Sisi Pahit Daun Teh

Pada ujung jalanan berbatu persis di antara hamparan kebun teh, terdapat segerombolan muda-mudi yang memakirkan sepeda motornya. Semilir lembut angin dan hamparan hijau kebun teh menjadi pelengkap rasa penasaran siang itu.

Sepeda motor kami arahkan menuju titik perhatian sedari tadi. Jalanan berbatu terpasang rapi memenuhi ruas yang tak terlalu lebar. Pada ujung jalan ini terdapat beberapa bangunan tua yang kondisinya lumayan memprihatinkan. Bangunan berbentuk limas dengan beberapa kondisi atap kosong melompong tanpa adanya genting. Hanya menyisakan rusuk-rusuk kayu yang menyangga langit-langit hingga membentuk limas.

Halaman di depannya ditumbuhi rerumputan liar yang terlihat sudah kian meninggi. Beberapa bangku-bangku kayu berjejer di bawah pohon rindang. Dari bangku-bangku inilah, kami bisa melihat hamparan perkebunan teh hijau yang pada beberapa bagian terlihat serasi dengan liukan jalanan aspal di bawahnya.

20160320_133500[1]

Kondisi bangunan yang sudah rusak dan mangkrak

Terlihat beberapa pemuda yang mengenakan seragam khas komunitas trail adventure terlihat sedang bercengkerama dengan sesamanya. Sesekali candaan khas itu ditutup dengan seruputan sebatang rokok yang asapnya terlihat mengepul terbawa angin. Sementara pemuda yang lain terlihat tengah menggoda seorang perempuan memakai kerudung warna pink. Dari bahasa tubuhnya terlihat jika sang pemuda tadi tengah meminta entah itu nomor telepon atau pun pin BBM.

Saya duduk sambil memperhatikan keadaan sekeliling. Rasa lapar terkadang masih bisa datang secara tiba-tiba, maklum sedari tadi perut ini hanya terisi beberapa teguk air mineral. Tidak ada sama sekali tanda-tanda warung atau sejenisnya di tempat ini. Beberapa pengunjung malah terlihat tengah menikmati bekal makanan yang mereka bawa.

Kalau boleh menebak, mungkin kawasan ini dulunya adalah bekas kantor pengelola perkebunan teh. Namun kini yang terlihat adalah tembok-tembok lusuh yang mengelupas dan ditumbuhi lumut-lumut. Pada beberapa bagian malah dijadikan sebagai tempat menyimpan pupuk organik dari kotoran binatang dan dedaunan hijau.

Sebenarnya ini bukanlah sebuah tempat wisata atau semacamnya, namun karena pemandangan di sini begitu indah, banyak sekali para pengendara yang menyempatkan mampir untuk sekedar melepas lelah sembari menikmati hamparan perkebunan teh hijau ditemani semilir anginnya. Sudah barang tentu pemandangan yang indah ini takkan luput dari bidikan kamera handphone para pengunjungnya. Begitu pun saya saat ini, beberapa kali saya mengarahkan kamera ke ujung jalan yang terlihat indah dan seakan sayang jika tidak diabadikan.

20160320_131021[1]

Liukan perkebunan teh nan hijau

Setelah beberapa waktu lalu gagal menikmati hamparan kebun teh di daerah Tambi-Wonosobo karena sudah terlalu sore, akhirnya siang ini bisa menikmati perkebunan teh ini di kecamatan Kalibening. Berbeda dengan nasib di daerah Tambi-Wonosobo yang dikelola secara serius hingga bisa dijadikan tempat wisata, di sini nasibnya begitu kontras. Kebun yang tidak terlalu luas ini dibiarkan mangkrak. Tanaman tehnya terlihat kurang terawat. Pucuk-pucuk daun yang seharusnya bisa dipanen belum menunjukan tanda-tanda akan tumbuh. Pada beberapa bagian malah terlihat batang-batangnya saja yang masih tertanam.

Walaupun sama-sama daun teh yang mempunyai sisi rasa pahit, namun di Kalibening ini rasanya mungkin sedikit lebih pahit dari perkebunan-perkebunan teh yang ada. Sama seperti nasib manusia yang satu dengan yang lain kadang berbeda drastis. Ibarat seorang anak kembar yang lahir dari rahim seorang ibu yang sama namun saat tumbuh kembangnya diperlakukan dengan cara yang berbeda tentu akan menghasilkan karakter dan sifat yang bertolak belakang walau mereka secara lahiriah identik.

Saya beberapa kali mengunjungi tempat-tempat baru nan eksotik dan pada beberapa tempat disebut dengan “hits”, namun ada sisi rasa kosong dalam hati.  Seakan rutinitas berpelesiran itu terasa hambar  tanpa adanya sesuatu yang “hidup”. Hmmm apakah ini diakibatkan rasa galau dalam hati saat ini? Entahlah.

Sama seperti kegiatan atau hobi apa pun, terkadang kita berada pada titik bosan dan jenuh. Begitu pula saat-saat harus menulis demi keberlangsungan sebuah blog agar terus eksis. Jika kita hanya mengejar hasil akhir atau target tiap bulan harus posting tulisan sekian kali, tentu hasilnya akan sedikit berbeda jika kita menulis karena kita benar-benar ingin menulis apa yang ada di otak dan di dalam hati. Memang, untuk  menjadikan suatu hobi  menjadi sebuah kebiasaan dan kesukaan, saat awal-awalnya kita harus dipaksa terus untuk melakukannya. Seiring waktu berjalan diharapkan kita sudah mulai terbiasa dengan rutinitas tadi hingga menjadi sebuah passion.

Hmmm…makin ngelantur nulisnya, hehehe.

Karena kepala terasa pusing dan juga rasa lapar yang sedari tadi menghinggap, saya membiarkan saja teman seperjalanan saat ini untuk mengabadikan objek-objek yang terlihat menarik. Sebuah pohon yang tidak terlalu rindang terlihat menonjol di tengah-tengah hamparan hijau perkebunan teh. Saya hanya duduk memandangi dia yang sedari tadi mengulang-ulang mengabadikan objek pohon tadi karena dirasa belum pas.

20160320_133001[1]

Sebuah pohon tunggal di tengah-tengah hamparan perkebunan teh

Wedwi namanya, hampir  ditiap tulisan dia selalu ada. Alasannya sederhana, karena kami sudah berteman sejak kecil hingga besar seperti ini. Selain itu juga dia suka kalau diajak menjelajah ke tempat-tempat baru bahkan blusukan ke hutan. Yang terakhir, dia suka dengan dunia fotografi, walhasil beberapa foto dia banyak yang dijadikan materi tulisan di blog nDayeng.

Bepergian dengan seorang cowok tentu berbeda dengan bepergian bareng seorang cewek. Keduanya punya sisi yang menarik. Mungkin saat kita bepergian dengan seorang cewek apalagi dia adalah orang yang kita sayang, tentu akan menjadikan sebuah pengalaman yang berbeda saat berkesempatan mengunjungi tempat-tempat menarik. Namun bepergian dengan cowok atau geng cowok juga ada sisi asyiknya. Selain tidak rempong dan jarang protes tentu kita akan bebas melakukan apa saja (hal positif) tanpa perlu takut malu. Semisal bermain air sepuasnya di sungai tanpa perlu malu telanjang semisalnya hehehe. Atau makan rame-rame dengan hanya berbekal sebungkus nasi rames tanpa perlu jaim atau gengsi.

Duh…makin ngelantur saja tulisannya….

Disaat saya masih berjuang menahan rasa lapar, di gubuk dekat pohon satu-satunya  di tengah kebun teh ini terlihat beberapa pemuda yang sedang menikmati makan siang mereka dengan lahapnya. Saya hanya bisa menelan ludah sambil sesekali membayangkan gurihnya ayam goreng, nasi hangat dengan sambel terasi yang pedas hmmm. Bukannya sedang kere karena tidak punya uang, namun benar-benar tidak ada warung sama sekali di sini.

Matahari makin terik, cuaca makin panas dan Wedwi masih sibuk dengan kameranya. Saya akhirnya memutuskan untuk tiduran di bawah tanaman teh sambil kelaparan. Agak ngeri juga jika tiba-tiba saja melintas binatang melata macam ular yang bisa saja tiba-tiba melintas kemudian mematok dengan cepat. Namun saya masih beruntung, beberapa kali saya hanya melihat beberapa ekor luwak berwarna hitam yang melintas di antara rimbunnya tanaman teh.

Hampir satu jam lebih kami berada di sini. Rasa bosan makin melanda dan saya memaksa Wedwi untuk segera mengakhiri kunjungan di perkebunan teh ini. Awalnya saya mengira tidak ada orang yang tega menarik biaya parkir di tempat yang dibiarkan mangkrak ini. Namun kenyataan dan sisi komersil begitu beriringan. Saat motor hendak kami laju, kami dicegat oleh bapak-bapak setengah baya memakai topi dan jaket kulit. Katanya kami harus membayar parkir sebesar Rp 5,000 dan yang lebih menjengkelkan, motor kami parkir sendiri dan saat datang juga tidak terlihat si bapak tadi, mana tidak ada tanda bukti karcis parkir yang bisa ditunjukan.

Kamprett..bukan nilai uangnya namun kami tidak menyangka saja jika tempat sesepi ini dan juga bukan sebuah tempat wisata namun ditarik biaya parkir. Ah..mungkin itu sudah menjadi rejekinya si bapak demi menghidupi anak istrinya di rumah. Berpikir positif saja.

Sedianya kami akan makan di warung rames dekat terminal Karangkobar. Beberapa bulan yang lalu kami sempat mampir ke warung tersebut dan masakannya cocok dengan lidah kami. Namun saat kami ke sini sehabis pulang dari Kalibening, sudah tidak ada lagi keberadaan warung nasi rames tersebut. Lahannya sudah digusur untuk perluasan terminal Karangkobar. Sial…mana perut makin lapar.

Kami akhirnya bisa mengisi perut saat motor kehabisan bensin dan mampir ke sebuah pom bensin sembari mencari minimarket untuk sekedar membeli beberapa botol air mineral dan juga roti. Namun dasar perut orang Indonesia, beberapa bungkus roti manis tadi tidak membuat perut kami menjadi kenyang.

Waktu menunjukan pukul 14.15 dan kami belum menunaikan kewajiban sholat Dzuhur. Seperti sebuah kebiasaan saat bepergian ke Banjarnegara bagian atas, kami biasanya mampir sholat di sebuah masjid dekat lokasi longsor Jemblung yang beberapa waktu lalu menghebohkan Banjarnegara dan juga Indonesia. Sebuah masjid cantik dari hasil donasi orang-orang yang peduli dengan longsor beberapa waktu lalu. Masjid ini seakan menjadi monumen untuk mengenang kejadian longsor Jemblung yang mengubah wajah sebuah dusun.

Berada persis di seberang lokasi longsor dan juga pinggir jalan raya, masjid ini menjadi semacam rest area bagi pengendara yang kelelahan. Saat kami ke sini pun terlihat rombongan keluarga yang sedang menikmati santapan  berupa ayam goreng, sambal dan aneka rupa makanan. Perut seakan ingat kembali jika sejak pagi belum terisi nasi sebutir pun. Si ibu yang ramah pun menawarkan kami untuk ikut bergabung menyantap makanan namun Wedwi menolak padahal saya ngarep dan mau banget. Ya sudah saya mengurungkan niat dan melanjutkan sholat saja.

Kunjungan ke Kalibening diakhiri sore itu. Langit masih begitu cerah dan tidak ada tanda-tanda hujan akan datang. Untuk beberapa kali, saya mengakhiri kunjungan ke Banjarnegara bagian atas dan suatu saat saya pasti akan kembali ke tempat ini untuk mengeksplore tempat-tempat menarik lainnya yang belum dikunjungi.

Advertisements

10 thoughts on “Sisi Pahit Daun Teh

  1. Putut Rismawan

    Itu kebunnya memang gak ada yg ngrawat sama sekali atau gimana, kok sepi mas?? Biasany kan ada yg metik2 daunnya, kayak di iklan2 ato di film. Hehe

    Btw, Pohon tunggalnya bagus tuh 🙂

    Liked by 1 person

    Reply
  2. omnduut

    Waktu ke Pagaralam bulan Maret lalu, sempat mengunjungi pabrik teh dan…. alamak baunya gak enak banget. Beda kalau berkunjung ke pabrik kopi, haruuum 🙂

    Liked by 1 person

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s