Kraamkliniek Emanuel, GKJ Klampok dan Kaitannya Dengan Suikerfabriek

Guyuran hujan yang terkadang sangat deras berjatuhan dari langit masih membayangi hari-hari di sekitaran kabupaten Banjarnegara. Bulan maret ini merupakan bulan tersibuk bagi seluruh karyawan di kantor ini. Rencana kegiatan akreditasi makin dekat saja. Padahal sudah dari tahun lalu, kegiatan ini didengungkan namun apa daya ketika rasa malas masih menggelayuti tiap-tiap isi kepala.

Mulai dari pengumpulan dokumen-dokumen yang diperlukan hingga pembenahan menyeluruh dari sistem hingga fisik bangunan makin gencar dilakukan. Hampir tiap minggu kami berkumpul dan berdiskusi hingga menjelang maghrib demi suksesnya akreditasi.

Mungkin karena kaget, banyak karyawan yang terkena penyakit dadakan mulai dari batuk-batuk hingga demam yang berkepanjangan. Hmmm..memang rangkaian kegiatan tadi tidak berhubungan langsung dengan penyebab munculnya keluhan penyakit tadi namun faktor kelelahan fisik bisa menjadi salah satu penyebabnya.

Akhir-akhir ini para penduduk Banjarnegara juga harus terus waspada terhadap penularan penyakit dari hewan nyamuk khususnya Demam Berdarah Dengue. Satu persatu kasus DBD bermunculan menyebar dari satu kecamatan ke kecamatan lainnya. Bahkan di salah satu kecamatan cukup membuat repot jajaran pemerintahnya karena sebuah gedung instansi pemerintah hendak diobrak-abrik massa karena lambannya penanganan upaya pencegahan perkembangbiakan nyamuk dengan cara fogging. Mulai dari jajaran camat, bupati hingga gubernur Ganjar Pranowo akhirnya turun langsung ke lokasi untuk mengatasi masalah ini. Untunglah semuanya berakhir dengan cara yang baik-baik tanpa memakan korban jiwa.

***

Karena DBD, beberapa tetangga sebelah rumah harus dilarikan ke rumah sakit terdekat karena perlu penanganan lebih lanjut. Salah satu rumah sakit rujukan yang cukup terkenal adalah sebuah rumah sakit swasta milik YAKKUM (Yayasan Kristen Untuk Kesehatan Umum) bernama RS Emanuel Purwareja-Klampok. Ya..RS ini menjadi favorit masyarakat Banjarnegara selain RS milik pemerintah (RS Hj.Anna Lasmanah Soemitro Kolopaking).

Rumah Sakit Emanuel bermula dari sebuah Klinik Bersalin atau kraamkliniek dan Balai pengobatan peninggalan pemerintah Belanda yang didirikan oleh Zending pada tahun 1934 sebagai fasilitas pelengkap pabrik gula di desa Klampok Kecamatan Purwareja Klampok Banjarnegara. Setelah berdiri sebagai Balai Pengobatan dan mengalami beberapa masa transisi pemerintah, tanggal 01 Juli 1950, Balai Pengobatan Rumah Sakit Emanuel dihibahkan kepada JRSK ( Jejasan Roemah – Reomah Sakit Kristen di Djawa Tengah ) yang merupakan awal dari YAKKUM ( Yayasan Kristen Untuk Kesehatan Umum ).

tempo dulu

Kraamkliniek cikal bakal RS.Emanuel  Sumber

Ya meskipun rumah sakit ini berafiliasi dengan agama tertentu namun tidak menjadi sebuah halangan bagi warga di sekitar Banjarnegara yang hendak berobat. Malah rumah sakit ini terkenal dengan pelayanannya yang sangat ramah pada pasien-pasiennya. Semuanya melebur menjadi satu dengan tujuan saling tolong menolong.

Yang membuat rumah sakit ini begitu terkenal salah satunya adalah kebijakan dari institusi kesehatan ini yang tertuang dalam visi dan misi dalam melayani pasien.

Visinya adalah “ Kesejahteraan lahir batin bagi semua masyarakat”

Misinya adalah “Memberikan pelayanan yang utuh dan sebaik-baiknya bagi setiap orang”

Motonya adalah “Bertumbuh bersama dan membangun diri dalam kasih”

Yang lebih unik menurut saya dari rumah sakit ini adalah dengan dibangunnya dua buah ruang khusus untuk tempat beribadah dua agama yang berbeda, semuanya berdampingan dan saling bertoleransi satu sama lain. Hmmm mungkin ini terdengar klise akan tetapi akhir-akhir ini isu tentang toleransi sepertinya makin menjadi topik yang hangat untuk diperbincangkan dan diperdebatkan khususnya di media sosial.

1912 - Pabrik Gula Klampok

Sebuah mahkota berdiri di atas pintu masuk pabrik dengan orang-orang Belanda yang terlihat sedang berjalan. Sumber

Memang menilik dari sejarah, kecamatan Purwareja-Klampok merupakan kawasan yang cukup penting  sejak jaman penjajahan belanda. Di sini dulunya merupakan kawasan pabrik gula tua yang didirikan oleh pihak belanda. Tidak heran jika hingga saat ini masih banyak dijumpai beberapa bangunan-bangunan bersejarah serta bekas stasiun rel kereta api yang terbentang dari Purwokerto hingga Wonosobo melewati daerah Purwareja-Klampok, Banjarnegara.

COLLECTIE_TROPENMUSEUM_Frontaanzicht_van_de_suikerfabriek_Klampok_Banjoemas_TMnr_10011678

Suikerfabriek Klampok atau Pabrik gula Klampok lengkap dengan jalur rel kereta apinya. Sumber

***

Salah satu cikal bakal rumah sakit Emanuel tersebut adalah saat didirikannya klinik pengobatan oleh pihak belanda hingga hubungan penyebaran agama Kristen Protestan di sepanjang wilayah Banyumas, Purbalingga dan Banjarnegara.

tempo dulu1

RS.Emanuel sudah resmi berdiri dengan menempati gedung baru pada tahun 90an. Sumber

Rumah sakit Emanuel tidak bisa lepas peranannya berkat adanya cikal bakal gereja Kristen jawa pertama di Purwareja-Klampok ini. GKJ Klampok adalah sebuah gereja yang sejarahnya terkait erat dengan pekabaran injil di sekitar wilayah Karesidenan Banyumas yang mencakup wilayah Banyumas (Purwokerto), Purbalingga, Banjarnegara, Cilacap.

Awal mula GKJ Klampok ini tidak bisa lepas dari pengaruh orang awam (non misionaris) seorang janda keturunan Indo-Belanda pada masa penjajahan belanda yang mewartakan pekabaran injil kepada penduduk pribumi di sekitar karesidenan Banyumas. Janda tersebut bernama Ny. Bafikkery Laurans Phillips Van Oostroom atau orang-orang lebih mengenal beliau sebagai Ny. Van Oostroom.

Ny. Van Oostroom lahir pada tahun 1812. Dimana tempat lahir beliau, sejarah kurang mencatat lebih lanjut namun beliau dikenal sebagai seorang yang konsen dan memiliki kepedulian untuk terus mewartakan pekabaran injil kepada penduduk pribumi.

Semuanya bermula pada tahun 1850 ketika beliau mulai aktif mengadakan penginjilan kepada orang-orang pribumi terdekat yang saat itu bekerja dengannya dan juga kepada para pembantunya. Berawal dari orang sekitar dan orang pribumi yang bekerja dengannya hingga makin menyebar hingga di luar eks karesidenan Banyumas.

Setelah adanya peristiwa permintaan baptis dari Banyumas ke Semarang 9 – 10 orang pada tanggal 10 Oktober 1858 oleh Pendeta utusan NZG Ds. A. Hoezoo, pertumbuhan dan perkembangan orang-orang Kristen semakin pesat di Karesidenan Banyumas.

Semangat penginjilan Ny. Van Oostroom diikuti oleh saudara iparnya yang bernama Christina Petronella Steven atau Ny. Phillips Steven di Purworejo Bagelen (Nama Petronella pernah diabadikan sebagai nama Rumah Sakit Kristen di Yogyakarta, yang pada tahun 1900 diganti dengan nama Rumah Sakit Betesda), hingga di Purworejo terjadi baptisan yang pertama kali pada tanggal 27 Desember 1860 sebanyak 5 orang oleh Pendeta Braams.

Komunikasi tentang penginjilan yang dilakukan oleh kedua Nyonya bersaudara keturunan Belanda itu terjadi begitu baiknya. Hal ini terbukti bahwa di Jawa Tengah bagian selatan pada tahun 1873 telah dibaptis kurang lebih 2000 orang.

Nyonya Van Oostroom sendiri pada tahun 1868 dari hasil penginjilannya sudah memiliki jemaat sejumlah 30 orang dan jemaat itu dapat mengikuti kebaktian di rumah Ny. Van Oostroom sendiri dan jemaatnya semakin hari semakin bertambah.

Atas anjuran dan permintaan Ny. Van Oostroom agar misionaris Ds. A.Vermeer utusan NGZV di Tegal dapat melayani di daerah Jawa Tengah Bagian Selatan. Setelah DS. A.Vermeer memperoleh ijin maka secara rutin beliau mengunjungi jemaat Banyumas kota di rumah Ny. Van Oostroom untuk melayani sakramen perjamuan dan permandian (baptis). Setelah dari Banyumas kota, DS. A.Vermeer juga mengunjungi rumah Kho Tek San di Purbalingga dan membaptis bersama orang-orang pribumi pada tahun 1866, (saat itu ada10 orang), diantaranya adalah Bp. Abraham, Bp. Elifas (dari Kertayasa), Bp. Ngalisar, Bp. Asah, Bp. Junus, Bp. Jotam dan yang lainnya.

Ny. Van Oostroom mempunyai hubungan dekat dengan para misionaris maupun penginjil pribumi, baik sebelum peristiwa baptis di Semarang tanggal 10 Oktober 1858 maupun sesudahnya. Ia seperti memiliki jaringan yang sangat rapi dan hal itu terbukti mereka saling mengadakan perkunjungan walaupun tempat tinggal mereka cukup jauh, mengingat waktu itu sarana transportasi hanya jalan kaki, naik kuda, kapal layar (perahu). Hubungan dengan para misionaris seperti Jellesma (1844), Ds. Hoezoo (1849), Jamsz (1851), Gan Kwee (1856), Ds. A.Vermeer (1861), MF. Anthing, Coelen, Emde, dan lain-lain. Hubungan dengan penginjil pribumi seperti: Ibrahim Tunggul Wulung (1861), Paulus Tosari, Kyai Sadrach, dan lain-lain.

Pada tahun 1863 Ibrahim Tunggul Wulung mengadakan perkunjungan ke Jakarta bersama Kyai Sadrach dan 2 anak Tunggul Wulung dalam suatu pelayanan, setelah 6 bulan berada di Jakarta kemudian Tunggul Wulung melanjutkan penginjilannya ke desa-desa menuju ke daerah Timur sampai di Purbalingga, Purwokerto dan  Banyumas kota. Di daerah ini Tunggul Wulung tinggal di rumah Ny. Van Oostroom dan mengadakan lawatan ke jemaat di Banyumas kota.

Jemaat Ny. Van Oostroom (kelompok Kristen) kian bertambah banyak, sedangkan untuk mengatasi pelayanannya sering memperoleh kunjungan dari para Pendeta utusan, khususnya untuk pelayanan Perjamuan Kudus dan Sakramen Baptis. Ny. Van Oostroom juga di bantu oleh jemaat dekatnya yang punya kemampuan untuk ikut melayani persekutuan/Ibadah di rumahnya.

Pada tahun 1878 Ny. Van Oostroom jatuh sakit karena fisiknya dan usia lanjut hingga kematiannya. Sebelum kematian Ny. Van Oostrom, kelompok Kristen Banyumas pada tahun 1873 mendapat kunjungan dan lawatan penginjilan pribumi yang berpusat di Purworejo Bagelen, yaitu Kyai R. Abas Sadrach beserta Tarub dan Abisai. Merekalah yang memelihara iman jemaat Ny. Van Oostroom saat-saat mendekati sakit parah dan menjelang kematiannya.

Karena Ds. A. Vermeer sedang ke Belanda maka Kyai Sadrach yang melakukan penginjilan ke desa-desa, misal di Bendawulu (Banjarnegara), Desa Watumas (Purwokerto), Kalibening, Karangcengis (Purbalingga), dan Kertayasa. Setelah DS. A. Vermeer kembali ke Indonesia dan tetap tinggal di Purbalingga selalu aktif melayani jemaat Kristen di seluruh wilayah Karesidenan Banyumas, Purbalingga dan Banyumas kota khususnya, hingga meninggal dunia pada tahun 1892.

Kelompok Kristen Banyumas kota sepeninggalnya Ny. Van Oostroom jemaat mengalami kemunduran hingga sampai terpencar-pencar, apalagi pada tahun 1895 sampai tahun 1901 kosong tidak ada lawatan Pendeta. Sedangkan Kyai Sadrach memusatkan pelayanannya di Purworejo.

Dengan semangat yang masih sisa, pada tahun 1901 kelompok Kristen Banyumas Kota berada dibawah pemeliharaan Gereja Rotterdam dan Zuid Holland (Belanda bagian selatan). Diasuh oleh pendeta utusan pertama DS.G.J. Ruyssenaers. Ia melayani seluruh Karesidenan Banyumas dan menetap di Purbalingga. Ada tiga cara penginjilan yang dilakukan oleh  DS.G.J. Ruyssenaers, yaitu:

1.Pergaulan ke desa-desa.

2.Membuka sekolah di Banyumas kota, Purbalingga (Bojong) dan Pengalusan.

3.Persiapan membuka Balai Pengobatan.

Karena sakit disentri pada tanggal 5 Juni 1907, DS.G.J. Ruyssenaers meninggal dunia, beliau hanya melayani sekitar 6 tahun.

Pada tanggal 1 Nopember 1908 Bernhard Jonathan Esser sebagai utusan dari Gereja Gereformeede di Rotterdam datang di Karesidenan Banyumas sebagai pengganti DS.G.J. Ruyssenaers dan ia menetap di Purbalingga. Dalam usaha penginjilannya, Bernhard Jonathan Esser dibantu oleh tenaga penginjil pribumi.

Pada kurun waktu tahun 1910-1920 usaha penginjilan di karesidenan Banyumas menggunakan bentuk:

  1. Dibukanya Rumah sakit di Desa Trenggiling,Purbalingga (1911).
  2. Dibukanya sekolah-sekolah Kristen (1913).
  3. Diterbitkannya surat kabar untuk pekabaran injil “Mardiraharja”oleh DS.A. Merkalijas(1915).
  4. Adanya Colpotur-colpotur penjualan buku Kristen keliling ke seluruh Karesidenan Banyumas.

Adapun kelompok-kelompok Kristen di Karesidenan Banyumas meliputi: Purbalingga, Banyumas kota, Grendeng, Cilacap, Sidareja, Klampok, dan Adireja. Purbalingga sebagai tempat bersinggah (kediaman) pendeta-pendeta utusan dan sebagai pusat ke-Kristenan pada saat itu. Hingga pada tahun 1918 telah terbentuk majelis yang pertama oleh dorongan Bernhard Jonathan Esser walaupun sudah bermajelis, akan tetapi pelaksanaan kehidupan bergereja masih diatur oleh pendeta utusan.

Karena terpengaruh semangat penginjilan dan perkembangan PI dari Purbalingga, sekitar tahun 1918-1929 di desa-desa telah tertaburi Injil. Di Banyumas kota ada seorang tokoh/sesepuh Kristen yang bernama Tasik Suro Wijoyo atau Mbah Suro ikut mengabarkan Injil diatas pemeliharaan Bernhard Jonathan Esser dan Guru Injil Radiman Misael, dkk. dengan cara menjadi colporteur (pendistribusi dan penerbit buku religi) menjual buku dan koran seperti: ”Mardirahardja” yang sudah terbit sejak 1915 atas usaha dari DS.A. Merkalijas dari Purwokerto. Hingga sampai tahun 1939 masih rajin menjual buku bersama dengan Yusuf Martareja.

Semangat penginjilan terus berjalan, apalagi setelah Jepang masuk pada tahun 1942, karena pada masa ini para utusan dari negeri Belanda ditangkap dan masuk tawanan oleh tentara Jepang,  kecuali para pendeta dan guru Injil pribumi.

Suro Wijaya merasa bertanggung jawab terhadap kelompok Kristen yang berada di Banyumas kota. Ia melayani bersama dengan mantri Sumardi, Yusuf Martareja, Maryadi, Yasa Wikarta, Guru Injil Rawan Rekso Sudarmo, Prapto Sarjono (Guru Injil dari Sokaraja), dkk. Sampai tahun 1944 Guru Injil Rameli Rekso Suminta datang ke Banyumas ikut bergabung dalam pelayanan hingga diteguhkan menjadi pendeta pertama GKJ Banyumas pada tanggal 18 Agustus 1949.

***

Pada masa awal pendewasaan ini GKJ Klampok belum memiliki gedung gereja sendiri, kebaktiannya masih menggunakan gedung SMP Kristen (sekarang gedung TK/SD Kristen). GKJ Klampok juga belum mempunyai pendeta sendiri, dalam kegiatan pelayanannya dilayani oleh Pendeta utusan dan guru-guru Injil. Ada beberapa Pendeta dan Guru Injil yang melayani GKJ Klampok, yaitu : Pdt. DS Marmoyuwono (GKJ Purbalingga), Pdt. Ramli (GKJ Banyumas), Pdt. Dominic Esher (GKJ Banyumas), Pdt. Asmowinangun (dari Cilacap),dll. Pelayanan tersebut dilakukan sampai sekitar tahun 1950.

Pada tahun 1944 di desa kalipelus (Purwonegoro) datanglah satu keluarga Kristen dari Purbalingga (Suami Isteri dan seorang anak). Baptisan pertama wilayah ini terjadi pada tahun 1949 (seorang dewasa dan seorang anak) yang dilayani oleh Pdt. J. Marmojoewono.

Kemudian pada tahun 1950 menyusul baptisan lagi 8 orang (meliputi orang dari Danaraja dan Purwonegoro), dibaptis di GKJ Klampok dan dilayani oleh Pdt. Ds. Isbandi Adipratiknyo yang ketika itu beliau baru saja diteguhkan menjadi pendeta di GKJ Pemalang. Baru setahun kemudian, yaitu pada tahun 1951 Pdt. Isbandi resmi menjadi pendeta pertama di GKJ Klampok.

Pada tahun 1956 dari desa Kalipelus menyusul lagi baptisan sejumlah 23 orang. Sejak saat itulah wilayah Purwonegoro resmi menjadi pepanthan GKJ Klampok, sama statusnya dengan Kertayasa, pelayanan di Kertayasa dan Purwonegoro dilakukan oleh tenaga dari Klampok dan Banyumas.

Seiring semakin banyaknya kebutuhan pelayanan di Kertayasa dan Purwonegoro, maka pada tahun 1956 ditempatkan seorang Guru Injil yang bernama Bp. Sealtiel. Penyertaan Tuhan semakin nyata dan jemaatNya pun semakin besar, pada tahun 1959 terjadi pembiakan Majelis GKJ Klampok yang sudah berdiri 1936 itu, sejak saat itu terdapat Majelis GKJ Klampok dan Majelis GKJ Kertayasa.  Dan sampai saat ini tahun 1959 dianggap sebagai tahun dewasanya GKJ Kertayasa.

Pada tahun 1970 Emanuel membeli sebidang tanah yang letaknya di sebelah barat arah Banyumas sebagai perluasan berkembangnya poliklinik Emanuel untuk dijadikan bangunan Rumah sakit Emanuel. Maka bersamaan dengan itu pada tahun 1970 Emanuel resmi pindah ke gedung baru yang sekarang bernama RS. Emanuel Purwareja-Klampok.

DSC_0938

Gereja Kristen Jawa, Klampok saat ini. Sumber

Sementara GKJ Klampok menempati bekas gedung Emanuel. Jadi sejak pendewasaan tahun 1936 sampai 1999 GKJ Klampok memang belum memiliki gedung gereja sendiri, gedung gereja yang dulu ditempati sebagai gereja lama adalah bangunan Gedung bekas pabrik gula (suikerfabriek)  yang digunakan untuk poliklinik Emanuel. Setelah hak milik tanah sudah sah menjadi milik GKJ Klampok, maka pembangunan gereja langsung dimulai hingga gedung gereja seperti yang sekarang ini.

***

Sebuah bangunan rumah sakit megah berlantai dua kini berdiri persis di pinggir jalan raya Purwareja-Klampok arah Banyumas. Di sekitarnya merupakan pusat perekonomian berupa pasar dan ruko-ruko yang  beraneka bentuk bangunan mulai dari yang terlihat antik hingga gaya khas arsitektur masa kini.

Saat ini rumah sakit Emanuel terus mengembangkan perluasan bangunan ke belakang juga samping yang berupa area persawahan. Tentu dengan semakin ramainya pasien serta kepercayaan masyarakat di sekitar Banjarnegara membuat pihak yayasan mau tidak mau melakukan perluasan mulai dari bangunan bertingkat hingga didirikannya paviliun-paviliun sesuai kelasnya masing-masing.

Kawasan Purwareja-Klampok memang menyimpan begitu banyak cerita sejarah yang patut dipelajari dan ditelusuri karena satu dengan lainnya saling terkait dan yang menjadi benang merah adalah bekas pabrik gula (suikerfabriek) klampok peninggalan kolonial belanda.

Pabrik gula Klampok dibangun tahun 1889 dipimpin oleh Administratur Jacobus Franciscus de Ruyter de Wildt (Lahir 25 mei 1851 di Utrecht dan meninggal di Klampok 7 juli 1904). Pabrik gula ini memiliki lahan perkebunan tebu yang sangat luas. Perkebunan tebu dari Purwonegoro, Mandiraja, Klampok, Susukan, Somagede hingga selatan Banyumas. Bahkan perusahaan inipun membangun jembatan rel lori diatas sungai Serayu untuk mengambil tebu dari daerah Rakit, Penaruban, Bukateja, Kemangkon dan Tidu.

Rangkaian rel lori terlihat dalam peta belanda hingga Banyumas. Sedangkan di daerah Kembangan Bukateja terdapat terowongan dimana diatasnya terdapat aliran air dari proyek Irigasi Bandjar-Tjahjana.

Pada tahun 1910 Perusahaan di pimpin oleh W.A. Kuipers (HET NIEUWS VAN DEN DAG, Voor Nederlandesch-Indie, Zaterdag, 22 October 1910). Pada tahun 1915 perusahaan di pimpin oleh W. Van Der Haar (Ondernemingen in Nederlandsch-India 1915)

Serajoedal Stoomtram Maatschappij pun dibangun hingga di depan bangunan pabrik gula ini, ini membuktikan bahwa dibangunnya jalur rel SDS karena desakan para pengusaha Tebu.

***

Perlu waktu khusus dan kesabaran yang super telaten untuk menyelusuri satu persatu sisa-sisa jejak sejarah Belanda di tanah Banjarnegara khususnya di kecamatan Purwareja-Klampok. Dengan informasi yang sangat minim dan saksi hidup sejarah yang bisa ditanyai maka kita paling tidak menikmati peninggalan sejarah Belanda ini dengan cara napak tilas menyusuri sepanjang jalan Purwareja-Klampok arah Banyumas. Begitu banyak bangunan-bangunan tua yang sekarang sudah berganti fungsi menjadi kantor kecamatan, sekolah, kantor pos, ruko-ruko yang berdiri di atas jalur rel kereta api hingga perumahan tua di komplek koramil.

20160327_134524

Gedung tua yang kini sebagian dijadikan sebagai kantor pos

Saat itu saya menyempatkan mampir ke sebuah bangunan tua berwarna dominan oranye yang kini berubah fungsi menjadi kantor pos, tempat tinggal sekaligus menjadi kantor Persatuan Wredatama Republik Indonesia (PWRI). Sudah jauh-jauh hari saya penasaran dengan keberadaan gedung ini. Kali ini saya seperti dibawa masuk ke komplek gedung ini saat langit di Purwareja-Klampok tiba-tiba saja berubah dari panas terik menjadi gelap dan turun hujan sekitar pukul dua siang.

Seraya berteduh dari rintik hujan, saya bersama dengan Wedwi dan juga Atun menyempatkan diri melepas lelah sejenak. Saat itu hanya saya yang membawa bekal sebuah nasi rames yang sudah mengeras karena sejak pagi tergendong di tas ransel. Tidak banyak aktivitas yang kami lakukan di sini, selain terkendala waktu dan cuaca, kami juga sudah lelah karena sedari pagi sudah berkeliling di sepanjang kecamatan Purwareja-Klampok ini.

Hujan begitu awet dan tidak ada tanda-tanda akan mereda. Hari pun makin beranjak sore, kami bergegas menembus hujan deras sore itu menyusuri jalan raya yang lumayan rame dan juga sebagian badan jalan tergenang air.

Sumber-sumber:

Gkjklampok.blogspot.com

Proposal Panitia pembanguan GKJ Klampok

Sejarah GKJ Banyumas, oleh : Bp. Mulyono

Sejarah Singkat GKJ Kertayasa, Oleh : Bp. Urip Harjo Sucipto

Sejarah Gereja-gereja Kristen Jawa, oleh : Bp.S.H Soekotjo

Banjoemas.com

Advertisements

16 thoughts on “Kraamkliniek Emanuel, GKJ Klampok dan Kaitannya Dengan Suikerfabriek

  1. Halim Santoso

    Astagahh baru nyadar itu Kantor Pos cuma pake satu ruangan aja, bukan satu bangunan utuh >_<
    GKJ nya nggak ada fotonya, Hen? Penyebaran ajaran yang dibawa para misionaris ke Hindia Belanda memang berawal dari berdirinya GKJ di beberapa daerah.

    Liked by 1 person

    Reply
  2. Rifqy Faiza Rahman

    Asyik Mas ada sejarah yang melatarbelakanginya, seru merunut sejarah macam gini 🙂

    Saya juga suka loh suasananya Banjarnegara, mulai dari dataran rendahnya sampai ke Dieng 🙂

    Like

    Reply
  3. Eko Nurhuda

    Waaah, menarik banget ini. Aku paling suka denger cerita jadul mengenai gedung atau tempat tertentu begini. Jane nek dulu ngambil sejarah bisa saingan sama Mas Arif, haha. Kapan-kapan ajak aku muter-muter ke tempat-tempat begini, Mas.

    Like

    Reply
  4. Pingback: Ada Apa di Gumelem Ethnic Carnival? | NDAYENG

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s