Ada Yang Ganjil di Curug Cileret

Sebagai kabupaten yang masih dekat dengan sentra batik di kabupaten Pekalongan, Banjarnegara juga mempunyai beberapa kelompok-kelompok pengrajin batik khas Banjarnegara. Sentra batik Banjarnegara berada di 2 desa yaitu desa Gumelem Wetan dan Gumelem Kulon. Keduanya masuk wilayah administratif kecamatan Susukan. Kecamatan Susukan sendiri berada di ujung barat Purwareja-Klampok dan berbatasan langsung dengan kabupaten Banyumas.

Sebagian besar wilayah Susukan berada pada dataran rendah sehingga jika kita berkunjung akan sering menjumpai deretan sawah di pinggir jalan raya Banyumas. Sementara itu sebagian wilayah lain di ujung selatan berada pada  lereng perbukitan yang berbatasan langsung dengan kabupaten Kebumen. Mayoritas kawasan perbukitan tersebut ditumbuhi pohon pinus dan juga tanaman cengkih.

Namun kali ini perjalanan kami bertiga selain ingin mengunjungi sentra batik satu-satunya di kabupaten Banjarnegara juga penasaran dengan keberadaan sebuah curug yang berada di ujung barat ini. Curug cileret namanya, lokasinya berada di desa Panerusan Wetan kecamatan Susukan. Dari arah Klampok, kita tinggal mengendarai motor ke ujung barat hingga sampai di pertigaan desa Panerusan, kemudian tinggal berbelok ke kiri ketika melihat sebuah pertigaan pertama.

Berbekal melihat tanda jalan raya serta bangunan milik pemerintah, saya, bersama dengan Atun dan Wedwi  menyusuri jalanan yang lumayan mulus siang itu. Panas terik dan hawa panas yang menyengat tidak menyurutkan niat kami menuju curug Cileret ini. Sempat beberapa kali, kami berhenti dan menepi ke pinggir jalan untuk sekedar memastikan lokasi desa yang kami tuju itu benar arahnya. Mulai dari ibu-ibu yang sedang duduk bersantai hingga seorang hansip yang sudah berusia sepuh pun tak luput dari pertanyaan kami.

Sering kali, saya lebih suka bertanya langsung kepada penduduk lokal mengenai lokasi suatu tempat yang sedang dicari daripada harus mengandalkan aplikasi handphone yang terkadang kurang tepat. Motor kami sudah sampai pada pertigaan yang tidak terlalu ramai. Sebuah pangkalan ojek berada di sisi kiri jalan, sementara itu di sisi lainnya terdapat keramaian. Dari sekilas yang kami lihat, sepertinya hari minggu ini sedang ada hajatan pernikahan.

Terlihat seorang hansip yang sudah berusia sepuh dan sedang mengatur jalannya lalu lintas di pertigaan tadi. Saya yang sedari berangkat berada paling depan dan bermotoran seorang diri, sementara Wedwi berboncengan dengan Atun berada di belakang. Saya pun memberanikan diri untuk bertanya mengenai arah menuju curug Cileret. Dari beliaulah, akhirnya saya dikenalkan dengan seorang ibu dan anak yang hendak pulang sehabis berbelanja. Dari saran beliau, kami diminta untuk mengikuti laju sepeda motor ibu dan anak tadi karena arahnya persis menuju ke curug Cileret.

Kondisi jalan yang harus kami lalui saat ini lumayan tidak terlalu mulus. Pada beberapa bagian terlihat lubang-lubang yang menganga tak beraturan pada jalan beraspal ini. Hamparan sawah yang masih kosong karena sehabis dipanen menjadi pemandangan kami siang itu. Pemandangan berikutnya berupa komplek-komplek perumahan penduduk yang terlihat rapi dengan pagar dan gapura yang mayoritas dicat berwarna putih. Seandainya kami berkendara tanpa petunjuk dari si ibu tadi, tentu bakalan sering kesasar. Maklum, di sini terlalu banyak pertigaan hingga perempatan jalan setiap beberapa ratus meter. Orang yang baru pertama kali ke sini pasti bakalan bingung dan tersasar jika tidak bertanya pada penduduk sekitar.

Kami pikir setelah mengikuti si ibu tadi akan langsung sampai ke lokasi pintu masuk curug Cileret, namun ternyata bukan. Perjalanan sesungguhnya justru dimulai setelah berpamitan dengan si ibu yang baik hati tadi. Di depan kami tersaji sebuah jalan menanjak dan terlihat puncak barisan perbukitan yang siap menyambut kami. Jalan menanjak ini terdiri dari dua lapisan cor-coran semen yang dipisahkan oleh rerumputan liar di tengahnya. Jadi boleh dibilang, jalan ini hanya cocok untuk satu buah mobil yang melintas, pada sisi roda samping kiri dan kanan saja yang berupa cor-coran. Di antara kedua cor-coran tadi dibiarkan apa adanya dan ditumbuhi rerumputan liar.

Sebenarnya agak ngeri juga saat kami berpapasan dengan kendaraan lain dari arah sebaliknya, mau menepi kemana coba? Sementara di sisi kiri kami saat ini berupa jurang yang lumayan dalam. Syukurlah saat itu lalu lintas kendaraan yang kami lewati lumayan sepi. Kami pikir perjalanan sudah lumayan dekat, namun ini belum seberapa. Setelah menyelusuri jalanan bercor semen hingga titik akhir, kami harus melanjutkan perjalanan dengan jalanan setapak yang terbuat dari bebatuan alam yang ditata sedemikian rupa. Seharusnya motor kami parkir pada batas jalan yang terakhir dicor tadi. Karena sempat bertanya pada bapak-bapak yang sedang duduk-duduk dan katanya motor bisa lewat hingga dekat pintu masuk curug, saya pun menurutinya saja.

Kali ini jalanan makin licin, makin menurun dan juga makin susah untuk dilewati. Di samping kanan kiri kami berupa hutan cengkih yang terlihat tidak terlalu tinggi. Terdengar samar-samar suara gemericik air di jurang sana. Mungkin curugnya sudah hampir dekat. Kami pun makin bersemangat kembali. Setelah dilihat kembali, itu hanya aliran sungai biasa dan sekali lagi kami tertipu. Jalan sudah tidak mungkin lagi kami lewati dengan motor matic, dengan terpaksa kami parkir seenaknya saja di pinggir jalan yang tidak terlalu lebar ini. Semoga saja aman-aman saja dan lebih baik melanjutkan perjalan dengan berjalan kaki saja.

20160327_102555[1]

Hutan cengkih menyambut kami bertiga, naik turun jalanan berbatu

Naik turun jalan setapak berbatu sudah terasa hampir beberapa kali. Tanda-tanda keberadaan curug belum saja terlihat. Beberapa kali kami melintas penduduk sekitar yang sedang memanen dukuh dan juga buah kelapa.  Beberapa kali juga kami bertanya pada orang, mulai dari yang berada di pinggir jalan hingga mengetuk pintu dari rumah ke rumah. Tak ada yang sia-sia, titik masuk menuju curug itu pun perlahan sudah terlihat tentu setelah melewati pemukiman penduduk yang berada di tengah-tengah hutan ini.

Sebuah papan sederhana yang tertulis dengan menggunakan tipe x terlihat. Dari tulisan yang tertera, kurang lebih tinggal 200 meter lagi kami akan sampai di bibir curug Cileret. Lagi-lagi 200 meter itu harus ditempuh dengan melewati jalanan setapak pada lereng-lereng perbukitan yang semak-semaknya lumayan lebat. Suara serangga khas hutan saling bersahutan menyambut kami saat memasuki hutan. Beberapa sumber mata air penduduk kami lewati satu persatu. Hampir mayoritas penduduk yang berada di tengah hutan ini menggantungkan kebutuhan air minumnya pada mata air dekat curug Cileret. Dengan pipa-pipa paralon yang sambung menyambung hingga terpencar ke masing-masing rumah.

20160327_105007[1]

Selamat datang di Curug Cileret

Dari kejauhan sudah terlihat dua buah curug yang letaknya lumayan berdekatan. Keduanya berada pada cekungan lereng perbukitan yang lumayan tinggi. Kami pikir seharusnya di tengah-tengah curug tadi terdapat aliran sungai yang lumayan deras. Ketika dilihat makin dekat ternyata debit air hampir sama sekali tidak mengalir. Hufttt…kami agak kecewa karena sudah jauh-jauh datang ke sini. Namun pemandangan di sini memang sangat indah dan hijau lagi sunyi.

20160327_110104[1]

Terlihat dari kejauhan, sosok curug Cileret

Saat kami ke sini kebetulan berpapasan dengan 3 orang pemuda dan 1 orang bapak-bapak. Dari bapak tadi kami diwanti-wanti agar berhati-hati saat di sini. Memang dari cerita penduduk, kawasan hutan di sekitar curug Cileret ini masih banyak terdapat hewan liar. Saat itu kami hanya menemukan jejak-jejak kotoran binatang mungkin babi hutan yang berceceran di jalan setapak yang kami lewati. Sisanya hanya kicauan burung dan suara serangga yang memecah kesunyian tempat ini.

20160327_115312[1]

Pemandangan dari atas batu raksasa

Sebenarnya dalam hati lumayan cemas, apa mungkin tempat ini mistis alias angker ya? Jadi bapak tadi memperingatkan kami untuk berhati-hati? Ah..sudahlah..toh niat kami ke sini baik dan juga sebisa mungkin tidak mengganggu semua makhluk yang berada di sekitar curug Cileret ini. Atun yang sedari tadi terlihat kelelahan, memutuskan untuk menunggu saja dekat batu besar yang teronggok di tengah aliran air yang mengering. Sementara itu saya dan Wedwi memutuskan naik mendekati curug yang berada beberapa puluh meter lagi di atas.

Tetesan air terlihat mengalir pelan dari tebing di atas kami hingga bawah. Karena debit air hampir kering sama sekali maka tidak terlihat kolam pada bagian bawah curug. Sisanya terdapat sebuah gubuk yang tinggal menyisakan tiang-tiangnya saja. Curug yang kedua berada tidak jauh dari curug yang pertama. Berbeda dengan curug yang pertama, curug yang kedua ini aliran airnya begitu deras dari celah-celah tebing nan tinggi. Pada beberapa sisi terlihat pipa paralon yang terhubung mengular untuk keperluan air minum warga sekitar. Deretan pohon raksasa terlihat lebat pada bagian puncak aliran curug ini.

20160327_112824[1]

Penampakan Curug Cileret dari dekat (1)

Saya dan Wedwi pun tidak melewatkan begitu saja curug ini tanpa berfoto-foto. Kami bergantian saling berfoto sebagai kenang-kenangan jika kami sudah sampai ke tempat ini. Tidak lama kami di tempat ini, selain hawanya yang mistis juga curugnya tidak menarik sama sekali. Kami malah lebih tertarik untuk melihat lebih dekat batu raksasa yang terlihat mencolok di aliran sungai kering ini. Kami bertiga menaiki batu raksasa ini dengan susah payah dan duduk-duduk sambil menikmati pemandangan barisan perbukitan di depan kami.

20160327_111817[1]

Penampakan Curug Cileret (2) yang mistis itu

Antara tidak puas karena kondisi curug yang  diluar ekspektasi kami dan juga pemandangan yang indah, kami memutuskan mengakhiri perjalanan siang itu. Rasa lelah seakan kurang terbayar dengan pantas karena kondisi curug yang sungguh mengecewakan. Saat pulang kami hendak mampir ke kampung batik Gumelem namun setelah muter-muter dan tidak juga menemukan lokasi utama sentra batik tersebut akhirnya diputuskan untuk pulang saja karena hari sudah terik dan biasanya sebentar lagi akan turun hujan.

Sambil melepas dahaga dan lapar, kami bertiga mampir berteduh di halaman kantor pos Klampok. Terang saja tidak beberapa lama kemudian hujan turun. Sembari menunggu hujan reda, kami mengecek foto-foto yang didapat saat di curug Cileret tadi.

20160327_134055[1]

Beberapa saat sebelum Klampok diguyur hujan lebat dan istirahat di gedung tua ini

Namun tiba-tiba Wedwi memanggil dan berkata:

“Hend, lihat deh ke sini, foto yang saat kamu berada di curug kedua kok hasilnya jadi hitam begini ya?”

“ah yang bener, masa sih?” tanya saya heran

“ealah masa bohong sih, nih coba lihat saja sendiri”

Memang benar setelah saya  cek satu persatu, ada beberapa foto yang hasilnya jadi hitam benar-benar hitam padahal tadi saat di curug kami melihat sendiri kok hasilnya, fotonya terlihat dengan latar belakang aliran curug di belakang saya. Hmmm…seketika saya pun merinding dan lumayan parno karena entah kebetulan atau tidak kok ya foto saya yang tiba-tiba berubah jadi hitam.

Hujan sudah reda dan kami memutuskan untuk segera pulang ke rumah masing-masing. Seharian menjelajah ke Klampok dan Susukan menjadi sebuah pengalaman yang tidak akan terlupa seumur hidup. Selain memang hawa di sana begitu mistis dan sepi, setidaknya lain kali kami harus berhati-hati saat mendatangi tempat-tempat baru apalagi yang dianggap angker.

Semoga saja itu hanya kebetulan belaka atau malah kesalahan kameranya saat itu. Saya hanya berpikir positif dan tidak ingin memikirkan lebih lanjut apalagi mengaitkannya dengan hal-hal mistis . Semua kembali pada Allah dan menyerahkan segalanya pertolonganNya, amiien…

Advertisements

18 thoughts on “Ada Yang Ganjil di Curug Cileret

  1. mawi wijna

    foto yang item itu, coba dicek metadatanya Bro. Terutama value shutter speed. Buat memastikan aja, siapa tahu dhemitnya bisa ngubah data digital, hehehe.

    Kalau menurutku, Curug Cileret ini memang kurang fotogenik. Daya tarik utamanya adalah perjuangan ke sana yang pelosok banget dan suasananya yg di tengah hutan. Bisa jadi cocok juga buat tempat semedi di malam satu Suro. 😀

    Liked by 1 person

    Reply
    1. Hendi Setiyanto Post author

      sebenarnya kurang mudeng juga sama istilah tadi tapi ya boleh dicoba, kan ga selalu mistis. Terkadang bisa dijelaskan secara ilmiah atau apalah.
      Aku pikir bakalan mendapatkan curug yang cantik, namun ya…begitu adanya

      Like

      Reply
  2. Rifqy Faiza Rahman

    Wah, tempatnya rimbun sekali ya, bernuansa petualangan banget nih. Secara tampilan, bentuk air terjunnya seperti yang dibilang Mas Mawi di atas, memang kurang fotogenik. tapi di sisi lain, sepertinya ada aura mistis, kesunyian yang membuat kita harus berhati-hati yaa..

    Like

    Reply
    1. Hendi Setiyanto Post author

      kami pun sebenarnya sangsi, apa benar itu curugnya. sebelumnya kami pernah browsing dan dalam foto terlihat debit airnya yang lumayan banyak dan saat itu juga nggak kepikiran kalau bakal terdapat sepasang. Untuk urusan sangat sepi memang benar adanya, letaknya jauh dari pemukiman penduduk dan benar-benar di tengah hutan

      Like

      Reply
  3. Johanes Anggoro

    Mengunjungi curug memang perlu perjuangan, rasa-rasanya memang ga ada yg mudah
    btw dimanapun kita selalu dituntut untuk berhati-hati karena kita adalah pengunjung, bukan seperti acara tipi itu yg kalo liat air langsung petakilan 😀

    Liked by 1 person

    Reply
  4. omnduut

    Wuidih serem bener. Tapi curugnya cakeeep. Kadang cerita mistis sengaja dikembangkan agar orang menjaga lingkungan, tapi kalo sudah nyentuh kamera…. rrrr

    Liked by 1 person

    Reply
  5. teGOEH

    Lah.. jadi kecil gitu debit airnya ?
    Dulu lumayan gede lho, dulu sekitar th 2002- 2003 saya sering ngecamp disini. Kalo weekend rame anak2 pecinta alam camping di sini.
    Bisa dibilang curug ini dulu destinasi favorit kedua setelah gunung lawe/pawinihan buat ngecamp anak2 PA dan yg baru belajar jadi pendaki ha ha ha,,
    Dulu kalo malem taun baruan tempat ini sesak dipenuhi tenda, bahkan banyak yg ngga kebagian lokasi ngecamp trus cuma gelar matras dimanapun ada sisa lapak kosong..
    Btw, dulu jalan menuju curug blm bisa dilalui motor, dan kebanyakan anak2 PA tuh jalan kaki sejak dari jalan raya( turun dari mikrobus) sambil gendong beban berat ha ha ha

    Liked by 1 person

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s