Bukit Asmara

Terakhir menginjakan kaki ke daerah Banjarnegara bagian atas adalah saat menerobos hutan menuju Curug Cipawon-Giritirta akhir tahun 2015 lalu. Praktis sudah beberapa bulan tidak berkunjung ke daerah yang terkenal dengan jalanannya yang menanjak dan berkelok-kelok. Malah terkadang saat musim hujan tiba, banyak dijumpai tanah di pinggir jalan yang longsor. Tak ayal jika perbaikan jalan di daerah ini semacam proyek sepanjang tahun yang terus menerus dikerjakan.

Seperti biasanya, saya dan travelmate yang sering menjelajah berbagai sudut terpencil kabupaten Banjarnegara kali ini pun kami bisa pergi bersama lagi setelah beberapa bulan terpisah. Dalam setiap penjelajahan, kami selalu nyaman menggunakan motor daripada harus naik angkutan umum. Maklum, selain pastinya bakalan memakan waktu yang lama juga pasti bakalan kurang nyaman karena kondisi jalan yang kurang bersahabat.

Sebenarnya saat kami hendak ke sini, dalam perjalanan menggunakan sepeda motor kami mendapat sedikit musibah namun terhitung masih beruntung. Sepeda motor yang kami tumpangi hampir saja berserempetan dengan pengendara motor matic yang kebetulan adalah seorang ibu-ibu. Dari arah pertigaan sang pengendara motor matic tersebut melajukan motornya dengan percaya diri tanpa terlebih dahulu melihat pengendara lain dari arah sebaliknya. Syukurlah saat itu motor kami hanya menabrak seekor ayam, itu pun benturannya cukup kencang dan hampir saja motor kami oleng dan terjatuh. Hmm..saat itu perasaan begitu was-was dan semoga bukan pertanda buruk.

Tujuan kami saat ini adalah sekedar ingin ikut mencicipi euphoria tempat wisata baru yang sedang ramai diperbincangkan di desa Kalilunjar kecamatan Banjarmangu. Lumayan tidak terlalu jauh jaraknya dari Punggelan. Karena kami hanya perlu berkendara selama kurang lebih satu jam saja.

Bukit Asmara Situk Kalilunjar namanya. Lokasinya persis berseberangan dengan kawasan hutan dan Gunung Lawe yang juga berada di Banjarmangu. Sebenarnya Banjarmangu sendiri punya sejarah yang cukup penting dan juga panjang dalam menyokong berdirinya kabupaten Banjarnegara saat sekarang ini. Berikut cuplikan sejarah singkat dari berdirinya kabupaten Banjarnegara yang pada masa itu masih berada di daerah Banjarmangu sebelum dipindah ke pinggir aliran Sungai Serayu.

20160320_095846[1]

Dari atas bukit ini, kita bisa menikmati semilir angin dari lembah

Dalam perang Diponegoro, R.Tumenggung Dipoyudo IV berjasa kepada pemerintah mataram, sehingga di usulkan oleh Sri Susuhunan Pakubuwono VII untuk di tetapkan menjadi bupati banjar berdasarkan Resolutie Governeor General Buitenzorg tanggal 22 agustus 1831 nomor I, untuk mengisi jabatan Bupati Banjar yang telah dihapus setatusnya yang berkedudukan di Banjarmangu dan dikenal dengan Banjarwatulembu. Usul tersebut disetujui.

Persoalan meluapnya Sungai Serayu menjadi kendala yang menyulitkan komunikasi dengan Kasunanan Surakarta. Kesulitan ini menjadi sangat dirasakan menjadi beban bagi bupati ketika beliau harus menghadiri Pasewakan Agung pada saat-saat tertentu di Kasultanan Surakarta. Untuk mengatasi masalah ini diputuskan untuk memindahkan ibukota kabupaten ke selatan Sungai Serayu. Daerah Banjar (sekarang Kota Banjarnegara) menjadi pilihan untuk ditetapkan sebagai ibukota yang baru. Kondisi daerah yang baru ini merupakan persawahan yang luas dengan beberapa lereng yang curam. Di daerah persawahan (Banjar) inilah didirikan ibukota kabupaten (Negara) yang baru sehingga nama daerah ini menjadi Banjarnegara (Banjar : Sawah, Negara : Kota).

R.Tumenggung Dipoyuda menjabat Bupati sampai tahun 1846, kemudian diganti R. Adipati Dipodiningkrat, tahun 1878 pensiun. Penggantinya diambil dari luar Kabupaten Banjarnegara.

Gubermen (pemerintahan) mengangkat Mas Ngabehi Atmodipuro, patih Kabupaten Purworejo(Bangelan) I Gung Kalopaking di panjer (Kebumen) sebagai penggantinya dan bergelar Kanjeng Raden Tumenggung Jayanegara I. Beliau mendapat ganjaran pangkat “Adipati” dan tanda kehormatan “Bintang Mas”.

Tahun 1896 beliau wafat diganti putranya Raden Mas Jayamisena, Wedana distrik Singomerto (Banjarnegara) dan bergelar Kanjeng Raden Tumenggung Jayanegara II. Dari pemerintahan Belanda Raden Tumenggung Jayanegara II mendapat anugrah pangkat “Adipati Aria” Payung emas Bintang emas besar, Officer Oranye.

Pada tahun 1927 beliau berhenti, pensiun. Penggantinya putra beliau Raden Sumitro Kolopaking Purbonegoro, yang juga mendapat anugrah sebutan Tumenggung Aria, beliau keturunan kanjeng R. Adipati Dipadingrat, berarti kabupaten kembali kepada keturunan para penguasa terdahulu.

Diantara para Bupati Banjarnegara, Arya Sumitro Kolopaking yang menghayati 3 jaman, yaitu jaman Hindia Belanda, Jepang dan RI, dan menghayati serta menangani langsung Gelora Revolusi Nasional (1945 – 1949). Ia mengalami sebutan “Gusti Kanjeng Bupati”, lalu “Banjarnegara Ken Cho” dan berakhir “Bapak Bupati”. Selanjutnya yang menjadi Bupati setelah Raden Aria Sumtro Kolopaking Purbonegoro ialah : R. Adipati Dipadiningrat (1846-1878) (sumber: gilar sumringah)

***

Banjarmangu kini dikenal sebagai salah satu kecamatan di Banjarnegara yang menghasilkan salak pondoh kualitas terbaik. Di sepanjang jalan menuju kecamatan Banjarmangu dapat kita jumpai perkebunan salak yang rapat dan juga lebat. Banjarmangu sendiri mempunyai banyak tempat wisata yang menarik, salah satunya adalah Bukit Asmara Situk Kalilunjar yang baru dibuka awal bulan Januari tahun 2016 kemarin.

Lokasi Bukit Asmara Situk Kalilunjar berada di desa Kalilunjar atau setelah pertigaan Pasar Gripit tinggal lurus saja. Lokasinya yang berada di pinggir jalan raya Banjarmangu-Karangkobar cukup mudah ditemukan oleh para pengunjung yang hendak mampir mencicipi tempat wisata baru ini.

Sebenarnya bukit kalilunjar adalah sebuah bukit terjal yang ditumbuhi pohon salak hampir di semua lahannya. Lokasinya yang berada di belakang sekolah dasar membuat motor kami parkir di lapangan sekolah tersebut. Untuk memasuki lokasi wisata ini, pengunjung harus membayar tiket masuk yang berada pada sebuah gubug sederhana. Loket penjualan tiket tersebut dijaga oleh dua orang pemuda desa setempat. Memang dari juru parkir, penjaga tiket dan lainnya banyak memanfaatkan pemuda desa setempat.

Untuk parkir motor tiap pengunjung harus membayar Rp 2,000 sedangkan untuk tiket masuk tiap pengunjung dipatok Rp 5,000. Di depan halaman sekolah ini sudah banyak pedagang yang menggelar dagangannya-berjejer rapi mulai dari aneka minuman hingga jajanan.

Awalnya kami malah kebablasan hampir beberapa ratus meter dari lokasi utama menuju pintu masuk obyek wisata ini. Maklum karena saat itu hari masih pagi dan pengunjung masih sangat jarang, selain itu juga karena lokasinya berada pada sebuah sekolah dasar membuat kami kebingungan mencari tanda masuk menuju lokasi wisata ini.

Setelah tiket masuk sudah berada di tangan, kami harus menapaki anak tangga yang terlihat masih baru-menembus lebatnya perkebunan salak milik warga setempat yang dibatasi dengan anyaman pagar bambu di samping kanan-kirinya.

20160320_105709[1]

Pemandangan dari balik bukit belakang sekolah (ketinggian beberapa puluh meter saja)

Sebenarnya kami agak ngeri juga dengan keamanan di lokasi wisata yang baru dibuka ini. Selain berada di ketinggian, tanah di sekitar Banjarmangu dikenal sering bergerak dan sewaktu-waktu bisa saja terjadi longsor.

Semilir angin khas pegunungan berhembus dari lembah nan curam di bawah sana. Liukan aliran sungai deras berwarna cokelat susu terlihat dari atas sini. Rumah-rumah penduduk terlihat kecil di antara hijaunya pepohonan. Kota Banjarnegara pun terlihat kecil jika dilihat dari ketinggian bukit situk.

***

Sebelum sampai pada puncak utama bukit situk, pengunjung harus menaiki anak tangga alami yang terbuat dari tanah liat licin. Perlu memakai sepatu atau sandal yang nyaman saat dikenakan menelusuri jalanan alami ini. Para pengunjung juga harus melewati beberapa tanjakan yang masing-masing diberi nama yang unik-unik agar menarik perhatian pengunjung.

20160320_105109[1]

Tanjakan pertama disebut sebagai “Tanjakan Pertemanan” atau “Ramp Friendship”  (berada pada ketinggian 47 meter) itulah yang tertulis dalam tiga bilah kayu yang ditulis dengan cat berwarna putih, sedangkan yang paling bawah dicetak dengan spanduk mini.

20160320_105550[1]

Saat melewati tanjakan ini, pikiran seakan kembali mundur ke belakang saat saya dan teman-teman bersusah payah melewati satu persatu pos menuju puncak Gunung Sindoro. Rasa lelah, nyeri lutut hingga nafas ngos-ngosan seakan terulang kembali saat ini, padahal kali ini saya hanya sedang menaiki anak tangga menuju sebuah bukit.

Tanjakan berikutnya tertulis sebagai “Tanjakan Derita” (ketinggian 103 meter) hmm nama tanjakan ini terkesan menyeramkan padahal ya biasa-biasa saja menurut saya. Mungkin pengelola sengaja menamakan tanjakan-tanjakan tadi agar terlihat menarik oleh para pengunjung. Bersamaan dengan itu, satu persatu pengunjung yang didominasi bocah-bocah remaja mulai berdatangan. Dengan pakaian yang terlihat necis, mereka terlihat seperti hendak hangout ke mall.

20160320_105251[1]

Tanjakan-tanjakan tadi sejatinya berada di antara rimbunnya tanaman salak yang berada pada sisi kanan-kiri kami. Suasananya memang dominan sejuk dan lembab karena masih masuk dalam musim penghujan. Selain itu juga sinar matahari sepertinya terhalangi oleh rimbunnya tanaman salak ini.

Selain tanjakan tadi, pengunjung juga akan disambut dengan sebuah papan keterangan yang tercetak dalam bentuk poster-terpasang di sisi jalan. Di atasnya dipasangi semacam atap yang terbuat dari alang-alang kering. Sementara itu di belakangnya persis berdiri sebuah gubuk sederhana yang menjual aneka macam minuman dan juga snack. Saya dan Wedwi pun beristirahat sejenak sambil menghela nafas. Sesekali keringat menetes dari sela-sela rambut dan juga punggung. Meskipun hawa dingin namun rasa panas dalam tubuh begitu terasa.

20160320_104432[1]

Kami akhirnya sampai juga di Pos 1 ini. Dalam poster di pos 1 tertulis : 100 meter rumah pohon dan flying fox, 150 meter petilasan situk, 730 meter terowongan extrim dan juga 1300 meter petilasan purboyo. Sisanya berupa himbauan agar tidak berbuat “negative”, dilarang meninggalkan sampah serta dilarang merusak alam.

Hari makin siang, sinar matahari perlahan menembus dari balik daun-daun tanaman salak yang berada di sekitar kami. Semilir angin khas dataran tinggi perlahan bisa kami rasakan. Terlihat bocah-bocah remaja yang dengan riang gembira menaiki satu persatu anak tangga dengan rombongannya masing-masing. Beberapa malah terlihat membawa kamera digital terkini layaknya seorang fotografer professional. Kamera-kamera tadi terkalung cantik pada leher mereka masing-masing.

Akhirnya kami pun sampai pada pintu gerbang beratapkan daun ilalang kering serta sabut pohon aren. Di samping kirinya berdiri sebuah pondok sederhana tempat pengelola (pemuda setempat) berlokasi untuk mengawasi pengunjung jikalau terjadi hal-hal yang tidak diinginkan tiba-tiba saja terjadi. Di samping kanannya persis terdapat tanaman bambu yang lumayan lebat serta menghasilkan bunyi khas saat dedaunannya bergesekan terkena angin dari lembah di bawahnya.

20160320_093752[1]

Puncak bukit asmara situk memang tidak terlalu lebar namun mengular seperti tembok besar china dalam versi mini dan juga tanpa tembok yang terbuat dari bebatuan. Hanya dibatasi oleh anyaman bambu yang terlihat masih baru. Di puncak ini terdapat gardu pandang yang menjorok beberapa meter di atas lembah. Ada juga rumah pohon yang menempel pada sebuah pohon pinus di tengah-tengah puncak. Karena jumlahnya yang terbatas, pengunjung harus bergantian jika ingin mencicipi bagaimana rasanya berada di atas gardu pandang ini.

20160320_103504[1]

Kebetulan hari ini bertepatan dengan hari minggu, dimana banyak sekali pengunjung yang memadati area wisata apalagi di bukit situk ini yang tergolong masih baru. Jangan takut lapar ketika berada di sini, pengunjung bisa membeli makanan berupa pecel hingga sate yang dijajakan oleh ibu-ibu sekitar.

20160320_094239[1]

20160320_095551[1]

Setelah puas berfoto-foto, mata saya teralihkan oleh segerombolan bapak-bapak paruh baya yang terlihat sedang bersantai diantara rimbunnya tanaman bambu. Dengan memberanikan diri, saya pun menanyakan asal muasal dibukanya tempat wisata baru ini.

Pak Martoyo nama lelaki yang saya temui siang itu. Jika dilihat sekilas, pak Martoyo ini tergolong sudah berusia lanjut namun tenaga dan semangatnya masih terlihat gagah bak anak muda. Rambutnya sudah hampir memutih semua karena dimakan usia. Kulitnya berwarna cokelat legam seakan paparan sinar matahari sudah menjadi teman setianya hingga detik ini. Dengan arit dan golok yang menjadi teman setia kala berada di kebun. Tidak lupa sebungkus tembakau dengan tetek bengeknya menjadi pelepas lelah dan juga teman setia saat bercengkerama dengan sesamanya.

“Pak, kalau boleh tahu sejak kapan lokasi wisata ini dibuka?”

“Mas-mas ini dari mana?,” tanya balik dari pak Martoyo

“Oh..saya dari Punggelan, pak..di ujung barat sana, lumayan jauh memang”

“Oh..dari Punggelan tho…sebenarnya bukit asmara situk ini baru dibuka sekitar bulan januari 2016 kemarin. Jadi ini masih baru”

“Lha ini sebenarnya lahan milik siapa ya pak?”

“Ini sebenarnya lahan milik warga yang berada di puncak sini. Dulunya lahan di sini dibiarkan mangkrak begitu saja tanpa ditanami tanaman yang produktif. Jadi gersang gitu, hanya pada bagian sebelah sana saja yang ditanami bambu tapi ya karena tanahnya bercampur bebatuan jadi ukuran bambunya kecil-kecil”

“Ooo jadi seperti itu, lha terus yang membuat ide lahan yang gersang ini dijadikan tempat wisata siapa pak?”

“Awalnya bapak lurah Kalilunjar sendiri yaitu pak  Slamet pada suatu waktu mampir ke puncak kalilunjar, kebetulan beliau selesai dari berkunjung ke kebun salak yang berada di bawah sana. Setelah dipikir-pikir ternyata pemandangan di sini begitu bagus. Sejak itulah pak kades mengumpulkan pemuda dan tokoh masyarakat setempat untuk bermusyawarah guna merencanakan membuka tempat wisata di desa kalilunjar ini. Gayung pun bersambut, semua tokoh masyarakat setuju dan akhirnya hingga detik ini tempat wisata ini masih terus dikembangkan”

“Hmmm..saya paham pak”

Memang jika dilihat lebih lanjut, masih banyak lokasi yang belum dibangun pondokan mini hingga gubuk-gubuk kecil. Sisanya masih berupa hutan bambu, jadi wajar jika tiap hari masih terlihat penduduk sekitar yang bergotong royong membersihkan tempat wisata ini agar lebih nyaman saat dikunjungi.

Hmmm..semoga usaha dari seluruh warga desa Kalilunjar ini bisa berefek positif bagi kesejahteraan semuanya. Tentunya juga diimbangi dengan tidak membabat habis tanaman hingga pohon yang berada di puncak ini karena tau sendiri jika daerah di kecamatan Banjarmangu ini rawan longsor. Jangan sampai keuntungan-keuntungan ini hanya bisa dinikmati sesaat. Namun saya salut dengan inisiatif para penduduk desa akhir-akhir ini yang mulai membuka diri terhadap potensi wisata di daerahnya masing-masing. Semoga efek dari tempat wisata-wisata baru ini bukan hanya euphoria sesaat semata.

Hari makin siang, matahari makin terik. Saya dan Wedwi pun memutuskan untuk turun dan mengakhiri kunjungan siang itu menuju destinasi selanjutnya.

Advertisements

23 thoughts on “Bukit Asmara

  1. iyoskusuma

    Seru banget tempatnya. Walau baru buka tahun 2016, tapi nampak lumayan rame ya? Parkiran motor sesak gitu. Hehe..

    Amin. Semoga pengelola, pengunjung, dan pemda di sana juga ikut ngejaga keamanan dan kenyamanan berwisata di sana. Biar tetep positif buat manusia dan lingkungan. Nice info!

    Liked by 1 person

    Reply
  2. bersapedahan

    wah tempat wisata baru … dan langsung cepat ngehitss .. karena medsos
    pak kades-nya keren tuh … kalau banyak kades yang kreatif dan bergerak seperti itu, pasti jadi banyak daerah yang jadi maju

    Liked by 1 person

    Reply
  3. Halim Santoso

    Obyek baru yang ala-ala banget yah hahaha…. Btw nggak salah tuliskah tentang Dipadiningrat yang diparagraf terakhir penjelasan bupati-bupati, kok ditulis dia menjabat tahun 1846 hingga 1878 tapi disebut selanjutnya dari Kolopaking? Lalu ada kaitan apa ya RTA Sumitro Kolopaking dengan Novia Kolopaking? Hehehe.

    Liked by 1 person

    Reply
    1. Hendi Setiyanto Post author

      Ga ada hub.nya kok.
      Awalnya aku jg mikir jka tuh artis msh ktrunan bangsawan.
      Nama RS & stadion pun “Kolopaking” jg.
      Eh..nanti tak cek lgi..haha

      Like

      Reply
  4. Gara

    “Berjasa pada Pemerintah Mataram” berarti menjadi lawan dari Pangeran Diponegoro pada saat itu, kalau saya tak salah tangkap? Hm… yah, tak bisa bicara apa-apa juga sih, maklum di masa itu Belanda sudah jadi penguasa di balik layar, semua yang ada di atas panggung hanyalah boneka semata. Ah apa yang terjadi di masa itu sangat menarik untuk diselami, soalnya tanah Banjarnegara itu indah banget… dilihat dari ketinggian yang luasnya tampak jauh sekali sebab gunungnya terletak agak jauh.

    Eh ada situs petilasan juga ya di sana :hihi. Boleh banget itu buat dikunjungi :haha. Siapa tahu ada peninggalan-peninggalan unik tertinggal di sana… memang, di atas bukit berpemandangan indah selalu ada peninggalan, yang luput dicerita dalam buku-buku, sehingga tugas kitalah untuk datang dan menuliskannya :aaak.

    Keren!

    Liked by 1 person

    Reply
    1. Hendi Setiyanto Post author

      duh maaf ya kalau datanya mungkin saja salah, abisnya saya cuma nyontoh dari sumber sih hehehe. sejarah aslinya pun saya kurang paham sebenarnya *plak* lha wong cuma tau dari internet gitu

      Liked by 1 person

      Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s