih menggunakan cara-cara tradisional dan nilai lebihnya terkadang malah diberi informasi mengenai keberadaan curug yang sebelumnya belum pernah kami dengar namanya.

Setelah berkendara lebih dari 45 menit, kami memasuki batas wilayah administratif kecamatan Kalibening yang ditandai dengan adanya sebuah patok batas antar kecamatan. Hamparan tanaman labu siam yang daunnya merambat pada anyaman bambu bak gubuk-gubuk hijau tersebar bertingkat-tingkat mengikuti lekukan bukit-bukit. Suasana yang tadinya panas kini berubah menjadi dingin apalagi terkena semilir angin saat berkendara.

Hamparan kebun teh menemani perjalanan kami mendekati barisan bukit yang lancip dengan pepohan pinus hijau yang menyelimutinya. Sementara itu di bawahnya berupa jalanan aspal mulus yang berkelok mengikuti alur kebun teh. Di seberangnya berupa anak sungai yang tidak terlalu deras dengan bagian pinggirnya lagi-lagi ditanami aneka macam sayur mayur.

20160320_131021[1]

Hamparan kebun teh menemani perjalanan kami

Motor kami tepikan di pinggir jalan. Perasaan, kami sudah berkendara cukup lama sedari tadi dan deretan rumah penduduk sudah tidak terlihat namun keberadaan plang atau semacamnya belum juga kami temukan. Saya duduk sekedar mengistirahatkan bokong dan pinggang yang tegang karena duduk terlalu lama pada jok sepeda motor. Pemandangan di depan kami tersaji begitu indah. Aroma pohon pinus sudah bisa kami cium semilirnya-seiring angin yang berhembus.

Motor kami laju kembali beberapa ratus meter, lagi-lagi kami kebablasan karena plang petunjuk lokasi curug Sinom Indah berada di antara perkebunan jagung. Kondisinya sudah tidak indah lagi karena rusak. Kebetulan kami bertemu dengan dua orang bocah dan bertanya. Berbekal informasi dari mereka, kami pun melanjutkan perjalanan menyusuri jalanan berbatu menuju hutan pinus.

Memasuki jalan masuk menuju curug Sinom Indah, kami disambut dengan menjulangnya pohon pinus yang batangnya berwarna kuning karena lumut-lumut. Di bawah rindang pohon pinus terdapat segerombolan pemuda yang kalau bisa ditebak adalah juru parkir dan penjual tiket masuk. Hmmm..walaupun tidak ada semacam tempat khusus yang menjual tiket masuk, tapi kami harus tetap membayar karcis dari para pemuda tadi. Berdasar pengalaman, biasanya para pemuda setempatlah yang berinisiatif membuat tiket dan menarik biaya masuk bagi para pengunjung.

Dengan membayar biaya parkir Rp 2,000 dan karcis masuk Rp 3,000 kami melenggang masuk semakin dalam di antara gagahnya batang pohon pinus yang menjulang. Jalan setapak terlihat indah membelah batang-batang pohon pinus di samping kanan-kirinya. Pada beberapa sisi terdapat gubuk-gubuk tempat bercengkerama bagi para muda-mudi yang sedang dimabuk cinta.

20160320_120709[1]

Pohon pinus menyambut kami membelah jalan setapak ini

Salah satu yang membuat saya salut adalah kebersihan dan keteratuan serta suasana hening dari tempat ini. Hari ini hari minggu namun suasananya begitu lengang tidak seperti obyek wisata lainnya yang penuh sesak oleh pengunjung. Sesungguhnya suasana seperti inilah yang selalu kami cari. Kedamaian, kejernihan udara, kesederhanaan namun sarat makna. Disaat banyak orang terlena dengan hingar bingar kota, ada beberapa orang yang rindu dengan suasana tenang dan sunyi dengan gemericik air yang berjatuhan dari ketinggian.

Rerumputan nan hijau dan bebas sampah, menyambut kami kembali saat melewati beberapa jembatan yang terbuat dari kayu-kayu lapuk. Di depan kami sudah terhampar sebuah air terjun yang mengalir melewati tebing-tebing tak beraturan. Curug ini muncul di sela-sela pohon pinus di atas sana. Sebuah batu besar mengapit gemericik air dari ketinggian. Di bawahnya sudah terbentuk kolam lumayan besar dengan air yang begitu dingin. Entah sengaja atau tidak, kolam mini dibuat semacam pondasi seperti sebuah sendang dan mengalirkan airnya melalui pintu air kecil menuju hilir.

20160320_121035[1]

Hamparan rumput hijau nan bersih dari sampah

Pengunjung bisa merendam kaki di kolam sambil menikmati suara burung berkicau dan gemericik air. Bagi yang tidak kuat dengan hawa dingin pasti bakalan tidak kuat berlama-lama mencelupkan kaki ke dalam kola mini. Dalam beberapa menit saja, kaki terasa nyeri dan hampir mati rasa saking dinginnya. Jadi yang niat awal ingin nyemplung berenang agar segar terpaksa diurungkan setelah merasakan sendiri bagaimana dinginnya, brrrrr…

20160320_124643[1]

Pemandangan dari atas Curug Sinom Indah

Ritual wajib berfoto-foto namun minus selfie seakan menjadi hal yang harus dilakukan saat mengunjungi tempat-tempat menarik. Bagi saya pribadi tentu akan sangat berguna sebagai bahan tulisan di blog ini. Saya tidak suka berfoto apalagi selfie jadi pada banyak tulisan sering menggunakan foto teman seperjalanan sebagai modelnya hehehe.

20160320_122743[1]

Air kolam di sini begitu dingin

Dimanapun tempatnya selalu saja ada pengunjung yang bodoh, pasalnya sering seenaknya membuang sampah sembarangan. Kali ini persis membuang sampah dari ketinggian bebatuan di atas kolam. Sebuah botol plastik bekas  minuman teh dengan seenaknya dilempar begitu saja ke bawah. Saya hanya menggerutu dalam hati dan tanpa perlu banyak omong langsung memungut botol plastik tadi. Semacam klise namun perbuatan sederhana ini sering banyak diacuhkan orang. Membuang sampah pada tempatnya sejatinya bukan pekerjaan yang berat namun terkadang banyak orang yang tidak memakai otaknya dengan benar.

Seolah tergoda dengan suasana di atas puncak sana, kami menaiki tebing yang tidak terlalu terjal menuju aliran air di antara bebatuan besar. Dengan bersusah payah toh kami bisa sampai puncak dan bisa mengamati pemandangan pohon pinus dari kejauhan. Sebenarnya pada beberapa curug, sangat berbahaya jika mendaki tebing di sekitar aliran airnya karena begitu terjal dan licin, namun kali ini karena mudah dijangkau jadi penasaran ingin mencobanya.

Setelah puas berada di curug Sinom Indah, kami memutuskan mengakhiri kunjungan singkat kali ini. Perut lapar dan kepala sudah kliyengan, seakan menjadi pertanda kalau kami harus mengisi perut. Namun karena jauh dari pemukiman penduduk walhasil harus puas menahan perut yang keroncongan sampai menemukan warung nanti.

Banjarnegara dianugerahi begitu banyak curug, sebagian besar masih jarang diketahui oleh orang-orang. Entah saya egois atau tidak, saya berharap jika jangan kesemua potensi curug-curug tadi dikomersilkan menjadi tempat wisata. Biarlah hanya orang-orang tertentu saja yang benar-benar mau bersusah payah menuju sebuah curug yang terkadang sulit dijangkau. Sebenarnya dengan tulisan di blog ini saja, secara tidak langsung saya telah mempromosikan curug-curug tadi, semoga saya dimaafkan.

Advertisements

7 thoughts on “Damai di Curug Sinom Indah

  1. Halim Santoso

    Air terjunnya kecil tapi epik banget! Dari kejauhan jd nampak seperti settingan film yang disyuting hutan-hutan di luar negeri. Sayangnya kenapa dinamai “curug” ya? bukan “kedung” atau “grojogan” yang lebih Jawa Tengah hehehe

    Liked by 1 person

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s