Pecel Punya Cerita

Salah satu makanan sederhana namun kaya serat adalah pecel, sebelumnya saya pernah mengulas banyak hal tentang pecel pada tulisan “Pecel Saladnya Orang Indonesia Yang Menyehatkan”. Namun kali ini saya akan membahas mengenai penjual pecel yang cukup terkenal di beberapa wilayah yang berada di kecamatan Punggelan.

Punggelan, sebuah kecamatan yang masih masuk wilayah Kabupaten Banjarnegara berada di antara ketinggian lereng-lereng perbukitan bagian barat yang berbatasan langsung dengan Kabupaten Purbalingga.

Karena berada di wilayah perbukitan dataran tinggi (walaupun tidak sesejuk dataran tinggi Dieng) maka Punggelan diberi limpahan aneka macam sayur mayur khas pedesaan mulai dari sayur daun singkong, daun katuk, kecombrang, pepaya, daun talas dan masih banyak lagi berbagai macam sayuran dan hasil bumi yang tersedia. Memang tidak seperti dataran tinggi Dieng, di sini jarang penduduk yang menanam kubis atau pun kentang karena walaupun berada pada wilayah berbukit-bukit namun hawanya masih kalah sejuk bila dibanding dataran tinggi Dieng.

Punggelan saat ini juga dikenal sebagai penghasil utama tanaman singkong, bahkan beberapa pabrik pengolahan singkong menjadi tepung tapioca berdiri di beberapa desa. Selain itu juga, Punggelan juga terkenal dengan tanaman kayu Albasia yang mempunyai nilai ekonomis tinggi di pasaran. Di sini pun ada pabrik pengolahan kayu lapis yang khusus mengolah kayu Albasia dan cukup besar pabriknya.

***

Salah satu makanan khas pedesaan adalah pecel, sebuah makanan yang terbuat dari beraneka macam sayuran khas seperti daun singkong, bayam, kecombrang, pepaya muda dan juga kecambah yang disiram dengan saus atau bumbu kacang pedas plus manis gula jawa. Mungkin di beberapa daerah makanan yang satu ini sudah tidak asing lagi, tentu dengan sedikit variasi yang membedakan satu dengan lainnya.

11903864_10204257638755413_8720930023850796766_n.jpg.5d829e7bd976da333bd771e0c553734d (1)

Pecel khas mayoritas di karesidenan Banyumas l Sumber

Begitu juga dengan wilayah Punggelan, di sini begitu banyak aneka penjual pecel dengan variasi dan rasa tersendiri namun hanya ada dua yang cukup menonjol karena banyaknya pembeli. Keduanya masih satu desa yaitu desa Karangsari.

Salah dua penjual pecel yang cukup terkenal adalah Pecel Mbok Arjo dan Pecel Mbok Sumedi. Walaupun mereka jualannya berdekatan namun yang membedakan adalah saat berjualannya.

Jika Mbok Arjo hanya berjualan tiap pasaran Legi atau tiap lima hari sekali dan hanya pagi subuh hingga menjelang siang. Sedangkan pecel Mbok Sumedi berjualan tiap hari namun mulai menggelar dagangannya mulai pukul tiga sore hingga maghrib. Jadi biarpun berdekatan namun mereka punya pelanggan tetapnya masing-masing.

***

Mbok Sumedi adalah seorang perempuan yang sudah berumur namun hingga kini masih setia berjualan pecel sejak saya masih SD hingga kini. Kalau dirunut dari silsilah tetua kampung, beliau tergolong masih dalam barisan penduduk asli desa Karangsari yang hidup hingga kini karena kebanyakan tokoh-tokoh desa Karangsari generasi tua sudah banyak yang meninggal dunia.

Mbok Sumedi berjualan pecel di rumahnya yang kebetulan persis di sebelah barat masjid pertigaan desa Karangsari. Awal mulanya malah bukan Mbok Sumedi yang menjadi pioneer penjual pecel di desa ini. Jika melihat sejarah ke belakang beberapa puluh tahun yang lalu, sebenarnya banyak penduduk desa ini yang berjualan pecel namun yang masih bertahan hingga kini hanya dua orang tadi.

Salah satu pioneer penjual atau warung pecel malah berasal dari nenek buyut saya. Ni Kasmita merupakan penjual pecel pertama di desa ini. Saat itu buyut saya itu berjualan tiap pasaran Manis, Wage dan Kliwon dalam hari pasaran Jawa. Karena desa Karangsari saat itu merupakan tempat transit para pedagang dari beberapa desa di sekitar kecamatan Punggelan.

Saat itu banyak pedagang tembakau, alat-alat pertanian macam sabit, pacul, golok dan juga penjual kerajinan anyaman bambu banyak yang mulai berdatangan membawa barang dagangan sebelum hari pasaran tiba. Karena kendaraan saat itu masih jarang, maka banyak para penjual yang membawa barang dagangannya jauh-jauh hari sebelum hari pasaran tiba dan kebetulan banyak yang  menitipkannya di rumah nenek buyut saya. Walhasil nenek buyut saya berinisiatif membuat warung pecel sederhana saat itu karena melayani permintaan para pedagang tadi.

Berdasar cerita bapak saya yang merupakan cucu dari Ni Kasmita, saat itu warung pecelnya begitu ramai dan menjadi ajang berkumpulnya para pedagang. Berkat warung pecel itu pula, bapak menemui jodohnya yang merupakan perempuan dari anak pedagang hasil bumi dari desa tetangga dan kini menetap di desa Karangsari. Berkat warung pecel maka lahirlah saya ke dunia ini.

Kadang saya mikir kenapa saya sangat suka sekali dengan pecel dan tempe mendoan namun kini saya tau alasannya hehehe. Setelah nenek buyut saya sudah makin tua maka usaha turun temurun tersebut diwariskan kepada nenek saya yaitu Mbok Sunari. Saat itu pun semua bumbu dan macam tetek bengeknya masih dikelola langsung oleh Ni Kasmita, jadi kekhasan rasa pecelnya masih menjadi incaran setia para pelanggannya.

Oh ya bapak saya merupakan anak pertama dari dua bersaudara beribu Mbok Sunari. Sementara itu Ni Kasmita memilik anak berjumlah enam orang dan salah satunya Mbok Sunari. Dari Mbok Sunari, usaha pecelnya diturunkan kepada adik bapak saya saat itu yaitu bernama Bibi Rut, nah saat itulah saya merasakan pertama kalinya warisan resep turun temurun pecel dari beberapa generasi ini. Jadi boleh dibilang saya dibesarkan oleh warung pecel dari Buyut, Nenek dan Bibi saya. Tak heran jika sampai detik ini orang akan heran ketika tau makanan favorit saya adalah pecel.

Saat itu karena anak pertama mbok Sunari adalah seorang lelaki maka sejak memutuskan menikah, Bapak saya berpindah rumah walhasil yang meneruskan berjualan pecel ya adik dari Bapak saya atau Bibi Rut. Namun saat itu hampir tiap pasaran Legi saya membantu bibi berjualan dan tujuan utamanya sebenarnya adalah agar bisa makan gratis terus hehehe. Saya masih ingat betul saat masih SD, ketika malam pasaran Legi tiba pasti saya memilih menginap di rumah Bibi saya saat itu. Oh ya waktu jaman SD, buyut dan nenek saya masih sehat hingga masih sempat membantu berjualan.

Generasi pedagang pecel turun temurun tersebut berakhir di Bibi saya, sayang memang namun apa mau dikata. Setelah buyut dan nenek saya wafat praktis kecirikhasan pecelnya makin memudar karena saat itu jaman sudah berubah dan selera makanan pun sedikit demi sedikit beralih. Selain itu juga banyak bermunculan pedagang-pedagang pecel baru di kampung dan ternyata laris manis.

***

Awal mula mbok Sumedi berjualan pecel sebenarnya berawal dari dibelinya sebuah gubug sederhana berbilik kayu milik tetangga yang saat itu berjualan warung nasi rames namun usahanya gulung tikar. Jadi warung tersebut dibeli oleh mbok Sumedi yang jaraknya hanya beberapa puluh meter saja dari warung nasi rames tadi. Saat itu bentuk warung masih sangat sederhana dan konstruksinya bisa dicopot satu persatu sedemikian rupa hingga bisa dipasang kembali hingga utuh. Saat dimana tradisi “sambatan” atau gotong royong saat membangun rumah masih begitu kuat mengakar di kalangan penduduk desa.

Berkat ketekunan dan konsistensi maka warung pecel mbok Sumedi bertahan hingga kini. Warung yang dulunya sangat sederhana, kini berganti menjadi sebuah kios permanen di pinggir jalan raya. Bahkan di sebelahnya dibangun ruko untuk berjualan aneka sembako.

***

Pagi-pagi sekali mbok Sumedi sudah berbelanja berbagai macam kebutuhan untuk jualan pecelnya saat sore hari tiba. Sayuran, tempe, ondol, hingga bahan-bahan untuk membuat bumbu pecel sudah disiapkan sejak pagi buta. Saat itu proses membuat bumbu pecel masih dengan cara ditumbuk menggunakan alu dan lumpang namun kini sudah diganti dengan mesin giling semi manual karena saking banyaknya pembeli dan menghemat waktu.

Senandung Pelestarian Pangan Desa -BalaiDesa

Ondol (cemilan gurih terbuat dari singkong) cemilan khas Banjarnegara l Sumber

Yang membuat saya salut adalah kesemua proses tadi dilakukan hanya berdua antara suami-istri ini. Sang suami sendiri yang sudah sepuh kebagian menggoreng aneka macam gorengan sebagai pendamping pecel mulai dari tahu brontak, tempe mendoan, bakwan, onde-onde, ondol, dan pisang goreng. Sementar sang istri mengolah aneka macam sayuran untuk pecel hingga membuat tambahan lauk seperti ayam bumbu kuning, oseng-oseng usus, ati ampela ayam dan juga ketupat sebagai pelengkap.

20151227_161417

Biasanya sebelum semua barang dagangan tadi dipindah ke warung di depan, pembeli sudah berdatangan dan antri sampai ke dapurnya yang sangat sederhana dan terlihat berantakan tadi. Semua proses masak-memasak masih menggunakan tungku tradisional dan menggunakan kayu bakar. Pembeli bisa melihat sendiri proses masak-memasak tadi langsung di dapurnya. Terkadang itu menjadi sebuah pengalaman unik tersendiri bagi pembeli sambil antri mendapat giliran dilayani.

Kalau sedang beruntung, pembeli masih bisa menikmati pecel dan pelengkapnya tadi di warung depan. Namun jika sedang apes, sebelum barang dagangan dipindah ke warung, semuanya sudah ludes diborong para pembeli hehehe. Sebenarnya tidak ada yang istimewa dari pecel dan masakan dari mbok Sumedi jika dilihat sekilas. Namun karena harganya yang sangat murah (pecel sebungkus Rp 2,000/ gorengan Rp 500/ketupat Rp 1,000 dan aneka lauk ayam, oseng usus bisa dibeli sesuai permintaan pembeli) dan juga prosesnya yang masih sederhana plus alami membuat para pelanggannya setia tiap sore hari antri untuk mendapatkan pecel tersebut.

20151227_161159

Mbok Sumedi sedang melayani pembeli langsung di dapurnya

Mbok Sumedi dikaruniai empat orang anak yang kesemuanya laki-laki, walhasil semuanya berumah tangga mengikuti sang istri dan itu salah satu tradisi di kampung kami hingga detik ini. Namun sesekali para menantunya terlihat membantu ketika sedang berkunjung tapi praktis seringnya kesemua proses berjualan dilakukan oleh dua orang pasangan suami-istri ini. Hmmm di usia keduanya yang sudah tidak muda lagi malah mereka tidak merepotkan anak-anaknya dan masih bisa berjualan hingga detik ini, salut.

Saya berpikir, jika kedua orang tadi sudah tidak sanggup berjualan apakah akan diteruskan oleh anak-anaknya? Hmmm semoga saja. Memang saat ini hanya anak bungsunya yang mewarisi bakat berdagang makanan yang telah lama dilakukan oleh kedua orang tua mereka. Sang anak bungsu tersebut kini membuka kios sembako di samping rumah mbok Sumedi, sementara saat malam hari berjualan martabak.

20151227_160619

Kios sembako dan jajanan di samping warung pecel mbok Sumedi

Sampai kapankah kesetiaan pasangan suami-istri yang sudah berumur ini dalam berjualan pecel akan terus bertahan? Semoga sampai mereka berdua sudah tidak sanggup berjualan lagi dan diteruskan oleh anak cucu mereka dengan tetap menjaga kualitas dan resep turun temurun yang khas hingga awet dicari oleh para pelanggan setianya, semoga.

Advertisements

31 thoughts on “Pecel Punya Cerita

  1. Gara

    Wah di pecelnya ada bunga kecombrang (saya tadi sempat googling untuk mencari tahu). Menarik, tumben saya lihat komposisi bunga itu di pecel. Mana harganya murah banget! Penasaran nih, rasanya kayak gimana ya :hehe.
    Duh, kehidupan pedesaan yang permai… ketika kita banyak mengenal orang-orang tua yang banyak mengajari kita bagaimana hidup sebagai manusia yang baik. Terima kasih sudah membagi pengalaman dengan sejarah kuliner ini di tempatmu yo, Mas. Banyak hikmah yang bisa saya ambil. Mudah-mudahan keramahan dan kesederhanaan yang saya rasa dari tulisan ini bisa terus bertahan :hehe.

    Liked by 1 person

    Reply
    1. Hendi Setiyanto Post author

      Itu termasuk bunga plus sayur kesukaanku kalau dalam komposisi pecel akan tetapi tidak suka jika dicampur dalam masakan lain.
      Yak maklum di pedesaan jadi harga haruslah terjangkau oleh semua kalangan.
      Tapi generasi tuanya udah mulai berkurang hehehe dan kabar terkini malah mbok Sumedi sedang sakit dan berhenti berjualan.
      Trims sudah mampir dan komen panjang hehehe

      Liked by 1 person

      Reply
      1. Hendi Setiyanto Post author

        oooo rasanya tentu unik segar dan aku malah paling suka tuh kecombrang tapi ya kalau masuk ke pecel, kalau masakan lain pakai kecombrang malah nggak suka sama sekali.
        Itu versi ondol yang agak keras dan pakai tusuk bambu, ada juga ondol versi kenyal tapi penyajiannya tidak di tusuk-tusuk gitu hehehe

        Like

  2. mysukmana

    wah kalau bicara soal pecel, saya hampir tiap minggu makan..karena saya ada di Solo Jateng, ini memang makanan murah tapi gak murahanm, amazing lagi klo makannya sama krupuk 🙂 bohemier pokoknya

    Liked by 1 person

    Reply
  3. fanny fristhika nila

    gara2 ngeliat ada kecombrang di pecelnya, aku lgs tau ini pecel pasti enak ;).. pecinta kecombrang bgt soalnya :D.. wangi sih dan rasanya itu unik… pedes ga mas saus kacang pecelnya? udh mantep bgt lah kalo pedes 😀

    Liked by 1 person

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s